SENJA

SENJA
Keripik Talas vs Keripik Singkong


__ADS_3

^^^Aku hanya ingin seperti mereka.^^^


^^^-Cahaya Senja-^^^


Happy reading.


Jangan lupa jejak ya.


"Aw!"


"Kamu kenapa?" tanya Rivan begitu mendengar Senja berteriak.


Sementara Arga langsung menghampirinya tanpa kata.


Wahyu merangkul Rivan. "Nggak butuh jawaban dari mulut Arga deh kita kayaknya."


Rivan mengangguk. "Jelas banget ini mah."


"Kamu ceroboh banget sih." Arga meraih tangan kanan Senja dengan telunjuk yang berdarah itu.


"Aku cuma mau nutup cutter ini Kak, biar nggak bahaya maksudnya," cicit Senja.


"Iya, tapi ngebahayain diri kamu kalau nggak hati-hati. Dah aku ke UKS bentar."


"Ngapain?" Senja menahan tangan Arga.


"Ehm..."


Arga dan Senja kompak menoleh Wahyu yang baru saja berdehem.


"Ehm, ehm juga," imbuh Rivan disusul senyum menawan yang banyak digilai penggemarnya itu.


"Ck...." Arga berdecak kemudian memalingkan wajahnya menatap Senja yang kini menunduk.


"Aku ke UKS sendiri deh Kak."


"Nggak, aku anter." Arga menarik Senja begitu saja. Arga pun keluar meninggalkan Wahyu dan Rivan di sana.


"Kantin aja yuk," ajak Rivan.


"Okay..." Rivan merangkul bahu Wahyu dan pergi meninggalkan ruang Arga. "Eh, eh, tu Arga mau ngapain!" Cepat-cepat keduanya berlari menghampiri Arga yang kini menarik kerah baju seorang siswa.


"Ga stop Ga. Kamu apaan sih!" Lerai Rivan dengan menahan tubuh Arga.


"Dia udah bikin Senja takut!" Arga berusaha melepaskan diri hendak melayangkan pukulan pada anak itu.


"Ga! Inget ini sekolah?!"


Arga baru tersadar dimana kini mereka berada. Dia tampak segera mengatur nafas untuk meredam emosi.


"Kamu mending pergi deh." Wahyu menyuruh anak itu pergi. Dan segera setelahnya, anak itu benar-benar meninggalkan mereka.


"Yu, bisa tolong ambilkan Senja plaster nggak, atau Senja ke UKS nya sama Wahyu ya," ucap Rivan.


Namun Arga yang masih dalam rangkulan Rivan segera menahan tangan Senja.


Wahyu menghela nafas. "Oke deh, aku ambilin plaster bentar."


"Thanks," ucap Arga.


Wahyu hanya mengacungkan jempol kanannya.


"Tadi ceritanya gimana?" tanya Rivan pada Senja.

__ADS_1


"Kakak tadi tiba-tiba ngelempar ulat ke aku."


"Cuma gitu?" Rivan terkejut mendengar keterangan Senja.


Dan Senja mengangguk.


"Ga, lu nggak bisa gini terus!"


Saat itu juga Wahyu datang. "Perlu aku bantu?" tanyanya pada Senja.


Arga hendak mengambil plaster di tangan Wahyu namun Senja lebih dulu menyambarnya.


"Aku bisa sendiri Kak." Senja kemudian membuka plaster itu untuk menutup lukanya.


Rivan melirik jam di pergelangan tangannya. "Kantin yuk, masih sempet ini."


"Aku balik ke kelas aja deh Kak," tolak Senja.


"Kamu ikut, nanti ke kelas aku anter," ucap Arga tak ingin di bantah.


Wahyu dan Rivan saling melempar pandangan geli. "Ya udah, kuy." Rivan kembali merangkul Wahyu dan berjalan di depan Arga dan Senja.


"Ck, jangan-jangan lu belok, dari tadi nemplak-nemplok mulu!" protes Wahyu sambil berusaha melepaskan diri.


"Ih najis!" namun bukannya melepaskan Wahyu, Rivan justru melompat ke punggung Wahyu.


"Anj**!" Wahyu mengumpat sambil berusaha menjatuhkan Rivan. "Ketek lu asem be*o!"


"Sama aja dodol!" keduanya tertawa masih dengan pose yang sama.


Senja dan Arga yang sebelumnya diam kini dibuat tertawa karenanya.


"Jangan kaget ya lihat aslinya mereka," ucap Arga disela tawanya.


"Emang aslinya gimana?" tanya Arga sambil menoleh Senja yang berjalan di sampingnya.


Senja pun menoleh dan mendongak agar dapat menatap Arga. Mereka saling beradu pandang dengan senyum yang mengembang. Namun tak berlangsung lama saat rasa canggung tiba-tiba menyergap membuat mereka terpaksa memutus kontak.


