SENJA

SENJA
Lancar


__ADS_3

"Kak..." lirih Senja saat baru saja dia muncul dari dalam rumahnya.


Senja POV


Dari dalam aku melihat sosok tinggi itu tengah duduk di teras rumahku. Kenapa dia harus ke rumah? Aku mengayun langkahku pelan, tak berani terlalu cepat karena aku takut ini akan menambah laju detak jantungku. "Kak..."


Aku bergumam nyaris tanpa suara kala sosok itu memandangku lengkap dengan senyuman yang selama ini selalu membuatku gelisah. Entah mengapa jantungku berdetak begitu kencang. Aku berhenti sejenak, karena saking kuatnya debaran itu membuat kakiku seperti tak menginjak bumi.


Setelah mengumpulkan seluruh keberanian, akhirnya aku muncul dari balik pintu. Sebenarnya aku ingin langsung menyapa mereka, tapi mengapa lidahku kelu?


Melihatku muncul dari dalam rumah, Ifa segera bangkit dan memelukku. "Senja ya ampun. Kamu sakit apa sih. perasaan hari Rabu kamu masih baik-baik aja deh. Masa iya gara-gara peng aw!" aku mencubit Ifa agar ia tak perlu membahas masalah penggaris itu sekarang.


Ifa kemudian mengangguk-angguk paham.


Kak Arga sepertinya juga kaget dengan apa yang hampir Ifa katakan. Buktinya ia memandang kami dengan mata terbelalak.


"Senja udah sembuh?" tanya Kak Rivan padaku.


"Sudah Kak, cuma sama Ibu tadi pagi nggak boleh berangkat, katanya biar sembuh beneran."


"Kamu sakit apa?" tanya Ucik.


"Gejala tipes Cik."


"Ya ampun kok bisa, kayaknya Rabu kemarin kamu masih sehat-sehat aja deh," kata Ifa.


"Nggak tahu, mungkin emang udah waktunya aku sakit," ucapku sambil tersenyum.


"Oh ya, tadi kita ke sini ini emang pengen jenguk kamu, itu yang pertama, terus yang kedua aku pengen nanyain perihal besok, kira-kira kamu bisa nggak?" tanya kak Rivan.


Saat aku hendak menjawab, Ibu tiba-tiba datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas sirup.


"Kok repot-repot Tante, kita nggak lama kok," kata kak Rivan.


"Cuma air kok, minumnya juga nggak lama," kata ibuku sambil tersenyum.


"Iya Tante," kata mereka bersahutan, kecuali kak Arga. Dia hanya tersenyum dan tak sedikitpun bersuara.


"Ayo silahkan diminum," kata Ibu yang kini duduk di sampingku.


"Oiya Tan..."


"Panggil Ibu aja," potong ibu cepat.


"Iya, Bu. Oh ya, perkenalkan, saya ketua OSIS di sekolah. Tujuan saya kemari yang pertama adalah untuk menjenguk Senja, dan yang kedua adalah untuk menanyakan kesiapan Senja perihal tugasnya besok untuk sambutan sebagai wakil dari kelas VII. Apa besok Senja sudah di izinkan ke sekolah?" tanya kak Rivan kepadaku dan Ibu.

__ADS_1


Ibu diam saja, tak langsung menjawab.


"Apa boleh Bu?" tanyaku kemudian.


Ibu nampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya berkata," besok itu kegiatannya apa?" tanya ibu pada kak Rivan.


Kak Rivan pun menjelaskan detail kegiatan pada Ibu. Sedangkan aku hanya diam memperhatikan. Namun tanpa sengaja, ekor mataku menangkap sosok kak Arga yang kini tengah menatapku. Ada resah yang terpancar dibalik sorot matanya, dan aku dapat merasakannya. Apa yang sebenarnya dia risaukan?


"Aya?" panggil ibu.


"Iya Bu."


"Asalkan kamu bisa menahan diri untuk tidak mengikuti terlalu banyak kegiatan fisik dan luar ruangan, Ibu izinkan. Tapi untuk pastinya tunggu Ayah keluar sebentar lagi ya," kata ibu.


"Iya Bu," jawab ku.


Tak lama kemudian ayah muncul dari dalam rumah. "Teman-temannya Cahaya ya," tanya Ayah kemudian.


"Iya, Om," jawab semua secara serempak.


Kak Rivan kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ayah.


"Rivan Om."


Ifa kemudian bangkit dan melakukan hal yang sama. "Saya Ifa Pak, teman sekelasnya Senja."


"Saya ya Suci Pak, teman sekelasnya Senja juga." Ucik hanya panggilan akrab, dan nama aslinya adalah Suci sesuai yang disebutkan nya pada Ayah.


