SENJA

SENJA
153


__ADS_3

"Ooooooek Oeeeeeek!!"


Mendengar bayi dalam pelukan menangis begitu keras membuat Aira langsung mengambilnya dan melakukan tindakan pada Bayinya.


"Pak Langit, tolong tunggu diluar ya." kata Aira.


"Ra, tolong jaga anak gue. Selamatkan dia, Ra. Jaga baik-baik, Ra."


"Iya, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik untuk menjaganya." Kata Aira.


Diantar seorang perawat, Langit meninggalkan ruangan kembali menemui teman-temannya.


"Lang, gue turut berduka cita atas meninggalnya anak lo." Ucap Hengky ketika Langit baru saja menghampiri mereka.


Langit menatapi wajah sedih Hengky dan Marko, sedang Zia dan Enna duduk dengan air mata yang masih terus mengalir.


"Anak gue hidup gaes! Anak gue sehat!" Langit memeluk Hengky dan Marko kegirangan.


Tidak adanya respon dari Hengky dan Marko membuat Langit melepaskan pelukannya.


"Kalian gak seneng anak gue selamat?" Tanya Langit.


"Gue masih membaca situasi aneh ini sih, Lang. Bukannya Aira tadi bilang kalo anak lo meninggal?" Tanya Marko


Langit mengangguk, "Pas gue datang emang dia gak gerak, gue ciumi gue peluk gue nangis tiba-tiba aja dia gerak trus lama lama nangis."


"Jadi?"


"Anak gue hiduuup!!" Teriak Langit menyita perhatian beberapa orang disekitarnya.


Raut wajah gembira juga terlihat di wajah Marko dan Hengky, mereka langsung memeluk Langit. Enna dan Zia juga ikut menangis bahagia mendengar kabar dari Langit.


"Alhamdulillah. Lo gak jadi diceraiin Senja, Lang." Kata Marko membuat Langit melepaskan pelukannya.


"Heh! Pikiran lo jauh amat." Protes Langit.


"Mending gue, Hengky udah mikir Lo bakal gila." Balas Marko.


"Wah! Kalian benar-benar sahabat yang sangat baik." Sindir Langit.


"Terimakasih pujiannya." Ucap Marko dan Hengky kompak.


"Keluarga Nyonya Senja?"


Teriakan seorang perawat menarik perhatian Langit. Ia segera berlari menghampiri perawat itu.


"Mari ikut saya, Nyonya Senja baru saja sadar."


Langit dan lainnya mengikuti perawat yang akan menunjukkan ruang rawat inap Senja.


Setelah naik lift dan melewati beberapa koridor rumah sakit, akhirnya mereka tiba di ruang rawat inap yang sebelumnya juga pernah Senja pakai.


"Karena Kondisi pasien masih dalam pengawasan,Untuk saat ini yang boleh di dalam ruangan hanya satu orang saja ya, Pak. Dokter Aira sudah menginformasikan sebelumnya, mohon dimengerti."


Walau ada rasa kecewa, Hengky dan lainnya tetap mengikuti peraturan yang telat dibuat.


"Kalo gitu kalian pulang aja." Kata Langit.


"Salam buat Senja, ya." Kata Marko.


Langit mengangguk, "Tolong sementara kalian urus Clara. Urusan gue sama dia masih belum selesai." pinta Langit.


Hengky dan Marko mengangguk


"Gue akan kirim orang kesini buat jaga-jaga kalo lo butuh bantuan." kata Hengky.

__ADS_1


"Thanks, Ky." Kata Langit


"Balik dulu, ya."


Setelah Hengky, Marko, Enna dan Zia beranjak pergi, Langit langsung masuk ke dalam.


Ia melihat Senja masih terbaring menutup mata diatas tempat tidur. Ia mengambil sebuah kursi yang akan dibuatnya duduk disamping Senja.


Langit meraih tangan Senja, berulang kali ia kecup sebagai tanda ungkapan rasa terimakasihnya yang sangat mendalam.


"Mas." Ucap Senja lirih.


"Sayang." Langit terlihat senang Senja membuka mata.


"Bagaimana keadaan anak kita, mas?" Tanya Senja khawatir.


Langit mengusap kening Senja. "Gak usaj khawatir sayang, putri kita selamat. Aira sedang merawatnya."


"Alhamdulillah..." Senja sangat bersyukur.


"Dia cantik sayang, seperti kamu dan Sora." Ucap Langit.


