SENJA

SENJA
118


__ADS_3

Usai mengantar Sky dan Sora, Senja langsung kembali ke rumah sedangkan Langit langsung menuju kantor yang letaknya tak jauh dari sekolah Sky dan Sora.


Baru pintu lift lantai dua belas terbuka, Marko sudah berdiri menyambut Langit dengan senyum yang merekah.


"Ngapain dia disitu?" Tanya Langit pada Hengky.


"Mungkin dia mengharapkan sesuatu dari anda, pak. Senyumnya terlihat berbeda." Jawab Hengky.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Marko ketika Langit keluar dari lift.


Langit acuh meninggalkan Marko yang sudah susah payah menyambutnya.


"Ngapain sih lo?" tanya Hengky.


"Udah, Ikut aja." Marko mengejar Langit yang sudah pergi keruangannya dulu.


"Stop-Stop!!" Marko menghentikan langkah sekretaris Langit yang akan masuk keruangan Langit. "Nanti aja, ya." Kata Marko, Ia segera masuk ke ruangan Langit.


"Lang, kita perlu bicarakan urusanku dulu." Rengek Marko.


"Lo masih gak paham juga penjelasan gue semalam?" Langit melepaskan jasnya, "Ky! Apa jadwal gue?"


"Lo jawab, gue putus sahabat sama Lo" Marko mengancam Hengky yang baru saja membuka ipadnya.


Hengky yang kebingungan melatakkan ipadnya diatas meja Langit.


"Sebenarnya apa sih yang terjadi?" Tanya Hengky kesal.


"Jadi semalam dia gak ngrecokin lo?" Langit balik tanya.


"Telpon sih dia, ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari dia."


"Lo tahu gue telponin dan sengaja gak lo angkat!?" Tanya Marko kesal.


Hengky menggeleng, "gue beneran gak tahu kok. Kan hp gue kalo malem gue silent."


"Lamaran dia udah diterima Zia dan Dia mau hari ini kita pergi nemuin orangtua Zia, ngelamarin Zia. Gila gak tuh?" Langit menjelaskan dengan penuh emosi.


"Ya gak apa kali, Lang. Kita bisa pergi setelah kerjaan selesai."


"Lo emang sobat gue yang paling pengertian, Ky." Marko memeluk Hengky dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Ya, Gue tahu di umur lo yang udah Kepal tiga ini Lo belum pernah ngerasain enaknya surga dunia. Gue dukung lo cepet halalin Zia." Hengky membalas pelukan Marko.


"Yaudah, ke Solo berdua aja kalian." Usir Langit.


"Ngapain ke Solo?" Tanya Hengky.


"Nemuin orang tua Zia, dia kan orang Solo." Jawab Langit.


"Hah!!" Hengky mendorong tubuh Marko, "Gila aja Lo, Ko. Kawin sih kawin, tapi ya lihat sikon juga. Paling gk ke solo makan waktu tiga harian disana. Trus kerjaan disini siapa yang ngehandel?"


"Lo kok jadi belain Langit sih, Ky? Lo udah gak sayang ama gue?" Marko menarik lengan jas Hengky.


"Ih, Jangan bikim gue geli." Hengky menarik lengannya.


"Ko, Lo bicarain sama Zia. Kapan orang tuanya siap menerima kedatangan elo dan tanya jadwal Om Irawan. Gimana pun juga, Om Irawan yang bakal nikahin lo sama Zia nanti." Langit mengulang kalimatnya semalam.


"Kapan bokap lo balil dari Hongkong, Ky?" tanya Marko ke Hengky.

__ADS_1


"Dari kecil gue lebih tahu jadwal Langit daripada jadwal bokap gue sendiri. Telpon sendiri sana." Hengky membuka kembali Ipadnya, bersiap menjelaskan jadwal Langit hari ini.


"Udah, lo balik ke ruangan lo sana. Kalo sampai proyek yang lo kerjain ini gagal, gak bakal kawin lo!!" Langit mengancam.


Dengan mayun Marko meninggalkan ruangan Langit dan masuk ke ruangannya. Anita, Sekretarisnya ikut masuk ke dalam ruangan mencoba menjelaskan ulang beberapa berkas yang ada diatas mejanya.


"Dan untuk proyek baru dengan investor Singapore, mereka meminta jadwal rapatnya maju menjadi pukul sepuluh pak." Anita menutup Ipadnya.


"Ah, kenapa semua tidak berjalan sesuai keinginan gue sih!" keluh Marko.


"Apa ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanya Anita


Marko menggeleng, "aku akan memanggilmu jika ku butuhkan." kata Marko.


Anita mengangguk kemudian meninggalkan ruangan Marko.


