SENJA

SENJA
Jadian?


__ADS_3

^^^Menurut kalian anak SMP pacaran wajar nggak sih?^^^


^^^Atau lebih cocok naksir-naksiran gini aja?^^^


^^^Senja enaknya stay ngejomblo apa dibikin jadian sama siapa gitu?^^^


^^^Kritik saran sangat dinanti.^^^


^^^Selamat membaca.^^^


Hari silih berganti, tak terasa sekarang udah Senin lagi. Senja sudah nampak rapi menikmati sarapan pagi.


"Alhamdulilah, akhirnya dapat hidayah juga Adikku ini ya Alloh," ucap Atma dengan tangan menengadah.


Senja yang dimaksud tak mengeluarkan kata-kata balasan sedikitpun. Dia acuh dan hanya fokus dengan sarapan yang ada di hadapannya.


"Bu, Si Ragil ngambek nih! Diapain ya enaknya!"


"Kayak anak kecil, pagi-pagi udah berisik!"


Atma melonjak kaget mendapati Sang Ibu tiba-tiba muncul di sampingnya dengan membawa sepiring tahu dan tempe goreng.


"Adiknya latihan mandiri bukannya didukung malah digodain terus!"


Atma hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memang pada situasi seperti ini Atma seringkali lupa kalau dirinya adalah seorang guru, dan sebentar lagi diapun akan menjadi seorang ayah.


Candaan Atma pun terhenti ketika Sang Ayah bergabung di meja makan. Drama pagi sepertinya tak ada hari ini. Setelah sarapan Senja langsung berpamitan pada orang tua dan kakaknya.


***


Pukul 7.45 di SMP Negeri 1.


Seluruh jajaran guru, siswa, dan pegawai berhambur meninggalkan lapangan selepas melaksanakan upacara hari Senin.


"Ada yang mau ikut ke kantin nggak?" tanya Ira pada Senja dan ketiga kawannya.


"Mau ngapain?" Ayu menoleh dan balik bertanya.


"Mau berak, hehehe,"


Ayu menoyor kepala Ira, "aw! Sakit dodol."


"Lagian ditanya serius jawabnya asal ngejeplak!" ketus Ayu.


"Iya, maaf, maaf," ucap Ira sambil mengelus kepalanya. "Haus nih, pengen beli minum," lanjut Ira kemudian.


"Aku ke kelas dulu ya," ucap Senja lalu berjalan meninggalkan teman-temannya.


"Hei, tungguin!" teriak Ifa hendak mengejar Senja. Namun urung, karena ditahan oleh Ucik. "Napa Cik?" tanya Ifa lengkap dengan tatapan heran.

__ADS_1


Ucik hanya menginterupsi Ifa untuk mengikuti arah pandangnya.


Ifa menoleh. "Wow wow wow..., apa cuma aku di sini yang nggak ngerti apa-apa?"


Ayu juga terpaku melihat pemandangan yang tak jauh darinya itu. Itu mereka janjian apa gimana sih?


"Ngerti apaan sih?" Ira yang tak tahu apa-apa heran melihat teman-temannya bengong. "Pada ngeliatin apa sih?" lanjutnya heran. "Hei!!"


Semua masih diam. Sementara yang mulai menjauh di depan....


"Senja."


Senja mendongak karena merasa ada yang memanggil namanya. "Ya." Senja nampak terkejut. Ngapain Kak Arga disini?


"Udah sembuh?" Arga segera mengulurkan tangannya melihat bekas luka Senja di pelipisnya.


Senja diam terpaku menatap Arga. Bisa mati jantungan aku Ya Allah. Udah munculnya tiba-tiba, pake mandangin aku sedeket ini lagi. Setelah itu Arga kembali merapikan rambut yang baru saja disibaknnya itu.


"Di rumah nggak ada yang tahu kan?" tanya Arga yang masih betah mengelus dan menata rambut Senja.


Senja hanya mampu menggeleng pelan.


"Syukur deh," jawab Arga dengan senyum. Kemudian tangan itu turun dan masuk ke dalam saku.


Senja menghela nafas lega. Alhamdulillah, diturunin juga tangannya. Aku bisa mati lemas kalau kamu gitu terus Kakak. Batin Senja.


Sementara itu, ketiga kawan Senja masih mengintip di balik pohon cemara. "Sakiiitttttt!!" geram Ucik sambil berusaha menyelamatkan lengannya yang di cengkeram kuat oleh Ifa dan Ayu yang berada di sebelah kanan dan kirinya.


"Iya kali!" Ifa segera meraih pundak Ucik untuk meredam histerianya. Ucik yang tak mau kembali menjadi sasaran kedzaliman kawannya segera menghempaskan tangan itu hingga tak sengaja membuat Ifa sedikit terdorong.


"Fa, awas!"


Greb!


Tepat saat Ayu berteriak, Ifa yang terhuyung berhasil ditangkap oleh seseorang yang kebetulan lewat.


"Astaga!" Ayu menutup mulutnya tak percaya.


