SENJA

SENJA
140


__ADS_3

Siang ini cuaca kota Jakarta tak seterik biasanya, Awan-awan mendung yang menyimpan banyak sekali air sudah siap untuk memberikan hujan bagi tanah dan tumbuhan yang sudah kehausan.


Langit, Senja dan anak-anaknya baru saja tiba di rumah, Ella bersama gadis cantik dengan rambut pirang sebahu menyambut mereka di teras rumah.


"Haaaaiii, Kak." gadis itu berlari dan memeluk Langit.


"Hai, Ra. Maaf ya buat kamu di rumah sendirian." kata Senja.


Clara menggeleng, "Bu Ella semalam menemaniku." Lanjutnya diiringi tawa kecil, Ia melirik Senja yang baru saja turun dari mobil.


"Kak Senja pasti." Tebak Clara menghampiri Senja


"Iya, kamu Clara kan?" Ucap Senja.


Clara mengangguk dan memeluk Senja. "Seneng banget akhirnya aku bisa ketemu kakak langsung."


"Jangan erat-erat, kak Senja lagi hamil. Badannya bisa sakit semua kalau kamu peluk macan gitu."


"Oya!" Clara terkejut dengan perkataan Langit.


"Nah, Ini pasti Sky dan Sora." Clara menunjuk Sky dan Sora bergantian. Ia membungkukan badannya dan mengulurkan tangan, "Panggil aku tante Clara, Oke."


Sky dan Sora bergantian mencium tangan Clara.


"Tante cantik sekali, kaya boneka." Sora memuji kecantikan Clara.


"Ya ampun, benarkah? Makasih lo sayang." Clara memegang kedua pipinya yang merona merah karena malu.


"Ayo masuk, ngobrol di dalam Ra." Ajak Langit.


Mereka semua pun masuk dan berkumpul di ruang tengah. Clara sangat menyambut hangat kehadiran Senja. Ia dan Senja saling bertukar cerita dan bercanda tentang kebiasaan buruk Langit.


Langit yang merasa diabaikan lebih memilih menemani Sky dan Sora bermain.


"Aku tidak melihatmu di pemakaman, Ayah." Ucap Senja.


"Aku sedang ujian, Kak. Mereka tak mengijinkan ku meninggalkan kampus, Asramaku juga terlalu ketat. Akan buruk jika aku melanggar peraturan disana." Ujar Clara.


"Aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang kamu. Semua orang tak pernah menceritakanmu padaku." kata Senja.


Clara tertawa cekikikan, "Mungkin mereka semua melupakanku karena terlalu seringnya aku pulang. Hahahaha"


"Berapa lama kamu disana?" tanya Senja.


Clara menatap atas, mencoba mengingat sesuatu. "Kurasa saat usiaku memasuki Empat belas tahun, kak. " Jawab Clara. "Saat itu Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan Kak Langit sudah kuliah di London, Jadi aku putuskan ikut ke London juga."


Senja mengangguk-angguk, ada yang membuatnya sangat penasaran namun ia merasa tak enak jika harus bertanya karena ini pertemuan pertama mereka.


"Aargh!!" Langit terpekik kesakitan ketika ujung sayap pesawat mainan Sky mengenai pelipisnya.


"Ya ampun, kak. Berdarah!" Clara terkejut, ia berlari mengambil kotak obat.


"Papa. Maafin Sky, Sky gak hati-hati mainnya." Sky ketakutan menatap papanya.


"Iya sayang, Papa gak apa kok. Cuma luka kecil gini." Langit memeluk Sky menenangkannya.


"Lain kali hati-hati ya Sky mainnya." Senja mengingatkan putranya.


Sky mengangguk.


Clara datang membawa kotak Obat.


"Biar aku aja Ra yang obatin." Pinta Senja.


"Aku aja gak apa kak, tangan kakak kan sakit." Clara melihat balutan perban ditangan Senja.