Setelah Suci melepas tangannya yang berjabatan dengan ayah, giliran kak Arga berdiri dan mengulurkan tangan. "Saya..."


"Kamu Arga kan," sahut ayah cepat dengan menjabat tangan kak Arga.


"Saya dengar Rivan adalah ketua OSIS di sekolah kalian, terus kamu?" tanya Ayah dengan menatap Kak Arga.


Bukan hanya Kak Arga, aku pun merasa terintimidasi dengan pertanyaan Ayah kali ini. Terutama aku. Namun saat aku memberanikan diri untuk menatap wajah Kak Arga. Dia nampak cukup tenang menghadapi situasi ini.


Merasa sikon saat ini kurang kondusif, Kak Rivan segera mengambil inisiatif untuk angkat bicara, "dia teman saya Pak, dan..."


"Saya yang menjadi penunjuk jalan ke rumah ini Pak," potong Kak Arga cepat.


Kak Rivan menoleh sontak menatap wajah Kak Arga yang kini juga masih berjabat tangan dengan Ayah. Wajah paniknya kini bercampur heran menatap sosok di sampingnya. Sedangkan Ifa dan Suci nampak gelisah. Kepala mereka tertunduk dan tangan mereka bertautan.


Namun kepanikan itu sepertinya nya tak berlaku untuk kak Arga. Sejauh mataku memandang, Kak Arga jauh lebih tenang dan siap menghadapi Ayah daripada kak Rivan.


Ayah kemudian melepas jabatan tangannya dan duduk di samping Ibu. "Tadi gimana?" tanya ayah.

__ADS_1


Namun kak Rivan kini justru terdiam.


Kak Arga nampak menghela nafas. "Kami tadi ke sini, yang pertama untuk menjenguk Senja, selanjutnya Rivan ada keperluan lain yaitu menanyakan kesiapan Senja pada acara besok. Untuk detailnya seperti apa, biar Rivan yang menjelaskan." Kak Arga mengatakan semua itu dengan lancar dan jelas.


Dan meskipun kak Arga sudah terlebih dahulu berbicara dan kemudian mempersiapkan momen agar Kak Rivan mengutarakan keperluannya pada Ayah, namun sepertinya hal itu tak dapat membuat Kak Rivan mampu segera bersuara.


"Ehm," ayah berdehem. Dan suasana pun semakin mencekam.


"Tegang banget sih, Bapak kan nggak lagi nyidang kalian," kata Ayah diselingi tawa.


Kak Rivan beserta kedua temanku nampak menghembuskan nafas lega. "Maaf Om, eh Pak," ucap kak Rivan terbata.


"Udah, udah, ini di minum dulu biar nggak seret tenggorokannya," kata Ayah mempersilahkan mereka untuk meminum sirup yang sudah dipersiapkan Ibu.


Mereka pun segera meraih gelas dihadapannya, bahkan Kak Rivan menenggaknya hingga habis. Kak Rivan nampak beberapa kali menghela nafas. "Begini Pak..." Kemudian kak Rivan menjelaskan kepada ayah terkait kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah besok.


"Baiklah, kalau memang Cahaya tidak bisa diganti, saya minta tolong agar dia tidak diikutsertakan pada kegiatan luar ruangan, karena mengingat kondisinya yang belum sehat betul. Bukannya saya ingin anak saya mendapat perlakuan istimewa, kami memang kondisi yang belum mengizinkannya untuk mengikuti semua kegiatan."


"Baik Pak insya Allah saya akan melaksanakan amanah dari bapak. Saya serta teman-teman panitia akan mengatur bagaimana agar Senja tidak perlu ikut di kegiatan luar ruangan," jawab kak Rivan yang sudah mendapatkan kembali wibawa dan kepercayaan dirinya.


"Karena ini hari Jumat dan jamnya juga sudah mepet, kami permisi dulu Pak, Bu," pamit Kak Rivan pada Ayah dan Ibu.


Kak Rivan pun berdiri dan diikuti ketiga orang lainnya. Kak Rivan diikuti oleh Ifa, Ucik, dan kak Arga berpamitan secara bergantian kepada ada Ayah, Ibu, dan aku.


"Arga!" Panggil ayah tiba-tiba kalah semua sudah bersiap di samping motor.


Sontak semuanya menoleh.


"Iya Pak," jawab Kak Arga.


"Terima kasih sudah mau jadi penunjuk arah rumah Cahaya," kata Ayah.


Kak Arga hanya mengangguk dan tersenyum. Dan tanpa kusadari ternyata kedua sudut bibirku juga sudah terangkat dan membentuk sebuah lengkungan. Namun tiba-tiba senyum di bibirku mendadak pudar. Apa maksud ayah? Ya ampun, jangan sampai ada malapetaka setelah ini.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.

__ADS_1


__ADS_2