Senja tersenyum senang menggenggam tangan Langit.


"Maafin aku, sayang. Aku sudah membuat kamu menderita. Sekarang aku sudah tau siapa Clara sebenarnya. Maaf jika aku terlambat menngetahui semuanya."


Senja menepuk halus punggung tangan Langit. "Aku bersyukur kamu sudah mengetahui siapa Clara, Mas. Aku berharap kita sama-sama belajar dari semua ini."


"Iya, sayang." Langit tersenyum


"Kamu sudah siapkan nama untuk putri kita, Mas?" tanya Senja


Langit mengangguk, "Apa kamu akan marah kalau semua anak kita bernama sama denganku?" Tanya Langit.


Senja menggeleng, "Tidak, mas."


Senja tersenyum, "Aku suka namanya, Mas"


**********


Pagi ini Hengky sudah tiba di rumah sakit setelah menjemput ibu Senja di bandara terlebih dahulu.


"Maaf ya, Bu. Langit gak bisa jemput Ibu." kata Langit.


"Gak apa, nak. Ibu juga tahu kamu pasti jaga Senja." Balas Ibu, "Ibumu minta maaf karena dia tidak bisa datang, kalau ibumu ikut tidak ada yang menjaga mas Yudho."


Langit mengganguguk, "Iya, Bu. Tadi pagi Ibu juga sudah telpon Langit." Langit menatap Senja, "Maaf karena Langit tidak bisa menjaga Senja dengan baik jadi cucu Ibu harus keluar sebulan lebih cepat."


"Yang penting selamat, nak." Jawab Ibu sambil mengusap kening Senja. "Kamu sudah ketemu anak kamu, Nja?" tanya Ibu.


Senja menggeleng, "kata perawatnya dibawa kesini kalau sudah selesai mandi, Bu."


"Cucu ibu perempuan, namanya Mina. Cantik seperti kakak dan Mamanya." Langit menjelaskan.


"Cewek lagi? Alhamdulillah. Selamat ya, Nak." Ibu mengusap lengan Langit.


"Terimakasih ya, Bu."


"Permisi."


Aira datang bersama seorang perawat yang mendorong box bayi.


"Eeh, Aira. Apa kabar, nak?"


Aira menghampiri Ibu Senja, mencium tangan dan memeluknya sebentar lalu melepasnya. "Aira baik, Bu. Ibu bagaimana? Kapan datangnya?"

__ADS_1


"Ibu sehat, Nak. Barusan ibu datang diantar nak Hengky." Jawab Ibu Senja


Aira mengambil bayi Senja dan memberikannya pada Senja. "Cantik, Nja. Kaya kamu." kata Aira.


Senja tersenyum melihati bayi mungilnya yang sedang tertidur, "Hallo Mina, ini Mama sayang."


Langit dan Ibu Senja ikut mendekati Senja dan mennggoda Mina yang sebenarnya masih belum bangun.


"Mas mau gendong?" tanya Senja


"Iya, sayang." Langit mengangguk semangat.


Dibantu Ibu Senja, Mina dipindahkan ke tangan Langit.


"Hai sayang. Ketemu lagi sama papa ya." Langit membawa Mina mendekati Hengky. "Bibit gue nih, Unggul kan?" pamernya.


"Lucu ya.. Mina, buka matanya. Lihatlah om yang ganteng ini." Hengky mengabaikan kesombongan Langit.


"Jangan nak, lebih baik kamu melihat papa saja. Om ini akan membawa pengaruh buruk padamu."


"Mas, jangan gitu ah." Senja mengingatkan.


"Lang." Hengky serius memanggil Langit.


"Kenapa?"


"Ada yang harus lo selesain."


Senyum Langit menghilang seketika teringat sesuatu yang memang harus segera ia selesaikan.


"Biar ibu gendong, Nak." Ibu mengambil Mina dari tangan Langit. "Kalo kamu ada urusan segera berangkat aja, Nak. Senja biar ibu yang jaga."


"Makasih ya, Bu." kata Langit.


"Maaf, apa bisa tinggalkan saya dan mas Langit sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan berdua dulu." Pinta Senja.


"Aku akan kesini lagi nanti siang ya, Nja."


Aira dan seorang perawat pergi meninggalkan ruangan lalu disusul Hengky dan Ibu yang juga membawa Mina keluar.


"Kenapa sayang?" Tanya Langit.


"Aku gak mau lihat kamu berbuat hal bodoh seperti semalam, mas." kata Senja.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2