SENJA

SENJA
Sahabat dan Cinta


__ADS_3

"Ifa kenapa?" lirih Ayu pada Senja saat mereka sadar Ifa dan Ucik tengah saling menatap dengan tatapan serius.


Senja hanya menggidikkan baju.


"Fa..."


Ifa menoleh ke arah Ayu yang duduk di sampingnya.


"Kalau ada masalah cerita dong. Siapa tahu kita bisa bantu."


Ifa mendesah. "Senja udah jadian ya?" tanya Ifa tiba-tiba.


"Ha? Jadian apa?" Senja terkejut dengan pertanyaan random Ifa.


"Kamu sama Kak Arga."


Senja menggeleng berulang kali. "Nggak lah, gila aja aku jadian."


"Syukur deh..." Ifa mengurut dadanya lega.


"Eh tunggu deh. Jadian itu maksudnya pacaran kan?"


Pletak


"Ayu! Sakit tahu!" protes Senja kala sahabat mungilnya itu menghadiahi sebuah jitakan di kepalanya.


"Ya lagian, udah nemplok kesana-kemari tapi ditanya gitu aja nggak ngerti!" ucap Ayu bersungut-sungut.


"Ya kan aku cuma memastikan." Senja masih saja membela diri. Pasalnya bab jadian dan pacaran masih belum sempat ia pelajari. Eh, kalau tiba-tiba Kak Arga ngajak jadian, abis itu aku kudu gimana ya?


"O iya, kamu tadi Napa nanya gitu sama Senja?" tanya Ayu pada Ifa.


"Emm, aku..." Ucapan Ifa menggantung kala bel masuk berbunyi dengan nyaring.


"Kenapa?" desak Ayu lagi.


"Emm, itu..."


"Ssttt!" Ucik memberi tahu sahabatnya bahwa guru mata pelajarannya mereka hampir tiba di kelas.


"Ceritain nanti," bisik Ayu pada Ifa yang duduk di depannya.


Dan pelajaran pun dimulai. Hingga waktu pulang sekolah tiba. Semua berhambur untuk pulang ke rumah masing-masing.


Namun Ifa dan Ucik tak langsung pulang. Mereka sekarang berada di rumah Ayu, tentunya setelah izin pada orang tua masing-masing.


"Jadi gimana?" tanya Ayu pada Ifa begitu mereka sedang bersantai di rumah Ifa.


Ifa menghela nafas. "Indra." Hanya dengan menyebutkan satu nama, raut wajah kedua sahabatnya sudah berubah.


"Ceritain sama kita," kata Ucik dengan wajah serius.


Ifa menyandarkan punggungnya. "Maafin aku."


"Kenapa harus minta maaf?" heran Ayu.


"Ayu, dengerin aja, jangan di potong!" Ucik memperingati Ayu dalam mode serius.

__ADS_1


Ayu melakukan gerakan seolah tengah mengunci mulutnya.


Kembali Ifa menghela nafas. "Aku sudah lama suka sama Rayi."


Dengan mata terbelalak, Ayu cepat-cepat membungkam mulutnya yang nyaris mengeluarkan suara.


"Dan beberapa hari yang lalu nembak aku." Ifa menelan ludah. "Singkat cerita kemaren kami jadian. Dan tadi pas di kantin aku nggak sengaja ketemu dia. Dia sempet manggil aku untuk bicara berdua sebentar. Dan..." Ifa kembali menghela nafas. "Dia pengen aku buat Senja jadian sama Indra atau aku dan dia nggak bisa sama-sama." Punggung Ifa merosot.


"Fa..." Ayu menepuk bahu Ifa.


"Aku tahu Rayi itu anaknya baik, hanya saja dia harus terjebak dalam lingkaran pertemanan yang salah." Ifa menarik kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Apa salah kalau aku pengen mempertahankan hubungan dengannya?!"


Ucik menghembuskan nafas dan memijat pangkal hidungnya. Wadduh, simalakama ini.


"Ifa suka sama Rayi?" tanya Ucik.


"Iya," jawab Ifa dengan wajah sendunya.


"Kalau Senja?" tanya Ucik lagi.


"Maksudnya?" serempak Ifa dan Ayu.


"Terlepas dari Senja suka sama siapa, kira-kira dia berani nggak kalaupun disuruh pacaran?"


Ifa dan Ayu diam.


"Kalian nggak lupa kan gimana galaknya Masnya Senja?" kata Ucik.


Keduanya hanya mengangguk.


"Nah, kira-kira sebagai teman yang baik kita kudu bersikap kayak gimana?"


"Tapi apa aku nggak boleh jalan sama orang yang aku suka?" protes Ifa.


