SENJA

SENJA
Check-in


__ADS_3

Enjoy reading Kaka.


Jangan sungkan kalau mau kasih kritik dan saran. 🥰🥰🥰


"Oke itu tadi Rayi, dan Rayi itu temannya Indra. Terus kira-kira ngapain Rayi tadi di sana. Dan lagi kenapa muka kamu kusut banget kayak gitu?" tanya Senja beruntun.


Ifa hanya mendesah pasrah. Sedang Ucik diam dan enggan bersuara. "Kamu beneran nggak tahu siapa Indra?" tanya Ifa.


"Emm, dia tetangga kamu," jawab Senja ragu.


"Tapi keadaan memaksa kamu untuk tahu siapa itu Indra lebih dari sekedar nama," kata Ifa kemudian.


"Keadaan yang gimana maksudnya?" tanya Senja.


"Keadaan di mana kamu jadi di cewek yang disukai sama Indra," kata Ifa menjelaskan.


"Terus?" tanya Senja lagi.


"Kamu enggak lihat itu tadi surat isinya apa?" tanya Ifa.


"Lihat. Isinya aku bisa menerima kalau ada barang yang aku suka, tapi aku boleh buang kalau nggak suka. Ya kan Cik?"


Ucik yang ditanya sama sekali tak bereaksi. Dia hanya memandang kedua sahabatnya bergantian dengan tatapan datarnya.


"Bukan itu Senjaaaa...," kata Ifa dengan lesu.


"Terus yang mana, yang kata-kata dia suka sama aku?" tanya Senja yang bingung karena tidak mengerti dengan maksud sahabatnya ini.


"Yaaaa." Ifa diam sejenak. "Kamu nggak ngerasa gimana gitu begitu tahu ada yang suka sama kamu?" tanya Ifa lagi.


Senja hanya menggeleng pelan, kemudian berkata,"nggak, ya..., gimana ya? Ya kalau suka ya biarin, mau diapain lagi," jawab Senja santai.


"Tapi kamu nggak ada pilihan selain jawab iya Senja."


"Kok gitu?" heran Senja.


"Coba deh kamu perhatiin kata-kata dia pas ngomong dia suka sama kamu."


Senja segera meraih kertas yang diperolehnya dari Indra, kemudian dibacanya pada bagian yang yang dimaksud Ifa. "Aku cuma tahu satu hal, yaitu aku suka sama kamu. Yang ini bukan yang kamu maksud?" tanya Senja.


Dan bukan hanya Ifa tapi Ucik pun turut mengangguk.


"Terus?" lagi-lagi Senja bertanya karena dia merasa benar-benar belum paham apa makna lain dibalik kalimat ini.


"Senja, Indra nggak mau tahu apapun, yang jelas dia suka sama kamu. Dan kalau dia suka, dia nggak ngasih pilihan, kecuali kamu harus berkata iya," kata Ifa panjang lebar.


Mata Senja membulat sempurna.


"Ogah gua," kata Senja sambil menggeleng cepat. "Big no ya. Kenal kagak, wajahnya aja lupa, kayaknya suka maksa juga, dan lagi ya, cari mati namanya kalau aku pacaran sama dia."


"Emang kalau pacarnya selain sama Indra kamu nggak mati?" tanya Ucik dengan nada menggoda.


"Emmm, mati juga," jawab Senja lesu.


"Bwahahahaha," tawa Ifa dan Ucik pecah.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya bercanda dan tertawa bersama, hingga akhirnya jam pun menunjukkan pukul 3.


"Fa, udah sore nih, balik yuk," kata Ucik kepada Ifa sambil menunjukkan jam yang tertera di ponselnya.


"Wah, udah jam 3 aja. Kalau gitu ayok," kata Ifa sambil menatap Ucik. Sejurus kemudian dia ganti menatap Senja dan berkata, "kita balik dulu ya."


"Oke," kata Senja sambil berdiri dan berjalan beriringan dengan kedua kawannya meninggalkan kamar.


"Ayah, Ibu sama Kakak kamu ada dimana?" tanya Ucik.


"Bentar," kata Senja pada kedua sahabatnya. "Ayah, Ibu, Mbak, Mas," kata Senja memanggil seluruh anggota keluarganya. Namun tak ada satupun yang menjawab.


Saat mereka tiba di teras, ternyata ayah dan Atma sedang bersantai di sana, sedangkan Arti dan ibu sedang menyiangi kacang panjang dan buncis tak jauh darinya.


"Kenapa sih Nak kok teriak-teriak?" tanya ibu.


"Kita mau pamit," ucap Ucik sopan. Ifa dan Ucik pun kemudian menyalami mereka satu persatu.


"Hati-hati di jalan," kata ayah.


"Sampai ketemu besok," kata Senja.


"Kita permisi dulu, assalamualaikum," kata Ucik.


