
^^^Hai dear selamat malam.^^^
^^^Maaf jam segini baru up, soalnya author lagi kurang fit.^^^
^^^Thanks banget buat temen-temen yang udah setia menunggu kisah Arga dan Senja.^^^
^^^Semoga suka.^^^
^^^-Happy reading-^^^
Senja spontan menatap sekitar. Kemana perginya mereka? Batin Senja.
“Nyariin apa sih?” tanya Arga yang menjadi satu-satunya teman Senja di meja.
“Emmm, temen-temen aku ke mana ya Kak…?”
Arga tak menjawab. Ia menatap Senja seolah melayangkan protes.
“Eh, manggilnya kudu Mas ya?” Senja tersenyum malu karena lagi-lagi salah menggunakan panggilan kepada Arga.
“Ya nggak juga sih, itu cuma aturan tak tertulis yang sudah berlaku sejak lama.” Arga mulai memakan bakso yang dibawanya.
Senja juga kembali fokus terhadap makanannya. Ia mulai memilah kentang yang ada dalam makanannya.
“Itu kenapa kentangnya disingkirin?” tanya Arga.
“Nggak doyan, hehehe,” jawab Senja.
“Terus itu nanti dibuang?” kembali Arga bertanya.
Senja mengangguk dengan enggan.
Arga meletakkan sendok yang ia pegang dan menatap lekat gadis manis di hadapannya ini. “Kamu ngerti dari mana asalnya kentang ini?”
“Ibu beli di pasar Mas....”
“Belinya pake apa?”
“Uang.”
“Nah, kamu tahu nggak di luar sana banyak orang yang buat sekedar beli beras aja nggak punya uang…”
Dua remaja ini saling menatap.
“Sedangkan dalam kotak bekal kamu nggak cuma ada nasi, tapi juga ada kentang dan juga ati. Bahkan masih ada sayur juga. Kamu seharusnya bersyukur Senja…”
Senja menatap makanan di hadapannya. Tiba-tiba ia merasa bersalah karena selama ini ia cukup pilih-pilih dalam hal makanan. Ia akhirnya mulai mencampur dan menata kentang agar tertutup nasi dan sayur, setelah itu Senja bersiap menyendoknya.
Perlahan Arga mengambil alih sendok dari tangan Senja, saat melihat gadis ini terlihat begitu tertekan hanya karena akan memakan kentang.
“Coba deh kamu merem,” kata Arga setelah sendok Senja berada di tangannya.
__ADS_1
“Buat apa Mas…?” tanya Senja.
“Udah merem aja…”
Meski sedikit enggan, akhirnya Senja melakukan apa yang Arga perintahkan. Arga mengambil sesendok makanan tanpa kentang di dalamnya untuk disuapkan pada Senja.
“Buka mulut kamu…”
Senja merapatkan matanya dan sedikit membuka mulutnya. Setelah merasa ada makanan yang masuk, ia mengunyahnya masih dengan mata terpejam.
Spontan matanya terbuka. “Eh, kok rasanya…” ucapan Senja menggantung, karena ia merasa tak menemukan rasa yang ia takutkan di makanan dalam mulutnya.
Arga tersenyum. “Kenapa, nggak nemu kentang di sana?”
“Iya,” jujur Senja.
Arga terkekeh. “Emang nggak ada kentang di makanan kamu.” Arga masih tertawa kecil melihat wajah lucu Senja.
Senja hendak meraih sendoknya dari tangan Arga namun malah ditepis. “Siniin Mas sendoknya…”
“Sekarang merem lagi.” Arga tak menggubris permintaan Senja dan justru kembali memintanya menutup mata.
“Buat apa sih…?” protes Senja.
“Udah sekali ini aja," kekeh Arga
“Iya, buat apa?”
Blush
Senja menangkup pipinya yang terasa panas. Astaga jantungku. Senja merasa jantungnya mendadak berdegup kencang dan cepat.
“Ayo buruan merem…” suara Arga berhasil menghentikan lamunan Senja.
Kali ini Senja langsung menuruti perintah Arga tanpa protes.
“Aaaa…” Arga kembali menyuapkan sesendok makanan.
Senja menerima suapan itu dan perlahan mengunyahnya masih dengan mata terpejam. Melihat Senja masih memejamkan mata, kembali Arga menyuapinya saat dirasa suapan sebelumnya sudah ditelan. Ia tersenyum saat melihat Senja tak melayangkan protes saat ada kentang di dalam makanannya.
Arga ternyum menatap Senja yang nampak manis di matanya. Terlebih saat ia tahu, Senja cukup berantakan saat makan. Meskipun makan dengan disuapi, tapi masih saja ada makanan yang tertinggal di bibirnya. Karena merasa tak nyaman saat melihat, Arga kembali membersihkan makanan di bibir Senja.
Spontan Senja membuka mata saat bibirnya bersentuhan dengan ujung jari Arga. Arga membeku saat mata keduanya bertemu. Jantungnya berdebar. Ia mengerti dan tahu benar ada rasa suka di hatinya. Namun janji tetaplah janji. Ia terlanjut berjanji pada Atma untuk tak mengganggu Senja dengan rasa cintanya.
