
Hampir seminggu Senja mendapatkan tekanan yang luar biasa oleh kedua kakaknya. Berangkat sendiri naik angkot sudah menjadi hal yang biasa untuknya saat ini. Namun ketika pulang sekolah, kerap kali dia harus berpacu dengan waktu agar tak terlambat sampai rumah. Sesekali Anton mengantarnya dan menjemputnya secara tiba-tiba. Sepertinya ucapan Atma beberapa hari yang lalu cukup membuat Anton was-was. Dia takut kalau senja benar-benar diantar pulang oleh teman laki-laki, baik Arga maupun yang lain.
"Senja."
Senja mendongak melihat siapa yang terus saja memanggilnya.
"Apa Ra," tanya Senja pada Ira teman sekelasnya.
"Kata anak-anak, Pak Yanto angkotnya rusak."
"Pak Yanto?" beo Senja.
"Iya," jawab Ira.
"Pak Yanto siapa ya?" tanya Senja.
"Ya ampun, kamu nggak ngerti siapa Pak Yanto?" pekik Ira kaget.
Senja hanya memanyunkan bibirnya sambil mengangguk.
"Ckckck, parah kamu. Itu loh sopir angkot yang biasa kamu tumpangin."
"Yah....," Senja mendesah kecewa. "Terus aku pulangnya gimana dong!"
"Panik deh panik. Gini loh, Pak Bejo kan angkotnya masih longgar, enggak sebanyak muatan langganannya Pak Yanto, kamu kayaknya bisa deh numpang angkotnya Pak Bejo, tapi yaitu..." ucapan Ira menggantung.
"Itu apa?" tanya Senja penasaran.
"Kayaknya angkot Pak Bejo nggak sampai rumah kamu deh kamu kudu jalan 500 meter."
Senja membelalakkan matanya mendengar penuturan Ira.
"Wah makan waktu berapa menit jalan segitu jauh?" tanya Senja dengan mata menerawang.
"Apa aku nyegat angkot umum di jalan raya aja ya?"
"Tetap aja dari sekolah ke jalan raya kamu juga harus jalan, belum lagi kalau nunggu angkotnya lama."
"Wah iya juga, terus gimana dong." Senja bingung harus bagaimana.
"Heh tuh muka kenapa ditekuk?" tanya Ifa dan Ayu saat baru saja tiba.
"Ini Senja panik, angkot langganannya nggak bisa jemput ke sekolah," terang Ira.
"Wah bisa jadi sambel kamu kalau telat sampai rumah," seloroh Ayu.
Senja hanya mengangguk-angguk dengan wajah nelangsa.
"Udah bareng angkot langgananku aja, nanti kalau takut telat bisa minta antar sepupu aku."
Senja menggeleng.
__ADS_1
"Lhoh, kenapa?" tanya Ira.
"Iya lah Senja nolak, sepupu kamu kan cowok Ra," timpal Ifa.
"Emang kenapa?" tanya Ira.
"Enggak apa-apa sih," jawab Ayu ragu.
"Yuk beres-beres, sudah bel tuh," sambung Ifa.
Senja pun turut membereskan alat sekolahnya dengan lesu. Saat itu juga Ucik berlari memasuki kelasnya dengan tergesa.
"Tenang bos tenang ini udah tak beresin ini," kata Ayu sambil menunjukkan tas Ucik yang sudah tertutup rapi, berisikan perlengkapan.
"Makasih ya," dia menyambar tasnya cepat.
"Aku duluan semuanya, bye."
"Loh mau ke mana?!" teriak Ifa.
"Udah dijemput Kakak di luar."
"Hati-hati ya," serempak Ayu dan Ifa.
Senja hanya memandang interaksi teman-temannya dengan lesu.
"Sekarang rencana kamu apa?" tanya Ifa.
"Kayaknya nggak ada yang lebih aman daripada bareng angkotnya Pak Bejo deh," tutur Senja.
"Jiayo," tambah Ifa.
Senja hanya mengangguk lesu.
"Gimana kamu pulangnya?" tanya Ira yang baru saja kembali menghampiri Senja.
"Barang angkot langganan kamu ya," kata Senja.
"Oke deh," jawab Ira.
"Kita duluan ya," pamit Senja pada Ifa dan Ucik.
Mereka saling berpamitan dan melambaikan tangan. Senja pun naik angkot bersama Ira dengan perasaan deg-degan. Semoga enggak dicurigai ya Allah nanti kalau sampai di rumah.
