SENJA

SENJA
122


__ADS_3

Pagi ini senja, Ella, Zia, Kartika dan beberapa asisten rumah disibukkan dengan mengemas barang-barang seserahan yang akan Zia bawa pulang ke Solo malam ini.


Rencana Marko, Zia akan pulang ke Solo lewat perjalanan darat dengan diantar sopir Marko. Karena tak memungkinkan membawa berbagai macam pernak pernik seserahan itu menggunakan pesawat.


Pagi ini Zia menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena tak di sangka ia akan di nikahi seorang Direktur Utama.


"Ceritalah, Zi. Gimana bisa kalian deket." Paksa senja yang sangat penasaran.


"Iya, Zi. Jahat banget kamu." Kartika masih kesal sudah dibohongi Zia.


"Saya malu menceritakannya, Nona." Zia tersipu


"Mulai dari yang kamu inget aja." Senja mencoba memberi masukan.


Zia terdiam, Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu. Hari-hari dimana ia tak menaruh rasa curiga Ketika dia dan Marko lebih sering bertemu.


Saat itu Senja sudah meninggalkan Jakarta, Zia dan Kartika tak punya lagi seseorang yang harus dilindungi. Kembalilah mereka menjadi asisten rumah tangga seperti sebelumnya.


Tiba-tiba saja lewat Ella, Langit meminta Zia untuk tinggal dirumah Marko untuk menjadi pengawal Marko dan juga merawat kucing-kucing Marko. Menurut Marko, Skill bela diri Zia sangat bagus saat menyelamatkan Senja dari si brengsek Rico.


Awalnya memang Zia sedikit aneh dengan perintah Langit. Mengingat saat itu dia melihat skill bela diri Marko cukup bagus, ia pun juga tak melihat sisi gemulai di diri Marko saat itu. Tapi semua pertanyaannya tetap ia simpan dan menurut saja untuk pergi ke rumah Marko yang saat itu baru saja menjabat sebagai Direktur Utama Actmedia.


"Lo dah sampai?"


Zia sangat terkejut melihat penampilan baru Marko, rambutnya kini sudah berubah hitam pekat dan pendek rapi. Suaranya pun berat, tak ada nada centil disana.


"Saya Zia, Tuan. Yang akan menjadi pengawal anda." Zia mengenalkan diri, kedua tangannya masih menenteng tas besar berisi pakaiannya.


"Iya, gue udah tahu. Langit udah jelasin kan kerjaann Lo disini apa?"


Zia mengaguk. "Ya Tuan."


"Bi Idah." Memanggil salah satu Asisten rumah tangganya.


"Iya, Den?" wanita paruh baya menghampiri Marko.


"Ini Zia, minta tolong bi Idah kasih kamar buat dia ya? Udah malam, biar dia langsung istirahat." Pinta Marko.


"Baik, Den." Idah mengangguk, "Mari mbak, saya anter."


Idah menunjukkan jalan dan Zia mengikuti dibelakang. Walau rumah Marko tak sebesar rumah Langit, tetap saja kamar para asisten rumah tangga ada sendiri di bagian belakang rumah.


"Mbak Zia jadi pengawal Den Marko?" Tanya Idah memperjelas tugas Zia.


"Sama jaga kucing kucing itu, Bu." Zia menunjuk kandang kucing yang baru saja ia lewati.


"Panggil saya Zia saja, Bu."


Idah menatap Zia dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa Bu?" Tanya Zia


"Gak apa, mbak." Jawab Idah.


Idah berhenti di depan pintu kamar, "Ini kamar Mbak Zia." Idah membuka pintu kamar.


"Makasih ya Bu."


"Sama-sama mbak." Idah meninggalkan kamar Zia.


Zia segera mengeluarkan dan memindahkan baju-bajunya ke dalam lemari pakaian. Di dalam kamar itu hanya ada tempat tidur, lemari, meja serta kipas angin duduk.


Baru ia ingin merebahkan badannya, terdengar suara ketukan dipintu kamarnya. Ia segera membukakan pintunya.

__ADS_1


"Mbak, Tuan muda meminta anda ke ruang tengah." seorang wanita muda memberitahu Zia.


"Baik, mbak. Terimakasih."


Seperginya wanita itu, Zia menutup pintu kamarnya dan menemui Marko ke ruang tengah.


"Ya Tuan?" Tanya Zia ketika sampai di depan Marko.


"Gue lupa ngasih tau jadwal gue ke elo." Marko memberikan secarik kertas pada Zia. "Tiap pagi gue selalu lari pagi, gue mau lo juga ikutan. Sebelum itu, urusin anak-anak gue."


"Anak?" Zia memastikan ulang apa yang dia dengar.


"Kucing-kucing, gue." jawab Marko.


Zia mengangguk.


"Lo dah makan malam?" tanya Marko.


"Sudah, Tuan."


"Baca baik-baik dan pastikan jangan bikin kesalahan." Marko berdiri dan meninggalkan Zia.


Zia berjalan ke keluar dari ruang tengah sambil membaca jadwal Marko. "Lari pagi jam Lima. Jadi aku ngurusin anak-anaknya harus lebih pagi, ya?" Zia bergumam sendiri.


"Ngeoooong."


Suara kucing membuat langkah Zia terhenti, ia mampir sebentar ke kandang kucing yang ada di penggir taman.


