
Langit menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Senja. Senja mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah dulu. Sedangkan Langit keluar dari mobil menuju ke taman yang ada di depan rumah Senja. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
Senja pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas kemudian menyusul Langit ke taman depan rumah.
Ia melihat Langit duduk disebuah kursi taman dengan kepala tertunduk.
Senja menghampiri Langit dan duduk disampingnya. Ia meletakkan botol air mineral yang ia bawa, lalu ia angkat wajah Langit.
Wajahnya terlihat gusar, membuat Senja marasa sedih. Ia menarik badan Langit dan memeluknya.
Langit memeluk tubuh Senja dengan erat. Dalam pelukan Senja ia mengelurkan air mata kemarahan dan kesedihannya.
Senja membiarkan Langit melepaskan seluruh amarahnya. Ia mengusap lembut punggung suaminya, memberikan rasa nyaman untuk Langit.
Setelah merasa nyaman, Langit melepaskan pelukannya dari tubuh Senja dan segera mengusap sisa air mata di pipinya.
"Maaf kamu melihatku seperti ini." Ucap Langit.
Senja tersenyum, "Aku senang bisa melihat sisi lain dari suamiku." Senja menyodorkan air mineral yang dibawanya tadi.
Langit membuka tutup botol dan minum benerapa teguk air. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kesal.
"Apa kamu ingin aku memberimu waktu untuk sendiri, mas?" Tanya Senja.
Langit menatap Senja, ia menggelengkan kepalanya dan memegang tangan Senja. "Temani aku disini sebentar saja."
Senja menganggukan kepalanya.
Langit menatap kosong kedepan, sedangkan Senja sedang mencoba menghentikan rasa penasaran yang ada di otaknya.
"Dia Ibuku, Nja."
Senja sedikit terkejut mendengar ucapan Langit, tebakannya benar.
"Entahlah, Apa masih pantas aku memanggilnya seperti itu." Lanjut Langit, tatapannya seakan sedang mengingat masalalunya.
Senja teringat kisah masa kecil Langit dan Ibunya yang tidak menyenangkan untuk diceritakan kembali.
Senja memegang kedua tangan Langit. "Apa kamu mau mendengar ceritaku tentang budhe Imah mas?" Tanya Senja.
Langit menatap Senja, "Aku tidak mau tahu tentangnya, Nja." Ucap Langit, tapi ada keraguan terpancar di mata Langit.
Keduanya diam, mereka berdua menatap kedepan dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ibu bertemu dengan budhe Imah ketika Ibu masih berjualan di pasar." Senja menghentikan ceritanya, ia melihat Langit yang tak bergeming.
"Saat itu budhe Imah jadi kuli panggul, dan jadi langganan ibu untuk membawakan belanjaannya ke becak. Ibu dan budhe Imah semakin dekat, dan mendengar cerita jika suaminya terkena stroke.
Dari sana awal mula budhe Imah kehilangan semua hartanya. Budhe bilang tak ada satu saudara pun yang mau membantu mereka, budhe hanya bilang mungkin ini adalah akibat dari perbuatannya di masalalunya.
Dan sekarang aku tahu seperti apa masalalu budhe yang membuatnya jadi seperti ini."
"Baguslah, seharusnya Ayah juga bisa melihat betapa hancurnya mantan istrinya sekarang." Nada bicara Langit terlihat menyimpan banyak amarah.
Senja memeluk Langit, "Ayah masih selalu membantu budhe, mas."Ucap Senja pelan.
Langit terkejut hingga melepaskan pelukan Senja, "Apa maksudmu, Nja?"
__ADS_1
"Aku memang tidak pernah mendengarnya langsung dari budhe, tapi Ibu yang menceritakan semuanya. Mantan suami budhe orang kaya, ia tahu apa yang terjadi dengan budhe.
Setiap bulan budhe mendapat kiriman uang dari mantan suaminya untuk pengobatan pakdhe dan kehidupan mereka. Namun budhe tidak pernah menyentuh uang itu, bahkan sampai sekarang buku tabungan budhe Ibu yang pegang.
Budhe merasa tak pantas mendapatkan kebaikan dari orang-orang yang sudah ia lukai."
Senja menatap Langit dengan lembut, mengusap setetes air mata yang keluar dari mata suaminya.
"Dia gak pantas mendapatkan kebaikan Ayah." Ucap Langit pelan, namun terdengar seperti sumpah serapah.
"Apa kamu sedang menjadikan dirimu Tuhan mas?" Tanya Senja.
Langit memicing mendengar pertanyaan Senja.
"Aku tidak ingin suamiku durhaka kepada Ibunya." Ucap Senja.
"Nja!! kamu sadar apa yang kamu bicarakan!?" Langit terlihat marah. "Kamu lebih membelanya daripada aku, suamimu!!"
Senja memagang tangan Langit, mencoba menenangkan. "Maafkan aku membuat kamu marah, mas. Aku tidak sedang membelanya, aku sedang membelamu di depan Tuhan kita."
Langit melepaskan tangannya dari tangan Senja. "Jangan membuat alasan, Nja."
"Dia adalah Ibu mu, mas. Seperih apa luka yang pernah dia berikan padamu, dia tetap ibumu dan dia tetap Surgamu.
