SENJA

SENJA
Botol Minum


__ADS_3

...*HAPPY READING *...


Berdiri dengan kaki terbuka, lutut sedikit ditekuk dengan tangan mengepal di pinggang.


“Perhatikan baik-baik yang ada di barisan depan,” ucap Arga sambil membenarkan posisi kuda-kuda tengah adik-adik siswanya.


Arga sempat melihat Senja yang juga melakukan posisi kuda-kuda. Ingin sekali ia mendekat, namun sepertinya tak ada sedikit pun masalah dengan posisi Senja. Posisi kamu benar, kenapa aku malah kecewa? Batin Arga


“Capek?”


“Capek Mas…”


“Kalau capek, berarti gerakan kalian benar,” ucap Arga dengan santai.


Dia berjalan sambil mengamati gerakan Adik-adik siswanya.


“Mas Wahyu, bisa bantu saya di sini?” tanya Arga saat melihat Wahyu sejak tadi diam di satu titik.


“Ini Mas, Dik Asti ini sejak tadi masih salah gerakannya.”


Dengan gerakan kepalannya, Arga meminta Wahyu untuk mengawasi yang lain sedangkan ia mengambil alih Asti.


Diam-diam Senja memperhatikan ini dari tempatnya. Dih, pasti mau caper? Racau Senja dalam hati.


Senja segera mengalihkan pandangannya. Ia kembali fokus menjaga keseimbangan kakinya yang sudah mulai pegal.


“Kamu coba perhatikan saya.”


Senja tahu Arga tak sedang bicara padanya, namun ekor matanya membelok begitu saja.


“Kaki dibuka dan lutut ditekuk. Patokannya adalah kamu merasa posisi kaki kamu kokoh.”


Arga membenarkan posisi kaki Asti dan ia merasa jelas sekali Asti tak melakukan apa yang diinstruksikannya.


Dugh!


Brugh!


“Aw!!”


Asti langsung ambruk saat Arga menyepakkan kakinya.


“Sakit?”


“Iya Mas,” jawab Asti dengan wajah memelas.


“Iya, karena kuda-kuda kamu salah. Sekarang kamu duduk dan perhatikan baik-baik yang lainnya.”


Arga meninggalkan Asti begitu saja. Wahyu tersenyum dari tempatnya. Jati diri kamu sudah kembali sepertinya.


“Perhatian untuk semuanya. Sikap!”


Semua berdiri tagak dengan tangan di samping.


“Siswa polos atur nafas. Siswa putih ikuti aba-aba saya, persiapan pukulan lurus.”


Siswa putih yang berada di depan segera mengikuti interupsi Wahyu. Mereka segera mengambil posisi kuda-kuda tengah.


“Satu hitungan dua gerakan kanan kiri. Satu, dua, tiga…, delapan. Pukulan bawah. Satu, dua, tiga, …, delapan. Sikap.”

__ADS_1


Siswa putih nampak mengatur nafas.


”Bagi adik-adik polos perhatikan ya. Ini adalah gerakan-gerakan dasar yang harus kalian kuasai," kata Wahyu yang sekarang memegang kendali latihan.


“Siswa putih persiapan tendangan A.”


Siswa putih yang berada di barisan dapan segera mengambil posisi.


“Satu, tahan…”


“Perhatikan baik-baik,” timpal Arga dari belakang.


“Turun.”


Para siswa putih segera mengikuti aba-aba Wahyu. Dibawah kendali Wahyu, para siswa hampir tak diberi kesempatan untuk bernafas. Variasi gerakan yang diberikan dilakukan beruntun dan tanpa jeda.


Arga lupa tekatnya untuk menghindari Senja dan justru kini membawa seluruh siswa polos dibawah komandonya.


“Perhatian semua, lakukan sebisanya apa yang sudah dicontohkan tadi ya, persiapan pukulan lurus. Kuda-kuda tengah, satu…”


Arga membuka telapak tangannya di depan salah satu siswa, yang tentunya bukan Senja.


“Sasaran harus fokus pada satu titik. Fokus, dan gunakan segenap kekuatan kalian untuk memukul telapak tangan saya.


"Satu.”


Semua melakukan pukulan lurus.


“Dua,” kembali Arga menghitung dan ternyata pukulan siswa ini meleset.


“Yang fokus ya. Tangan mengepal kuat, dan jempol disembunyikan. Tiga…”


“Empat…”


Siswa itu memukul dan sasarannya tepat. Begitu seterusnya. Arga terus bergeser hingga akhirnya sampai pada hitungan delapan, ia berdiri tepat di hadapan Senja.


