
Tengah hari sudah lewat. Adzan Dzuhur juga sudah berkumandang sedari tadi, namun pintu kamar gadis kecil itu masih tetap terkunci.
Tok tok tok
"Ay, Aya! Bangun Nak, udah Dzuhur, kamu juga belum makan."
Tok tok tok
"Aya..."
Saat ibu hendak mengetuk pintu lagi, Arti datang menghampiri.
"Bu, boleh Arti yang coba ngobrol sama Aya?"
Ibu Ami nampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.
"Makasih Bu."
Ibu kemudian meraih nampan berisi gelas kotor yang di pegang menantunya.
"Eh, Bu," Arti hendak menahan nampannya.
"Nggak apa-apa, siapa tahu Aya bisa terbuka sama kamu, emang maksudnya sayang tapi Atma sama Anton dari dulu suka keterlaluan," cicit ibu.
Arti hanya mengangguk paham.
Tok tok tok
"Aya, kamu bisa temenin Mbak nggak?"
Arti diam sejenak, menunggu Senja bereaksi. Sekian waktu menunggu, tapi masih belum ada sahutan juga dari dalam.
Tok tok tok
"Ay, Mbak mau..."
cklek
Ucapan Arti menggantung saat pintu tiba-tiba terbuka menampilkan Senja yang nampak kacau dengan mata sembabnya.
"Buru-buru nggak Mbak?" tanya Senja.
"Nggak juga."
"Cara ngilangin mata bengkak sama hidung merah yang cepat gimana? Kan malu kalau sampai dilihat orang?"
Arti hanya terkekeh mendapati respon di luar dugaan dari adik iparnya ini.
"Bentar ya," ucapnya sambil berlalu.
Tak lama kemudian, Arti kembali dengan membawa es batu untuk mengompres mata Senja. Dan benar saja bengkak di matanya cukup berkurang. Setelah itu Arti mengajak Senja untuk kerumahnya.
Arti POV
Aya, aku tahu kamu tertekan, tapi aku juga tahu mereka sayang sama kamu.
"Mbak," panggil Senja setengah berteriak karena kini kami sedang berada di atas motor.
"Apa?"
"Aman nggak sih Mbak, kamu nyetir motor gini?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ya kan Mbak lagi hamil," ucapnya.
Wah anak ini empatinya cukup tinggi.
"Emang Aya bisa bawa motor?" tanyaku.
"Enggak," jawab Aya.
"Ya udah, kamu tenang-tenang aja ya, bentar lagi juga sampai," ucapku karena memang jarak rumahku dan mertua tidak begitu jauh.
Saat tiba di rumah, aku segera mengajak Senja untuk masuk. Nampak kedua adik perempuanku sedang asik di depan tv.
"Assalamualaikum," ucapku dan Senja.
"Wa'alaikum salam, wah darimana ini, kok tumben ke sininya sama Aya, biasanya sama mas Atma," tanya Ria adik bungsuku.
"Ya dari rumah, lagi pengen ke sini aja sekalian ngajak Aya keluar."
Senja dan kedua adikku saling melempar senyum.
"Mbak ke belakang dulu ya, Aya tunggu sini nggak apa-apa?"
"Iya Ay, sini aja. Biarkan Ibu-ibu sibuk di belakang, kita santai disini, hahaha," canda adik ku Ula.
"Ibu-ibu? Emang ada berapa Ibu?" tanya Senja.
"Cuma 2, yg satu Ibu, yang satu..."
"Arti, udah ditungguin dari tadi nih!" teriak Ibuku dari belakang.
"Aku tinggal ya," pamitku kepada ketiga adikku.
"Ibu Rub sudah lama?" sapaku pada ibu Rubiah sambil mencium tangan ibu ku.
"Udah, emang sengaja datang lebih awal kok pengen ngobrol sama Bu Ine," terangnya saat menjabat tanganku.
"Owalah," jawabku.
"Kamu sama siapa Nak, kayaknya nggak sendiri?" tanya ibuku.
"Sama Aya Bu."
"Tumben dia ikut?" tanya Ibu. Pasalnya selama ini Senja jarang sekali keluar tanpa ayah, ibu, atau mas Atma.
"Iya Bu, pengen sesekali tak ajak keluar, kasihan juga aku kadang sama dia, jarang banget main sama temen, temennya pun nggak banyak."
Ibu manggut-manggut menanggapi ku.
"Dia nggak suka main apa gimana sih?" kini bu Rub yang mulai terpancing untuk bertanya.
"Kurang tahu Bu, sejak aku tinggal di sana, emang Aya itu nggak pernah main, nggak pernah juga ada temennya yang kerumahnya, makanya ini tadi tak ajak, biar bisa ngobrol bareng sama Ula dan Ria. Meskipun usia mereka di atas Aya setidaknya mereka masih sama-sama remaja."
"Melihat anaknya diam terus di rumah, mertua atau suami kamu nggak gimana gitu?" tanya bu Rub lagi.
