
Pagi ini halaman sekolah Sky dan Sora terlihat sangat padat. Sudah banyak wali murid yang datang untuk mengikuti acara Parents Day. Murid-murid Playgroup dan Kindergarten tetap belajar dikelas, sedang orang tua mereka berada di dalam Aula yang letaknya berbeda dengan gedung sekolah.
"Tik, aku pergi ke aula dulu ya." kata Senja.
"Baik, Nona."
Senja beranjak pergi ke aula, ada dua ibu guru yang menyambut kedatangan para orang tua di pintu masuk.
"Selamat Pagi, Mama. Bisa isi buku tamunya terlebih dahulu ya."
Senja menghampiri meja dan mengisi buku tamunya sejenak kemudian masuk ke dalam aula. tempat duduk yang disediakan di aula sudah hampir penuh. Kebanyakan dari mereka datang berpasangan.
Senja mencari-cari keberadaan Lenny ataupun Tari, namun tidak ketemu dan akhirnya ia memutuskan untuk duduk saja menunggu acara dimulai.
"Jeng!"
Senja menengok tangan orang yang sudah menyentuh bahunya. Itu Ola, salah satu teman Casandra. Dia berdiri dengan suaminya.
"Bukannya kamu ikut jadi panitia ya?" Tanya Ola.
"Iya, betul."
"Kalo jadi panita gak disini Jeng, coba deh lihat di samping aula sana."
"Oh, Makasih ya."
Senja berdiri, menuruti apa kata Ola untuk pergi ke samping aula. Benar saja, Ia mendapati Lenny dan Tari juga beberapa wali murid lain dan dua guru sedang sibuk menyiapkan hidangan.
"Mbak, maaf aku gak tahu kalau panitia kerjanya disini." Senja menghampiri Lenny merasa tidak enak.
"Aduh, gak apa. Aku juga lupa bilang ke kamu." Balas Lenny, "Tas kamu taroh di dalam sana aja mbak, trus pake apron ini ya." Lenny menunjuk sebuah box container dan memberikan Senja apron.
Senja meletekkan tasnya dan memakai apron, kemudian langsung membantu Lenny dan yang lainnnya.
"Mbak Senja, habis ini bantu mbak Tari anter snack box ke wali murid ya." pinta Lenny.
"Siap, Mbak Lenny." Senja menghampiri Tari yang sudah menyiapkan Snack box ke dalam kantong kresek besar.
"Ayo mbak." Ajak Tari
Senja dan Tari memasuki aula yang sudah lebih padat. Di atas panggung aula sudah ada seorang wanita paruh baya yang menjadi pemateri acara parenting, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang mendampingi pemateri.
Seorang guru muda yang menjadi MC sudah membuka acara, Senja dan Tari mulai membagikan snack box yang ia bawa ke beberapa wali murid.
"Jeng, kamu kayanya emang cocok banget jadi panitia."
Ia melihat Casandra cekikikan melihat Senja mengantarkan box dibarisannya. Tentu mendapat sahutan dari beberapa teman gengnya. Walaupun malas, Senja tetap memberikan senyuman dan cepat-cepat meninggalkan barisan Casandra.
"Itu siapa, Ma? Kok papa merasa pernah ketemu tapi lupa dimana." Laki-laki yang duduk di sebelah Casandra memperhatikan Senja.
"Papa ini, kalau lihat yang cantik aja udah ngerasa kenal aja. " protes Casandra.
"Iya, Pak. Saya juga pernah lihat kok. Apa pernah jadi karyawan di tempat saya?" Laki-laki lain menyahut.
"Iya mungkin memang pernah kerja di tempat kita kayanya."
Pembicaraan mereka terhenti ketika pemateri mulai bicara.
Senja dan tari masih bolak balik dari halaman samping ke dalam gedung untuk membagi-bagikan snack hingga rata keseleruhan wali murid mendapatkannya.
"Udah semua ya, Mbak?" Senja memastikan kepada Tari.
"Iya, nanti kalau ada yang kurang bu guru pasti bilang." Jawab Tari, "Ayo bantu siap-siap prasmanannya." ajak tari.
"Iya, Mbak."
__ADS_1
Senja dan tari kembali keluar aula dan membantu menyiapkan meja prasmanan. Sudah ada dua pegawai dari tempat catering yang menata meja dibantu panitia lain yang jumlahnya tak seberapa.
"Capek, ya?" Lenny memastikan kondisi teman-temannya.
"Kalo kerja bersama pasti gak kerasa, Mbak." sahut lainnya.
"Nasib kita yang suaminya gak punya jabatan tinggi ya gini ini mbak." Ucap Tari, "Jadinya disuruh-suruh."
"Lho, kok gini banget ya?" Senja heran. "Pasti itu Casandra yang bikin kaya gini?" tebak Senja.
"Iya sih, kata Bu guru juga mulai anaknya masuk playgroup dulu jadi berubah kaya gini mbak. Suka sebel, tapi kepala sekolah aja gak bisa berbuat apa-apa." keluh Lenny.
"Bikin gemes aja sih. Niatnya aku pengen bales dia, tapi sayangnya suamiku gak bisa datang hari ini." keluh Senja.
