SENJA

SENJA
136


__ADS_3

Senja dan Langit sudah duduk di kursi ruang tunggu salah satu klinik kesehatan tempat Aira membuka praktek sore ini. Sky dan Sora bermain di playground kecil yang ada didalam ruang tunggu bersama beberapa anak dari pasien lainnya.


Sedari tadi kaki Langit tak henti bergantian ia gerakkan karena cemas. Berulang kali Senja mengingatkan untuk tenang, namun tidak bisa.


"Kamu kan kenal deket sama Aira, minta aja di duluin sayang." pinta Langit yang sudah tidak sabar menunggu nama Senja di panggil.


"Ya gak boleh gitu lah, mas. Udah setua ini masih belum ngerti budaya antri?" Goda Senja.


"Aku deg-deg an banget nih, sayang." langit meraih tangan kiri Senja dan meletakkannya di dadanya. "Udah gak sabar aku lihat calon ankku."


"Sabar-sabar, jangan terlalu ngarep mas. Nanti kalau hasilnya gak sesuai keinginan kamu gimana?"


Langit mengatur nafas lagi agar tenang. Ia melihat seorang wanita dengan perut yang besar datang seorang diri.


"Kasian ya dia, suaminya gak nemenin." Guman Langit.


Senja lebih mendekat ke Langit, "Aku dulu juga seperti itu."


Langit menatap wajah istrinya lalu merangkulnya, "Maaf, Ya." Ucapnya.


Senja tersenyum, "Iya mas iya. Aku cuma mau bercandain kamu kok malah kamu serius gini."


Langit hanya mengusap kepala Senja.


"Mama!!" Sora berlari dan langsung memeluk tubuh Senja


"Sayaaang, hati-hati ya. Kan di perut Mama ada adeknya." Langit mengangkat tubuh Sora dan memangkunya.


"Hah! Sora mau punya adek, Pa?" Sora Terkejut.


"Beneran, Ma?" Tanya Sky yang baru datang, ia langsung duduk disamping mamanya dan menatap perut mamanya.


"Masih belum tahu, sayang. Ini kan kita mau periksa. Nanti sama tante Aira bakal dilihat di dalam perut Mama ada adeknya apa enggak." Senja menjelaskan.


"Yes! Aku jadi kakak!" Seru Sora


Langit dan Senja menatap Sky yang tidak terlihat senang.


"Sky kenapa?" Tanya Langit


"Bukannya mempunyai bayi akan sangat merepotkan? Itu akan membuat waktu Papa dan Mama untukku berkurang." Jawab Sky.


"Hei hei hei, anak Papa." Dengan menggendong Sora, Langit pindah duduk di samping Sky. "Tidak ada yang akan berkurang sayang. Semua anak Papa gak akan kekurangan apapun dari Papa dan Mama. Oleh sebab itu Sky dan Sora juga harus ikut merawat adik kalian nanti, itu akan sangat menyenangkan sayang."


Sky masih cemberut.


"Iya, Sky! Bermain dengan bayi itu menyenangkan." Sora ikut membujuk Sky.


Senja memeluk putranya, "Maaf ya jika ini mendadak untuk Sky dan Sora. Seharusnya mama dan papa bertanya dulu pada kalian."


Melihat Sky yang murung membuat Langit merasa dia terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan anaknya.


"Sky tidak suka mempunyai adik?" Tanya Langit.


Sky hanya diam saja di pelukan Senja tak menjawab pertanyaan Ayahnya.


Senja menatap Langit, memberi isyarat agar tidak bertanya apapun dulu.


Langit yang mengerti diam saja dan mengusap ujung kepala putranya lembut.


"Nyonya Senja!" Seorang asisten dokter memanggil nama Senja.


"Giliran kita, sayang. Ayo?"


Senja mengajak Sky dan Langit mengikuti dibelakang Senja dengan Sora yang masih digendongannya.


"Silahkan."

__ADS_1


Mereka pun masuk, terlihat Aira duduk di balik Meja.


"Hai, Nja!" Aira berdiri dari kursinya, menghampiri dan memeluk Senja. "Apa kabar?"


"Baik, Aira. Aku senang bisa ketemu kamu lagi." Jawab Senja seraya mengusap punggung dokter wanita yang anggun dengan hijabnya itu.


Aira melepaskan pelukannya dan melihat Langit, "Ini pertemuan kedua kita ya setelah anda memukul suami saya?" Goda Aira.


"Aku tidak tahu jika anda tipe orang yang pendendam." Jawab Langit dengan senyum terungging.


Aira tersenyum, "Aku senang melihat kalian berkumpul bersama." Aira melihat Sky dan Sora bergantian, "Kalian apa kabar?"


"Baik, tante." Jawaban Sora dan Sky berbanding terbalik.


"Sky kenapa?" Tanya Aira.


Tak ada jawaban dari Sky, Ia hanya diam tertunduk. Membuat Aira menatap Senja.


"Dia masih belum siap jika mau punya adik, Ra." Jawab Senja.


"Oya? Bukannya hebat jika Sky akan punya adik? Itu tandanya Sky dan Sora sudah besar." Bujuk Aira.


"Mungkin Sky masih ingin menjadi bayi." Celetuk Sora.