Marko terlihat kesal dengan berkas-berkas di mejanya sedangkan ia ingin sekali segera menghubungi Zia membicarakan sesuatu yang serius tentang masa depan mereka.


*********


Tepat pukul Sebelas siang Mobil yang dikendarai Agung sudah terparkir di depan gedung sekolah Sky dan Sora, Senja turun dari mobil lalu bergabung dengan Zia dan Kartika juga beberapa wali murid lain yang sudah siap menjemput anak-anak mereka.


"Jeng, kamu yang punya anak kembar itu ya?" Tanya seorang wanita muda dengan barang-barang branded menempel di badannya.


"Iya, Mbak." Jawab Senja.


"Eh, kok Mbak sih? emangnya aku ini pembantu apa di panggil mbak." Protesnya, ia mengulurkan tangan. "Casandra."


Senja meraih tangan Casandra, "Saya Senja."


"Ini Melly, Zian sama Ola." Candra memperkenalkan beberapa teman disampingnya, yang sama-sama terlihat glamor.


"Pindahan dari mana kamu Jeng?" Tanya Melly.


"Dari Malang." Jawab Senja, Ia ingin sekali segera pergi menghindari sekumpulan sosialita itu.


"Oooh, dari kampung ya?" Tanya Ola


Senja hanya tersenyum.


"Suami kamu kerja apa?" Casandra melirik mobil Senja.


"Punya usaha kecil-kecilan." Jawab Senja.


"Oooh, Suami dia yang ganteng itu lho Sand. Tadi pagi ikutan nganter, kamu gak tau sih." Zian mencoba memberitahu.


Senja kesal sekali lihat wanita didepannya itu memuji suaminya tanpa sungkan.


"Oh, anak baru kayanya. Nama perusahaan suami mu apa sih?" Tanya Casandra.


"Ya, adalah... Bukan perusahaan besar kok." Ucap Senja. "Permisi, saya kesana dulu ya." Senja menunjuk tempat Zia dan Kartika duduk bersama Beberap orang lain.


"Hei hei." Melly menarik tangan Senja. "Itu tempatnya pembantu-pembantu nunggu. Udah disini aja sama kita."


"Gak apa, sekalian mau bicara sama asisten ku." Senja melepaskan dengan halus tangan Melly, kemudian meninggalkan sekumpulan sosialita itu.


"Kog dia mau sih kumpul sama pembantu?" Bisik Zian.


"Kayanya dia bukan orang kaya-kaya banget." Tambah Casandra.

__ADS_1


"Tapi mobilnya Alphard keluaran terbaru San?" Ola melirik mobil MVP putih milik Senja.


"Tapi dilihat dari pakaiannya kaya biasa aja dia. emang gak kaya kaya banget kayanya." Tambah Melly


"Besok coba kita ajak dia ikut arisan geng kita aja." Kata Casandra.


Senja tau jika wanita-wanita tadi masih membicarakan dirinya, walaupun kesal ia memilih tak ambil pusing dan menunggu anak-anaknya keluar.


Tak lama terdengar suara bunyi bel tanda siswa TK sudah akan keluar.


Senja segera berdiri untuk menunggu anak-anaknya didepan gerbang.


Zia dan Kartika berdiri disamping kanan dan kiri Senja bersama beberapa orang lain.


Satu per satu bu Guru menyebut nama siswanya yang siang untuk dijemput. Sky dan Sora masih antri dibelakang sambil melambaikan tangan mereka.


Setelah sabar menunggu, sampailah giliran Sky dan Sora di panggil. Senja langsung menghampiri mereka dan mengajak ke mobil.


"Jeng Senja."


Senja berhenti ketika namanya dipanggil. Itu Casandra dengan anak laki-lakinya dan seorang asistennya.


"Ya?"


"Lain kali, yang nunggu anak-anak keluar biar pembantu-pembantu aja. Kita duduk manis aja di ruang tunggu, biar gak kepanasan." Ucap Casandra.


Senja hanya tersenyum.


"Sampai besoook ya?" Casandra melambaikan tangan meninggalkan Senja.


Senja menatap Zia dan kartika merasa tidak enak, "Maaf ya, aku udah buat kalian direndahkan orang lain."


"Tidak Nona." Kompak Zia dan Kartika menjawab.


"Ini memang tugas kami, Nona tidak perlu mengkhawatirkan kami." Zia mencoba membuat Senja tak khawatir.


"Kami tidak mempedulikan perkataan orang lain, Nona. Yang kami pedulikan hanya keselamatan Tuan muda dan Nona Muda." Tambah Kartika.


Senja masih merasa tidak enak, apalagi mengingat Zia adalah calon istri Marko. Makin membuatnya tidak enak.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2