SENJA

SENJA
126


__ADS_3

"Iya, Marko itu cowok aku! Udah ku diem-diemin selama ini kalian godain dia, tapi sekarang enggak lagi! Mau ku colok mata kalian biar gak kegenitan lagi ngelirik cowok orang?"


Diluar dugaan, Zia benar-benar totalitas melakoni perannya.


Karena takut melihat Zia marah, dua wanita itu memilih meninggalkan Marko.


Zia kembali duduk dan mendapatkan tepuk tangan dari Marko. "Acting Lo jago banget Zi!" Ucap Marko kagum.


Zia tertunduk menenggelamkan wajahnya diantara lutut dan perutnya karena malu sudah melakukan hal diluar kebiasaannya.


"Hei, ngapain sih lo!" Marko menggoyang-goyangkan bahu Zia.


Zia mengangkat kepalanya, muka nya merah padam.


"Hahahaha, kenapa Lo? Malu?" Marko tertawa terbahak-bahak.


Zia kesal karena Marko menertawakannya.


"Heh, Zi. Harusnya lo beruntung diakuin sebagai pacar cowok ganteng kaya gue!" Marko memegang kedua pipinya.


Zia hanya memandang datar wajah Marko.


"Udah, balik aja." Marko kesal karena Zia tak berekspresi.


Marko dan Zia kembali dengan jalan santai. Marko mencoba mengajak Zia mengobrol santai tapi Zia selalu menanggapinya dengan kaku dan formal.


"Lo gak bisa apa bicara santai dikit ke gue? Ngobrol sama elo kaya ngobrol sama robot yang udah di settinh jawab ya sama tidak." Ucap marko kesal. Ia mulai masuk ke dalam halaman rumah.


"Den, Den Marko! Untung Aden sudah pulang." Idah berlari menghampiri Marko dan Zia.


"Kenapa, Bi? Lihat hantu?" Goda Marko.


"Bibi serius ini, Den. Barusan Rumah Sakit tempat Nyonya dirawat telpon ngabari kalau Nyonya barusaja bunur diri."


Seketika Botol air yang dibawa Marko jatuh, Zia menatap wajah Marko seketika berubah pucat.


"Johan!!" Teriak Marko sambil berlari mencari Johan. "Mana kunci mobil gue!"


Johan keluar dari garasi mobil membawa sebuah kunci mobil.


Marko berlari masuk ke dalam mobil sport miliknya namun Zia segera menyusul. "Sebaiknya Johan yang mengendarai mobilnya tuan, anda tidak memungkinkan mengendarai mobil sendiri dengan keadaan seperti ini."


"Diam lo!" Bentak Marko


Zia tak berani berbicara lagi setelah melihat Marko ulyang selalu ramah dan usil kini terlihat galak.


Marko meninggalkan halaman rumah bersama mobilnya. Dan Zia segera mengirim pesan ke Langit dan Hengky atas meninggalnya Rianah.


Setelah kabar duka itu diterima, seluruh penghuni rumah Marko melakukan persiapan untuk kedatangan jenazah Rianah. Para tetangga juga mulai berdatangan membantu persiapan. Satu per satu karangan bunga juga mulai datang dari perseorangan maupun dari perusahaan-perusahaan.


Sekitar pukul satu siang Jenazah Rianah tiba di rumah duka. Lebih banyak orang yang datang dirumah Marko, namun Zia tak melihat keluarga dekat Marko kecuali Langit, Hengky dan kedua orang tua Hengky.


Idah menceritakan jika memang keluarga Rianah memang hanya Marko dan Langit saat ini. Almarhum Papa Marko juga anak satu-satunya, jadi tak ada saudara dekat yang datang.


Setelah melakukan Sholat jenazah, Jenazah Rianah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir yang satu lokasi dengan Almarhum Papa Marko dan Ayah Langit.


Rumah Marko begitu hening, hanya ada beberapa pelayat yang masih tinggal disana.


**********

__ADS_1


Malam itu Langit dan Hengky menginap dirumah Marko untuk menemani sahabatnya yang sedang berduka.


Sudah hampir tengah malam Marko masih belum bisa memejamkan matanya. Sedangkan Langit dan Hengky sudah tertidur pulas di samping kanan dan kirinya.


Ia memutuskan meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia baru sadar jika seharian perutnya hanya terisi dengan air.


Marko menyalakan lampu dapur, dan mencari sesuatu di dalam kulkas yang bisa ia makan. Ada Susu disana dan langsung ia minum.


Namun itu tak cukup membuat rasa laparnya hilang. Dia ingin membuat mie instan namun terlalu malas untuk membuatnya. matanya matap keluar cendela dapur dan tertuju ke rumah asistennya.


Dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Zia.


"Temuin gue di dapur, Zi." Ucap Marko kemudian menutup sambungan telponnya.


