
Semua siswa menyambut gembira dering bel pulang sekolah. Namun untuk sebagian kelas IX yang kelasnya ada jam tambahan siang masih harus menunggu 2 jam lagi. 30 menit untuk istirahat dan sholat, kemudian 90 menit untuk mendapatkan jam tambahan.
"Ga, kantin dulu yuk," ajak Hari pada Arga.
"Sholat dulu aja deh," jawab Arga sambil mengambil sarung dari dalam tasnya untuk dibawa ke mushola sekolah.
"Woy tunggu woy!" teriak Bambang.
Akhirnya ketiganya pun berjalan beriringan menuju mushola. Di persimpangan jalan, Arga tiba-tiba memelankan langkahnya.
Pandangannya tertuju pada sesosok gadis kecil yang tengah berjalan sambil bercanda dengan ketiga kawannya.
"Eh bro, ngeliatin apa sih kamu?" heran Hari.
Arga tak menjawab. Bambang yang semula fokus pada hp-nya pun mulai terusik dan mendongakkan kepala mengikuti arah pandang mata Arga.bDia terkekeh sebelum akhirnya menepuk bahu Hari. "Kamu nggak tahu ya?" tanya Bambang.
"Tahu apaan?" tanya Hari.
"Bapak ketua kelas IX c yang tercinta ini kan lagi jatuh cinta sama adik kelas," ucap Bambang dengan nada datar.
"Gil..., hhmmbb, mmbbbb." Saat Hari hendak berteriak, tiba-tiba Bambang membungkam mulutnya.
"Diem nggak lu!" ancam Bambang.
Hari hanya mengangguk-angguk.
"Senja makin dilihat makin manis ya Ga?" tanya Bambang memancing.
"Yang man..."
"Diem nggak!" ancam Bambang yang berhasil menghentikan ucapan Hari sebelum selesai.
"Lewat gang samping toilet aja Ga, biar bisa lihat Senja sebelum keluar gerbang," kata Bambang.
Seolah terhipnotis Arga kemudian mengayun langkah panjangnya menuju gang yang dimaksud. Memang jika lewat gang antara ruang musik dan toilet akan lebih cepat sampai di gerbang sekolah dari pada membelah lapangan seperti yang dilakukan Senja bersama teman-temannya. Namun para siswa enggan melewatinya karena di belakang toilet merupakan tempat berkumpul anak-anak yang sering dikenal sebagai geng pembuat onar di sekolah.
Arga begitu terburu-buru untuk segera tiba di gerbang sekolah.
Brugh!
"Maaf," ucap Arga tiba-tiba karena dia merasa telah menabrak seseorang. Dilihatnya sebuah tas mika yang jatuh di tanah. Arga pun segera memungutnya untuk segera diserahkan pada pemiliknya.
"Wah, gila lu cepet banget larinya mentang-mentang kakinya panjang," gerutu Bambang yang baru saja tiba di belakang Arga.
"Wah, kok bisa pas ya," kata Bambang kemudian lengkap dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya untuk menggoda Arga.
Namun Arga sama sekali tak menghiraukannya. "Punya kamu?" tanya Arga sambil Menyerahkan tas mika itu kepada Senja.
Dan sebagaimana kata Bambang, ini pas banget, karena yang barusan ditabrak oleh Arga adalah Senja.
"Iya Kak," jawab Senja sambil menerima tas mika yang diserahkan Arga.
__ADS_1
Krek!
Ifa segera menyerobot tas yang baru saja jatuh itu dari Senja dan segera membukanya.
"Senja..." panggil Ifa sambil memandang Senja.
Senja kemudian melihat kondisi satu set penggaris nya itu. "Yah, patah," lirihnya sambil mengecek satu persatu penggaris-penggaris itu.
"Masak!?" panik Arga sambil mengambil alih penggaris-penggaris itu.
Senja hanya mengangguk dengan mata sendu saat Arga menatapnya.
"Wah tanggung jawab lu udah bikin anak orang mau nangis," kata Hari tiba-tiba karena dia baru saja paham apa yang dimaksud Bambang sebelum Arga tiba-tiba berlari tadi.
"Mana ada tugas lagi dari Pak Umar yang kudu pakai ginian," timpal Ayu.
"Tugasnya kapan? Maksudnya dikumpulkannya kapan?" panik Arga.
"Besok," lirih Senja.
"Aku hari ini bawa penggaris kok, aku ambilin bentar ya," kata Arga.
Senja menatap Arga dan ketiga kawannya ragu-ragu.
