
...*HAPPY READING* ...
Kembali mata mereka bertemu. Tanpa suara, hanya dengan saling menatap, keduanya sudah tahu maksud satu sama lain.
Apakah ini namanya cinta?
Entahlah.
Kalau sudah cinta katanya tai kucing berasa coklat, lautan akan diseberangi dan gunung pun akan didaki. Tapi Senja, baru lari mengelilingi lapangan saja jalannya sudah kaya orang mau mati.
Setelah Arga menutup latihannya, semua saling bersalaman dan ditutup dengan salam persaudaraan.
Senja buru-buru mengambil tasnya dan ingin segera berjalan ke jalan raya untuk mencegat angkot. Ia sempat mengecek ponsel pintarnya, namun lagi-lagi batrainya habis daya.
“Senja…”
Ia menoleh saat suara yang sangat familiar itu menyapa telinganya.
“Iya Mas…”
"Kamu tunggu gerbang, kita antar.”
“Tapi…”
“Aku sudah izin sama mas Atma.”
Senja segera menggigit pipi dalamnya saat dengan lancang sudut di bibirnya tertarik dan menciptakan sebuah lengkungan yang tak mampu ia tahan. Kenapa ia bisa salah tingkah hanya karena Arga menyebut Atma dengan panggilan Mas seperti dirinya?
Mungkin dasarnya Senja saja yang gampang baper.
Ia berjalan menuju gerbang dengan tergesa. Entah mengapa kakinya tak mau jika diajak jalan lebih pelan. Ia melewati lapangan utara, dimana di sana juga ada seleksi ODEGA. Sempat matanya bertemu dengan Rivan, sebelum ia melanjutkan penjalanannya menuju gerbang.
Di gerbang Senja pun tak bisa diam. Dia mondar-mandir atau menghentakkan kaki berkali-kali hingga akhirnya sebuah motor berhenti di dekatnya.
“Ayo…”
Tanpa melihat siapa dia, Senja segera naik ke boncengannya.
Tapi suaranya kok beda? Ah bodo. Senja masih setia menunduk, dan motor itu segera berjalan membawa dua manusia yang masih bertahan dalam diam.
Saat Senja sudah mampu menetralkan jantungnya, ia mulai menatap sosok yang memboncengnya. Ia mengernyit saat melihat punggung itu berbeda dengan yang ia lihat sebelumnya. Kalau dilihat dari belakang, kok mas Arga jadi kelihatan lebih berisi sih? Batin Senja.
“Senja, bisa kamu kasih tahu arah-arah rumah kamu mana?”
Degh!
Motor itu mendadak oleng karena Senja yang berjingkat tiba-tiba saat motor itu berjalan di tikungan. Dan asal tahu saja, berjalan dengan kecepatan 60 km/jam di tikungan itu tergolong kencang.
“Kamu kenapa sih?”
Motor itu memelan seketika. Jelas sekali rasanya saat kecepatan motor ini berkurang drastis.
“Jangan diem aja dong, bilang. Arga cuma ngasih tahu rumah kamu sebelum rumahnya Bambang.”
Senja masih belum bisa berkata. Ia begitu malu meskipun ia yakin jika Wahyu pun tak akan tahu isi hati dan pikirannya.
“Ekhem…” Senja berdehem untuk menetralkan kegugupannya.
“Anu Kak, eh Mas… Engg…” Senja menelan ludah karena bibirnya masih bergetar.
“Kamu kenapa sih?”
Senja menggeleng. Santai Senja, santai. Jangan konyol. Mana mungkin Wahyu dari depan bisa melihat gelengan kamu. Senja merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
“Tahu masjid Al Ikhlas nggak Mas, nanti berhenti situ aja.”
Senja mengurut dadanya lega saat akhirnya ia bisa menuntaskan kalimatnya dengan baik.
“Masuknya jauh nggak? Soalnya tadi Arga pesen kalau nganternya kudu sampai rumah.”
Tak hanya layu, bunga-bunga yang tadi bertebaran di hati Senja kering seketika. Terlepas dari permintaan Arga yang meminta Wahyu untuk mengantar Senja sampai rumah tapi tetap saja Senja kecewa. Dia berharap Arga lah yang mengatarnya bukan Wahyu seperti saat ini.
“Busset dah. Kalau pas sama Arga kayak gimana kalian bentuknya?”
Maksudnya?
Namun Wahyu diam saja karena pertanyaan itu tanpa suara karena Senja hanya mengucap dalam hatinya.
Apa maksud kamu ini Senja?
Author pun ikut bertanya-tanya sambil menepuk kepala.
