SENJA

SENJA
151


__ADS_3

Hari sudah gelap namun lampu di ruangan Langit masih menyala. Pemilik ruangan itu masih duduk menatap layar laptopnya, berulang kali memutar rekaman cctv dimana Clara sedang melakukan hal buruk pada anak-anaknya.


Ia meraih ponsel nya diatas meja untuk menghubungi Senja.


"Sayang, aku akan pulang terlambat malam ini. Ada sesuatu yang harus ku lakukan, nanti akan ku jelaskan semuanya padamu." kata langit.


Setelah mendapatkan jawaban dari Senja ia memutuskan sambungan telponnya.


Langit mengambil ponselnya, meninggalkan jas dan perkakasnya lalu pergi meninggalkan ruangannya begitu saja. Ia melonggarkan ikatan dasinya, membuka kacing teratas kemejanya mencoba menghilangkan rasa engap di dadanya.


Mengetahui Langit sudah keluar dari ruangannya, Hengky segera bergegas mengikuti Langit.


"Apa anda akan kembali lagi, pak?" tanya Hengky karena ia melihat Langit tak memakai jas dan tak membawa tasnya.


"Enggak, gue mau kerumah Marko. Lo langsung balik aja."


"Baik, Pak."


Hengky berhenti mengikuti Langit. Ia memilih untuk kembali ke ruangan Langit membawakan jas dan tasnya pulang.


Langit pergi ke rumah Marko dengan mengendarai mobil sendiri. Baru mobilnya berhenti di halaman rumah Marko, sudah membuat Clara berlarian kecil menghampirinya.


"Gue kangen banget sama lo, kak." Kata Clara lalu memeluk Langit erat-erat.


"Sori, gue kan juga baru sembuh. Makanya baru bisa nemuin Lo."


Clara melepaskan pelukannya dan segera mengajak Langit ke dalam rumah. Marko yang melihat kedatangan Langit dibuatnya terheran-heran.


"Gue gak habis pikir ma Lo, Lang." Ucap Marko kesal, merasa usahanya dan Hengky untuk memberikan kebenaran pada Langit sia-sia.


"Lo gak usah ikut campur urusan gue." Kata Langit meninggalkan Marko begitu saja.


Melihat sikap Langit membuat Marko menendang angin melampiaskan kekesalannya.


Clara mengajak Langit langsung masuk ke kamarnya untuk berbincang tanpa ada yang mengganggunya. "Lo mau minum apa, kak. Gue bikinin." Tanya Clara.


"Air putih aja, Ra." Jawab Langit.


"Oke, bentar ya."


Sementara Clara pergi keluar kamar, Langit memilih untuk melihat-lihat kamar Clara. Ia membuka pintu balkon kamar Clara, membiarkan dinginnya malam masuk ke dalam kamar Clara.


"Kenapa dibuka, kak?"


Langit melihat Clara masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring camilan dan segelas air putih.


"Kak Zia bikin nuget pisang, enak banget. Cobain deh, Ka."


"Taroh aja disana, ntar juga gue makan."


Langit dan Clara berbincang-bincang di balkon kamar di temani nuget pisang buatan Zia.


"Ganti baju sana, udah malem. Lo gak mau tidur? Gue gak mau bikin Senja marah lagi karena pulang terlalu malam." kata Langit.


"Tiap kali lo nemenin gue juga bilang kaya gitu, ujung-ujungnya lo juga pulang pagi." Balas Clara lalu ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju tidur.


Setelah Clara keluar dari kamar mandi, Langit membawa masuk piring dan gelas air putih yang masih sisa setengah.


"Lo laper apa doyan kak? Sampe nuget segitu banyak abis?" Clara terkejut melihat nuget di piring yang dibawa Langit sudah habis.


"Laper, gue belom makan malam." Jawab Langit, ia duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Clara.


Clara naik ke tempat tidur dan bersiap untuk tidur, Ia menatap Langit yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa lihat gue kaya gitu, kak?" tanya Clara.


Langit menggeleng, "Gue capek, ngantuk banget." Jawab Langit.


