
Hari Minggu adalah hari yang paling banyak di nanti. Hari ini adalah hari dimana sebagian besar orang terbebas dari segala rutinitas pekerjaan maupun sekolah. Termasuk Senja. Kali ini dia sudah selesai dengan aktivitas mencuci dan menjemur pakaiannya, padahal ini masih jam 6 pagi.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dia beranjak ke dapur untuk membantu ibu dan kakaknya memasak. Bukan membantu, lebih tempatnya hanya melihat, karena Senja belum bisa memasak, dan ketika dia diminta membantu pun, akan berakhir dengan ibu yang mengomel karena seringkali Senja malah mengacaukan semuanya.
"Aya tolong ambilin piring dong," pinta Arti.
"Iya Mbk," jawab Senja sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ini Mbak," kata Senja sambil menyerahkan piring yang baru saja diambilnya.
"Makasih," kata Arti dengan senyum.
"Udah mateng Bu?" tanya Anton yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang digosok-gosokkan ke rambutnya.
"Bentar lagi siap," jawab ibu.
"Ayah, Atma, ayo sarapan!" panggil ibu.
Akhirnya mereka semua sarapan bersama-sama. Jarang sekali momen ini terjadi, sarapan bersama dalam satu meja. Biasanya hanya ayah dan Atma yang sarapan bersama di meja makan, sedangkan Arti dan ibu akan sarapan belakangan.
Dan Senja?
Dia akan sarapan sambil berjalan kesana-kemari disuapi ibunya.
"Aya masih kurang enak badan ya kok makanannya cuma diaduk-aduk?" tanya Arti karena melihat adik iparnya sejak tadi belum juga memasukkan makanan ke mulutnya.
"Kemarin gimana ceritanya bisa diantar itu, siapa namanya?" ucap ayah menggantung.
"Ibu Rubiah sama anaknya," sambung ibu.
"Iya siapa nama anaknya?" lanjut Anton.
"Arga," sahut Arti.
"Oh iya, Arga. Ibu juga lupa tadi siapa namanya?"
"Itu juga kan yang kemarin nabrak kamu?" ucap Atma tiba-tiba. "Kok bisa kebetulan ya?" lanjutnya.
Glek
Senja menelan ludahnya susah payah.
"Sudah sudah, ngobrolnya nanti aja. Sekarang selesaikan dulu makannya," interupsi ayah karena ada aura menekan dan tertekan tiba-tiba di meja makan.
Canggung dan mencekam. Dan Arti merasakannya. Ada emosi dalam sorot mata suami dan kakak iparnya. Sekian bulan menjadi menantu di keluarga ini, memang membuatnya perlahan-lahan tahu bagaimana keluarga ini. Dia merasa kasihan melihat perlakuan yang diterima Senja, namun dia tak tahu harus berbuat apa, karena masih ada rasa segan untuk mencari tahu alasannya.
Setelah selesai sarapan, mereka semua bersantai sambil menonton televisi. Merasa kasihan kalau Senja harus nimbrung di sana, akhirnya Arti meminta Senja untuk membantunya mencuci piring.
"Aya, Mbak boleh tanya nggak?" tanya Arti di sela-sela aktivitas mencuci piringnya.
"Boleh Mbak, ada apa emangnya?"
__ADS_1
"Kamu pacaran ya sama Arga?"
Senja menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kemudian dia menunduk. Rasa takut kembali menyeruak di dadanya. Menyadari perubahan sikap adiknya, Arti kemudian membimbing Senja untuk duduk di meja makan.
"Kalian deket?"
Lagi-lagi Senja hanya menggeleng.
"Naksir sama dia?"
Dan Senja masih setia menggeleng.
"Barangkali kamu mau cerita sesuatu sama Mbak?"
Senja kemudian mendongak. Saat melihat senyum di wajah kakak iparnya, ada rasa aman yang dirasakan Senja.
"Mbak jangan marah ya?"
"Mbak nggak mungkin marah tanpa alasan."
Senja kembali terdiam, dia mendadak ragu mendengar ucapan kakak iparnya. Bagaimana kalau Arti sama saja dengan kedua kakaknya.
"Mbak janji nggak marah," ucap Arti kemudian saat netranya menangkap ada rasa takut terpancar dari sorot mata adik iparnya.
"Janji?"
