SENJA

SENJA
Penawar Rindu


__ADS_3

Hallooooww semua.


Senja datang dalam Senja, xexexe


Gimana konsepnya ya. 


Ya udah, intinya mari kita lanjutkan yang pernah tertunda.


Are you ready??!!!!


HAPPY READING


“Kamu mau pulang?”


Senja melebarkan mata mendengar pertanyaan Senja.


Ini kan sudah jam pulang jadi jelas kan mau pulang, kok pake nanya.


Namun kalimat itu tak Senja ungkapkan. Ia hanya meringis dengan kepala dianggukkan.


Melihat reaksi Senja, Arga nampaknya tersadar akan pertanyaan bodohnya. Tapi entahlah, kata itu terlanjut diucapkannya jadi sok cool saja seolah semua baik-baik saja.


Bambang yang menyaksikan kebodohan Arga nampak  begitu kegirangan. Ia juga tak berniat membantu dan justru menikmati pertunjukan yang baginya menyenangkan. Sesekali ia tersenyum menggoda melihat kawannya yang terlihat salah tingkah.


Sedangkan Senja justru menatap Arga sambil cengar-cengir. Dan Bambang yang menyaksikan sangat paham bahwa perasaan Senja juga sama-sama tak karuannya dengan Arga.


“Eh Mas, itu. Aku pulang dulu…” ujar Senja sebelum ngacir meninggalkan Arga. Ternyata saat ini angkot yang biasa Senja naiki berhenti tak jauh dari tempat Senja berdiri.


“Jiaahh. Gua nggak dianggap,” goda Bambang.


Arga menatap tanpa minat kelakuan temannya ini sebelum kembali menatap Senja yang bergerak menjauh darinya.


Tanpa ada yang tahu, Senja juga dalam pelarian sekarang. Dalam setiap langkahnya, ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang menggila. Senja mulai sadar jika ada rasa tak biasa untuk Arga sehingga jantungnya seringkali menunjukkan reaksi berlebihan jika ada cowok ini di dekatnya.


Sepeninggal Senja, Arga masih membeku ditempatnya. Ia masih setia memandangi punggung gadis kecil itu yang bergerak pergi. Ingin mengejar tapi... Entahlah.


“Eh, lu!”


Arga menatap Bambang yang ia yakini sedang bicara dengannya


“Ngapain bengong. Kejar sono…” ujar Bambang buru-buru sebelum Arga kembali mengacuhkannya.


Tapi reaksi Arga sungguh di luar harapan. Jangankan mnegejar, Ia bahkan hanya diam tanpa sedikitpun bergerak dari tempatnya.


“Akh. Dasar pe’ak…”

__ADS_1


Bambang tak dapat menutupi kekecewaanya. Sudah susah-suah ia merangkai momen, tapi Arga tak dengan baik memanfaatkannya.


“Gimana?” tanya Hari saat muncul bersama motor Bambang yang dibawanya.


Alih-alih menjawab, Bambang justru mendengus.


“Kenape?” tanya Hari lagi yang memang tak melihat kejadian tadi.


“Alah. Pulang yuk. Percuma kita di sini,” ujar Bambang yang langsung naik ke boncengan Hari.


Hari pun tak banyak tanya lagi. Ia segera menginjak pegal gigi dan menarik gas untuk pergi.


Arga yang ditinggalkan masih bertahan untuk diam. Melihat Senja dari kejauhan merupakan momen yang paling aman. Namun pemandangan yang terpampang di depan membuatnya ia tertahan untuk tak ikut-ikutan pulang.


Kenapa Senja tak segera naik. Kenapa iya membiarkan yang belakangan datang masuk duluan? Batin Arga.


Belum selesai sampai di situ. Ternyata hingga angkot berjalan, Senja masih bertahan di tempat. Baru saja Arga ingin mendekat, barulah ia sadar bahwa Senja tak sendiri. Ada seorang gadis yang ia yakini juga murid sekolah ini. Mungkin itu saudara atau teman Senja, pikir Arga. Jadi ia putuskan untuk terus mengamati.


“Terus tadi ngapain pakai antri kalau endingnya jalan kaki,” gumam Arga saat melihat Senja dan temannya perlahan mulai berjalan.


Karena belum ingin pulang, Arga memperhatikan sekeliling. Ternyata sekolah mulai sepi. Jadi ia merasa tak nyaman kalau terus-terusan diam di sana. Mau jawab apa kalau ada orang


yang bertanya dia sedang apa.


Akhirnya Arga memutuskan untuk mulai berjalan. Karena masuh belum rela meningalkan Senja, motor pun ia jalankan dengan begitu pelan. Bahkan ia berkali-kali berhenti sambil memainkan ponsel seolah ada seseorang yang tengah dihubungi.


“Emm…” ragu-ragu Heni menengok ponselnya. “Ya pokoknya aku nggak akan biarin kamu sendiri,” jawab Heni yang tak secara gamblang menjawab apa yang Senja tanyakan.