Ia duduk di kursi meja makan dan menempelkan pipinya di meja makan yang terbuat dari marmer sambil menunggu Zia datang.


Tak sampai satu menit Zia sudah datang dengan celana pendek dan kaos oblong. Matanya masih terlihat mengantuk dan rambutnya terlihat dikuncir asal.


"Ya tuan?"


Marko masih tak bergerak dari posisinya dan tetap menatap Zia.


"Tuan?" Zia memanggil ulang.


"Zi?"Marko memanggil Zia


"Ya Tuan?"


"Lo jelek banget sih?"


Zia langsung melirik sinis dan mencoba menyabarkan dirinya sendiri.


Zia mengambil mie instan dari tangan marko. "Baik, Pak."


Sambil menunggu Zia memasakkan mie untuknya, Marko pergi ke kandang kucing-kucingnya dan bermain sebentar dengan makhluk berbulu itu.


Beberapa menit kemudian Marko mencium aroma mie instan, itu tandanya dia sudah harus kembali menghampiri Zia.


Semangkok mie instan kuah dengan tambahan sayur dan telur sudah siap diatas meja makan, air putih tak lupa Zia siapkan juga.


"Silahkan tuan."


Marko segera duduk dan mulai menyantap mie buatan Zia.


"Jika tidak ada yang anda perlukan lagi, saya pamit pergi ke kamar tuan." Ucap Zia.


"Eh, Zi! Tega lo nyuruh gue makan sendirian tengah malem gini?"


Jika saja Zia diperbolehkan menjawab, dia akan mengangguk dan menjawab dengan keras, Tega Banget!


"Duduk situ, temenin gue." Kata Marko.


Zia menurut walau sebenarnya ia sangat ingin kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.


Zia duduk di depan Marko, diam tak berkata sedikitpun.


"Orang tua lo masih ada?" tanya Marko membuka obrolan.


"Masih pak." jawab Zia

__ADS_1


"Lo berapa bersodara?" Tanya Marko lagi.


"Sepuluh."


"Uhuk Uhuk!!" Marko terkejut mendengar jawaban Zia, ia langsung meneguk air putih didepannya.


"Yang hidup 6." Lanjut Zia.


"Banyak banget anak Bokap Lo." Marko terlihat kagum.


"Namanya orang desa, tuan. Masih menganut paham banyak anak banyak rejeki." jawab Zia.


"Lo anak ke berapa?" Tanya Marko lagi


"Saya anak terakhir tuan." Jawab Zia.


Marko mengangguk-angguk, "Umur lo berapa sih?"


"Dua puluh satu tahun, tuan."


"Muda banget lo! Beda 6 tahun ma gue. Cocok banget kalo lo manggil gue kakak Marko."


Zia melihat pria didepannya itu sudah mulai melucu lagi, apa secepat itu dia bisa menghilangkan kesedihannya?


"Kenapa liatin gue kaya gitu?" Tanya Marko.


Zia diam tak menjawab.


"Gue bukan lagi wawancarai lo yang cuma bisa jawab kalo gue tanya." kata Marko.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Rianah, tuan." Ucap Zia.


"Ya." Marko menjawab singkat


Melihat jawaban Marko Zia jadi merasa tidak enak, pasalnya raut wajah Marko berubah lagi.


"Sory, gue tadi pagi bentak lo." kata Marko.


Zia mengangguk, "Saya tahu kok bagaimana perasaan anda tadi."


Marko diam dan melanjutkan sisa makanannya. Zia masih tetap duduk didepannya.


"Gimana selama ini lo ngejalani hidup lo?" Tanya Marko.


Zia nampak kebingungan dengan pertanyaan Marko, "Maaf saya tidak mengerti maksud anda."


"Ya, gimana kehidupan lo di desa? Apa orang tua lo sayang ke lo apa gak? Perlakuan saudara-saudara lo ke elo."


"Keluarga saya keluarga petani padi yang menurut saya sangat bahagia. Walau hidup serba berkecukupan, Kedua orang tua kami sangat menyayangi kami berenam, begitu pula dengan kami. Perlakuan saudara-saudara saya baik dengan saya. Karena sejak kecil kami diajarkan selalu tolong menolong. Apapun keadaannya, kami semua harus selalu tolong menolong." Zia menjelaskannya dengan wajah yang bahagia.


"Kok gue sebel lihat lo bicara tentang keluarga lo ya?" Ucap Marko.


Zia terdiam. "Saya hanya menjawab pertanyaan anda, tuan."


"Ah, mungkin gue terlalu iri dengan kehidupan bahagia kalian." Marko menghabiskan suapan terakhirnya. "Andai aja gue jadi bagian dari keluarga lo."


Zia tersentuh mendengar ucapan terakhir Marko. Kini ia baru sadar kalau Marko berada ditengah keluarga yang rumit.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2