"Waalaikumsalam," serempak Senja dan keluarganya.


Sepulang Ifa dan Ucik, Senja ikut bergabung bersama keluarganya di teras. Saat itu pula HP ayah berdering menandakan ada sebuah panggilan video masuk.


"Anton Bu," kata ayah pada sang istri.


Syukur deh, mas Anton bisa nepatin janji untuk nggak ngilang kayak dulu lagi. Batin Senja.


Semua larut dalam obrolan termasuk Senja. Hari ini Senja tak ada aktivitas mengaji seperti biasa, karena ini hari Jumat. Setiap Jumat memang kegiatan mengaji di masjid diliburkan.


Hingga senja berganti malam dan malam pun pergi berganti dengan pagi.


"Cahaya yakin udah sehat?" tanya ayah saat melihat putrinya tengah bersiap-siap dengan ibu yang berjalan mengikutinya sambil terus menyuapinya.


"Iya Yah," jawab Senja setelah menelan makanan di mulutnya.


"Kamu hati-hati ya," kata ayah lagi.


"Siap Ayah," kata Senja sebelum menerima satu suapan lagi dari ibunya.


"Kamu mau persami apa mau kemah seminggu sih Ay," tanya Atma begitu melihat sang adik keluar dari kamar dengan membawa satu ransel besar dan sebuah tas jinjing.


Senja tak menjawabnya melainkan segera menatap bawaannya. Iya, emang cuman semalam, tapi ini kayaknya penting semua deh. Batin Senja. "Terus gimana dong Mas?" tanya Senja pada sang kakak.


"Masa iya ya cuma semalam aja butuh segitu banyak?" kata Atma balik bertanya.


"Pas packing kayaknya bakal butuh semua deh," jawab Senja kemudian.


"Ya udah deh Mas anterin, biar nggak ribet banget," tawar Atma.


"Beneran Mas!" pekik Senja girang.

__ADS_1


"Iya," jawab Atma disela sarapannya.


"Alhamdulillah ya Allah," ucap Senja sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Kayak dapet apa aja kamu Dik," ucap Arti sambil terkekeh.


"Ini anugrah tahu Mbak."


"Iya, iya, udah, ayo kita tunggu Mas Atma di depan," kata ibu sambil membawakan salah satu bawaan Senja.


Dan kini Senja sudah tiba di sekolah. Dia langsung berkumpul di lapangan berdasarkan kelompok yang sudah ditentukan saat MOS beberapa minggu yang lalu.


"Sennjjjaaaaaa....!"panggil Ayu sambil berlari dan memeluk sahabatnya ini.


"Maaf ya kemarin aku nggak bisa ikut jenguk kamu," kata Ayu dengan nada menyesal.


"Nggak apa-apa kok, lagian sebenarnya aku juga udah sembuh, cuma sama Ibu suruh istirahat dulu, biar pulih beneran," terang Senja.


Kebetulan Ayu dan Senja masuk ke dalam regu yang sama, sedangkan Ucik dan Ifa harus terpisah ke dalam dua regu yang berbeda.


Tiba-tiba terdengar suara mikrofon yang berdenging.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa seseorang dari atas podium yang dapat dipastikan itu adalah ketua OSIS di sekolah Senja yaitu Rivan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh peserta persami khususnya, dan semua yang mendengarkan salam itu pada umumnya.


"Selamat pagi adik-adik, bagaimana sudah siap dengan kegiatan kita hari ini!"


"Ssiiaaaappp Kkkaaaaakkkk," serempak seluruh peserta persami yang sudah berkumpul di lapangan.


"Sudah berkumpul dengan kelompok masing-masing kan?" tanya Rivan lagi.


"Ssuuddaahhhhh Kaakkk!"


"Baiklah sebelum kita mulai acara persami dalam rangka penerimaan siswa baru tahun ini, mari kita buka acara ini dengan bacaan Ummul kitab. Liridho ta'ala Alfatihah."


Semua membacakam surat al-fatihah dengan khusyuk.


"Aamiin aamiin ya robbal alamin. Untuk selanjutnya bisa check-in lewat Kakak yang di sebelah kanan untuk putra, dan untuk peserta Putri bisa check-in kepada Kakak yang berada di sebelah kiri. Tolong lakukan dengan rapi dan tertib ya!"


Akhirnya semua berbaris untuk melaksanakan instruksi yang baru saja diberikan. Semua tampak bersemangat tak terkecuali Senja. Meskipun dia tidak dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, setidaknya dia bisa terlibat dalam acara cara yang menurutnya luar biasa ini. Saking asyiknya di lapangan, Senja tak menyadari kalau sedari tadi ada ada beberapa pasang mata yang terus mengawasinya.


"Kucing kecil ini benar-benar ya," geram seseorang sambil mengamati Senja dari jauh.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.

__ADS_1


__ADS_2