Hingga angkot pun tiba di pemberhentian terakhir. Senja pun segera membayar angkot dan mengayun langkah nya cepat. Namun tiba-tiba sebuah motor berdiri tepat di belakangnya. Tak ingin membuang waktu Senja mengurungkan keinginannya untuk menoleh, bahkan ia tak lagi berjalan cepat namun berlari. Namun motor ikut berjalan mensejajarinya.
"Mau sampai kapan kamu lari?"
Senja segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. "Mas Anton," ucapnya begitu tahu siapa yang mengikutinya.
"Iya, ayo sini naik," ajak Anton.
__ADS_1
"Kenapa tadi turun di sana," tanya Anton pada Senja.
"Angkot langganan aku lagi masuk bengkel katanya, terus aku bareng angkot itu, diajakin Ira teman sekelasku," terang Senja.
"Yakin Ira," tanya Anton dengan nada penuh selidik.
"Iya iya kalau enggak percaya putar balik yuk aku kasih lihat rumahnya, terus Mas bisa tanya langsung sama dia," terang Senja panjang lebar. Sungguh dia tidak ingin dicurigai saat ini. Karena pelarian yang baru saja dia lakukan cukup menguras tenaga.
Anton terkekeh melihat kehebohan adiknya. "Iya Mas bisa percaya kok, asalkan kamu juga dapat dipercaya," terangnya.
Senja hanya menarik sudut bibirnya dibalik punggung Anton. "Loh Mas, ini mau kemana?" tanya Senja begitu menyadari mereka melewati gang menuju rumahnya begitu saja.
"Kamu masih suka bakso?" tanya Anton pada adiknya.
"Iya, iya, iya," Senja mengangguk antusias.
Anton terkekeh melihat tingkah lucu adiknya. Hampir seminggu dirumah, rasanya baru kali ini dia melihat senyum ceria adik kecilnya.
"Aya pengen makan bakso dimana?" tanya Anto pada adiknya.
"Emmm, aku pengen bakso solo, di timur Aloon-aloon kota Mas," jawab Senja ragu. Pasalnya tempat yang dimaksud cukup jauh dari rumah. Perjalanan yang di tempuh pun hampir satu jam menggunakan motor dengan kecepatan standar. "Eh, ngikut Mas Anton aja deh. Aya suka bakso apa aja," lanjut Senja.
"Kalau bakso yang di perempatan aja gimana?"
"Yang ada kikilnya?!" pekik Senja girang dengan semangat yang sudah kembali.
"Iya," jawab Anton kalem.
"Yeeyyyy! Mau, mau, mau!" pekik Senja.
Anton POV
Cahaya Senja, adikku. Maafkanlah kakakmu ini. Bukan aku ingin selalu menyudutkanmu, bukan aku ingin menyengsarakan mu, tapi semua ini benar-benar karena aku begitu menyayangimu. Tak ubahnya mendiang kakak kita dulu. Namun aku begitu ceroboh mempercayakannya pada orang yang salah. Kamu masih kecil, belum waktunya untuk mengerti. Jadi biarlah untuk sementara seperti ini. Aku akan memainkan peran sebagai kakak yang kejam, hingga suatu ketika aku dapat menjelaskan dan kau pun kuharap bisa mengerti semua.
"Udah sono cari tempat, baksonya nggak pakai pangsit kan?" tanyaku pada Aya.
Dia mengangguk kemudian berjalan masuk ke kedai bakso dengan riang. Setelah memesan 2 porsi bakso lengkap dengan es teh, aku pun segera masuk menyusul adik kecilku. Tak berapa lama, bakso kami pun datang lengkap dengan 2 gelas es teh manis. Matanya berbinar melihat semangkok bakso dengan asap yang masih mengepul.
Sambel kecap tanpa saus, itulah racikan favorit Aya sejak dulu. Sedangkan aku sambal dan saus tanpa kecap, karena aku anti kecap. Ekspresinya lucu sekali ketika melahap bakso panas dengan tak sabar.
"Pelan-pelan aja, lidah kamu bisa mateng kalau kayak gitu."
"Enyak Mas, hhaaahhh hhaaaaahhh," ucapnya dengan mulut penuh dan sesekali menganga untuk mengurangi panasnya bakso yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Aku pun akhirnya melakukan hal yang sama dengan Aya, melahap bakso selagi panas memang nikmat.
Cahaya Senja, aku sangat menyayangimu.
TBC
Alhamdulillah, done dear.
Dukung terus author ya.
__ADS_1
Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak.
Happy reading.