
"Anak orang mau di bawa kemana Ga?" tanya Bambang yang masih nongkrong di depan kelas bersama teman-temannya.
Arga hanya tersenyum.
"Ga. Nitip ke Pak Bayu!" Dewi teman sekelas Arga berteriak dan berlari dari dalam kelas.
Arga menghentikan langkahnya. "Maaf Dew nggak bisa."
Dewi mematung di tempatnya. Jadi beneran Arga punya pacar?
"Dew." Arga memanggilnya.
"A, aku kumpulin sendiri aja." Dewi berjalan mendahului Arga.
"Dia kenapa?" tanya Arga pada Bambang dan beberapa temannya yang ada di sana.
"Patah hati kali lihat kamu gandengan sama cewek."
Celetukan Hari dan gelak tawa mereka membuat Senja berusaha menarik tangannya dari genggaman Arga. Namun Arga justru mengeratkan genggamannya.
Arga menunduk dan berhenti tepat di telinga Senja. "Nggak usah dilepas." Bisik Arga sambil menyelipkan anak rambut Senja.
"Wwaaaaaaaaaa...." semua bersorak melihat tingkah tak biasa dari Arga.
Apa kabar Senja?
Dia hanya bisa diam dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Arga menarik Senja perlahan untuk menjauh dari mereka.
Tito yang hendak meninggalkan kelasnya tak sengaja melihat Arga dan Senja yang berjalan dengan tangan saling menggenggam menuju tempatnya berdiri. Sementara itu dari arah lain, nampak Indra yang baru saja keluar dari kelasnya. Tito menyeringai saat sekelebat ide muncul di benaknya.
"Kayaknya seru nih."
Tito bergegas untuk menghampiri Indra.
"Ndra!" panggil Tito.
Indra pun menghentikan langkahnya. "Apa Bang." Tepat saat ia menoleh ke arah Tito, tanpa sengaja ia melihat Senja dan Arga berjalan di belakangnya seniornya ini. Tangannya mengepal kuat saat ini.
"Tuh," Tito menunjukkan pemandangan yang sangat Indra benci saat ini.
Bagai sumbu yang tersulut api, emosi Indra langsung berkobar. Dengan tangan terkepal ia berjalan melewati Tito ke arah Senja dan Arga.
"Ndra, jangan kelewatan Ndra," ucap Tito memperingatkan.
Indra sama sekali tak menghiraukan peringatan Tito.
Arga pun sibuk memperhatikan Senja yang masih tersipu malu akibat di goda kawan-kawannya sama sekali tak menyadari kalau sekarang ada Indra yang sedang berjalan ke arahnya.
Bugh!
Arga terhuyung saat mendadak mendapat serangan di perutnya.
Tito menepuk jidatnya tak percaya. "B*go!"
Dia segera berlari menghampiri Indra untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Bukannya dia sudah tobat, tapi cari mati namanya berantem di sekolah saat jam efektif seperti ini.
"Nrda inget Ndra, ini masih jam sekolah." Tito yang berusaha menahan Indra untuk tak lagi menyerang Arga yang masih dalam posisi tersungkur.
Bukannya tenang, Indra justru menghempaskan tubuh Tito hingga tubuhnya terpelanting.
"Ndra, jangan gila!" kembali Tito memperingatkan Indra.
__ADS_1
Bugh! Bugh!
Indra menahan pukulan ketiganya saat sadar siapa yang baru saja menerima dua pukulan beruntunnya.
"Senja..." Indra menggumam lirih.
Ia menatap nanar gadis yang di sukainya tersungkur dalam pelukan laki-laki lain.
"Senja..." Arga meraba sudut bibir Senja yang berdarah.
Arga menyingkirkan Senja dan hendak bangkit untuk membalas Indra.
"Kak..." Senja memegang tangannya. Ia menggeleng.
"Tapi kamu di pukul Senja...!" Ucap Arga setengah berteriak.
Keadaan menjadi gaduh. Banyak anak mengerubungi mereka. Teman-teman Indra sudah banyak berkumpul di sana.
"Ada apa ini!" Pak Min guru BK mereka langsung datang saat melihat ada kegaduhan di salah satu sudut sekolahnya.
"Ada yang berkelahi Pak," ucap salah seorang siswa yang berkerumun.
