SENJA

SENJA
Maaf !


__ADS_3

Permasalahan di kehidupan setiap saat datang silih berganti. Perselisihan bahkan pertengkaran seakan mewarnai kehidupan ini. Dan hal tersebut telah menjadi sesuatu yang tidak dapat terelakkan lagi. Setiap peristiwa, permasalahan, atau persoalan di kehidupan ini pasti memiliki sebuah cara untuk bisa menyelesaikannya. Namun terkadang, jalur takdir dan jalur kehidupan yang ingin kita lalui tidak selalu searah. Kenyataannya takdir lah yang mengendalikan. Dan diri kita hanya bisa pasrah dan terus melangkah melewati jalur yang telah takdir tentukan.


Maaf...


Satu kata yang sering kita dengar dan sering di ucapkan. Sederhana, namun memiliki makna yang besar. Kata maaf dapat mewakili perasaan seseorang yang memiliki penyesalan atas kesalahan yang diperbuatnya dan ingin memperbaiki kesalahan tersebut. Kata ini digunakan oleh seseorang yang biasanya memiliki perselisihan atau permasalahan dengan orang lain. Namun, kata maaf belum tentu bisa menjadi sebuah pedoman untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan. Karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda dan kita tidak bisa menebak isi hati dan perasaan setiap orang. Lalu jika tidak bisa, bagaimana cara untuk menyelesaikannya ?


Melupakan....


Kali ini aku mengalami sebuah persoalan. Tidak rumit, tetapi cukup untuk membuatku memikirkan cara untuk menyelesaikannya selama berhari-hari. Sebuah kesalahpahaman kecil anatara diriku dan seseorang. Maaf Ica...


***


Kemarin aku telah memutuskan untuk menemui orang tersebut. Aku ingin meminta maaf dan menyelesaikannya. Aku sudah memintanya untuk datang. Namun, aku tidak tahu dia akan datang atau tidak. Hanya satu kesempatan untuk bisa meminta maaf kepadanya. Berhasil atau tidak itu hal yang kesekian untuk difikirkan. Setidaknya aku sudah berusaha.


Pukul 16.30


Aku bersiap untuk pergi menemuinya. Di sebuah halte bus, tempat pertama kali aku melihatnya dari jarak paling dekat. Saat yang paling berkesan bagiku. Dan saat itu pula aku memutuskan untuk terus mengejarnya.


"Eh genteng bener euyy, mau ngapel ya?" ucap Mamat.


"Berisik! oh iya kamu teh gak usah ikut!" sautku.


"males bener..."


"bagus..."


"Ini teh pasti mau ketemu sama neng Ica, Iya kan ngaku aja deh..."


"Gak! kamu teh sok tau aja!"


"Hehe, udahh entar di tungguin lo sama neng Ica."


"Berisik!"


Bukan Mamat namanya kalau tidak pernah jailin orang dan suka bikin masalah. Dan kali ini aku lah yang menjadi korbannya. Semua permasalahan ku kali ini adalah ulanya.


***


Aku mulai melangkah, menyusuri jalanan, menikmati keindahan mentari. Tidak terasa hari mulai petang. Mentari mulai tenggelam, langit senja menghiasi bumi, suasana ini sudah sangat lama aku tidak merasakannya. Jalanan mulai lengang, aku masih terus melangkah untuk mengejar cinta ku. Dan akhirnya perjalananku terhenti tepat berada di sebuah halte bus yang tidak jauh dari sekolah ku, aku menunggunya. Ku lihat arlojiku. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Aku ragu, karena Ia tak kunjung datang.


*Aisyah, akankah kau datang menemuiku?


1 jam kemudian*...


Aku masih menunggu. Tak terasa 1 jam telah berlalu dan aku belum melihat tanda-tanda bahwa dia akan datang. Apakah dia benar-benar tidak akan datang?


"Aisyah, apakah aku sudah gagal?" gumamku.


Keraguan di hatiku perlahan membuatku ingin mundur dari misi kali ini. Perlahan membuatku ingin menjauh dan melupakanmu. Aku takut untuk melangkah. Akankah jalan yang ku ambil kali ini adalah jalan yang benar ataukah jalan menuju jurang penyesalan. Aku sudah pernah merasakan kekecewaan, namun ku rasa Ica belum. Jika aku yang kecewa maka biarlah saja karena aku tahu takdir terkadang memang begitu menyakitkan. Tetapi, jika dia yang kecewa maka itu akan menyakiti hatiku dan hatinya dan itu akan lebih menyedihkan dari sebuah takdir pahit di dalam hidup ku sendiri. Tuhan berikanlah petunjuk-Mu.