“Senja, masjidnya masih jauh nggak?”
Senja kembali memusatkan pikirannya pada dunia nyata, meninggalkan kekecewaan karena bukan Arga yang kini bersamanya.
Tiba-tiba Senja membelalakkan mata. “Loh Mas?”
“Kenapa?” tanya Wahyu yang tak kalah kagetnya dengan Senja.
“Kelewatan Mas.”
Ckiiiiitttt!!
Spontan Wahyu menginjak rem di kaki dan menarik rem di tangannya.
Duk!
“Astaga….!! Kok bisa sih!?”
“Maaf Mas…” cicit Senja.
Wahyu medesah. Senja yakin kalau ada rasa marah yang turut dihembuskan di sana.
“Sekarang kamu fokus ya. Kasih tahu aku mana rumah kamu.”
“Iya Mas.” lirih Senja yang sarat akan penyesalan.
Senja terus memberitahu setiap ada tikungan atau gang. Hingga akhirnya tiba di masjid Al Ikhlas, Senja meminta Wahyu untuk berbelok di sana. Menginstruksi setiap persimpangan yang di lalui hingga akhirnya berhenti di depan halaman rumahnya.
Atma yang sedang mencuci motor menghentikan sejenak aktivitasnya saat mendengar ada suara motor yang berhenti di depan rumahnya. Dia mencuci tangan kemudian mematikan kran saat tahu yang tiba adalah adiknya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam.”
Wahyu mengucap salam dan langsung dijawab oleh Atma. Keduanya berjalan mendekat, dan bersalaman setelahnya.
“Maaf Mas, saya yang mengatar Senja karena Arga sedang TC dengan siswa.”
Arga memang sudah menceritakan Atma, kakak Senja yang juga warga pencak silat yang sama dengan mereka.
Atma mengangguk. “Terimakasih.”
“Saya juga mohon maaf karena tadi sempat kebablasan karena Senja nggak ngasih tahu pas waktunya masuk gang.”
Atma langsung melayangkan pandangan pada adiknya. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepala.
__ADS_1
“Iya. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.”
“Iya Mas, sama-sama. Kalau begitu saya permisi.”
“Nggak mampir dulu.”
“Iya Mas. Kasihan Arga, dia ngelatih sendiri sekarang.”
Atma mengangguk paham. “Salam untuk Arga.”
“Iya Mas. Assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam.” Serempak Atma dan Senja.
Wahyu segera pergi meninggalkan rumah Senja.
Tin tin
Wahyu sempat membunyikan klakson motornya sebelum benar-benar berbalik arah dan kembali ke sekolah.
“Capek ya?” tanya Atma saat melihat wajah lesu Senja.
“Iya Mas…”
“Itu kakinya kenapa?” kembali Atma bertanya kala melihat adiknya berjalan dengan tertatih.
Senja berhenti dan melihat pergelangan kaki yang tadi sempat dipijit Arga.
Atma memegang bahu adiknya. “Mas harap kamu sungguh-sungguh dengan yang kamu jalani. Buat Mas percaya kalau kamu ikut silat bukan karena Arga.”
Atma pergi begitu saja meninggalkan adiknya dan kembali melanjutkan aktfitasnya mencuci motor di halaman samping rumah.
Senja meneruskan langkah untuk masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum…”
Senja masuk setelah mengucap salam. Mengucap salam saat masuk rumah memang sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga Senja. Entah ada yang menjawab atau tidak, bahkan ketika rumah kosong pun salam pastilah diucapkan.
Dia segera menuju kamarnya kemudian membersihkan diri untuk bersiap mengaji di masjid.
***
Keesokan harinya.
“Senja, kamu kenapa?” tanya Ifa saat melihat Senja berjalan dengan tertatih keluar dari angkot.
Ayu dan Ucik yang juga bersama Ifa turut memperhatikan Senja.
“Ennnggg, ya gini deh…”
Senja kemudian berpegang pada lengan Ifa dan berjalan bersama.
“Gara-gara latihan kemarin ya?” kembali Ifa bertanya.
Enggak, gara-gara Arga, jawab Senja namun hanya dalam hati saja.
“Ini nih yang bikin aku ngeri. Kamu masih pengen lanjut?”
Ditanya Ayu seperti itu membuat Senja dilema. Ada rasa malas gara-gara sikap Arga, namun apa mau dikata, ia harus konsekuen dengan pilihannya.
“Aku baik-baik saja. Yuk ke kelas.”
Empat bersahabat ini berjalan bersama-sama menuju kelas mereka.
__ADS_1
TBC