Arti mengangguk mantap. Akhirnya Senja menceritakan bagaimana awal pertemuan Arga, peristiwa kecelakaan yg membuat kakinya sakit, hingga kejadian yang membuatnya mimisan kemaren. Arti mengangguk paham. Dia yakin kalau adik kecilnya ini belum teracuni dengan apa yang disebut cinta.
"Emang apa salahnya sih Mbak punya teman cowok? Kenapa Aya nggak boleh?" ucap Senja.
Namun Arti merasa ini tak adil untuk Senja, batasan yang ditetapkan rasanya berlebihan.
"Ya, dengerin Mbak ya, mungkin maksudnya biar Aya itu aman, nggak pacaran dan sebagainya, yang itu bisa ganggu sekolah Aya."
"Aya kan cari temen bukan cari pacar."
Duh, kok bisa salah ngomong sih. Batin Arti.
"Ya kamu enggak, tapi temen cowok kamu gimana? Mungkin ya, semua jaga-jaga daripada susah nanti kalau sampai kejadian," jelas Arti pelan-pelan.
"Susah banget sih percaya sama Aya! Dibilangin enggak ya engak!"
Arti menghela nafas sejenak, berbicara masalah seperti ini dengan ABG memang bukan perkara mudah.
"Emang siapa sih Ay cowok yang pengen kamu ajak temenan? Yang nganterin kemaren?" tanya Arti dengan senyum menggodanya.
Senja menggeleng cepat.
"Ya sebenernya nggak ada mbak, cuma Aya pengen aja kayak temen-temen bisa main rame-rame."
"Sama cowok?" goda Arti lagi.
__ADS_1
"Ya cowok ya cewek, ah tauk ah Mbak?" ucap Senja sambil bangkit dan melangkah menuju kamarnya.
"Ay, duduk sini Nak," panggil ayah saat Senja melewati ayah dan kedua kakaknya yang sedang nonton tv.
Degh!
Ya ampun, mending di belakang sama Mbak Arti deh daripada duduk di sini. Mas Atma aja udah nyeremin malah ini ada Mas Anton lagi. Gerutu Senja dalam hati.
Beruntung saat itu ibu datang dengan membawa secangkir teh di atas nampan. Senja pun duduk kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan sang ibu.
"Udah sembuh sakitnya?" tanya ibu.
Senja hanya mengangguk.
"Katanya kemarin mimisan?" tanya ayah.
Senja hanya menjawab dengan anggukan lagi.
"Kena bola Yah katanya," terang ibu.
"Kok bisa sampai dianterin temen cowok bawa ibunya lagi", kini Atma bersuara.
Senja POV
Perasaan udah nggak enak sih, nggak kaget kalo tiba-tiba diginiin lagi.
"Kenal banget kayaknya sama cowok yang kemarin", kata Mas Atma dengan sinisnya.
Saat itu juga, Ayah Ibu serta Mas Anton langsung mengalihkan perhatian kepadanya.
"Maksudnya?" giliran Mas Anton bersuara.
Aku pasrah aja lah, toh kemarin Ibu Rubiah sama Kak Arga udah ngejelasin semua. Kalaupun nggak percaya ya aku bisa apa.
"Ibu ingat pas Aya keserempet motor dan kakinya terkilir?" tanya Mas Atma sama ibu.
Ibu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Mas Atma.
"Pas aku jemput, dia lagi sama cowok yang kemarin ke sini. Dia jatuh juga kayaknya, soalnya saat aku nyampe motornya pun masih keadaan roboh." (episode tabrak jatuh)
"Atau mungkin Senja bukan keserempet, tapi mereka sebenernya boncengan dan jatuh bareng."
"Atma...!"
"Aku cuma ngomong berdasarkan yang aku lihat Bu, di sana nggak ada orang lain selain mereka berdua."
Aku bangkit dan langsung ke kamar. Sudah, cukup sudah, tak dapat aku tahan lagi saat ini. Tak boleh kah aku marah? Aku terkena musibah, aku sakit, aku sudah jujur, tapi masih juga tak dipercayai, masih juga dicurigai. Belum juga aku berteman dengan anak laki-laki, sudah di curigai seperti ini. Apa salahnya sih pertemanan manusia beda jenis kelamin. Kenapa aku nggak bisa kayak temen-temen?
TBC
Alhamdulillah, done dear.
__ADS_1
Yang udah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Happy reading.