Ucik menghela nafas. "Kalau kamu jalan sama Rayi, yang ngerasa seneng siapa?"


"Aku," jawab Ifa.


"Kira-kira kalau Senja gimana perasaannya?"


"Kudunya dia bahagia kalau temennya bahagia," kekeh Ifa.


"Berarti kalau ada yang sedih menderita sebagai teman yang baik juga harus ngerasain dong."


Ifa diam. Dia menyambar tasnya dan segera memakai sepatunya.


"Mau kemana Fa?" tanya Ayu khawatir.


"Nggak ada gunanya aku di sini. Kalian nggak ada yang ngertiin aku!"


"Nggak gitu Fa, kita tu cuma pengen kamu mikirin Senja," terang Ucik pada Ifa.


Ifa tak menjawab. Ia bangkit setelah selesai mengikat sepatunya.


"Fa!!"


Ifa tetap berjalan meskipun ia mendengar Ayu memanggilnya.

__ADS_1


"Udah..." Ucik menahan Ayu saat ia ingin mengejar Ifa.


"Tapi Ifa gimana?"


"Nggak apa-apa, palingan juga nggak lama. Niat kita kan baik, kita nggak pengen salah satu dari Senja atau Ifa terluka."


Ayu mengangguk paham setelah Ucik memberinya penjelasan. "Terus Senja gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ya dia kudu dikasih tahu apa nggak masalah ini."


Ucik nampak berfikir. "Nggak usah deh kayaknya. Biar Ifa juga nggak ngerasa kita musuhin dia."


Ayu manggut-manggut. "Iya, iya. Aku paham. Lagian Kak Arga kayaknya juga nggak bakal ngebiarin Senja dalam bahaya."


"Senja nggak dalam bahaya kali." Ucik terkekeh setelahnya.


"Lha terus kamu ngapain nentang Ifa kalau nggak karena pengen ngehindarin Senja dari Indra yang berbahaya....???"


Ucik terkekeh. "Kebanyakan baca noveltoon sih kamu sampe halunya kebawa ke dunia nyata."


"Ihh, Ucik. Jawab aja napa. Emang ceritanya bagus-bagus, nggak salah dong kalau aku suka!" Sewot Ayu karena Ucik yang meledeknya.


Ucik masih terkekeh melihat sahabat mungilnya itu. "Ya emang Indra tu bandel ya, inipun katanya Ifa, ya tapi dia kan nggak mungkin ngajak Senja bolos ngerokok atau apalah. Paling banter ngapel ke kelas pas istirahat, atau nganter pulang. Itupun kalau Senja mau."


"Iya juga ya. Terus kamu tadi kenapa ngelarang Ifa yang pengen bikin Senja sama Indra jadian?"


"Aku justru mikirin Ifa."


"Kok bisa?" Ayu masih belum mampu menangkap maksud sahabatnya ini.


Ucik menghela nafas. "Setahuku nih ya, dari novel-novel yang aku baca..."


Ayu mencebik saat Ucik juga bawa-bawa novel.


"Dengerin, jangan ngeledek!"


"Iya, iya, terus??" Ayu mulai siap mendengarkan.


"Setahuku itu kalau suka ya suka aja. Rayi kalau nembak ya nembak aja, bukannya habis nembak tapi malah ngasih syarat. Aku takutkan Rayi itu tahu kalau Ifa suka sama dia makanya dia manfaatin kesempatan buat bikin Senja jadian sama Indra. Ngerti nggak sih?"


"Iya-iya, aku paham kok."


"Yakin?"


"Yakin Cik, astaga. Terus sekarang kita gimana?"


"Ya udah, gini aja, nggak usah gimana-gimana. Biarin mereka selesain urusannya. Baru kalau di butuhkan kita turun tangan."


Ayu mengernyit. "Tangan kan di sini, terus mau diturunin ke mana?" Ayu bertanya dengan wajah yang begitu menyebalkan menurut Ucik. Wajah Ayu yang imut berpadu dengan ekspresi innocent karena tak merasa bersalah atas pertanyaan bodohnya.


"Iiihhhh!!!" Ucik yang minim ekspresi saja bisa geram dibuatnya. "Aku mau pulang."


"Eh Cik, diturunin kemana tangamnya?!" teriak Ayu pada Ucik yang pergi begitu saja dari rumahnya. "Yah..., dia pergi. Terus tangannya dibawa turun ke mana?" Ayu masih terus bertanya-tanya sambil memegang kedua tangannya.


TBC.

__ADS_1


Nah kan, Ifa juga bucin diam-diam.


Tunggu part selanjutnya ya.


__ADS_2