SENJA

SENJA
Perjodohan di Masa Lalu


__ADS_3

Masih Flashback 13 Tahun Lalu


"Ini kalau makan dulu gimana? Keburu dingin lo," ucap Ibu Ami pada Pak Sam dan Ina serta keluarga Pak Yadi.


Akhirnya semua bergerak menuju meja makan.


"Ini aku bawa ayam panggang spesial, saya sendiri lo yang bikin," kata Bu Yadi sambil membuka rantang yang dibawanya dari rumah.


"Huwek." Bu Ami membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Pak Yadi dan keluarganya di buat terkejut seketika.


"Bu...!" Ina segera bangkit dan menyusul Ibunya.


"Lho Bu Ami kenapa Pak Sam?"


"Maaf ya Bu, Pak, Nak Aryo, semenjak hamil istri saya jadi anti sama semua yang berbau ayam. Maaf ya," ucap Pak Sam dengan tak enak hati.


"Astaghfirullah, saya beneran nggak tahu Pak kalau Bu Ami lagi hamil. Sudah berapa bulan Pak?" tanya Bu Yadi yang begitu sarat rasa bersalah.


"Baru sebelas minggu Bu, tahunya juga baru kemarin pas wisudanya Ina. Istri saya kan tiba-tiba pingsan pas perjalanan pulang ke hotel, pas diperiksa dokter nggak tahunya hamil. Ya Alhamdulillah lah," terang Pak Sam.


"Iyalah Pak, Alhamdulillah. Rejeki itu namanya," timpal Bu Yadi.


"Bu, mungkin sebaiknya ayamnya di simpan saja," titah Pak Yadi.


Buru-buru Bu Yadi menyimpan ayam panggang yang di bawanya. Kemudian dia menyusul Bu Ami dan Ina yang masih di kamar mandi. "Gimana Na, Ibunya?" tanya Bu Yadi kepada Ina yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ibu masih cuci muka Bu," jawab Ina sopan.


"Ayamnya sudah Ibu simpan kok," kata Bu Yadi.


"Iya Bu, maaf ya. Nanti pasti Ina habiskan. Kebetulan Ina pengen banget makan ayam panggang."


"Wah, Aryo juga suka banget ayam panggang, atau mungkin kalian bisa misah makannya. Kali aja kalian sesama anak muda pengen ngobrol berdua, daripada gabung sama orang tua," kata Bu Yadi.


"Nggah usah Bu, kita gabung aja. Nggak apa-apa kok."


Saat itu juga Bu Ami yang muncul dari balik pintu kamar mandi.


"Bu maaf lho ya, saya nggak ngerti kalau Bu Ami lagi hamil muda."


"Saya Bu malahan yang nggak enak, padahal Bu Yadi udah capek-capek bikin," ujar Bu Ami dengan tak enak hati. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan.

__ADS_1


"Eh ini tadi Ina katanya lagi pengen ayam panggang, kebetulan Aryo juga suka banget sama ayam panggang. Gimana kalau mereka makannya misah, biar bisa ngobrolin obrolan anak muda juga." Bu Yadi lantas mengkode Bu Ami, agar Bu Ami lekas menjawab iya.


"Iya iya. Kayaknya makan di teras samping boleh Na," kaya Bu Ami kemudian.


"Ar, ini Ina pengen makan pakai ayam panggang, kamu juga suka kan. Cepet ambil ambil makanan terus ke teras samping gih."


"Nggak usah ya Mas Aryo, makan sini aja kali ya. Masak makan di teras," tolak Ina.


"Nggak apa-apa sih, yuk aku bantuin," ucap Aryo yang bangkit dan menyambar rantang bawaan Ibunya.


Akhirnya Ina dan Aryo makan berdua di teras samping dengan beralaskan tikar.


"Kayaknya mereka bakal cocok deh Bu," ucap Bu Yadi pada Bu Ami sambil memandang interaksi kedua anaknya dari kejauhan.


"Saya nggak sabar lihat mereka duduk di pelaminan," timpal Bu Ami.


Dan para orang tua pun melanjutkan makan malam dengan selingan canda tawa.


"Adik-adik pada kemana Na?" tanya Aryo pada Ina.


"Lagi di rumah Eyang katanya," ucap Ina yang diakhiri dengan tawa kecil.


"Inget Ibu yang tadi ngomel-ngomel gegara dua anak ABG-nya doyan ngilang semenjak bisa bawa motor."


"Siapa?" tanya Aryo.


