
Sekitar pukul tujuh pagi senja sudah tiba dibandara. Dengan Taxi bandara dia langsung menuju ke rumah Langit. Dia bisa menebak pasti saat ini suaminya itu masih tidur, karena saat tiba Senja masih bangun tidur tadi, Langit baru mengabari jika dia baru saja tiba dirumah.
Taksi sudah memasuki area perumahan elite dimana rumah Langit berada, tak banyak yang berubah disana.
"Rumah paling ujung itu ya, pak." Senja menunjuk dinding tinggi bercat putih.
Sopir taxi menghentikan mobilnya didepan gerbang besi dengan ukiran unik yang membuatnya terlihat mewah.
"Diantar masuk apa disini saja Mbak?" tanya pak Sopir.
"Disini saja, pak." Ucap Senja, ia memberikan uang ke sopirnya. "Kembaliannya untuk bapak." ucap Senja kemudian keluar membawa tas dan koper kecilnya.
"Terimakasih, Mbak."
"Sama-sama, pak."
Senja menutup pintu mobil dan menuju ke pos penjagaan yang ada disamping gerbang.
"Nona Senja??" Satpam terkejut dengan kehadiran Senja, ia keluar dari ruangannya menyambut Senja.
"Selamat pagi, Pak Mukhlis." Sapa Senja, sebenarnya dia lupa nama beberapa pegawai dirumah itu, tapi beruntung ada nama diseragam satpam. "Bagaimana kabarnya, pak?" tanya Senja.
"Baik, Nona. Saya senang nona bisa kesini lagi." ucap pak Mukhlis, Ia meraih koper Senja. "Mari saya antar masuk, Nona."
"Terimakasih, Pak."
Pak Mukhlis mampir ke posnya sebentar, memberi tahu orang rumah jika Senja datang. Barulah ia mengawal Senja masuk ke dalam rumah.
Senja dapat melihat Ella sudah berdiri di depan pintu utama rumah menyambut kedatangannya. Senyum mengembang dibibir Ella, membuar kerut diwajahnya sangat nampak.
Senja berlari kecil menghampiri Ella dan memeluknya, Ella terkejut dengan tindakan Senja.
"Aku kangen banget sama Bu. Ella." Ucap Senja
Walau dirasa tak sopan, Ella membalas pelukan Senja. "Saya juga sangat merindukan nona Senja."
Senja melepaskan pelukannya, "Bu Ella sehat?" tanya Senja, ia melihat wanita didepannya itu semakin menua.
"Sehat, Nona. Bagaimana dengan Nona?"
"Alhamdullillah Sehat Bu Ella."
"Tuan pasti senang melihat kedatangan Nona disini."
"Pak Langit masih tidur, Bu?" tanya Senja.
"Tuan Langit baru saja berangkat ke kantor, Nona." jawab Ella
Senja mengernyitkan keningnya, "Bukannya dia baru tiba subuh tadi, Bu?"
Ella mengangguk, "Iya Nona."
Senja terlihat khawatir, "Bagaimana bisa dia tidak menjaga kesehatannya." gumamnya.
Ella memerintahkan asistenya mengambil koper Senja dan membawanya ke kamar Langit.
"Mari saya antar ke dapur, anda pasti sudah lapar. Saya akan siapkan sarapan untuk anda." Ajak Ella yang masih hafal dengan kebiasaan Senja yang sangat senang makan.
"Makasih ya bu Ella."
Senja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sudah lama ia tinggalkan, entah kenapa dia merasa sedang 'pulang'. Padahal dulu ia merasa asing dengan rumah ini.
Tak ada yang berubah disini, semuanya masih sama seperti dulu. Semua asisten rumah tangga juga masih sama, ia belum menemui orang baru disini. Mereka tersenyum ramah dan ada yang tak segan menyapa Senja.
Tiba di meja makan, Senja melihat dua gadis yang dulu selalu menempel padanya.
"Zia, Kartika!!" Senja memeluk dua gadis itu. "Kalian apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, Nona." Jawab Zia dan Kartika kompak.
Air mata haru membasahi pipi Senja, Zia dan Kartika.
Senja melepaskan pelukannya, ia usap air mata dipipi Zia dan Kartika bergantian. "Maafkan aku pergi tanpa pamit ke kalian." Ucap Senja, Ia sudah menganggap Zia dan Kartika seperti saudaranya sendiri.
Zia dan Kartika mengangguk.
"Saya senang Nona mau kembali lagi ke rumah ini." Ucap Zia.
Senja tersenyum, "Aku sudah membuat keputusan yang salah dulu, jadi aku tidak akan mengulanginya."
"Tuan muda pasti sekarang bisa teratur makan lagi kalau ada nona disini." Ucap Kartika senang.
"Jadi pak Langit selama ini tidak teratur makan?" Senja menyelidik
Kartika diam menyadari dia salah bicara.
Senja menatap Bu Ella yang baru saja meletakkan secangkir teh untuknya diatas meja makan.
"Tuan terlalu sibuk bekerja, Nona." Ella menjawab tatapan Senja.
Senja diam, ia berfikir jika Langit seperti itu mungkin karena dia berusaha keras untuk tidak memikirkannya.
"Silahkan, Nona."
Beberapa makanan sudah tersedia diatas meja makan.
"Tadi pagi tuan Langit juga sarapan dengan ini nona." ucap Ella.
Senja mengangguk, ia duduk di kursi meja makan dan mulai menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Sambil makan Senja bertukar cerita dengan Ella, Zia dan Kartika.
Usai sarapan, Ia pergi ke kamar Langit. Ada perasaan segan dan haru ketika ia membuka kamar itu.