"Lo kan kesini buat nemenin gue tidur kak, bukan gue yang nemenin lo tidur. Gimana sih?" Protes Clara.


Langit tertawa kecil, "Udah buruan tidur!"


Langit menyalakan lalu berdiri mematikan lampu kamar dan kembali duduk Lagi.


Clara sudah terlihat nyaman dengan posisi tidurnya, ia mulai memejamkan matanya untuk tidur. Sedangkan Langit sudah berulang kali menguap, semilir angin malam yang masuk dari pintu balkon kamar semakin membuat matanya hampir terpejam.


Ia berusaha memainkan ponselnya agara tidak sampai tertidur, karena ia benar-benar tak ingin membuat Senja kecewa lagi.

__ADS_1


Namun matanya perlahan terpejam, ponselnya dengan susah payah ia letakkan diatas meja.


Tiba-tiba Clara membuka matanya dan menuntuk Langit yang masih setengah sadar ke tempst tidur.


"Kalo lo ngantuk, tidur aja disini kak." kata Clara sambil membantu Langit mencari posisi tidur yang nyaman.


"Iya. Gue tidur bentaran aja." Kata Langit.


"Iya, Kak."


Clara kembali naik ke tempat tidur juga lulu mengusap rambut Langit perlahan agar Langit semakin terlelap.


Melihat Langit yang sudah tertidur, Clara membuka satu persatu kancing kemeja Langit,meraba pelan dada bidang Langit hingga ke perut Langit.


"Gue kangen banget sama elo, Kak." bisik Clara di telinga Langit dan memberikan kecupan di pipi Langit.


Bibir Clara mulai mencium bibir Langit dengan sesekali melumat bibir bawah Langit. Merasa puas disana, ia pindah mencium dada Langit.


"Menjauh dari tubuh gue, Ra!"


Deg!


Clara terkejut mendengar suara Langit yang datar namun seperti anak panah yang menghunus jantungnya.


Clara segera menjauhkan dirinya dari Langit, Ia menatap Langit yang terlihat menahan marah.


"Kak, Lo..."


Langit bengun dan berdiri, ia mengancingkan kembali kemejanya yang sudah dibuka Clara tanpa ijin.


Clara turun dari tempat tidur dan sedikit menjauh dari Langit.


"Lo kaget gue gak tidur?" Tanya Langit, Ia mengambil gelas air putih yang ada diatas meja. "Lo pikir gue gak tau apa yang udah lo masukin ke dalam sini?"


PYAR!!


Dengan kesal Langit melempar gelas itu ke dinding.


"Aaarggh!!!"


Langit mencekik leher Clara dan mendorongnya ke dinding.


"Gue masih bisa maafin lo kalau saja lo cuma bohongin gie. Tapi sayangnya gue udah terlanjur tahu semua kebusukan Lo! Gue tahu Lo yang coba bunuh bayi gue! Gue tahu lo yang nyakitin anak-anak gue! Gue pastiin Lo mati di tangan gue!"


"Kaaaaaaakk"


Clara mencoba melepaskan tangan Langit yang mencekram lehernya semakin kuat. Wajahnya sudah merah dan mulai merasa susah mencari oksigen.


"LANG!"


Marko yang baru datang segera menarik Langit sekuat tenaga menjauhkan dari Clara.


Zia yang juga datang segera menyalakan lampu kamar dan menolong Clara yang terjatuh lemas dan berusaha menarik nafas secepat-cepatnya.


"LEPASIN GUE! Gue mau bunuh dia!" Teriak Langit mendorong tubuh Marko.


"Zi, telpon Senja!" Teriak Marko sambil menghalau tubuh Langit.


"Lo minggir atau Lo gue tonjok!?" Teriak Langit ke Marko


"Sadar, Lang! Kita bisa selesaiin ini baik-baik!"


"BUG!!"


Akhirnya perut Marko menjadi korban kemaran Langit. Marko jatuh hingga tersungkur.


Langit menghampiri Clara dan menarik rambut pendek gadis cantik yang sedang ketakutan itu.