Ina masih terkikik. "Itu Anton sama Atma," jawab Ina setelah tawanya mereda. Dia kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Oh..." jawab Aryo sambil menikmati makanannya. "Rencana kamu habis ini apa Na?" tanya Aryo.


"Emm, belum tahu Mas, mau nyoba masukin lamaran ke sekolah-sekolah. Bentar ya, aku ambil minum." Ina kemudian bangkit dan tak lama kemudian kembali dengan membawa 2 gelas air putih yang salah satunya di letakkan di samping Aryo.


"Wah pake repot-repot ngambilin."


Mereka pun melanjutkan makan dengan sesekali mengobrol ringan. Setelah keduanya menyelesaikan aktifitas makannya, keduanya berjalan beriringan membawa piring kotor ke dapur sekalian cuci tangan.


"Alhamdulillah, nggak susah deh kalau sudah akrab gini," ucap Bu tadi dengan wajah sumringah saat melihat Ina dan Aryo yang kembali bergabung dengan mereka.


Aryo dan Ina hanya saling menatap sekilas dan tersenyum canggung.


"Ehm, sepertinya sudah bisa dibahas sekarang. Gimana Pak Sam?" Pak Yadi mulai bersuara.

__ADS_1


Pak Sam hanya mengangguk mempersilahkan. Bu Ami dan Bu Yadi nampak sudah sangat menantikan saat-saat ini. Sementara Aryo yang semula tenang mendadak canggung, karena ia tahu betul apa yang akan di sampaikan Ayahnya. Di sisi lain Ina yang masih kebingungan tak tahu harus bertanya pada siapa.


"Baiklah, sebelumnya terimakasih kepada Pak Sam sekeluarga yang sudah mengizinkan kami untuk bertamu malam ini, dan juga terutama buat Bu Ami terimakasih untuk makan malamnya. Pertama niat kami bertamu malam ini adalah untuk silaturahmi, dan yang kedua adalah membahas adakah kemungkinan kedua keluarga kita bisa menjadi sebuah keluarga besar."


Ina mengernyit mendengar penuturan Pak Yadi. Ia juga belum paham kenapa wajah kedua orang tuanya juga sumringah kali ini. Mau menyerah untuk bertanya tapi dia segan. Saat menatap Aryo lekas mendapat jawaban tapi Aryo malah enggan menatapnya dan menunduk.


"Nak Ina bingung ya dengan apa yang baru saja saya katakan?" tanya Pak Yadi.


Ina hanya mengangguk sebagai jawaban.


Pak Sam menghela nafas. "Sebelum Pak Yadi membahas lebih lanjut, izinkan Ayah bertanya. Apakah ini sekarang sedang ada hubungan dekat dengan laki-laki?"


Ina kembali menggeleng. Ini sebenarnya hanya basa-basi saja karena sebenarnya Pak Sam dan Bu Ami sudah tahu kalau anak sulungnya ini sedang tidak ada hubungan dengan laki-laki.


"Baiklah kalau begitu silakan Pak Yadi teruskan..."


"terima kasih Pak Sam." Pak Yadi kemudian memandang Ina, diikuti oleh yang lainnya kecuali Aryo yang masih menunduk. "Jadi begini Nak Ina, setelah menimbang-nimbang dan berbincang dengan Pak Sam, saya bermaksud menjodohkan Nak Ina dengan Aryo anak saya," ucap Pak Yadi sambil menepuk bahu Aryo yang duduk disampingnya. "Bagaimana menurut Nak Ina."


Ina bingung bagaimana harus menjawab. Dia kemudian melirik ayah ibunya. Keduanya tersenyum hangat dan menyerahkan keputusan pada Ina tanpa suara.


"Apakah harus dijawab sekarang?" tanya Ina.


Saat Pak Yadi hendak menjawab, tiba-tiba Aryo bersuara. "Maaf, apakah boleh saya bicara."


Pak Yadi menatap Putranya.


"Tentu, yang akan menjalani kan kalian." Bukan Pak Yadi yang menjawab, tapi Pak Sam.


"Ijinkan kami saling mengenal terlebih dahulu, barang seminggu atau dua minggu, setelah itu, kami akan memberi kepastian pada Ayah Bunda juga Pak Sam dan Bu Ani."


Mendengar itu Ina mengangguk. Akhirnya malam itu berlalu dengan canda tawa kedua keluarga. Ketika larut menjelang, akhirnya Pak Yadi dan keluarganya pamit untuk pulang.


TBC


What happen on the next part?


Yang masih bingung kenapa Senja sebegitunya nggak boleh deket sama laki-laki mulai terjawab ya.


Semoga terhibur.


Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2