SENJA

SENJA
116


__ADS_3

Sebelumnya Author minta maaf, kalo apa yang kalian ekspektasikan tentang Langit dan Senja gak seperti yang ada di foto ini. Sebenarnya Author susah banget nyari yang pas juga dengan karakter Langit dan Senja.




Maaf ya jika merusak imajinasi kalian semua.


.


.


.


.


.


.


*********


Senja masih membereskan meja makan, dibantu asistennya yang siap sedia jika majikannya meminta bantuan. Suami dan anak-anaknya sudah pergi keatas, teman-temannya juga sudah pulang setelah makan malam bersama.


"Sudah Nona, biarkan kami yang mengerjakannya. Nona pasti lelah seharian tidak istirahat." Ella merasa tidak enak melihat Senja membereskan meja makan.


Senja tersenyum, "dikit lagi sudah selesai Bu Ella." Ucap Senja.


Ella menyerah, Ia tahu jika perkataannya gak akan membuat Senja berhenti. Ia putuskan untuk membantu Senja agar majikannya bisa segera beristirahat.


"Sisanya biar kami yang kerjakan Nona." Ucap Ella.


Senja mengangguk.


"Bu Ella, apa jam segini Zia sudah dikamarnya?" tanya Senja.


"Saya akan panggilkan, Nona."


"Tidak perlu, Bu Ella. Biar saya yang pergi kesana." Senja beranjak meninggalkan ruang makan.


Ia pergi ke bangunan belakang, yang memang khususu untuk tempat tinggal asisten rumah tangga. Senja melihat Zia dan Kartika masih duduk bersama beberapa asisten rumah tangga lainnya diteras.


Semuanya sigap berdiri melihat Senja menghampiri mereka.


"Zia, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. bisa ikut denganku sebentar?" pinta Senja.


Dengan kebingungan Zia menganggukkan kepalanya.


Senja menggandeng Zia, mengajaknya berbicara di kursi panjang tak jauh dari kolam renang.


"Ada apa, Nona Senja?" Tanya Zia khawatir.


Senja menatap Zia dengan senyuman lembut. "mas Marko sudah mengatakan tentang hubungan kalian."


Zia terkejut, ada rasa takut di dalam sorot mata Zia.


"Kenapa? Apa yang kamu takutkan?" Tanya Senja.


"Apa anda akan menentang hubungan kami, Nona?" Zia balik Tanya. "Saya sudah sering kali membahas ini dengan tuan Marko. Saya bukanlah orang yang sepadan untuk bersanding dengannya."


Senja menggenggam kedua tangan Zia yang gemetar. "Jadi ini alasan kamu meminta mas Marko menyembunyikan hubungan kalian?" Tanya Senja.


Zia mengangguk.


"Apa kamu mencintainya?" Tanya Senja.

__ADS_1


Zia menatap Senja, ia ragu ingin menjawabnya. Namun Senja bisa melihat jawaban dimata Zia.


"Kami mendukung hubungan kalian, Zia. Kami sangat senang mas Marko menemukan tambatan hatinya. Jika kamu memang mencintainya, kenapa kamu selalu menolak lamarannya?"


"Saya takut semua orang akan menghinanya karena menikahi seorang pengawal dari keluarga sederhana seperti saya, Nona."


"Biarkan orang lain menghina kalian, tanganmu tidak akan cukup menutup mulut mereka. Berusaha menghindari pernyataan buruk mereka mungkin membuat pikiranmu lega, tapi tidak dengan hatimu Zia. Hatimu hanya akan selalu terluka ketika kamu berusaha untuk menahan rasa cintamu ke mas Marko.


Percayalah Zia, aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan seperti yang ku lakukan. Jika kamu memang cinta padanya, terimalah dia. Kamu berhak bahagia Zia.


Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu saat ini Zia. Sudah siapkah jika suatu hari nanti kamu melihat dia tertawa bahagia, tapi bukan kamu penyebab kebagmhagiannya?"


Zia menatap Senja, memang benar apa yang Senja katakan. Apalagi sekarang ia mengetahui jika orang-orang terdekat Marko juga mendukung hubungan mereka.


"Apa pak Langit juga menyetujui hubungan kami? karena beliaulah satu-satunya keluarga yang dimiliki tuan Marko, Nona?"


Senja mengangguk. "Dia sangat mendukung kalian."


"Apa benar tidak apa-apa jika saya meneruskan hubungan ini?" tanya Zia.


"Lakukanlah, Zia. Kami akan mendukungmu." Jawab. "Pergi, kabarilah Marko jika kamu menerima lamarannya. Dia pasti akan sangat senang."


Zia masih belum beranjak.


"Dia sangat mencintaimu, Zia." Senja meyakinkan Zia.