"Kaaaak, maafiiin gue." Ucapnya ketakutan.


"Sampai mati lo gak akan dapat maaf dari gue!" Ucap Langit. Ia menarik rambut Clara sampai membuat Clara berdiri lalu kembali mencekiknya dengan tangan kanannya.


"Lang!"


Marko kembali menarik tubuh Langit dari Clara, dan ada Johan dan Satpam yang baru tiba membantu Marko menahan Langit.


"LEPASIN GUE!! JANGAN ADA YANG IKUT CAMPUR!!"

__ADS_1


Langit meronta mencoba membebaskan diri dari tiga orang yang sudah menahan tubuhnya.


Zia berusaha mengajak Clara yang masih lemas untuk berdiri.


"Lo selamatin dia, gue gak akan pernah anggap lo saudara ipar gue!" Teriak Langit mengancam Zia.


Ancaman itu berhasil membuat Zia terdiam, sedangkan Clara menatap Zia agar membantunya pergi dari hadapan Langit.


"Gue gak akan segan bunuh siapapun yang bantu dia!!" Langit memberi ancaman untuk asisten Marko yang berdiri di pintu kamar menatap Clara dengan Iba. "Pergi Kalian!"


Langit masih berusaha melepaskan diri. Ia menarik kuat tangannya dari Johan yang memang tubuhnya lebih kecil darinya. lalu menendang satpam yang memegangi kakinya.


Dengan tangan kanan dan kakinya yang sudah terbebas ia menarik bahu Marko yang lengah dan membantingnya.


"Udah gue bilang jangan ikut campur!" Bentak Langit pada Marko.


"Zi, keluar Zi." Pinta Marko pada Zia, karena Zia sudah ingin terlibat membantu Marko.


Zia menurut dan pergi meninggalkan kamar Clara, membuat Clara semakin ketakutan.


Langit mengambil pecahan gelas yang jauh darinya lalu berdiri dan mengahmpiri Clara.


"Lo gila, Lang!" Marko kembali menarik tangan Langit dan Ia mendapatkan tonjokan di mukanya.


Marko tak tinggal diam, ia membalas menonjok pipi Langit untuk menyadarkannya. "Lo mau berakhir di penjara!" Teriak Marko.


Kini Langit menjadi baku hantam dengan Marko, ganti Johan dan Satpam berusaha melerai mereka.


Dengan mudah Langit melepaskan diri dari cengkraman satpam Marko, ia segera menarik Clara ke tempat tidur dan kembali mencekiknya.


"Kaaak, Maaafin guuue." Clara mencoba bicara walau tidak jelas, tangannya tetap berusaha melepaskan cengkraman tangan Langit di lehernya.


Marko,Satpam dan Johan yang berusaha menariknya di tampis kasar begitu saja.


"Mas!!!"


Senja yang baru datang terkejut dengan keadaan Langit, ia segera menarik tangan Langit berharap Langit bisa melepaskan Clara.


"UDAH GUE BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!!!"


Langit mendorong keraz tubuh Senja hingga terpelanting ke lantai.


"Argh!!"


"Nja!!"


Semua terkejut melihat Senja terjatuh di lantai dan Langit baru menyadari jika orang yang baru saja ia dorong adalah istrinya.


"Nja!!" Langit melihat Senja sudah dibantu yang lainnya. Ia melepaskan tangannya dari Clara dan menghampiri Senja.


"Sayang, maafin aku. Aku gak tau kalau itu kamu." Langit duduk menyangga punggung Senja dengan tangannya yang bergetar hebat karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Mbak Senja! Darah!" Zia melihat darah sudah membasahi lantai.


"Anakku!!!" Senja terpekik memegang perutnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


//**Sengaja banget Author up cuma satu pagi ini, kalau like dan comentnya udah banyak baru Author tambahin satu lagi ntar malam. wqwqwq.

__ADS_1


Apalagi kalau kasih vote buat author. Aduuuh.. beneran author percepat deh up episode 152 nya.


Authornya lagi mayak banget nih, banyak maunya. hahahaha**.//


__ADS_2