Tata letak furniture di ruangan itu masih sama, tidak ada yang berbeda. Senja mulai menyusuri tiap sudut ruangan, Foto pernikahannya dengan Langit masih mensmpel di tempat yang sama.
Senja sangat terharu mengetahui bahwa perasaan Langit padanya benar-benar besar.
"Sandal ini?"
Senja melihat dua sandal japit di almari kaca khusus sepatu dan sandal. Ia melihat sandal japit yang pernah ia belikan untuk Langit saat pergi ke salah satu pasar tradisional di Bogor.
"Sampai segininya kamu, mas." ucap Senja lirih.
Ia melihat jam di tangannya, "udah hampir jam sepuluh."
Senja mengganti bajunya dengan baju santai dan ia pergi ke dapur. Ia ingin membawakan Langit makan siang.
Dibantu asisten yang ada di dapur, Senja memasakkan Langit beberapa menu kesukaan Langit.
Hampir satu jam Senja sibuk di dapur akhirnya selesai juga, Ia sudah mengemasnya di dalam rantang kecil. ia memasukkannya ke dalam cooler bag agar makanannya tetap hangat ketika sampai dikantor.
Senja buru-buru kembali ke kamarnya, mandi dan merias diri. Memakai minidress biru mudah selutut dengan lengan pendek. Ia ingin mengimuncir rambutnya, namun ia urungkan karena Langit tidak suka jika ia menguncir rambutnya diluar rumah.
Masih dengan sneakersnya, Senja membawa tas slempangnya keluar kamarnya. Sedikit terburu-buru Senja menuruni anak tangga. Ella sudah menunggunya di depan pintu utama dengan membawa cooler bag yang akan dibawa Senja untuk Langit.
"Pak Agung yang akan antar anda ke kantor."Ella memberikan coolerbagnya pada Senja.
"Makasih ya Bu Ella, saya berangkat dulu." Senja menerima coolerbagnya dan keluar rumah.
Mobil sudah berhenti tepat didepan teras rumah.
Senja membuka pintu belakang mobil, "Apa kabar pak Agung?" Sapa Senja saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Baik, Nona." Jawab Pak Agung, ia menatap Senja dari spion mobil.
Senja tersenyum dan menutup pintu mobil. "minta tolong ke kantor ya, pak." ucap Senja.
__ADS_1
"Baik Nona."
Pak Agung mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan Ibu Kota yang padat. Di perjalanan Senja mengirim pesan ke Hengky untuk memastikan Langit dikantor atau tidak.
'Beliau baru selesai rapat. Akan saya sampaikan jika Nona mencari beliau.' balas Hengky.
'Tidak perlu, mas. Terimakasih.'
'Baik Nona.'
Senja memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan menikmati kemacetan kota Jakarta.
Tepat sebelum jam makan siang Senja tiba di gedung Actmedia. Pak Agung menghentikan mobilnya di depan Loby kantor.
Senja turun dari mobil, beberapa pegawai lama yang mengenalnya terkejut dan dengan senang menyapa. Senja mulai masuk ke dalam gedung, lebih banyak orang-orang yang terkejut melihat kehadirannya.
Senja langsung masuk ke dalam lift dengan beberapa pegawai yang tidak ia kenal, mungkin mereka pegawai baru.
Senja mendengar bisik-bisik kecil keluar dari mulut pegawai dibelakangnya yang saling bertanya menanyakan siapa dirinya.
"Tring"
Pintu lift terbuka di lantai delapan.
"Enna!!" Teriak Senja melihat Enna berdiri didepan pintu.
"Njaaaaa!!!" Enna berlari masuk ke Lift dan memeluk sahabatnya itu.
"Kamu kapan datang?" Tanya Enna antusias
"Tadi pagi, En."
Enna melirik ke belakang melihat beberapa karyawan yang sedang penasaran.
"Ini istrinya pak Langit, jadi bilang sama temen-temen kalian jangan sok kegenitan sama pak Langit." Ucap Enna dengan nada super jutek.
"En, apa-an sih kamu. Jangan gitu lah." Senja menarik tangan Enna. "Maaf yaa" Senja tak enak dengan beberapa karyawan disana.
"Tring"
Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Senja keluar, Enna masih menahan pintu.
"Kita nanti ngobrol ya, Nja. Aku harus ke lantai empat dulu." ucap Enna.
"Oke En." Senja melambaikan tangannya.
Setelah pintu lift tertutup, senja melanjutkan langkahnya. Tidak ada orang sama sekali di meja sekretaris. Ia menyusuri lorong menuju ke ruangan CEO yang dulu ia ingat.
Benar saja, masih sama seperti dulu. Ada meja skretaris di samping pintu, namun tidak ada penghuninya disana.
Senja mengetuk pintu, lalu membukanya.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang wanita duduk diatas tubuh Langit yang sedang terlentang di sofa panjang dengan tangan Langit memengan kedua lengan wanita itu.
"Nja!!" Langit menyingkirkan tubuh wanita itu dan berdiri.
Senja masih diam, air matanya menetes. Ia berjalan pelan menghampiri Langit memberikan coolerbag yang ia bawa tadi.
Langit menerimanya dengan hampa, "Nja. Kamu jangan salah paham dulu."
"Aku bawain kamu makanan, mas. Aku pergi dulu, tolong jangan kejar aku." Ucap Senja menahan tangisnya.
"Oooh, jadi ini istri kamu?" Wanita berambut pendek itu menghampiri Senja, ia mengulurkan tangannya pada Senja.
"Marsya." Wanita itu memperkenalkan diri, "Aku yang selama ini mengurus suamimu."
-Bersambung-
__ADS_1