
Langit tiba dirumah lebih awal dari biasanya, ia cepat-cepat menyeleasaikan semua pekerjaannya karena sudah berjanji untuk pulang lebih cepat ke istrinya.
Seperti biasa Ella menyambut kedatangannya di pintu utama.
"Nona Senja belum makan siang, Tuan. Nona masih sibuk membenahi kamar untuk tuan dan nona muda." Ella memberi laporan.
Langit menggelengkan kepalanya, heran melihat Senja yang bekerja sampai lupa makan. Ia melepas jasnya, memberikannya pada Ella. "Tolong bawakan ke kamar saya, Bu Ella." pinta Langit.
Langit tak lantas naik ke lantai dua, ia pergi ke dapur. Meminta asisten dapur menyiapkan sepiring nasi dan lauk pauk.
Tak butuh waktu lama, apa yang diminta Langit sudah disiapkan diatas nampan.
Langit menggulung kedua lengan kemejanya agar mempermudah dia membawa nampan yang berisi nasi dan lauk pauknya.
"Terimakasih ya, mbak." Ucap Langit.
"Apa sebaiknya saya saja yang membawakan, Tuan?"
"Gak usah mbak, aku bisa sendiri."
Dengan hati-hati Langit membawa nampan ke lantai dua, ia langsung menuju ke kamar Sky dan Sora. Pintu kamar terbuka dan Senja masih tidur tersandar di headboard dengan tangannya yang masih memegang baju.
Langit meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja kecil samping tempat tidur.
Ia duduk jongkok di lantai, menatap istrinya yang tidur dengan posisi duduk. Ia merasa Iba melihat Senja yang terlihat sangat kelelahan. Dengan hati-hati ia menyeka keringat di kening Senja.
Mata Senja terbuka pelan, merasakan ada yang menyentuhnya. Ia terkejut melihat Langit sudah didepannya.
"Mas. Sudah pulang?" Tanya Senja, ia menatap keluar cendela dan bersyukur karena masih terang.
"Iya, aku kan udah janji pulang lebih awal." Langit berdiri dan duduk didepan Senja. "Kenapa sampai belum makan siang sih?" tanya Langit.
"Ah, Iya. Aku lupa, mas. Terlalu asyik ngerjain ini." Kata senja sambil tertawa kecil.
Langit menengok nampan yang sudah ia bawa, "Makan dulu gih, aku takut kalau sampai kamu kurus."
"Wah, siapa yang bawain ini kesini mas?"
Langit menepuk dadanya beberapa kali, namun Senja menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Udah, sana makan. Ini serahin aja ke aku, Biar aku yang kerjain ini." Langit menarik tangan Senja menjauh dari tempat tidur.
Senja duduk di atas karpet dan mulai menyantap makanannya. "Emang kamu bisa mas melipat baju?" Senja menatap Langit yang mulai memegang baju.
"Bisa lah, apa sih yang nggak ku bisa." Langit menyombongkan dirinya sambil melipat baju.
__ADS_1
Senja tertawa ketika melihat hasil lipatan Langit. "Lipatan model apa itu mas?"
"Rapi kok. Apanya yang salah?" Langit melihat hasil lipatannya yang menurutnya sudah sempurna.
Senja meletakkan piringnya, ia memberi contoh untuk Langit step by step.
"Ribet amat sih, Sayang. Lipat seperti punyaku aja, udah rapi."
"Jelek tahu, Mas. Dimana-mana, di negara manapun kalau ngelipat baju ya kaya gini. Ayo tiruin, aku mau makan dulu." Senja memberi perintah pada Langit.
Langit pelan-pelan mempraktekkan yang sudah Senja contohkan.
"Itu lipatannya terlalu lebar, gak sama tuh kanan kirinya." Protes Senja sambil mengunyah makanan.
Dengan cemberut Langit memperbaikinya. "Udah, gini?" Tanya Langit.
"Masih tujuh puluh lah nilainya." jawab Senja. "Ayo, yang lainnya masih menunggu itu."