Drrkkk
“Ehm, ehm… bel masuk kurang 10 menit lagi, mau sampai kapan acara tatap-tatapannya…” ucap Wahyu setelah menduduki kursi di samping Arga yang baru ditariknya.
Arga segera menarik tanganya, sedangkan Senja yang juga salah tingkah berlagak merapikan rambutnya. Karena 10 menit yang baru saja Wahyu ucapkan, Arga segera memasukkan sebuah bakso ke dalam mulutnya menggunakan sendok yang ada di tangannya.
“Mas…” lirih Senja dengan menatap Arga malu-malu. Pasalnya sekarang di meja tak hanya mereka berdua, tapi ada enam orang yang beberapa waktu lalu sempat menghilang entah kemana.
__ADS_1
“Kenapa? Bisa makan sendiri kan?” tanya Arga sebelum kembali memakan pangsit basah yang ada dalam baksonya.
“Sendoknya…”
Arga menatap sendok yang ada di tangannya. “Mau minta disuapin? Yakin…? ” Arga merendahkan suaranya, berharap orang lain tak akan dengan jelas mendengar suaranya.
“Ish…” Senja geram dan merebut sendok begitu saja dari tangan Arga. “Gimana mau makan kalau sendok Aya Mas Arga pake…”
Arga membulatkan mata dan berhenti mengunyah seketika. Ia segera mengecek mangkoknya. Ternyata di sana sudah ada sepasang sendok dan garpu yang tadi diambilnya. Arga kembali mengunyah makanannya perlahan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf…” cicit Arga.
Senja mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut dengan muka cemberut. Kali ini ia mencampurkan kentang yang semula dipisahkannya. Meskipun harus disembunyikan di bawah nasi, ia berusaha tetap memakannya.
Arga melirik temannya dengan takut-takut, berharap tak ada yang menyaksikan tingkah konyolnya. Namun sayang, sejak mereka datang ia dan Senja sudah menjadi perhatian utama.
“Napa lirak-lirik kayak gitu? Lu pengennya kita nggak lihat tingkah aneh lu barusan, gitu?” goda Bambang yang disambut tawa oleh semua yang ada di sana.
“Arga yang cool dan kalem dulu mana sih? Perasaan sejak kenal Senja tingkah kamu jadi banyak yang nggak masuk akal deh?” ujar Hari.
“Emang dulu kak Arga gimana Kak?” tanya Ayu ingin tahu.
“Dia tuh ya, mau sekelas heboh kacau kayak apapun, dia nggak pernah peduli. Maunya diem ya tetep mingkem,” jawab Hari.
“Dan lagi dia jarang nyapa orang, di tanya aja kadang nggak keluar suaranya,” imbuh Hari.
“Yang paling dan paling ngeselin nih, dia itu super tenang. Sempet pas sparring itu ada yang cidera, ketendang pas kena ulu hatinya dan dia langsung sesak nafas. Pada heboh kan, takut nyawa melayang, namanya orang nggak bisa nafas. Eh dia dengan santainya datang dan nyuruh anak itu berbaring dan jangan banyak gerak. Ya mana bisa lah?! Terus akhirnya diinjek deh perutnya pake kaki, diangkat pinggangnya, di naik turunin abis itu dibaringin lagi….” Ujar Wahyu.
“Terus gimana Kak?” tanya Ifa penasaran.
“Ya selamat lah, kan emang prosedurnya gitu,” jawab Arga dengan santai.
“Ya walau pun bagaimana pun meski pun, lu nggak takut apa kalau tuh anak lewat?!” protes Wahyu yang tak terima dengan sikap Arga yang kelewat tenang.
Arga sadar betul kalau Wahyu berharap ia akan langsung menjawab protesnya, namun ia memilih segera menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
“Ellah, jawab kampret…” Hari melemparkan kacang atom kepada Arga.
Dengan santai Arga malah menangkap lemparan itu dan segera memasukkannya ke dalam mulut. Kemudian dikunyah bersama bakso suapan terakhirnya.
“Kak Wahyu kalau lagi gini lucu ya,” bisik Ifa pada Ucik dan Ayu.
Ayu mengangguk cepat sedangkan Ucik hanya menatapnya datar.
“Segala sesuatu itu emang harus di hadapi dengan tenang, kalau panik bukannya beres malah tambah kacau.” Arga segera menoleh menatap Senja yang duduk di sampingnya. “Ngerti?” tanya Arga sambil menyingkirkan anak rambut Senja.
“Yaahhhhh, yang dianggap orang cuma Senja doang…!” protes Wahyu yang langsung bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh semua yang ada di sana.
“Tungguin…!” Senja bangkit saat teman-temannya juga pergi meninggalkannya.
Arga menarik bahu Senja agar duduk kembali. “Selesaiin aja dulu, aku temenin…”
Senja mengangguk dan segera menunduk untuk menyembunyikan senyum simpul di bibirnya.
__ADS_1
TBC