"Enggak deh, kayaknya menurut mereka anak perempuan itu memang harusnya di rumah aja."
"Terus Senjanya gimana. Dia dia nggak ada keinginan gitu buat main sama teman sebayanya," tanya bu Rub penasaran.
"Emm...."
__ADS_1
"Mungkin udah terbiasa kali Bu. Soalnya Pak Sam itu kelihatan teges banget. Dan mulai nurun ke Atma juga kayaknya," terang Ibu tiba-tiba saat aku tengah memikirkan sikap Senja menghadapi perlakuan orang tua dan kakaknya.
"Iya bener banget. Ini tadi Aya aku ajak ke sini karena di rumah suasananya lagi nggak enak, gara-gara kemarin A..., emm maksudku ada temen Aya cowok, aaa... itu pinjem buku ke rumah tanpa ijin," ucapku agak terbata. Aku hampir saja keceplosan menyebutkan nama Arga yang kemarin mengantar Senja pulang. Meskipun tidak hanya berdua, tapi Arga tetap anak laki-laki yang mana selama ini Senja dilarang terlalu dekat dengan laki-laki meskipun hanya sebatas teman.
"Memangnya kenapa nggak boleh, kan cuma teman, cuma mau pinjam buku juga."
Ya ampun kudu ngomong apa lagi ini.
"Ya namanya remaja zaman sekarang Bu, mungkin Pak Sam takut kalau anaknya pacaran. Takut sekolahnya terganggu mungkin," tutur Ibu.
Aku menghela nafas lega, setidaknya tak harus bersusah payah menghindari topik agar tak menyebutkan nama Arga anaknya, yang menjadi sumber ketidaknyamanan Senja di rumah.
"Tapi kan nggak semua remaja kayak gitu, buktinya Arga..." ucapan bu Rub menggantung. "Astaga, untung kemaren Arga nggak nganter Senja pulang sendiri. Coba kalau nggak sama saya, bisa dikira macem-macem dia."
Aku hanya nyengir menanggapinya. Ya elah Bu, ini kan emang gara-gara anak situ ya ampun.
"Lhoh kok bisa nganter?" tanya Ibu tiba-tiba.
Mendingan aku segera pergi menuju mesin obras, karena tujuan kesini adalah mengobras beberapa baju milik tetangga di sekitar rumah mertua, termasuk di dalamnya ada baju ibu Rubiah. Tampaknya bu Rubiah menjelaskan pada ibuku tentang kejadian kemarin. Terserahlah, aku tak mau ikut campur daripada aku keceplosan. Tadi aja nyaris. Cahaya Senja, meskipun kamu adalah iparku, tapi aku menganggapmu seperti adik kandungku. Semoga dengan membawamu bertemu kedua adikku, kamu bisa sedikit mengekspresikan tingkah remajamu yang selama ini tak dapat kamu lakukan.
Arti POV end.
"Assalamualaikum."
Senja, Ula dan Ria yang kini sedang berada di ruang tamu segera menoleh ke arah sumber suara.
"Wa'alaikum salam," jawab Ula dan Ria.
Lalu kemana Senja? Begitu melihat siapq yang datang, dia tak mampu menjawab, matanya membulat, mulutnya pun menganga.
"Kak Arga / Senja?!" ucap Arga dan Senja serempak.
Ula dan Ria saling pandang untuk menanyakan apa yang terjadi. Keduanya kemudian sama-sama mengedikkan bahu sebagai kesimpulan bahwa keduanya juga sama-sama tak tahu. Sejurus kemudian mereka menatap Senja dan Arga bergantian dengan tatapan penuh selidik.
"Ehm, ehm," Ria berdehem keras.
Senja langsung menunduk sedangkan Arga membuang pandangan ke sembarang arah.
"Masuk Ga, ada apa?" tanya Ula pada Arga.
Arga tak merespon. Dia masih berusaha menormalkan raut wajahnya dan juga mengontrol sesuatu yang berdegup dengan kencang di dadanya.
"Ehm!" kini ganti Ula yang berdehem.
Arga tampak tersentak kemudian memandangnya.
"Ha?" beonya lirih.
"Masuk dulu, saltingnya di-pending," ucap Ria dengan nada sok sewot.
Arga hanya nyengir kemudian dia masuk dan duduk disalah satu kursi di sana. Sementara Senja mukanya memerah karena merasa tersindir meskipun Ria tak sedang berbicara padanya.
Suasana mendadak hening. Namun itu hanya berlaku untuk Arga dan Senja, karena sebenarnya Ula dan Ria sedang kasak-kusuk mengumpulkan hipotesis tentang Arga dan Senja yang berhasil menciptakan kecanggungan diantara mereka.
TBC.
Alhamdulillah, done dear.
Bagi yang udah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Kritik dan saran kalian sama pentingnya dengan vote, like, comment .
__ADS_1
So, jangan ragu buat kasih kritikan ke autor.
Terima kasih.