Senja mulai tak tenang. Dulu ia pernah ditinggalkan saat menunggu angkot umum, masa iya kali ini ia juga harus merakannya lagi.


Dari belakang Arga masih mengikuti, tapi ia belum berani menghampiri.


Di tengah kegalauannya jika mendadak Heni dijemput pacarnya, Senja masih diselimuti rasa penasaran. Kenapa sejak tadi Arga belum lewat juga. Apa yang dilakukan dibelakang sana.


Meski begitu penasaran, Senja sama sekali tak berani menoleh kebelakang. Ia takut jika harus beradu tatap dengan Arga jika memang kakak kelasnya ini masih di sana.


“Senja. Kamu nggak coba hubungin siapa gitu?” tanya Heni yang memecah lamunan Senja.


“Emmm…” Senja mengangguk. Ia enggan membalas tatapan Heni dan justru memilih untuk melihat jalanan yang ia pijaki. Ia tahu Heni hanya basa-basi. Jadi mending siap-siap menerima nasib tragis lagi.


Mau protes Senja segan. Tapi kalau tak protes kok ya tega. Padahal kalau tak Heni tahan, Senja sekarang sudah nyaman diangkot dan dalam perjalanan pulang.


“Atau kalau kamu nggak bawa HP, aku pinjami deh. Mau hubungi ayah atau kakak kamu mungkin?” kembali Heni menawari.


Senja menatap Heni sejenak sebelum ia menggeleng dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


Heni adalah anak guru SD Senja sekaligus tetangga jauhnya. Ia satu tingkat di atas Senja. Tak terlalu akrab tapi sejak Senja masuk bangku SMP, ia sering di jadikan alasan kalau Heni mau pacaran. Ya itu lah remaja. Semakin ditahan semakin dia aktif untuk terus melakukan perlawanan.


Dan hal yang paling Senja takutkan terjadi juga. Heni benar-benar dijemput pacarnya yang masih mengenakan seragam SMA. Dan dalam sekejap mata Heni dibawa pergi meninggalkan Senja seorang diri.


Senja hanya mampu menendang batu sembari menggerutu. Ia memang tak punya kewajiban untuk mengikuti kemauan Heni, tapi kenapa sifat Heni yang bossy sewaktu SD terbawa sampai kini. Jujur ia susah menolak saat Heni mengajak atau meminta. Tapi itu dulu. Dulu saat keduanya masih SD dimana Ibu Heni mengajar juga di sana. Tapi sekarang keduanya sama-sama siswa di SMP 1. Jadi untuk apa segan dan kesewenang-wenanganan ini dibawa-bawa?


Lelah menggerutu Senja baru ingat kalau Arga belum juga lewat. Kini rasa penasarannya tak dapat lagi tertahan. Dan tanpa pikir panjang, Senja pun menoleh ke belakang.


Degh!


Senja memang sudah mengira ada Arga dibelakangnya, tapi ia tak menyangka jika sedekat ini posisinya. Buru-buru Senja mengembalikan posisi kepalanya. Tapi karena ia merasa tingkahnya ini konyol, akhirnya ia memilih menghentikan langkah dan memutar badannya.


“Ngapain Mas Arga di situ?” tanya Senja.


Entah pertanyaan ini cocok atau tidak ia ungkapkan, yang jelas ini adalah satu-satunya kalimat yang yang terpikirkan.


“Eeee, ya, ya mau pulang.”


Sudah terbata saat bicara, kini wajahnya pun tak terkondisikan dengan sempurna. Untuk menutupi kekacauannya, Arga  pun tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum aneh yang begitu jelas jika dipaksa.


“Kan…” Senja menjeda kalimatnya. Ia melihat jauh ke belakang dimana tak ada lagi murid berseragam sama dengan mereka masih berjalan.


Arga yang isi kepalanya sudah kacau sejak tadi malah ikut-ikutan lihat kebelakang. “Ada apa Ay…?” tanyanya kemudian.


Senja mengerjab dan menggeleng setelahnya. Justru karena sudah nggak ada apa-apa makanya aku tanya kamu masih di sini untuk apa.


“Emm, kamu mau pulang nggak?” tanya Arga saat Senja tak menjawab pertanyaannya.


Kembali mata Senja dibuat membola. Kenapa hal yang sudah jelas masih saja ditanyakan?


“Iya Mas. Tadi sudah tanya kan di gerbang.”


“Masa?” Arga balik bertanya sambil menggaruk tengkuknya.


Senja menghela nafas. “Aku jalan ya Kak, takut lama dapat angkotnya,” pamit Senja.


“Aku antar.”


“Tapi...”


“Aku antar sampai jalan raya,” ujar Arga memperjelas maksudnya.


Tak ada alasan untuk Senja menolak tawaran Arga. Karena jujur ia cukup lelah berjalan.


Dalam hati Arga bersorak, karena akhirnya ia dapat kembali membonceng Senja setelah sekian lama. Meski tak sampai rumah, percayalah. Ini sudah menjadi penawar rindu untuknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2