"Kak Arga serem kalau marah," ucap Senja kemudian.


Arga meraih tangan Senja dan menghentikan langkahnya. "Kamu takut?"


Senja menggeleng dan menatap Arga dengan senyum.


"Ellah, lama bener sih jalannya!"


Teriakan Wahyu pada Arga ini berhasil menarik perhatian siswa yang berlaku lalang. Banyak pasang mata yang menatap iri pada Senja.


^^^"Tuh cewek siapa sih, kok bisa barengan sama Wahyu dan Rivan!"^^^


^^^"Iya ih, tapi jalannya sama Arga ya?"^^^


^^^"Adiknya Arga kali."^^^


^^^"Iya deh kayaknya, tuh badannya sama-sama tinggi, skin tone nya juga sama."^^^


^^^"Biarin deh, yang penting Rivan sama Wahyu masih jomblo."^^^


^^^"Tapi bisa aja dong jadian sama salah satunya."^^^


^^^"Atau jangan-jangan pacarnya Arga."^^^


^^^"Nggak apa-apa deh asalkan bukan Rivan atau Wahyu."^^^

__ADS_1


Kira-kira seperti itulah suara-suara para gadis yang menjadi penggemar Rivan dan Wahyu. Apakah Arga tak menawan seperti kedua sahabatnya sehingga ia tak memiliki fan base.


Tidak sepenuhnya benar. Arga punya wajah yang manis dengan rahang tegas dan tatapan tajam tak kalah mempesona dari kedua sahabatnya. Namun Rivan dan Wahyu menjabat sebagai ketua dari dua organisasi dengan anggota terbanyak di sekolah. Itulah sebabnya ia begitu populer. Sedangkan Arga, jarang tampil di depan dan anggota yang dibawahinya kebanyakan laki-laki. Jika saja dia masih bertahan di PMR mungkin ia juga akan menjadi ketua dan akan ada 3 cowok most wanted di sekolah bukan 2 seperti saat ini.


Apakah ini berpengaruh pada Arga dan link persahabatan mereka? Tentu tidak. Karena Arga pada dasarnya pribadi yang kalem dan cuek tak sepecah kedua sahabatnya ini.


Setibanya di kantin, Senja langsung menyambar 2 bungkus keripik singkong dan air mineral.


"Kamu nggak makan?" tanya Arga.


Senja menggeleng. "Aku bawa bekal, lagian jam segini juga belum laper," jawab Senja sambil membuka keripik singkong yang ia bawa.


"Pantes kurus."


Senja menatap Arga. "Maksudnya?" tanyanya disela mengunyah keripik.


"Makannya keripik singkong doang," ucap Arga sambil terkekeh.


"Dih, nggak nyadar, emang yang situ makan sekarang apa?" cibir Senja.


Arga nyengir begitu menyadari apa yang kini ia makan. "Ya kan beda, itu kan singkong ini kan talas."


"Tapi sama-sama keripik Kakak."


"Beda lah. Nih makan kalau nggak percaya." Arga menyodorkan sebuah keripik talas di depan Senja.


Senja menepis tangan Arga. "Nggak mau. Kemaren kan udah coba."


"Ya kan yang bikin beda, nih." Arga kembali menyodorkan keripik talas pada Senja.


Senja menggeleng dengan bibir terkatup rapat. "Mending Kakak coba ini deh," kini Senja yang ganti menyodorkan keripik singkong di depan mulut Arga.


"Nggak ah, enakan ini." Arga kembali menjejalkan keripik talas ke mulutnya.


"Jangan curang, kemaren kan aku Kakak paksa makan, sekarang gantian..." rengek Senja.


Kok ngegemesin sih. Akhirnya Arga luluh dan membuka mulutnya.


"Eh eh eh, bocah kecil, jangan dipaksa dong kalau Arga nggak mau!" Seorang gadis dengan kulit putih dan rambut berponi tiba-tiba datang dan duduk di antara Arga dan Senja.


Arga terkejut melihat sahabat masa kecilnya tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Duh duh, Mak lampir datang," ucap Rivan yang sengaja duduk terpisah dengan Arga dan Senja.


"Sana yuk," Wahyu segera mengangkat makanannya dan ikut bergabung bersama Arga. Rivan pun melakukan hal yang sama.


"Ta, kamu ngapain di sini?" tanya Wahyu.


"Nah kan bener kan, aku tadi cuma ngelihat Arga, tapi aku juga yakin bakal nemuin kalian juga kalau aku samperin."


Rivan menatapnya dengan malas.


"Oiya, kenalin aku Sita pacar kecilnya Arga."


Degh!


Senja terpaku dan tak langsung menjabat tangan yang terulur itu.


TBC


Tenang, anak SMP belum mengenal pelakor kok.


Tunggu part selanjutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2