Ifa mengerjap. Pandangannya bertemu dengan orang yang kini memeluknya. "Kak Rayi." Ifa segera menarik tubuhnya dan kembali berdiri.


"Kok cuma bertiga?" tanya Rayi.


Ifa diam, begitu juga dengan Ucik dan Ayu. Ifa melirik ketempat Senja berada. Syukurlah Senja udah nggak di sana. Ifa menghela nafas lega, setidaknya ia tak akan menjadi bulan-bulanan Indra karena melihat Senja dan Arga sedang bersama. Eh, Ucik sama Ayu napa kayak ngelihat setan gitu? Ifa kemudian beralih menatap Rayi. Ifa mengernyit heran karena Rayi nampak serius memandang lurus ke depan meski kini mereka tengah berhadapan dengannya. Merasa penasaran, Ifa akhirnya balik badan. "Astaga."


"Hai," Arga menyapa Ifa cs. Namun yang disapa hanya diam bak patung hidup. "Senja tadi minta kalian segera nyusul ke kelas," ucap Arga dengan santainya.


"Kita permisi Kak," ucap Ucik segera.


"Ifa tetep di sini." Rayi menahan sebelah tangan Ifa.

__ADS_1


Glek!


Ifa menelan ludah. Nah kan. Beneran aku kan yang jadi sasaran.


Arga melangkah dan melepaskan cekalan Rayi dengan tenang. "Senja ada perlu sama kamu juga tadi," ucapnya sambil mempersilahkan Ifa untuk menyusul rekan-rekannya.


Dengan sebelah tangan di dalam saku, Indra melangkah mendekati Arga. "Bisa nggak sih nggak usah ikut campur!" geramnya dengan kepala mendongak.


"Aku juga nggak punya waktu buat berurusan sama kamu," ucap Arga datar namun dengan tatapan tajam yang dimilikinya. Dia mundur selangkah dan berbalik. Baru beberapa langkah berjalan, Arga kembali menghentikan langkah. "Jangan pernah ganggu Senja atau teman-temannya," Arga berbicara tanpa menatap lawan bicaramu, setelahnya itu dia kembali melanjutkan langkahnya.


Rayi menepuk pelan bahu Indra. Dia tahu betul kawannya ini tengah dilanda emosi tingkat dewa. "Kita nggak boleh gegabah kalau berurusan sama Arga."


Indra kembali menegang saat melihat Arga yang dikiranya akan ke kelas justru berbelok ke arah kelas Senja. Bahkan ternyata di sana Senja sudah nampak berdiri menunggunya.


Ternyata tak sebatas nampaknya, kerena Arga memang berhenti di depan Senja. Terlihat Arga menyerahkan sesuatu kepada Senja.


Indra mengayun langkah dengan tergesa diikuti segerombolan rekan-rekannya. Aku nggak boleh kalah dari Arga. Senja, aku harus dapetin kamu Senja. Indra terus berjalan dengan tangan terkepal.


"Hei bro, mau ke kelas." Tito yang datang entah darimana tiba-tiba menyampirkan lengan di pundak Indra.


"Iya Bang," jawab Indra singkat saat langkahnya terhenti.


Melihat lebam yang begitu jelas di wajah Indra, Tito dan segera menyingkirkan lengannya dari tempat semula. "Habis berantem Lo?!"


Indra hanya diam. Melihatnya, kediaman sahabatnya, Rayi segera meminta kawanannya untuk masuk kelas terlebih dahulu. Saat semua sudah berlalu, Arga yang sebelumnya menemui Senja berjalan melewati Indra, Rayi, dan Tito begitu saja menuju kelasnya yang berada tepat di samping kelas Tito. Arga sama sekali tak menghiraukan keberadaan mereka, namun Indra yang masih dalam kondisi emosi tak mampu menyembunyikan kilatan amarah dari sorot matanya.


"Ada hubungannya sama Arga." Tito menerka tanpa memandang yang diajak bicara.


Rayi hanya diam. Dia tak berani bersuara di saat seperti ini.


Tito menghela nafas. "Aku...," Tito menunjukkan kondisi tubuhnya. "Kaya gini ara-gara Arga."


Indra dan Rayi terkejut mendengarnya. "Masalahnya apa Bang?" tanya Rayi kemudian.


Tito diam. Nggak mungkin aku bilang sama Indra kalau alasannya karena Aku nggak suka Arga terus melindungi Senja. Aku tak suka jika ada yang menggangguku saat aku sedang bermain. Dan aku menyukai Senja sebagai mainanku.


"Hey kalian!"


Ketiga melonjak kaget mendengar teriakan itu. Mereka melesat menuju kelas masing-masing seketika.


"Nggak dengar apa bel sudah berbunyi sejak tadi. Dasar anak bandel!" Pak Armi masih terus mengomel sambil menelusuri seluruh bagian sekolah, mengantisipasi agar tak ada anak yang berkeliaran saat jam pelajaran seperti ini.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2