
Senja memakan baksonya dengan lahap. Hal yang sama dilakukan oleh Anton. "Mau nambah?" tanya Anton melihat adiknya melahap habis bakso di mangkuknya bahkan tandas hingga kuahnya.
Senja berfikir sejenak, kemudian dia mengangguk.
"Pak, baksonya satu lagi ya," kata Anton kepada bapak tukang bakso.
"Mas, nggak pakai mi nggak pakai pangsit," bisik Senja pada kakaknya.
"Pak, tanpa pangsit dan mi ya!" kata Anton pada bapak tukang bakso.
"Siap, ditunggu ya," kata tukang bakso itu ramah.
Tak berselang lama pesanan tambahan Senja pun datang.
"Mas."
"Hmmm..." Anton hanya berdehem untuk menjawab panggilan Senja.
"Mas habis ini mau pergi lagi?" tanya Senja.
"Iya, mungkin 2 atau 3 hari lagi mas berangkat."
Senja hanya mengangguk, kemudian menunduk sambil mengaduk-aduk bakso dihadapannya. Anton meraih kepala adiknya, kemudian mengelusnya dengan sayang. "Senang apa sedih nih Mas mau berangkat lagi?" goda Anton.
Senja mengangkat wajahnya, dia merengut sambil memandang wajah kakaknya. Anton hanya tersenyum menanggapinya.
"Terus pulangnya kapan?" Bukannya menjawab, Senja kembali melayangkan sebuah pertanyaan.
"Pertanyaan Mas belum kamu jawab tuh," tanya Anton dengan nada menggoda. Anton tahu, bagaimanapun kejamnya dia pada Senja, bagaimanapun tertekannya Senja menghadapinya, mereka tetaplah saudara kandung. Di tubuh mereka mengalir darah yang sama. Meskipun ketika dekat terlihat tak akrab, namun jika jauh pastilah merindu. Jadi Anton tahu betul, kalau adiknya ini merasa berat untuk berpisah dengannya.
"Mas ih, Mas Anton," Senja merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Cahaya, Mas Anton sayang banget sama Cahaya. Cahaya janji ya tetap jadi anak yang baik, sekolah yang benar, jangan ngelawan sama Ayah Ibu. Meskipun Mas Anton galak Mas Atma galak, itu semua demi kebaikan kamu. Kamu adik perempuan kita satu-satunya. Dan kita sayang banget sama kamu," ucap Anton sambil mengelus sayang kepala adiknya.
Air mata Senja tak dapat ditahan lagi. Dia kemudian segera menjejalkan sebuah bakso ke dalam mulutnya, untuk menghalau jika ada isak yang lolos dari sana. Dia juga menunduk, seakan fokus dengan baksonya. Padahal mati-matian dia tengah menahan tangisnya.
Anton yang menyadarinya, segera merangkul bahu adiknya dan membawa ke pelukannya. "Tapi Mas bakal sering-sering telepon ke rumah, video call kalau pas sinyalnya enggak susah. Mas janji nggak bakal ngilang lagi kayak dulu."
"Aya takut tahu nggak. Aya takut kalau nggak bakal ketemu Mas lagi," kata Senja yang tak mampu lagi membendung tangisnya.
"Insya Allah nggak akan," tutur Anton sambil menegakkan bahu adiknya. Tangannya kemudian terulur mengusap air mata di sudut mata sang adik. "Udah gede jangan nangis, malu dilihat orang," bisik Anton.
Senja kemudian memperhatikan sekelilingnya. Dia baru sadar ternyata banyak orang di sekitarnya. Dia kemudian segera menyeka bekas air matanya. "Gimana Mas?" tanya Senja meminta Anton untuk melihat wajahnya.
"Udah, imut kok," kata Anton. Kemudian dia mendekati telinga adiknya. "Tapi ingusnya belum, hihihi," bisiknya kemudian.
"Masa sih masa sih?!" panik Senja sambil mengusap-usap hidungnya.
"Udah-udah, udah merah tuh hidung," cegah Anton kala Senja terus mengusap-usap hidungnya hingga memerah. Sebenarnya tak ada ingus di sana. Hanya saja, dia ingin mengerjai adiknya.
__ADS_1
"Ya kan malu Mas."
"Udah, beneran udah bersih kok sekarang," kata Anton meyakinkan Senja. Kemudian Senja kembali melahap baksonya.
Di sisi lain, sepasang mata tengah memperhatikan interaksi antara kakak dan adik di hadapannya. Dia tersenyum melihat bagaimana wajah gadis kecil itu kala menggerutu dengan hidung merah.
"Dik."
Anak laki-laki itu terkejut karena panggilan bapak tukang bakso kepadanya. "Bakso 3 Pak dibungkus," kata remaja itu kemudian begitu ingat apa tujuannya ke kedai bakso.
"Bakso komplit atau mau gimana?" tanya bapak tukang bakso.
"Komplit ya Pak."
"Siap, ditunggu ya."
Remaja itu kembali duduk di kursi yang ada di luar kedai. Dia melihat sosok yang tengah menjadi objek perhatiannya sudah menghabiskan bakso porsi keduanya.
"Pak, udah belum?" tanyanya buru-buru pada tukang bakso.