Janganlah kamu menghujatnya, seakan kamu yang paling berhak melakukannya. Tuhan sudah memberinya hukuman yang pantas ia dapatkan, mas.
Kita sebagai manusia hanya bisa memaafkan mas. Walau aku tahu terlalu berat untukmu memaafkannya, tapi cobalah untuk berdamai dengan hatimu."
Senja menyentuh dada Langit, "Aku tahu, disini kamu sedang sangat merindukannya. Kamu juga terluka melihat keadaannya seperti itu."
Langit tertunduk, kedua tangannya mencengkram erat ujung kursi taman.
Senja mengusap punggung Langit. "Berdamailah dengan dirimu sendiri dulu mas."
Langit kembali menatap Senja. "Bisa tinggalkan aku sendiri dulu, sayang?" tanya Langit.
Senja mengangguk, Ia berdiri dan tersenyum. "Jangan lama-lama ya, mas. Udara malam gak bagus buat kamu."
"Makasih ya, sayang."
Senja mengecup kening Langit dan meninggalkan Langit sendirian di taman.
Dirumah, Ibu sudah menyambutnya di ruang tamu. Sky dan Sora juga menunggu diruang tamu, ingin menanyakan apa yang terjadi dengan papa mereka.
"Apa yang terjadi dengan suamimu, Nja?" Tanya Ibu.
Senja duduk diantara Sky dan Sora.
"Mama mau kasih tahu Sky dan Sora, juga Ibuk." Senja menatap Ibunya. "Sebenarnya, Nek Imah adalah Nenek Sky dan Sora juga."
"Apa Nja!?"
Ibu Terkejut, sedangkan Sky dan Sora bersikap biasa saja. Karena menurut mereka, Imah memang nenek mereka juga.
"Nenek Imah itu Mamanya papa, nak." Senja memperjelas.
"Mamanya papah?" Sky dan Sora saling menatap.
__ADS_1
Senja mengangguk, "Iya nak. Jadi nek Imah itu nenek kandung Sky dan Sora, sama seperti nenek Laila."
"Yeyyyyeh!! Sora punya nenek lagi" Teriak Sora kegirangan.
Senja menatap Sky yang hanya diam memikirkan sesuatu. "Sky tidak senang? Bukannya Sky yang paling sayang dengan nek Imah?"
"Sky senang, Ma." Jawab Sky.
"Lalu?"
"Kalau benar nek Imah memang mamanya Papa, kenapa Papa marah dengan nek Imah?" tanya Sky.
Senja terdiam, ia tahu jika Sky akan menanyakan hal ini padanya.
"Iya, Ma. Kenapa Papa jahat ke Nek Imah?" tanya Sora juga.
"Papa tidak jahat Sora, Papa pasti punya alasan marah ke nek Imah. Bukannya mama sering bilang ke kita, kalau Mama marah ke kita itu karena mama sayang." Sky meralat pertanyaan Sora.
"ah, iya. Benar Sky." Sora membenarkan pejelasan Sky.
"Benar Sky, Papa memang sayang ke nek Imah. Hanya saja papa punya alasan kenapa papa marah ke nek Imah. Sama seperti mama punya alasan kenapa harus marah ke Sky atau ke Sora. Hanya saja mama tidak bisa memberitahu alasannya, karena ini permasalahan orang dewasa. Sky dan Sora mengertikan keadaan papa?"
"Apa Papa akan segera baikan dengan nek Imah, Ma?" Tanya Sky, "Aku sedih lihat Papa dan Nek Imah marahan."
"Sora juga. Sora takut lihat papa marah." Sora memeluk Senja.
"Maafin Papa ya, sayang."
Langit muncul dari pintu ruang tamu, Ia menghampiri anak-anaknya yang berada disamping Senja.
"Papa gak seharusnya berbuat seperti itu didepan kalian. Papa janji gak akan ngulangin lagi."
"Janji?" Sora menunjukkan jari kelingkingnya pada Langit.
"Janji." Langit mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Sora.
Sora tersenyum dan pindah ke pangkuan Langit.
"Maafin papa ya Sky?" Langit melihat putranya yang memang mempunyai pemikiran yang lebih dewasa dibandingkan umurnya.
"Sky tidak marah dengan papa." Jawab Sky, "Sky hanya memikirkan perasaan nek Imah, dia pasti sedih sekali lihat papa marah padanya. Sama seperti mama yang sedih ketika Sky marah pada mama." Sky menatap Sora.
Senja mengusap pipi Sky lalu menatap Langit, melihat suaminyayang tertegun dengan ucapan anak umur lima tahun didepannya itu.
"Papa akan minta maaf besok, jadi Sky tidak perlu sedih lagi ya?"
Sky mengangguk senang.
"Kalo gitu, kita istirahat ya. Besok kan kita harus ke Jakarta." Ajak Langit.
"Iya, Sayang. Naik ke kamar sama papa ya, Mama mau disini dulu dengan nenek." Ucap Senja.
"Iya, Ma." Sky dan Sora berlari lebih dulu ke kamar mereka.
"Langit ke kamar dulu ya, buk." pamit Langit ke Ibu Senja.
"Iya, Nak."
__ADS_1
Langit bergegas pergi ke kamar Sky dan Sora. Sedangkan Senja tetap duduk diruang tamu, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara suaminya dan Imah.
-Bersambung-