"Terima kasih Nona, terimakasih sudah selalu memberi dukungan pada saya." Ucap Zia.


Senja tersenyum. "Belum terlalu malam untuk bertamu dirumah orang." kata Senja.


"Saya pamit dulu, Nona." Pamit Zia, Ia setengah berlari meninggalkan Senja.


Senja senang ia bisa membuat Zia berubah pikiran. Dengan begini, permintaan Marko padanya sudah ia selesaikan.


Dengan mengendarai motor maticnya, Zia pergi menuju ke rumah Marko hang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah Langit.


Mobil Marko masih terparkir di depan halaman rumah, seorang satpam menghampirinya.


"Tuan Marko sudah datang, Pak?" tanya Zia


"Barusan datang, Mbak. Mari masuk." Satpam membukakan gerbang untuk Zia.


Zia menuntun motornya dan meletakkannya di samping mobil Marko. Masih baru meletakkan helmnya di atas motor, ia sudah melihat Marko keluar dari rumahnya.


"Zia!?" Marko terkejut namun terlihat senang melihat kedatangan Zia.


Zia pergi menghampiri Marko. "Apa nona Senja mengatakan saya akan menemui anda?" tanya Zia.


Marko terlihat bingung, "Aku keluar karena hapeku tertinggal di mobil." Jawab Marko. "Apa yang membuatmu kemari semalam ini, Zi?"


"Ada yang ingin saya sampaikan pada anda, tuan." Zia tertunduk malu.


"Tentang apa itu, Zi?"


Kini Zia mendongakkan kepalanya dan menatap Marko. "Apa Lamaran anda masih berlaku untuk saya?"


Marko tersenyum, "Tentu. Tidak ada yang berubah dari hal itu."


"Apa boleh saya menjawabnya sekarang?" Tanya Zia.


Marko mengangguk, Ia sedang menebak kalimat apa yang akan keluar dari mulut Zia. Apakah Senja berhasil merubah pemikiran Zia?


"Maaf jika ini terlalu terlambat dan membuat anda menunggu cukup lama." Zia diam, tak melanjutkan kalimatnya.


"Apa kau sedang menolakku lagi, Zi?" Raut kecewa tergambar jelas di wajah Marko.

__ADS_1


"Bukan, Tuan. Saya tidak sedang menolak anda. Saya kesini justru karena saya ingin menerima lamaran anda."


Marko terdiam, mencoba mencerna kata demi kata yang barusaja Zia ucapkan. Ia tak mau salah mengartikannya.


"Apa jawaban saya sudah tidak berarti, tuan?" Tanya Zia.


Marko menggelengkan kepalanya segera. "Bukan Zi, bukan seperti itu. Aku hanya terlalu senang mendengarnya." Marko meraih kedua tangan Zia, "Terimakasih kamu sudah terima lamaran aku."


Zia tersenyum, ia tersipu malu.


"Kirimkan kabar ke orang tuamu, aku akan segera melamarmu."


Zia mengangguk, Bibirnya tak berhenti tersenyum menatap Marko.


*********


Dering dari ponsel Langit tak kunjung berhenti, walau sudah berapa kali ia menolak panggilan itu tetap saja tidak menyurutkan niat penelpon mengakhiri panggilannya.


"Siapa sih mas?" Tanya Senja yang baru saja keluar dari ruang ganti.


"Marko." Jawab Langit kesal sambil berulang kali menekan tombol tolak di layar ponselnya.


"Angkat aja kenapa sih mas?"


"Aduuuh, males banget sayang. Dia pasti lagi mau cerita tentang lamarannya yang udah diterima Zia. Gak penting banget." Langit menarik tangan Senja hingga Senja terjatuh dipangkuannya. "Sekarang kan waktunya aku sama kamu."


"Mulai deh otak nya kemana-mana."


Ponsel Langit kembali berdering, Senja mengambil ponsel langit dan menekan tombol terima di layar ponsel.


"Nih." Senja menyodorkan ponsel ke Langit sambil pindah posisi duduk disamping Langit.


Langit menerimanya dengan cemberut. "Apa sih Ko? Apa Apa Apa!? Lo gak tau nih udah malam waktunya gue ama istri gue prepare bikin adeknya Sky dan Sora!?"


"Gue mau kasih tau lo kabar baik Lang."


"Gue udah tahu, lamaran lo diterima Zia kan?"


"Oiya, Lo pasti dah dikasih tau Senja ya." Ucap Marko.


"Udah, gue tutup. Gak penting banget sih Lo!"


"Hei hei, yang lebih penting belum gue kasih tau." Teriak Marko, membuat Langit kembali menempelkan ponsel di telinganya.


"Apa?"


"Gue mau besok kalian semua temenin gue ketemu orang tuanya Zia."


"Hah!! Gila Lo!!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2