"Kurang satu Dik," jawab si bapak.
Ya ampun jangan sampai aku ketemu Senja sama kakaknya di sini. Batin pemuda itu. Dia nyaris kabur kala melihat Anton bangkit dari tempat duduknya, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari kantongnya. Dan Anton pun berjongkok untuk memungutnya.
"Udah Dik ini," kata tukang bakso sambil menyodorkan kantong kresek pada pemuda tadi.
"27 Dik."
Pemuda itu segera menyodorkan uang tiga puluh ribuan. Kemudian dia berbalik begitu saja dan menaiki motornya untuk segera pergi meninggalkan kedai itu.
"Dik, Dik, masih ada kembaliannya!" teriak Bapak tukang bakso sambil mengacungkan uang yang baru saja diterimanya.
"Ada apa Pak?" tanya Anton saat hendak membayar makanannya.
"Itu Dik, ada yang beli, dibilang kembaliannya masih malah pergi gitu aja kayak ngelihat setan."
Anton hanya tersenyum menanggapinya. Dia kemudian menyodorkan selembar uang ratusan ribu. "Bakso 3 es teh 2 Pak."
"Wah, uang pasnya nggak ada Dik?"
"Enggak Pak."
Tak mau menunggu Anton, Senja pun berjalan keluar kedai mendahului kakaknya. Saat itu juga matanya bertemu dengan seseorang yang yang dari tadi memperhatikan nya.
Degh!
"Kak Arga," lirih Senja sambil memperhatikan punggung Arga yang menghilang di tikungan jalan.
"Kok malah bengong di sini, ayo pulang," ajak Anton.
__ADS_1
Senja hanya mengangguk dan berjalan mengikuti kakaknya. Kak Arga tadi dari mana ya. Dia tadi ngelihat aku nggak ya. Batin Senja.
Kalau yang sering disebut kebelet itu pipis, kali ini Senja begitu kebelet untuk tersenyum. Mati-matian dia mengatur ekspresi wajahnya, berharap senyum tak terbit di sana. Setelah itu mereka segera pulang. Sepanjang jalan dia hanya diam, memikirkan Arga yang mungkin saja baru ditemuinya. Bukan temui sih tempatnya, tapi dia lihat, tanpa tahu apakah Arga juga melihat keberadaannya. Ngapain sih aku mikirin dia, nggak penting juga. Batin Senja lagi.
Setibanya di rumah, Senja segera turun dan masuk rumah. "Assalamualaikum!" teriaknya sambil terus berjalan memasuki rumah.
"Waalaikum salam," jawab ibu yang sedang menyetrika. Senja kemudian menghampiri ibunya dan segera mencium tangannya. Ibu nampak mengendus-endus kala menemukan aroma yang berbeda pada putrinya itu. "Kok bau..., apa ya ini ya? Kamu habis makan apa sih?"
"Habis makan bakso sama Mas Anton," jawab Senja sambil memamerkan deretan giginya yang sedikit berantakan.
"Hhhmmmmmm, pantes."
Senja memiringkan kepalanya sambil mengernyit. "Pantes apa Bu?" tanya Senja.
"Pantes ada cabe yang nyelip di gigi kamu," kata ibu sambil terkikik geli.
"Ya ampun! Masa iya?" pakai Senja sambil mencari-cari cermin untuk melihat apakah benar-benar ada cabe yang terselip di sela-sela giginya. "Hhhhuuuuwwwaaaaaaa!!" Senja berteriak panik.
Anton yang masih di depan rumah segera lari tergopoh-gopoh mendengar adiknya menjerit dari dalam rumah. "Ada apa, ada apa Bu?!" panik Anton.
Ibu hanya tersenyum geli melihat anak tertuanya panik dan anak bungsunya yang histeris. Melihat kontrasnya ekspresi ibu dengan kondisi Senja, Anton pun merasa ada sesuatu yang janggal. Dia pun memandang ibunya seolah bertanya ada apa? Ibunya hanya menggeleng sambil menutupi mulutnya yang tersenyum lebar. Anton pun segera mengalihkan atensi kepada Senja.
Menyadari sang kakak ini sudah berada di dekatnya, Senjapun memasang wajah garang.
"Mas Antoooonnnnn!" geram Senja dengan nada mengancam.
"Apa sih Dik?"
"Kok Mas Anton jahat banget sih!"
"Jahat? Jahat kenapa?" tanya Anton tak mengerti.
"Nih! Gigi Aya ada cabenya. Hhuuuwwwaaaaaaaa!" teriak Senja tepat di depan wajah kakaknya.
Anton hanya mampu memundurkan langkah dan segera menutup telinganya. Sedangkan ibu terkikik geli melihat kedua anaknya.
Anton hanya nyengir kemudian dia berlalu menuju kamar meninggalkan Senja yang histeris dan ibu yang tertawa dibuatnya. Bahagia terus ya kalian. Batin Anton sesaat sebelum menutup pintu kamarnya.
TBC
Alhamdulillah, done untuk part ini.
Makasih ya yang udah dukung Senja.
Jangan lupa sering-sering mampir dan tinggalkan jejak.
Terima kasih.
Love you all.
__ADS_1