"Aku bukan seperti itu! Kau itu yang masih bayi!" Ucap Sky marah tak terima dikatai Sora.


"Sudah, sudah. Ayo ikut tante, kita lihat adeknya Sky dan Sora udah segedhe apa?" Aira mengajak mereka untuk mendekat ke tempat pemeriksaan.


"Naik, Nja." Pinta Aira.


Senja naik ke atas brankar dibantu asiaten Aira. Aira menyiapkan Alat USG-nya sambil menunggu asistennya selesai membuka baju disekitar perut Senja.


"Mama mau diapain?" Tanya Sky khawatir.


"Kan mau dilihat adeknya, Nanti Sky lihat di layar itu ya?" Aira menunjuk Layar monitor besar dibelakang sky.


"Makasih ya, Mbak." Kata Aira, tangannya yang sudah memegang probe langsung ditempelkan di pertu bagian bawah Senja yang sudah di olesi gel.


Aira dengan lembut menggerak-nggerakkan probe di perut Senja untuk melihat keberadaan janinnya.


"Nah, ini! Selamat ya, kalian akan punya anggota keluarga baru."


"Alhamdullillah!!" Langit terlihat sangat bahagia "Kamu jadi kakak, sayang." Ucap Langit ke Sora yang masih ada di gendongannya.


"Yey! Setelah ini aku di panggil kak Sora." Ujar Sora bangga.


Sky masih diam menatap layar monitor.


"Ini." Aira memberikan print out hasil USG Senja ke Sky.


"Mana bayinya? aku tidak melihatnya?" Tanya Sky.


Aira menunjuk titik kecil di print out hasil USG. "Adek bayinya sekarang masih sebesar biji kacang."


"Hah! sekecil itu? Apa benar itu akan menjadi bayi?" Tanya Sky masih tidak percaya.


"Iya, Sayang. Mama harus makan makanan yang sehat, istirahat cukup dan harus selalu bahagia biar dedek bayinya cepet besar." Jawab Aira.


Sky masih diam melihat print out USG di tangannya.


"Apa Sky masih belum bisa menerima keberaran adek bayi di perut Mama?" Senja sudah turun dari brankar dan menghampiri putranya.


Sky menatap mamanya, "Aku akan menyanyanginya, sama seperti Sora. Mungkin aku akan lebih menyayanginya karena dia terlalu kecil." Ucap Sky.


"Kakak pintar." Langit mengusap ujung kepala putranya.


"Aku juga akan lebih sayang dia daripada kamu, Sky." Sora membalas Sky.

__ADS_1


"Ayo duduk disana dulu." Aira mengarahkan Langit dan Senja untuk duduk di meja konsultasinya.


"Usia kandungan kamu masih memasuki minggu ke empat, Nja. Aku harap kamu bisa jaga diri ya, jangan sampai kecapekan. Sekarang kan udah ada suami kamu, jadi stop kerja terlalu keras ya." Kata Aira setelah mereka semua duduk.


Senja tersenyum, "Iya, Ra."


"Aku akan jaga dia satu kali dua puluh empat jam, dok." Langit menyahut.


"Sora juga, akan jaga mama dan adek." Sahut Sora.


"Tapi nanti malam kami akan melakukan perjalanan ke Solo, apa tidak apa-apa?" tanya Langit


Aira menatap Senja, "Kalau kamu merasa kuat ya gak apa sih, Nja. Tapi tolong jangan sampai kecapekan, itu aja pesan ku."


"Kamu gimana sayang?" tanya Langit.


Senja mengangguk, "Aku kuat kok, mas. Tenang aja."


"Oya, dok. Senja tadi pagi juga habis jatuh, apa tidak apa-apa?" Tanya Langit lagi.


Aira tersenyum geli, "Panggil saya Aira saja."


"Oke."


"Dari hasil pemeriksaan tadi bagus kok, gak ada masalah. Sepertinya dia nanti jadi anak yang kuat juga kaya kakak-kakaknya." Ujar Aira sambil melempar senyum ke Sky dan Sora.


"Alhamdullillah"Ucap Langit lega.


Aira menulis beberapa resep yang harus ditebus untuk Senja. "Ini resepnya, tolong awasi dia jangan sampai tidak minum vitaminnya apapun alasannya."


"Sky pastikan mama gak akan telat minum obatnya." Sky mengambil kertas resep dari tangan Aira.


"Terimakasih, Sky." Ucap Aira.


Aira memberikan buku kontrol dan hasil usg tadi pada Senja. "Sehat terus ya, Nja. Jangan sungkan-sungkan hubungi aku kalau ada apa-apa."


"Makasih, ya Ra."


"Bayarnya dimana?" Tanya Langit.


Aira tertawa kecil, "Sebenarnya saya ingin memberi gratisan, tapi saya baru ingat kalau anda jauh lebih kaya dari saya. Silahkan lakukan pembayarannya di bagian administrasi depan, sangat diperbolehkan jika memberikan fee tambahan yang sangat besar untuk saya."


"Akan ku berikan fee yang sangat besar agar kau tidak lupa seberapa kaya aku." Langit menimpali candaan Aira dan segera mendapatkan cubitan dari Senja.


"Kami pamit dulu ya, Ra." Ucap Senja.


Setelah Sky dan Sora berpamitan, mereka pun meninggalkan ruangan Aira.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2