
"Ya ampun!"
"Apa sih Fa, teriak-teriak di rumah orang, enggak sopan tahu!" tegur Ucik.
"Bodoh, ini kan rumah aku," timpal Ifa.
"Iya juga sih..." jawab Ucik sambil mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru sisi rumah Ifa. "Terus kamu tadi teriak dalam rangka apa?" lanjut Ucik kemudian.
"Dalam rangka ini nih," jawab Ifa sambil mengangkat paper bag yang sejak tadi di bawanya dari sekolah menuju rumah Senja dan hingga kini tiba di rumahnya.
Mata Ucik terbelalak kaget.
Melihat reaksi sahabatnya, Ifa pun mencebikkan bibirnya. "Kaget juga kan lu," balas Ifa.
Ucik hanya mengangguk pasrah.
"Terus ini gimana?" lirih Ifa sambil menatap miris paper bag di tangannya.
Ucik hanya menatapnya sekilas, dan kembali fokus pada soal matematika di tangannya.
Bugh!
Ifa melempar sebuah bantal sofa pada sahabatnya. Pensil yang dipegang Ucik pun terpelanting ke bawah meja. "Kamu apaan sih Fa!" geram Ucik sambil berusaha menjangkau pensilnya di bawah meja.
"Kamu yang apaan! Bukannya bantuin temen malah asik ngisi TTS!" gerutu Ifa.
"TTS pala lu," kata Ucik sambil mengangkat kumpulan soal yang tengah dikerjakannya.
"Iya. Bagi kamu tuh soal kan kayak TTS," kata Ifa sambil memalingkan wajahnya.
"Iya, kalau belum kelar, otakku belum mau diajakin mikir yang lain," pasrah Ucik dan mengiyakan sindiran Ifa. Berdebat untuk hal tak penting sebaiknya memang harus dihindari saat ini.
"Kalau naik sepeda ke rumah Senja makan waktu nggak ya?" tanya Ucik tiba-tiba.
"Pasti sampai kok," jawab Ifa santai.
"Kita anterin ini ke tempat Senja bareng-bareng ya," kata Ucik sambil menunjuk paper bag dari Indra.
"Ogah," jawab Ifa.
"Ya udah deh, aku pulang," jawab Ucik santai sambil bangkit dan meraih tas sekolahnya.
"Terus ini barang gimana?" panik Ifa.
"Serah lu, yang dikenal Indra kan lu, palingan juga elu yang bakal berurusan sama Indra."
"Yah, Ucik kok gitu sih."
"So, mau nggak nganterin ini ke Senja bareng-bareng."
"Iya deh iya," jawab Ifa sambil bangkit menuju kamarnya untuk berganti pakaian. "Kamu mau ganti baju apa mau pakai seragam aja," lanjut Ifa sebelum ia menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Kalau kamu ngasih pinjem, boleh deh."
Ifa dan Ucik akhirnya mengganti seragam mereka dengan pakaian harian.
__ADS_1
"Ya ampun Fa, celananya kok sesek sih."
"Jangan nyalahin celananya dong, kamu aja tuh yang gendut," cibir Ifa.
"Mana gendut, aku tuh ideal. Kamu yang kelewat kurus," timpal Ucik. Ifa dan Ucik akhirnya memperhatikan tubuh satu sama lain. Mereka pun tertawa setelahnya. Ucik berperawakan sedang, sedangkan Ifa tubuhnya agak kurus, bahkan lebih kurus dari Senja.
Dari 4 bersahabat itu, Ifa bertubuh paling kurus dengan kulit paling putih. Sedangkan Ucik berperawakan sedang namun diantara mereka berempat memiliki tubuh paling besar. Kalau Senja dia tak sekurus Ifa namun paling tinggi diantara mereka berempat dengan kulit sawo matang dan paling gelap di antara keempatnya. Dan Ayu bertubuh paling mungil dengan tubuh lebih besar dari Ifa tapi tak sebesar Ucik, kulitnya lebih putih dari Ucik tapi tak seputih Ifa. Namun ada satu hal yang menjadi kesamaan diantara keempatnya yaitu mereka sama-sama memiliki otak yang encer.
"Nunggu ayah pulang jumatan dulu ya, habis salat dzuhur baru kita berangkat," kata Ayu.
"Oke deh," jawab Ucik setuju.
Sementara itu di rumah Senja.
"Ay, lagi ngapain kamu?" tanya Arti yang tak sengaja melihat Senja tengah belajar di kamar ketika berjalan melewatinya.
"Lagi nyiapin ini Mbak, sambutan buat besok," kata Senja sambil memperlihatkan teks yang kini tengah ditulisnya.
