SENJA

SENJA
Salah Menilai


__ADS_3

^^^Happy new year.^^^


^^^Selamat tahun baru.^^^


^^^Acara temen-temen pada ngapain nih ditengah pandemi?^^^


"Makasih ya Kak," ucap Senja saat turun dari boncengan Arga.


Arga tersenyum, "nggak diajak mampir nih?"


Wajah Senja langsung panik. "Emmm...." Pengennya sih bilang enggak. "Anu Kak...."


"Iya, iya aku tahu kok."


Senja menghela nafas lega. "Maaf ya Kak," lanjut Senja kemudian.


"Nggak masalah. Ya udah. Aku balik ya, dah hampir Dzuhur, belum mandi."


Senja mengangguk. Wah, aku juga belum mandi. Jangan-jangan badanku bau lagi. Senja kemudian mengendus-endus tubuhnya Sendiri.


"Kamu ngapain, ngendus-ngendus kayak kucing?"


Wah, pake lupa lagi Kak Arga belum pergi. Senja hanya mampu mamerkan deretan gigi putihnya yang tak rata.


"Kamu buruan masuk."


Senja segera berbalik dan berjalan menuju rumah orang tua Arti. Tak lama berselang Arga pun pulang.


****


Malam hari di rumah Senja.


"Mbak, Ayah Ibu pulang jam berapa sih?" tanya Senja pada Arti sambil menonton tv.


"Nggak tahu Ay, udah ah sabar."


"Tas berangkatnya jam berapa sih?" tanya Senja lagi.


"Emm," Arti nampak berfikir sejenak. "Kayaknya sekitar jam 9, eh belum ada ding, setengah 9 deh sekitarnya. Tapi kan sebelumnya nggak ada persiapan, mungkin sekarang mereka lagi istirahat," terang Arti dengan sabar.


"Emm...., Mbak."


"Napa Ay?"


"Mbak dulu pernah ikut silat nggak?"


Arti yang semula melihat acara televisi segera menengok menatap wajah adik iparnya. "Enggak...." jawab Arti sambil tetap setia menatap wajah Senja dengan penuh selidik.


"Oooohh, kirain."


"Kirain apa?" sahut Arti cepat.


"Kirain Mbak pernah ikut, Aya pengen nanya-nanya maksudnya."


Arti menghela nafas lega. Dari gelagatnya, kayaknya Aya nggak lagi bohong. "Mau nanya apa Ay? Kali aja Mbak ngerti," tanya Arti kemudian.


"Ya..." Nggak mungkin kan aku bilang nanya ini karena penasaran dengan aktivitas Kak Arga.


"Ya apa?" tanya Arti tak sabar.


"Ya aku denger kan sekolah pernah dapet piala dari cabang olahraga ini Mbak." Alhamdulillah, bisa juga ngomong jelas juga di situasi yang enggak jelas.


"Emmm, bentar deh." Arti mengernyit seolah tengah mengingat sesuatu. Tiba-tiba Arti menjentikkan jarinya, "Arga!" ucapnya saat itu juga.


Degh!

__ADS_1


Senja menelan ludah. Kok Kak Arga. Jangan-jangan Mbak Arti udah tahu kalau ini ada hubungannya sama dia.


"Seinget Mbak nih ya, Arga dulu udah ikut latihan-latihan silat gitu deh. Terus apanya yang pengen kamu tahu, pemenangnya kah, atau kategorinya atau apanya?" tanya Arti bertubi-tubi.


Senja mendesah.


"Kenapa Ay, kayak kecewa gitu?"


"Emmm....,"


Melihat Senja yang nampak berfikir, Arti kembali melayangkan tatapan menyelidik. "Kamu mau ngomong apa sih Ay sebenernya?"


"Aku mungkin nggak ya ikut yang begituan?"


Mata Arti terbelalak. Kepalanya tiba-tiba menggeleng. "Mbak nggak yakin deh," ucap Arti tak bersemangat.


"Apanya yang nggak yakin?"


Senja dan Arti serempak menoleh ke arah sumber suara. "Mas." Arti segera bangkit dan menyambut suaminya yang baru tiba. "Capek Mas?"


Senja turut mencium tangan Atma dan kemudian berjalan keluar menyambut kedua orang tuanya.


"Lumayan Dik, kamu tadi pulang jam berapa dari rumah Ibu?"


"Selepas ashar Mas. Mau dibikinin teh?"


"Boleh deh, sekalian Ayah Ibu ya."


Arti kemudian berjalan ke arah dapur. Saat itu juga Ayah Ibu bersama Senja masuk dan turut bergabung dengan Atma di ruang keluarga.


"Aya sama Mbak udah makan?" tanya Ibu.


