SENJA

SENJA
Arga Udah Gede


__ADS_3

^^^Satu misteri terungkap.^^^


^^^Setelah ini Senja bakal gimana ya?^^^


^^^Happy reading.^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak.^^^


"Senja mau kemana?" tanya Ifa saat melihat Senja yang hendak meninggalkan mereka begitu saja.


"Mau nganter ini," jawab Senja sambil mengangkat bawaannya.


"Sendirian?" tanya Ifa lagi.


"Iya..." Senja melenggang begitu saja tanpa memperdulikan ketiga sahabatnya.


Sementara ketiga sahabatnya saling beradu pandang.


"Biarin aja lah," ucap Ucik sambil berdiri dari kursinya. "Ada yang mau ke kantin?" tanyanya kemudian.


"Bawa bekal...," jawab Ayu sambil mengangkat kotak bekalnya.


"Aku juga..." imbuh Ifa.


"Aku juga sih tapi kok lagi pengen es teh," ucap Ucik.


"Eh mau ding," timpal Ayu.


Ifa ikut mengangguk. "Yuk ah kalau gitu."


Akhirnya ketiganya berjalan ke kantin.


Di sisi lain Senja kini dag-dig-dug karena sebentar lagi akan memasuki area kelas 3. "Bismillah, semoga nggak ada yang gangguin, aamiin ya Alloh." Sejurus kemudian Senja berbelok di jajaran kelas Arga.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, tepat saat Senja tiba di depan kelas Arga, yang dicari pun hendak berjalan keluar kelas. Saat melihat Senja yang berdiri di depan kelasnya, Arga mempercepat langkah dan menghampirinya.


"Wahh, Arga dicariin cewek nih. Cciiyyeeee!!!" Teriak salah seorang teman Arga.


Pemandangan yang tak biasa ini tak urung membuat kelas IX c menjadi heboh.


Arga segera menarik Senja agar sedikit bergeser dari depan pintu kelasnya. "Kok ke sini, mau ngapain?"


Senja hanya menunjukkan set penggaris yang kini berada di tangannya. "Kembaliin ini Kak," ucap Senja dengan malu-malu.


Arga segera menerima penggaris itu. "Bentar ya, aku ambilin yang punya kamu." Arga segera berlari menuju tempat duduknya.


"Ga, cewek lu ya?"


"Ga, siapa tuh?"


"Ciye Arga udah gede..."


Kurang lebih itulah kata-kata yang terlontar dari teman-temannya dan mampu ditangkap oleh telinga Arga. Namun tak satu pun pertanyaan yang ia jawab, bahkan setelah menukar penggaris dari Senja dengan penggaris yang ia bawa, Arga segera berlari untuk kembali menghampiri Senja.


"Makasih ya Kak. Senja balik dulu." Senja segera berbalik karena ia merasa banyak mata yang kini menatapnya.


"Tunggu." Arga menahan tangan Senja.

__ADS_1


"Ciiyyeee, ciyee ciiyyeee...!!!" semua bersorak saat melihat Arga memegang tangan seorang gadis kecil.


Spontan Arga melepaskan cekalannya.


"Kenapa Kak?"


"Aku anterin..." tangan yang baru dilepas itu itu kembali diraihnya. Sorakan kembali terdengar namun Arga sama sekali tak menggubrisnya. Rasa malu bercampur bahagia menyeruak di dadanya. Arga berjalan cepat hingga Senja harus sedikit berlari untuk mengembangkan langkahnya.


Di lorong dekat toilet, Arga berhenti karena melihat Senja yang ngos-ngosan karena mengikutinya. "Capek ya?" tanya Arga.


Senja mengangguk dengan nafas terengah-engah. "Ini mau ke mana sih Kak, kan kelasnya udah kelewat?"


"Ikut ke ruang ku, mau nggak?"


"Kakak emang punya ruang?"


Arga menghela nafas. "Ruang ekstrakurikuler maksudnya," jelas Arga.


"Emang boleh?" tanya Senja antusias.


"Ya boleh, makanya ini aku ajakin."


Akhirnya mereka berjalan beriringan. Hingga saat di area belakang toilet, segerombol anak memandang mereka dengan tatapan tajam.


"Wah, nempel teroos, kayak perangko!"


Arga berhenti saat itu juga karena Tito yang tiba-tiba menghadang langkahnya. "Mau apa?"


"Nggak mau apa-apa, cuma mau nyapa." Tito mengalihkan pandangannya dari Arga menuju Senja. "Hai Senja, dicariin tuh sama Indra."


Senja kemudian bergeser dan menyembunyikan diri dibalik tubuh tinggi Arga.


Dengan sigap Arga menahan tubuh Tito yang hendak mendekati Senja. "Nggak usah deket-deket."


"Emang kamu siapanya bisa ngelarang orang buat deket sama dia."


Aku apanya? Arga diam tak mampu menjawab pertanyaan Tito.