"Arga! Kamu berkelahi? Sama perempuan?" tanya pak Min karena melihat Arga yang sedang di pegangi oleh seorang siswa putri yang nampak mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
"Dia Pak yang mukul mereka." Bambang menunjuk Indra karena ia tahu persis bagaimana tindakan pemukulan itu terjadi.
"Sekolah ini tempat untuk mencetak orang terpelajar bukan preman. Kalian ikut saya ke ruang BP."
"Siapa Pak?" tanya Tito.
"Indra, kamu juga." Pak Min kemudian menatap Arga. "Arga juga dan..." pak Min memperhatikan Senja yang tertunduk. "Arga bawa dia ke UKS, setelah itu kalian juga menyusul ke ruang BP."
"Iya Pak," jawab Arga.
Arga segera membantu Senja berdiri. "Apa yang tadi kena pukul?"
"Pundak Kak."
"Sama ini?" tanya Arga sambil meraba sudut bibir Senja yang membuat sang empunya meringis. "Sakit?" tanya Arga lagi.
Senja mengangguk.
"Senjaaa....!" Sita yang panik langsung menghampiri Senja.
Arga tersenyum lega mendapati kedatangan sahabatnya ini.
"Ta, bantuin Senja ke UKS ya." Setidaknya kamu perempuan, bukan laki-laki seperti aku yang membawa Senja ke UKS. Jadi kalau Pak Atma lihat, Senja tak harus kena marah.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sita.
"Ke BP. Nanti kalau udah sekalian bawa Senja ke BP juga ya."
Sita mengangguk dan membawa Senja ke UKS. Rivan dan Wahyu sudah sibuk dengan organisasinya, jika tidak dapat dipastikan mereka akan turut membantu Arga.
"Bisa jalan?" tanya Sita pada Senja.
"Sebenarnya langsung ke BP nggak apa-apa Kak."
"Tu berdarah lo."
Senja meraba sudut bibirnya. Ternyata darah dari sudut bibirnya masih ada. Akhirnya Senja pasrah saat Sita menuntunnya.
Arga berjalan cepat untuk menyusul Pak Min.
__ADS_1
"Arga...!"
Arga melihat pak Bayu memanggilnya dari ruang seni. Di sana nampak pula Atma dan beberapa guru dari luar sekolahnya tengah berbincang.
"Iya Pak," jawab Arga saat sudah berada di samping pak Bayu.
"Tugas teman-temannya sudah di taruh di meja saya?" tanya Pak Bayu.
"Sudah Pak."
"Terimakasih ya."
Arga mengangguk hormat. "Kalau sudah saya permisi ke BP Pak."
"Ke BP? Ada perlu apa kamu ke BP?"
Tepat saat pak Bayu bertanya pak Min terlihat keluar dari ruang BP. Ruang seni dan ruang BP letaknya memang bersebelahan.
"Arga bukannya masuk malah di sini ternyata." Pak Min mendekat dan menyalami Atma dan beberapa orang lain di sana.
"Tumben Ga kamu keciduk Pak Min."
Atma manatap sinis Arga. Ternyata kamu biang onar juga. Tak salah memang Atma berfikir seperti itu, pasalnya anak yang berurusan dengan pak Min biasanya adalah anak-anak yang suka bikin onar.
"Sesekali nggak apa-apa lah Pak." Bukannya menjelaskan, pak Min justru bercanda menanggapinya.
"Bikin ulah apa kamu?" sarkas Atma.
"Bukan, bukan." Pak Min cepat-cepat mengelak tuduhan yang dilayangkan pada anak didiknya. "Arga ini justru korban bersama seorang siswi."
"Maksudnya?" tanya Atma.
"Cahaya kena pukul Pak, dan yang mukul ada di ruang BP?" terang Arga.
"Cahaya?" Atma berubah panik saat nama adiknya disebut. "Sekarang dia di mana?"
"Dia sedang ke UKS?"
"Dia terluka?"
"Sedikit berdarah di sudut bibirnya."
Ada amarah dalam sorot mata Atma.
"Pak Atma tenang ya. Sekolah pasti akan menindaklanjuti kejadian ini."
"Saya permisi dulu Pak, saya ingin melihat kondisi adik saya."
"Pak Atma."
Atma menoleh saat Arga memanggilnya.
"Cahaya lewat depan ruang guru."
"Terimakasih."
Setelah berterimakasih kepada Arga, Atma segera meneruskan langkahnya.
TBC
Apes nggak tuh.
Udah kebakar cemburu, eh malah masuk BP.
__ADS_1
Say something dear.