"Udah kamu tunggu di gerbang ya, aku ambilin bentar," kata Arga sebelum dia berlari begitu saja menuju kelasnya untuk mengambilkan satu set penggaris segitiga lengkap dengan busur dan jangka miliknya.
"Yah yah yah, main lari gitu aja," kata Ifa melihat Arga yang lari begitu saja tanpa menunggu persetujuan Senja.
Senja mengangguk.
"Kak, bisa tolong bilangin ke Kak Arga nggak kalau Senja nunggunya di dekat angkot," tanya Ifa pada Bambang dan Hari.
"Oke bisa kok," kata Bambang sedangkan hari hanya tersenyum menanggapinya.
Senja dan ketiga kawannya pun berjalan menuju angkot masing-masing. Sementara itu Bambang dan Hari menunggu Arga di tempat kejadian perkara.
"Yang penggarisnya patah itu tadi ya yang namanya Senja?" tanya Hari pada Bambang.
Bambang hanya mengangguk dengan senyum jahilnya.
"Ngapain tuh mata?" tanya Hari mendapati sorot mata tak biasa yang dipancarkan Bambang.
"Orang selempeng Arga kayaknya butuh dicomblangi deh," kata Bambang tiba-tiba.
"Maksudnya?" tanya Hari mengernyit heran.
"Kamu bisa ngeliat kan gimana cara Arga melihat Senja, gimana Arga kalau lagi ngomong sama Senja?"
"Emm..., Arga kayaknya naksir, ya nggak sih?" tanya Hari memastikan.
"Be to the tul, betul", jawaban Bambang mantap.
__ADS_1
"Senja mana?" tanya Arga pada kedua temannya kala dia tak mendapati Senja di sana.
"Nunggu di dekat angkot katanya," jawab Hari.
Tanpa ba-bi-bu, Arga segera berlari menuju depan sekolah.
"Nah kan lihat sendiri kan?" kata Bambang.
Hari hanya manggut-manggut sambil memasukkan tangannya ke kantong seragamnya.
"Kayaknya ketemu Senja lebih penting deh daripada sekedar nyerahin tuh penggaris," timpal Hari.
"Iya, kamu nggak lupakan tadi dia lari sampai nabrak Senja itu buat apa?" kata Bambang mengingatkan.
"Iya ya? Wah dasar tuh anak," kata hari dengan senyum takjubnya.
"Shalat dulu yuk, bisa kering nungguin tuh anak," lanjut Hari kemudian.
"Oke deh," kata Bambang. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju mushola untuk melaksanakan kewajiban salat dzuhur nya.
Saat ini di gerbang sekolah, Senja tengah resah menunggu Arga datang.
"Dik, kamu bareng nggak?" tanya Pak sopir angkot pada Senja yang masih saja berdiri dan tak kunjung masuk angkot
"Bareng Pak, tunggu bentar ya, masih nunggu temen saya."
Dari jauh Senja melihat siluet Arga yang sedang berlari sambil matanya mencari sesuatu.
"Kaakk!" panggil Senja sambil melambaikan tangan.
Arga pun menoleh dan mendapati Senja tak jauh darinya. Dengan nafas cepat dan tak beraturan, Arga berhenti dan menyerahkan satu set penggaris miliknya. "Nih, hah hah hah, maaf udah bikin kamu nunggu, hah hah hah..." kata Arga dengan nafas terengah-engah.
"Makasih Kak," kata Senja.
Untuk kali pertama Senja berani menatap wajah Arga secara langsung. Begitu pula dengan Arga. Baru kali ini dia dapat menatap mata sayu Senja, lengkap dengan senyum manis di bibir nya.
"Ya ampun nunggu pacarnya toh, jadi pulang nggak," goda Pak Yanto pada Senja.
Sontak senja segera menarik penggaris yang baru saja diserahkan Arga. "Aku pulang Kak," kata Senja sebelum buru-buru naik angkot.
Arga tak dapat menahan lengkungan di bibirnya tatkala melihat Senja yang menunduk malu karena digoda beberapa teman-temannya.
Angkot itu berjalan membawa alasan terbitnya senyum di bibirnya kali ini. Dia kemudian baru sadar apa tujuannya segera keluar kelas tadi. Dia lupa niatan awalnya adalah untuk sejenak berpasrah kepada Sang Pencipta, namun dia justru tergoda untuk lebih dulu mendekati makhluk ciptaan-Nya. "Astaghfirullah," gumamnya sebelum dia mengayun langkah panjangnya menuju musholla.
TBC
Alhamdulillah, done juga part ini.
Terimakasih banyak yang udah bersedia mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat author ya.
__ADS_1
Thank you so much dear, love you all.