Kandang kucing yang mempunyai ukuran hampir sama denhan kamar Zia, hanya saja kandang ini terbuat dari kaca dengan cendela cendela kecil. Di dalamnya sudah ada tempat tidur, mainan dan bak pasir yang disiapkan untuk tiga kucing itu.


Zia melihat dua kucing berwarna abu-abu dengan bulu pendek dan satu kucing putih berbulu panjang.


"Hai, nanti aku jadi ibu kalian loh. Baik denganku, ya." Ucap Zia kemudian meninggalkan kandang kucing itu.


Zia bangun sekitar pukul empat pagi sama seperti asisten lainnya. Zia menemui Idah yang ia tahu sebagai kepala asisten di rumah Marko.


"Bu Idah, pak Marko meminta saya untuk merawat kucing-kucing itu. Kira-kira apa yang harus saya lakukan ya, Bu?" Tanya Zia.


"Cuma bersih-bersih kandangnya aja sama nyisirin. Nanti seminggu sekali ada orang salon khusus kucing yang mandiin mereka, Mbak." Jawab Idah. "alat-alat kebersihannya ada di dalam kotak samping kandang Mbak." Lanjut Ijah.


Zia mengangguk-angguk. "Makasih ya, Bu. Saya bersihin kandang mereka dulu." Zia pergi menuju ke kandang kucing.


Ia mengambil beberapa alat kebersihan yang ada di dalam kotak samping kandang dan segera membersihkan.


Dengan sabar Zia juga menyisir dan sesekali bermain dengan makhluk berbulu itu. Namun ia tahu tak harus berlama-lama disana karena ia harus membantu asisten yang lainnya juga.


Zia pergi mengambil sapu untuk membantu asisten lain.


"Mbak, Maaf. Tapi ini tugaku, biar ku kerjakan sendiri." seorang asisten bernama Erna merebut sapu dari tangan Zia.


"Gak apa mbak, ku bantu. Pekerjaanku sudah selesai." Ucap Zia.


"Iya, Mbak. Sebaiknya anda melakukan tugas anda sendiri." Idah tiba-tiba datang.


"Saya masih ada waktu setengah jam sambil menunggu tuan Marko siap lari pagi bu Idah, tidak enak kalau saya berdiam diri sedangkan yang lainnya bekerja." Zia Mencoba memberi penjelasan.


"Jangan mbak, beneran jangan." Idah seperti ketakutan.


Melihat Idah seperti itu, akhirnya Zia menyerah. Dia merasa aneh disini, asisten rumah tangga di rumah Marko tidak sekompak dirumah Langit. Disana mereka saling membantu, sedangkan disini tidak.


Apa mungkin karena majikan mereka dulu jahat-jahat, jadi mereka takut jika orang lain mengerjakan tanggung jawab mereka dan membuat membuat kesalahan maka yang akan dihukum yang mempunyai tanggung jawab.


"Zia!" Seseorang memanggil nama Zia dari dalam rumah.

__ADS_1


Ketika Zia menoleh ke belakang sudah ada Marko yang berdiri di pintu belakang, Ia berjalan menuju ke kandang kucing-kucingnya. Zia berlari kecil Menghampiri Marko.


"Ya tuan?"


Marko diam tak menjawab, dia masuk ke dalam kandang dan membuat tiga kucing menghampirinya. Ia mengusap bulu-bulu kucingnya yang bergeliat dibetisnya.


Dengan menggendeng kucing putih, ia mengelilingi kandang sedang memeriksa hasil kerja Zia.


"Boleh juga kerjaanmu." Kata Marko


Zia tersenyum lega ketika Marko memuji pekerjaannya.


"Ganti baju sana, setelah ini ikut aku lari pagi." Marko meletakkan kucing putihnya ke atas salah satu tempat tidur kucingnya. "Kalo udah selesai tunggu aku di ruang tamu."


"Baik, Pak."


Zia membiarkan Marko pergi dahulu, barulah ia keluar dan mengunci kandangnya. Setelah itu Zia pergi ke kamarnya untuk ganti pakaian.


Zia tak terlalu lama merias diri. Dia hanya menguncir rambut, memakai bedak dan lipstik tipis. Dengan setelan jas hitam, kemeja putih sebagai seragam kerjanya dan sebuah sebuah sneakers ia menunggu Marko di ruang tamu.


"Zia!! Lo mau kemana?" Tanya Marko yang menuruni anak tangga.


Zia kebingungan, "Bukannya anda mau lari pagi, Tuan?" Tanya Zia.


"Makanya itu? Lo mau ngikutin gue lari pagi pake pakaian kaya gini?"


Zia terdiam, dalam hati ia membenarkan Marko.


"Lo ganti sana. Cepetan."


"Baik, Tuan."


Zia berlari kembali ke kamarnya, ia mengganti bajunya dengan celana Training abu-abu dengan kaos pendek warna putih. Tak lupa ia mengganti sepatunya dengan Sport Shoes.


Buru-buru ia kembali ke ruang tamu, Marko sudah tak ada disana. Ia melihat keluar rumah, ternyata Marko sedang pemanasan. Zia segera mengikuti meregangkam otot-ototnya.


"Udah?" Tanya Marko.


"Ya, Tuan." Jawab Zia.


Marko mulai berlari kecil meninggalkan halaman rumahnya dan keluar gerbang. Zia sigap mengikuti dibelakangnya menjaga jarak sekitar Dua meter dielakang Marko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2