"Udah mbak, jangan macem-macem sama dia. Suami mbak Dea aja sampe turun jabatan gara-gara suaminya Casandra." Lenny memperingatkan
"Iya, Jangan Mbak. Kita mending diem-diem aja deh. Jaman sekarang kan yang punya uang memang lebih berkuasa." Dea ikut mengingatkan Senja.
Walau kesal mendengar suami temannya yang menjadi korban kekuasaan jabatan, Senja tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya Senja dan empat orang temannya melanjutkan pekerjaan mereka untuk menata meja prasmanan.
Satu setengah jam pemateri berbicara diatas panggung, ia sudah memberikan kalimat penutup dan doa bersama. MC mempersilahkan wali murid untuk menikmati makanan yang sudah disediakan di halaman luar aula.
Tenda luas yang yang tadinya terlihat lenggang kini terlihat sangat padat. Empat meja prasmanan yang terpisah sudah full dikelilingi dengan orang-orang.
Perlahan-lahan keadaan di tenda berangsur lenggang, ada beberapa orang yang makan di aula ada juga yang di sekitar halaman.
Karena sudah menahan lapar, Senja buru-buru mengambil makanan di piring bersama beberapa temannya. Dan mereka memutuskan untuk makan di dalam aula.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Langit memasuki pintu aula bersama Hengky. Benar-benar seperti angin segar melihat suaminya datang memberi kejutan untuknya.
Senja berlari kecil pergi menghampiri Langit.
Bruk!
"Ya Tuhan!!"
Senja terjatuh karena langkahnya tersandung, dan lauk uang ada di piring yang ia bawa tumpah mengenai baju Casandra yang kebetulan sedang berada dipannya.
"Aduh, Maaf Mbak." Senja bediri dan berusaha membersihkan baju Casandra.
"Kamu kira ini baju murah!" Teriak Casandra menyita perhatian.
"Awas!" Suami Casandra yang baru datang menyenggol Senja hingga terjatuh.
"Aahh!" Pekik Senja kesakitan ketika tangan kanannya terkena pecahan piring.
Lenny dan Tari menghampiri Senja membantu Senja berdiri.
"Argh!!" Pekik Suara laki-laki kesakitan.
Ketika Senja menoleh, ternyata Langit sudah mencekik leher suami Casandra. Wajah Langit sudah terlihat sangat marah.
Senja buru-buru menarik tubuh Langit, "Mas udah mas, gak enak di lihat orang-orang."
Namun Langit tak melepaskan tangannya.
"Maafkan saya, Pak Langit!" Ucap suami Casandra dengan susah payah.
Senja terkejut mendegar suami Casandra mengenal suaminya.
"Cepat lepaskan suami ku, apa kamu mau membunuhnya?" Casandra memukul Lengan Langit, namun suaminya menariknya.
"Mas, ku mohon." Senja menyentuh dada Langit untuk meredakan amarah suaminya
__ADS_1
Langit menatap Senja lalu melepaskan cengkraman tangannya dari leher pria gemuk didepannya.
"Tolong maafkan saya, Pak." Suami Casandra berlutut meminta pengampunan Langit. "Saya tidak tahu jika dia istri anda."
Langit mengacuhkan pria itu dan melihat tangan Senja yang terluka.
"Kau akan membayar mahal luka ini."
Kata-kata Langit membuat suami Casandra diam tertunduk.
Hengky memberikan sebuah sapu tangan untuk membalut Luka di tangan Senja.
"Batalkan semua jadwal gue hari ini, gue akan bawa Senja pulang dulu. Lo tunggu Sky dan Sora sampai pulang." Ucap Langit
Langit, Senja dan Hengky kemudian meninggalkan keramaian di dalam aula disusul juga beberapa orang sudah membubarkan diri dan saling membicarakan suami Casandra.
"Kenapa kamu malah berlutut sih, Pa! Bikin malu aja! Dia cuma pemilik perusahaan kecil!" Teriak Casandra marah-marah karena semua orang membicarakannya.
"Diam kamu! itu pemilik Actmedia. Salah satu orang terkaya di negara kita!"
"hah! Yang benar kamu pa!" Casandra terkejut
"Kamu kayanya harus nemuin mereka secara pribadi, mas." Ucap Suami Ola, "Kalau tidak bisa berbahaya buat perusahaan."
Casandra dan teman gengnya juga ikut syock mendengarnya.
"Coba kamu bujuk asisten pribadinya dulu, mas. Mumpung dia belum pulang." Suami Ola melihat Hengky masih ada di halaman sekolah.
Buru-buru Casandra dan suaminya menghampiri Hengky.
"Pak Hengky, bisa kita bicara sebentar?" Panggil Casandra.
Hengky menatap pria dan wanita yang menghampirinya itu sebentar, lalu mengacuhkannya.
"Apa anda bisa membuatkan janji bertemu dengan pak Langit. Karena saya ingin meminta maaf secara pribadi."
"Anda sudah membuat orang yang dicintainya terluka, akan sulit baginya memaafkan anda. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, satu-satunya yang bisa merubah pikirannya hanya Nona Senja." Ujar Hengky.
"Kamu kan berteman sama istrinya pak Langit. Coba kamu bujuk dia."
"Kok aku sih, Pa?" Keluh Casandra.
"Mau siapa lagi?" Tanya suaminya.
Hengky memilih meninggalkan perdebatan antara Casandra dan Suaminya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.