"Bisa kok."


"Iya, Kak." Sora menyerahkan kotak obatnya ke Senja.


Senja membersihkan bekas darah di pelipis kiri Langit dan menempelkan plester disana.


"Makasih ya, sayang." Ucap Langit


"Sama-sama, mas." Jawab Senja.


"Sky main lagi gak apa." Kata Langit

__ADS_1


Sky berdiri dari pangkuan Langit. "Sky main dikamar saja, Pa."


"Sora ikut, Sky." Sora ikut berdiri.


"Hati-hati ya sayang."


"Iya, Pa."


"Mas, Aku juga mau ke kamar dulu ya. Punggungku udah capek banget. Maaf ya Ra, Aku tinggal ke kamar."


"Aku temenin ya sayang."


"Enggak, Mas." Senja menahan tubuh suaminya agar tidak berdiri, "Kasian Clara gak ada yang nemenin."


Senja beranjak pergi ke kamarnya, meninggalkan Langit dan Clara berdua di ruang tengah.


**********


"Aaarggh!"


"Mamaaaa!"


Teriakan Sora membangunkan Senja dari istirahat siangnya. Ia bergegas pergi menghampiri Sora, ia mendengar suara tangisan di ujung lorong kamarnya.


"Mama, Sky terpeleset dan jatuh."


"Sky! Mana yang sakit sayang?" Senja membangunkan tubuh Sky.


Sky menunjuk pantatnyadan kepalanya, bibirnya terkatup rapat menahan sakit.


"Sky gak perlu malu kalau mau nangis, gak apa nangis aja kalau memang sakit."


"Huaaaaaa. Sakiiiit Maaaa." Sky menangis dipelukan mamanya.


Teriakan Sky membuat kedatangan Langit, Clara dan Ella.


"Sky kenapa, sayang?" Tanya Sky khawatir.


"Sky terpleset, Pa." Sora menunjuk sebuah genangan kecil di lantai tempat Sky jatuh.


Langit melihat sedikit air di lantai.


"Baru saja saya ingatkan untuk benar-benar melakukan pekerjaan dengan benar, sekarang sudah kejadian." Langit terlihat marah.


"Saya akan pastikan semuanya tidak akan terulang lagi, tuan." Ucap Ella.


"Kalau sampai kejadian seperti ini lagi, saya gak akan segan-segan untuk pecat mereka yang punya tanggung jawab di wilayah ini." Tegas Langit


Senja mengangkat Sky yang masih menangis, "Sudah mas, namanya manusia gak mungkin sempurna. Mereka gak akan melakukan hal ini setiap harinya."


Langit mengambil Sky dari Senja, Tak mau melihat isteinya membawa beban berat. "Tapi Merek sudah buat Sky terluka, sayang."


"Sky, kamu mau maafin mbak yang bersihin tempat ini kan?" Tanya Senja.


Sky mengangguk diantara sesunggukannya.


"Anak baik." puji Senja.


"Bu Ella. Suruh kesini mbak yang punya tanggung jawab disini." Pinta Langit.


"Jangan Bu Ella." Cegah Senja, "Sudah mas, gak perlu diperpanjang lagi. Lebih baik kita urus Sky." pinta Senja ke suaminya.


Walau masih kesal Langit tetap menuruti kemauan istrinya. Ia membawa Sky ke kamar anak-anaknya. Senja dan Sora mengikuti dibelakangnya.


Langit merebahkan tubuh putranya ditempat tidur dan memeriksa tubuh belakang Sky.


"Mana yang sakit sayang?" Tanya Langit.


Sky menunjuk pantatnya dan kepala belakangnya.


"Aku telpon Marsya aja ya, sayang." Langit meminta pendapat Senja.


Senja menggeleng, "Gak usah mas. Di pijat sendiri aja, nanti biar aku yang pijitin Sky."