"Udah Bu, tadi bawa pepes bandeng dari rumah Bu Ine, uenak Bu." Senja bercerita dengan mata berbinar.


"Kamu doyan pepes bandeng?" tanya Ibu.


Senja mengangguk.


Dan sekali lagi Senja mengangguk.


"Tapi ada syaratnya?"


"Apa Bu?" tanya Senja penasaran.


"Eemmmm, kasih tahu nggak ya?" bukannya langsung menjawab, Ibu malah menggoda Adam bungsunya ini.


Ayah dan Atma yang semula berleha-leha tertarik untuk memperhatikan Ibu dan Senja.


"Jangan kasih tahu Bu, tapi tempe aja, hehehe," timpal Atma.


Senja merengut menatap kakaknya. "Bu...." rengek Senja dengan menggoyang-goyangkan lengan ibunya.


"Iya-iya, Ibu kasih tahu. Syaratnya Aya harus latihan makan sendiri ya. Aya udah gede loh, masak kalau mau makan kudu di suapin terus sama Ibu."


Senja mendadak murung dan menunduk. Wah, kayaknya bakal dimarahin lagi abis ini.


"Cahaya." Ayah mendekat dan duduk di samping putri bungsunya. "Cahaya sekarang umur berapa?"


"Umur 12 lebih Yah," jawab Senja.


"Sekarang kelas berapa?" tanya Ayah lagi.


"Kelas VII Yah."


Semua diam memperhatikan obrolan Ayah dan anak ini. Bahkan Atma mulai memejamkan mata. Meskipun kantuk dan lelah melanda, dia tak ingin melewatkan obrolan ini. Saat itu juga Arti datang dengan 3 gelas teh hangat dan segelas susu coklat.

__ADS_1


"Ini susunya buat siapa Nak?" tanya Ibu.


"Ini susunya Aya Bu," jawab Arti sambil menyuguhkan minuman yang ia bawa di atas meja. Ia kemudian duduk di samping suaminya.


"Aya diminum susunya."


Senja segera meraih susu hangat dan segera meminumnya sesuai perintah sang Ayah.


"Aya bisa buat susu sendiri?" tanya Ayah.


"Emm..., bisa Yah."


"Kok kayaknya ragu gitu?"


"Hehehe," Senja hanya nyengir menanggapi ucapan Ayahnya.


"Tahu nggak maksud Ayah apa?"


Senja menggeleng.


"Coba bayangin deh, kalau pas daftaran kemarin Ayah ngijinin Aya sekolah di kota. Kira-kira Aya bisa nggak ngatur makan, belajar, bersih-bersih kamar kos, nyuci, semua sendiri. Bisa nggak?"


Senja menggeleng.


"Makanya kalau Cahaya nanti pas SMA mau lanjut di kota, mulai sekarang kudu latihan mandiri, biar nanti nggak kaget pas udah jauh dari keluarga. Ngerti?"


Senja mengangguk. Kepala yang semula menunduk di tengadahkannya. "Yah..." panggil Senja pada Sang Ayah.


"Iya Nak," jawab.


"Jadi alasan Ayah ngelarang Aya lanjut SMP di kota karena itu ya?"


Ayah tersenyum dengan membelai rambut putrinya.


Senja yang duduk lesehan segera beringsut memeluk lutut sang Ayah yang duduk di atas kursi. Ya Alloh, ternyata aku sudah salah menganggap semua tak adil untukku.


"Kenapa, terharu?" tanya Atma masih dengan mata terpejam.


Arti menyikut Atma, "Mas kok rese sih!" protesnya lirih.


Atma membuka mata, tersenyum kemudian membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Jadi?"


Senja mendongak. "Jadi apa Bu?"


"Syarat Ibu diterima nggak?" tanya Ibu dengan senyum hangat menatap putri bungsunya.


"Aya mulai sekarang jangan disuapin lagi ya, Aya eemmm, mau eemmm, belajar masak, mau bikin susu sendiri, emmm...."


Semua terkekeh melihat Senja yang bersemangat. "Pelan-pelan aja, yang penting Istiqomah." Potong Ibu sambil membelai Senja dengan sayang.


"Iya, jangan apa-apa langsung dikerjain sendiri, dan setelah tahu semua itu melelahkan, terus kamu jadi mogok, terus jadi manjanya jadi kumat lagi," ledek Atma diselingi tawa.


"Ih Mas Atmaaaaaa!!!" Senja kemudian menyingkirkan Arti dan melompat ke pangkuan sang Kakak, kemudian dia menjewer kedua telinga Atma hingga si empunya telinga berteriak kesakitan dengan kepala menggeleng ke kanan dan kiri akibat tarikan Senja.


Dan malam ini tawa menjadi acara puncak di keluarga Samsul Huda.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2