__ADS_1


Dan aku sudah mengambil sebuah keputusan untuk mundur dan merasakan kekecewaan itu lagi. Namun, ketika aku ingin mengambil langkah mundur, tiba-tiba seseorang datang dan memanggil namaku.


"Ardan!" teriaknya.


Suara perempuan yang bisa terdengar oleh telingaku. Dan suara itu sangat tidak asing bagiku. Aku secepat kilat membalikkan badan dan melihat kearahnya. "Akhirnya dia datang".


"Aisyah!" teriak ku.


Apakah ini sebuah mimpi, tidak ini nyata. Akhirnya dia datang kepadaku. Aku berjalan kearahnya lalu menghampirinya.


"Assalamualaikum Aisyah." Ucapku


"Waalaikumussalam." sautnya.


"Makasih sudah datang."


"Hm iya, maaf telat."


"iya gak apa-apa kok."


Lalu Ia tersenyum kepadaku, dari sekian banyak aku meliihat senyuman itu, ini adalah yang pertama kalinya dia memberikan senyuman itu hanya untuk diriku. Parasnya yang elok dan dipadukan dengan balutan busana muslimah semakin menambah aura kecantikannya. Mataku tak dapat teralihkan. Rasa kagum itu seakan semakin membara. Dan aku benar-benar ingin mendapatkannya.


"Hm, mau ngomongin apa yah?" tanya Ica.


"Eh iya ampe kelupaan, itu... aku teh mau minta maaf soal kejadian dua hari yang lalu." jawabku.


"Itu loh, yang kejadian si Mamat terik-teriak gak jelas di depan mushola."


"Oh itu ya..."


"Iya, jadi gimana?"


"Kalau yang itu, udah aku maafin kok."


"Alhamdulillah kalo gitu, kamu teh kan tau si Mamat itu orang nya emang begitu, jadi maklumin aja yah."


"Iya..."


"Bagus deh kalo gitu."


"hm, cuma itu aja?"


"iya."


"Kalo gitu aku pulang dulu,Assalamualaikum."


Membalikkan badan.


"Aisyah tunggu!" teriak ku.

__ADS_1


"Ya?"


"Sebenernya aku teh emang suka sama kamu."


"......" keheningan.


"Kalau kamu emang gak mau jawab teh gak masalah, aku cuma mau ngasi tau kebenaran isi hati aku."


Keheningan..


"Maaf aku pergi dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." gumamku.


Tanpa sadar aku telah menyatakan perasaanku padanya. Apakah dia akan semakin menjauhiku setelah mengetahui kebenarannya, atau sebaliknya. Cinta memang telah membutakan ku.


Setelah mendengar perkataanku, tidak ada respon yang mengejutkan darinya. Ya seperti biasanya dia langsung pergi tanpa memberikan sepatah kata pun padaku. Dan aku tahu dia memang orang yang seperti itu. Imannya tidak akan pernah goyah dengan permainan cinta kecil yang tidak berguna. Namun, ketulusan bisa saja meluluhkan hatinya.


Aku sekarang mengetahui bahwa cinta tidaklah sesederhana itu. Bukan hanya soal menyatakan perasaan atau memberikan bunga atau hadiah. Namun cinta adalah ketulusan, kesucian, dan kemurnian. Tanpa ada sebuah keterpaksaan. Dan aku mulai faham mengapa selama ini Ica selalu menghindari ku, itu semua karena dia menginginkan cinta yang sebenar-benarnya. Bukan sebuah permainan kecil yang akan berakhir dengan penyesalan dan kekecewaan. Dan aku telah belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan akan seutuhnya dapat kita miliki. Karena sewaktu-waktu takdir bisa saja merenggutnya kembali. Maka dari itu, aku telah Ikhlas akan keputusan yang akan Ica ambil kelak di kemudian hari. Aku tahu dan aku percaya bahwa kebahagiaan itu benar-benar ada. Walau saat ini belum bisa aku rasakan, mungkin kelak aku akan merasakannya.


Maafkan keegoisanku selama ini, Aisyah!


***


Ego


Ketika takdir telah di tentukan


Dan mulai Menata kehidupan


Dengan sedemikian rupa


Menjadi begitu rumit


Dan berliku


Goresan-goresan luka


Mulai memenuhi jiwa


Namun manusia


Selalu memiliki cara


Tuk kembali


Kejalur kehidupan


Yang di kehendakinya

__ADS_1


__ADS_2