"Kita suruh mbak-mbak aja ya, sayang." pinta Langit putus asa.
Senja memicing, "padahal tadi yang suruh nyerahin ke kamu siapa?"
"Tapi ini rumit, sayang."
"Hubungan kita yang rumit aja bisa kamu selesaiin, ngelipat pakaian gini aja kamu mau nyerah mas?" Ejek Senja, ia masih tetap mengunyah makanannya.
Sambil cemberut ia mengambil lagi satu baju dan melipatnya hati-hati sesuai dengan prosedur yang senja berikan.
Senja hanya cekikan melihat Langit sedang berusaha melipat baju serapi mungkin.
Setelah menyelesaikan makannya, Senja duduk didepan Langit. Ia membantu Langit agar lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"Udah, mas tinggalin aja. Biar aku yang ngelanjutin." Senja meraih baju yang ada ditangan Langit, "Mas kan capek pulang kerja malah ku suruh ngelipatin baju. Maaf Ya..." Ia menyentuh kedua pipi Langit dan mengecup bibirnya. Senja merasa bersalah, sudah membebani dengan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan.
Namun Langit mengambil kembali baju yang sudah diambil Senja. "Kita kerjakan sama-sama ya? Kamu kan juga capek seharian ngerjain ini."
Senja tersenyum dan mengangguk setuju.
Berdua mereka saling membantu mengemas baju baju baru untuk Sky dan Sora di almari pakaian, menata beberapa mainan dan boneka untuk Sky dan Sora, dan pernak pernik hiasan di dinding.
Menjelang gelap barulah semua sudah tertata rapi. Senja menutup jendela dan gorden kamar. Langit menghampiri Senja dan merangkul bahu Senja.
"Akhirnya selesai juga ya sayang." Ucap Langit, memandangi sekeliling ruangan.
"Iya, Mas." Senja menyandarkan kepalanya di dada Langit. "Aku gak sabar jemput anak-anak."
__ADS_1
"Mau video call dengan mereka?" Tanya Langit.
"Jangan, aku ingin membuat kejutan untuk mereka. " Tolak Senja.
Langit tersenyum dan mengangguk, "Kita ke kamar yuk, mandi dan istirahat. Besok pesawat kita jam Tujuh pagi."
"Iya, Mas."
*********
Hari masih gelap, Senja sudah mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper karena semalam ia terlalu lelah untuk berbenah.
Ia hanya menyiapkan satu koper untuk pakaiannya dan pakaian Langit, karena mereka hanya semalam saja di Malang.
Setelah semuanya siap, Senja pergi mandi terlebih dahulu barulah dia membangunkan Langit.
"Mas, Ayo bangun. Udah hampir jam lima loh."
"Heemmm"
"Mas, ayo banguuuun. Nanti telat Loh." Senja lebih kencang menggoyangkan lengan Langit.
"Iya sayang." Dengan berat Langit membuka mata.
Senja masih berdiri, memastikan Langit tidak tertidur lagi.
"Udah ya, mas. Jangan tidur lagi. Aku siapin baju kamu."
Senja beranjak pergi, namun Langit menarik tangan Senja hingga terjatuh menindih badannya.
"Auch!!" Langit memekik kesakitan.
"Kamu nih mas, aneh-aneh aja. Badanku berat tahu." Protes Senja.
Langit malah memeluk tubuh Senja lebih erat. "Kita main-main bentar ya sayang." bisik Langit.
"Hah!? Main apa?" Senja memperjelas maksud Langit.
Langit memindahkan tubuh Senja ke sampingnya dan menindihnya. "Kalo anak-anak sudah di sini akan sulit mencari waktu untuk membuat adek mereka." Ucap Langit, tangannya sudah mulai membuka kancing kemeja Senja.
"Mas, gak ada waktu. Udah jam berapa ini? Kita bisa telat check in nanti."
Langit mengabaikan celotehan Senja dan mulai menciumi leher Senja.
Senja yang awalnya menolak, akhirnya terbuai juga menikmati sentuhan Langit.
__ADS_1
-Bersambung-