"Nah kan, nggak bisa jawab kan? Kalau Indra kan jelas, dia calon pacarnya Senja," Tito terkekeh setelahnya. "Makanya jadi orang jangan sok-sokan."


Arga mengepalkan tangannya. Ia segera membawa Senja untuk pergi dari sana.


Setelah Senja dan Arga benar-benar pergi, Tito berjalan mendekati Indra. "Cepat kamu tembak dia, jadiin dia jadi pacar kamu, sebelum Arga bertindak?"


"Maksud Bang Tito apa?" tanya Indra.


"Iya itu tadi udah jelaskan, Arga juga naksir sama Senja tapi sejauh ini sepertinya mereka belum jadian. So, kamu harus bertindak cepat."


"Tapi..."


"Tunggu apa lagi. Bikin malu aja seorang Indra kalah sama Arga." Tito menyesap rokok di sela jarinya. "Kalau cara halus nggak bisa, ya gunain cara apa saja, yang penting bisa." Tito menghempaskan puntung rokok yang baru dihisapnya dan menginjak dengan ujung sepatunya. "Dah, aku cabut." Tito berlalu diikuti beberapa rekannya.


Indra tersenyum miring setelahnya. Senja, kamu akan jadi milik aku.


Sementara itu Senja kini benar-benar menjadi pusat perhatian. Dia berdiri di tepi lapangan basket bersama 2 cowok most wanted di sekolah ditambah seorang yang kalem namun garang di gelanggang yaitu Arga. Kedua most wanted yang dimaksud adalah Rivan dan Wahyu.


"Senja kok mau sih deket-deket dia, dia kan galak," goda Wahyu sambil mengusap peluh yang mengucur di wajahnya.

__ADS_1


Arga menatap malas kedua sahabatnya. "Jadi ikut nggak?" Arga kembali berjalan meninggalkan Senja di sana.


"Eh, aku ikut Kak..." Senja berlari mengikuti Arga.


"Ga! Gue mau ngomong!" Panggil Rivan yang baru angkat suara karena sebelumnya ia sedang sibuk menenggak air mineralnya. Namun Arga sama sekali tak menggubrisnya. "Baru mau mangap dia malah udah pergi gitu aja," gerutu Rivan.


"Apa Van?" tanya Wahyu.


Rivan tak menjawab, bahkan kini dia berlari mengejar Arga.


"Eh lu mau kemana?!" teriak Wahyu. "Ck, dasar." Dia kemudian menyusul kedua sahabatnya.


Ketiganya berhenti di ruang eskul pencak silat.


"Coba kalau pas mulai lari diputar musiknya, pasti udah kayak film India," ucap Wahyu yang datang paling akhir.


"Ya sono, kamu joget-joget aja sekarang di lapangan, pasti fans-fans kamu pada ngerubungin," timpal Rivan.


Setelah berhasil membuka pintu, Arga segera masuk dengan diikuti Senja. Saat memasuki ruangan itu, pandangan Senja langsung tertuju pada dua buah piala yang diletakkan di atas meja. "Ini piala Kak Arga yang dapet ya?" tanya Senja.


"Iya. Mau ikut nyumbang?" tanya Arga sambil membolak-balik tumpukan kertas yang ditata rapi.


"Emmm..." Senja nampak berfikir.


"Aku bisa bantu kalau kamu mau?" ucap Arga dengan menatap Senja.


"Ellah Van, kalau sama Senja aja bisa ngomong, kalau sama kita suaranya ilang."


"Ho'oh," jawab Rivan.


Senja langsung menunduk dengan pipi bersemu merah.


"Van, kamu tadi katanya mau ngomong sama Arga?"


Ddrrrkkk


Rivan menarik kursi dan membawanya ke dekat Arga. "Si Tito ending-nya gimana?"


Senja menajamkan pendengarannya mendengar nama Tito disebut.


Arga menghela nafas. "Nggak banyak yang bisa aku lakuin. Aku udah bikin Tito nggak betah latihan tapi dia masih bertahan sampai sekarang." Arga kembali menghela nafas. "Aku takut dia bakal makin berulah kalau sampai di sahkan."


"Nggak ada kebijakan yang buat dia bisa berhenti?" tanya Rivan.


Arga menggeleng. "Tito emang nggak ngelanggar aturan secara langsung. Dan benar kata mereka, aku nggak objektif kali ini."


Wahyu dan Rivan mendekat.


"Alasan terbesarku memang dia. Sebelum aku kenal dia, aku bahkan tak pernah peduli dengan ulah Tito selama tak melanggar aturan. Tapi sekarang aku bahkan bisa ngehajar dia hanya karena dia gangguin Senja." Arga memelankan suaranya kali ini. sehingga dapat dipastikan kalau tak ada yang mendengar selain ketiganya.


Senja mengernyit. Mereka ngomong apa sih?


Batin Senja kala tak mendengar apapun setelah Wahyu mendekat.


"Kamu suka sama dia?" lirih Rivan.


TBC

__ADS_1


Ada yang bisa tebak jawaban Arga?


Tunggu part selanjutnya ya.


__ADS_2