"Teksnya kamu baru buat sekarang?" tanya Arti.
"Sebenarnya udah dikasih teks Mbak, cuma aku ngerasa kurang cocok aja dan pingin revisi di beberapa bagian."
"Kalau baru direvisi sekarang besok mana hafal," tanya Arti.
"Tenang aja Mbak, isi sambutan ya cuma itu-itu aja. Sebenarnya aku sudah hampir hafal apa saja yang mau aku sampaikan besok, tapi ada yang kurang aja kalau nggak aku tulis kayak gini," jelas Senja.
"Wah, hebat ya."
"Apanya Mbk yang hebat?"
"Ya kamu, kayaknya ngomong di depan banyak orang itu udah biasa banget. Emang keturunan kali ya bukannya Mas Atma juga gitu."
Menyadari cahaya dihadapan nya meredup, Arti pun segera merangkul adik iparnya. "Yang jelas kamu hebat, jadilah hebat versi diri kamu."
"Makasih ya Mbak."
"Kalau perlu bantuan panggil Mbak aja. Ya walaupun Mbak bisanya cuma nemenin, semoga itu bisa membantu kamu."
"Makasih banyak ya Mbak Arti, Cahaya ngerasa kayak beneran punya Kakak perempuan," jawab Senja.
"Ya kamu pikir Mbak ini apa kalau nggak perempuan, masa iya Mas Atma menikah sama laki-laki," ucap Arti dengan tertawa.
"Iya deh iya," ucap Senja dengan menyambut tawa dari kakak iparnya.
"Ya udah Mbak ke belakang."
"Oke Mbak," jawab Senja sebelum akhirnya dia kembali berkutat dengan kertas di hadapannya.
Arti kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar adik iparnya. Namun tak berselang lama, dia kembali muncul di sana.
"Ay, ada temen kamu di luar," kata Arti yang tiba-tiba muncul lagi di kamar Senja.
"Siapa Mbak?" tanya Senja.
"Yang tadi ke sini."
__ADS_1
"Ha?!"
"Iya, buruan keluar," kata Arti lagi.
Ya ampun, kenapa mereka balik lagi sih. Batin Senja. Senja pun berjalan keluar kamarnya dengan langkah yang terasa begitu berat. Baru beberapa langkah meninggalkan kamarnya dia kembali berlari ke dalam kamar untuk mengecek apakah penampilannya sudah rapi apa belum.Ya ampun, jangan sampai deh rambutku berantakan. Batin Senja sambil merapikan anak rambut di wajahnya. Meskipun deg-degan, Senja tetap berjalan menghampiri tamunya. "Lhoh kalian?!" kaget Senja sambil menengok kanan kiri.
Ucik dan Ifa diam di tempat, menyaksikan tingkah aneh sahabatnya yang jelek jelek seperti monyet yang lagi ngintip dari atas pohon.
"Cuma kalian?!" tanya Senja lagi.
"Iya kami, kamu pikir siapa, Kak, aaww!" pekik Ifa kala Ucik menginjak kakinya dengan kuat tiba-tiba
.
"Aw, aw, iya lupa," lirih Ifa kemudian sambil merintih kesakitan.
"Ada apa?" tanya Senja kemudian.
"Ini kita cuma mau ngasih ini," kata Ifa sambil menyerahkan paper bag kepada Senja.
"Ini apa?" tanya Senja.
"Ini dari Indra," jawab Ifa.
Senja tiba-tiba menyerahkan lagi bingkisan yang baru saja dia terima kepada Ifa. "Nggak mau nggak mau, aku nggak kenal siapa itu Indra," kata Senja sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah terima aja, please ya, please," bujuk Ifa.
"Nggak mau, bisa dimarahin Mas Atma aku nanti kalau nerima ginian, dikira aku deket sama cowok," kata Senja sambil menggeleng dengan kuat.
"Gimana ya? Yaa, kalau ada yang tanya bilang aja dari kita," kata Ucik.
Senja nampak menimang-nimang, sebelum akhirnya dia meraih paperl bag itu. "Ini isinya apa?"
"Kita juga nggak tahu," jawab Ifa lesu.
"Indra siapa sih?" tanya Senja.
Ifa dan Ucik saling memandang. Mereka tak tahu harus mulai menceritakan dari mana dan dan merasa tak enak jika harus mengatakan siapa Indra sebenarnya.
"Hai," tanya Senja.
"Indra itu..." ucapan Ifa menggantung.
"Siapa?" tanya Senja lagi.
Ucik dan Ifa hanya mendesah pasrah. Sedangkan Senja semakin penasaran dibuatnya.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.