Arga tak lekas bersuara. Pandangannya masih terkunci pada gadis kecil di hadapannya. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh semua siswa untuk mengatur nafasnya. Meskipun hanya melakukan pukulan ke udara, nyatanya mereka capek juga. Kecuali Asti yang nampaknya punya misi lain dengan join di eskul ini. Dia tak melakukan gerakan dengan sungguh-sungguh sehingga ia tak merasakan letih seperti teman-temannya yang lain.


Arga masih menunggu Senja membalas tatapannya, sebelum itu entah mengapa ia engan bersuara.


Senja yang merasa ditatap perlahan mendongak karena kesal.


“Delapan.”


Kini giliran Senja yang membeku. Ia tak melakukan gerakan sebagaimana mestinya. Ia malah terpaku menatap Arga yang berdiri di depannya.


Ctak!


Arga menjentikkan jarinya di depan wajah Senja dan menoel hidung Senja seolah tak sengaja.


“Sikap.”


Semua segera melepaskan kuda-kudanya dan berdiri dengan kedua tangan terbebas di samping badan.


“Pejamkan mata kalian, dan atur nafas.”


Arga berjalan mengelilingi seluruh siswanya.


“Bernafas dengan hidung ya, hindari mengambil nafas dengan mulut.”

__ADS_1


Tak perlu berteriak, namun suara Arga begitu nyaring terdengar. Terutama bagi Senja. Entah mengapa ia merasa suara Arga terasa dekat di telinganya.


Tiba-tiba matanya terbuka saat merasa ada sentuhan di telinganya.


“Ma…”


Baru saja hendak membuka mulut, namun Arga sudah terlebih dahulu meletakkan telunjuknya di depan bibir Senja. Arga menggelengkan kepala dan kembali berjalan mengitari adik-adik siswanya. Entahlah, Arga hanya ingin menyelipkan rambut Senja di belakang telinga.


“Sikap…”


Semua membuka mata. Lagi-lagi mata Arga bertemu dengan Senja. Gadis itu masih menunduk dengan wajah bersemu merah.


“Silahkan ambil air minum yang kalian bawa dan kumpulkan di dekat saya.”


Setelah dipersilahkan, semua bubar untuk mengambil air minumnya. Tak berselang lama semua kembali dengan memegang botol di tangannya.


Mata Arga bergerilnya saat pusat pandangannya belum kembali ke tempatnya. Kenapa Senja belum kembali juga. Batin Arga.


Akhirnya Arga memutuskan untuk berjalan menyusul Senja.


“Senja…”


Senja menoleh dan mendapati Arga berjalan ke arahnya. Dia menumpahkan semua isi tasnya berharap dapat segera menemukan botol air putihnya.


“Kamu nggak bawa minum?” terka Arga.


“Aku tadi yakin bawa Mas…” jawab Senja tanpa menatap Arga.


“Kalau nggak bawa nggak apa-apa sekarang, yang penting nanti jangan diulangi lagi.”


Senja mendongak menatap Arga. “Tapi aku yakin banget udah bawa Mas, tadi sempet aku minum sedikit soalnya.”


“Ya masalahnya ini kan nggak ada. Ya kalau kecil kaya pulpen mungkin aja nyempil, kalau botol kan gede Senja.”


Arga meraih tangan Senja untuk mengajaknya berdiri.


“Ayo ke sana, yang lain udah ngumpul, tinggal nungguin kamu.”


Senja menghempaskan tangan Arga.


“Aku bakal nemuin botol minum aku.”


“Senja, kamu jangan kayak gini. Kamu nggak ingat ini udah jam berapa?!”


Suara Arga meninggi. Ia ingat betul kalau Senja harus tiba di rumah sebelum jam 3 karena setengah 4 ia harus mulai diniyah.


“Tapi Mas…”


“Cepat bergabung dengan yang lain sebelum lebih banyak lagi yang memandang kita di sini berdua.”


Sejurus kemudian Arga pergi begitu saja meninggalkan Senja.


Entah mengapa ia begitu tak terima. Meskipun Arga memberi keringanan, namun ia merasa sama sekali tak memerlukan itu karena sebenarnya tak ada kesalahan yang ia lakukan.


“Kemana perginya air minumku, padahal jelas banget tadi ada,” gumam Senja sambil berjalan ke arah yang sama dengan Arga.


“Yang masih jalan cepetan dikit Dik.”


Mata Senja memanas kala mendengar suara tinggi Arga.

__ADS_1


TBC


__ADS_2