"Kalo gitu biar aku aja yang pijitin." Kata Langit, ia mulai memijat bagian belakang tubuh Sky. "Sky kuat kan?" Tanya Langit.


"Iya, Pa." Sky sudah mulai berhenti menangis.

__ADS_1


Senja mengusap-usap rambut Sky, sedangkan Sora ikut memijat kaki Sky dengan hati-hati.


**********


Malam ini hujan deras sedang mengguyur kota Jakarta, petir dan kilat saling menyambar memberi kegaduhan diluar sana. Sky dan Sora yang takut memilih untuk tidur bersama papa mamanya.


Udara dingin membuat Sky dan Sora lebih cepar terlelap, sedangkan Senja dan Langit masih asyik berbincang diatas tempat tidur.


Tok tok tok


"Kak, ini Clara."


Terdengar Suara Clara dari balik pintu.


"Oiya, Aku lupa kalau ada Clara. Sayang, maaf ya aku nemenin Clara dikamarnya dulu sampai dia tidur."


Pernyataan Langit membuat Senja terkejut.


"Nanti aku jelasin ke kamu, Jangan mikir aneh-aneh ya." Langit turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.


Ia terlihat bercakap sebentar dengan Clara, kemudian menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Senja yang sedang keheranan.


Lama Senja menunggu Langit kembali ke kamarnya, pikirannya sudah kemana-mana. Bagaimana dia bisa tenang jika suaminya berada di kamar seorang gadis, walaupun itu adiknya.


Hampir dua jam menunggu akhirnya pintu kamar terbuka, Senja lega suaminya telah kembali.


"Kamu belum tidur sayang?" Tanya Langit.


"Bagaimana aku bisa tidur ketika suamiku sedang bersama wanita lain." Jawab Senja.


"Wanita lain gimana? Dia adikku, sayang." Langit kembali masuk dibawah selimutnya.


"Aku menunggu penjelasanmu tentang hal ini." Senja tak mau berdebat dengan Langit.


Langit tersenyum dan menatap lembut istrinya.


"Aku dan Ayah menemukan dia saat usianya delapan tahun. Malam itu hujan cukup deras, dia berlarian ditengah hujan dan hampir tertabrak mobil yang kami tumpangi. Ayah turun dan melihatnya tergeletak tepat ditengah mobil. Dia tidak tertabrak, hanya pingsan. Rambutnya acak-acakan, sekujur tubuhnya banyak sekali luka lebam dan darah. Karena tak tega, Ayah memutuskan membawanya pulang dan merawatnya.


Setelah ia sadar dari pingsan, ia terlihat sangat ketakutan dengan semua orang. Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya ayah membawanya ke psikiater. Dari situlah kami mengetahui jika Clara korban kekerasan dari Ayahnya.


Dari situlah aku merasa iba dengannya dan aku meminta ayah untuk mengadopsinya. Dia bisa menjadi teman ku dirumah ketika Ayah Bekerja.


Dan traumanya yang sampai sekarang belum hilang ya seperti ini, dia tidak bisa tidur malam sendirian. Minimal ada beberapa orang yang tidur bersamanya. Tapi dia akan lebih mudah tertidur ketika aku yang menemaninya. Mungkin karena memang sedari kecil dulu aku menemaninya.


Lagian aku jaga dia juga gak dikasur sayang, aku duduk dikursi."


Senja tersentuh mendengar penjelasan Langit.


"Jadi kamu jangan salah paham ya." pinta Langit.


"Maafin aku ya mas, udah mikir macam-macam." Senja menyesal sudah berfikir yang tidak-tidak.


"Gak apa sayang, memang ini terlalu mendadak dan aku juga belum sempat menjelaskan.


Senja tersenyum, "Tidur yuk, Mas. Sudah terlalu malam."


Langit dan Senja mematikan lampu tidur di samping mereka. Tak lupa Langit berusaha mengecup kening Senja yang terjeda dua badan anak-anaknya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2