
^^^Yuk yang jempol yang jempol.^^^
^^^Makasih ya, kehadirannya.^^^
^^^Happy reading.^^^
"Senja!"
Arga segera menoleh kala mendengar ada yang meneriakkan nama Senja.
"Kak, ada yang pingsan!"
Mendengar teriakan itu Arga segera bangkit dan berlari.
Arga POV
Senja pingsan. Kenapa anak itu sama sekali tak bisa menjaga dirinya sendiri. Apakah dia juga seperti ini sebelum aku masuk di hidupnya.
"Kak."
Sahabat mungil Senja ini nampak panik. Hani, salah seorang panitia datang menghampiri kami.
"Kalau dibawa ke sekolah cukup jauh, nggak enak juga dilihat warga," ucap Hani kemudian.
Aku segera mengangkat tubuh kecil ini. Belum tahu akan kubawa kemana, yang jelas tak tergeletak di tengah jalan kayak gini.
"Mau kamu bawa ke mana Ga?" tanya Hani.
"Biar dibawa ke rumah Angga aja," timpal Wahyu.
"Adik-adik lanjut ke sekolah ya!" interupsi Hani pada peserta lain yang sempat berhenti karena melihat Senja pingsan.
Aku segera membawanya ke rumah Angga dan membaringkannya di kamar Angga.
"Senja, Senja," aku menepuk pelan wajah pucatnya.
"Pakai ini Ga," kata Hani dengan menyodorkan minyak kayu putih padaku.
"Ini diapain?" tanyaku yang tak tahu harus berbuat apa.
"Ya ampun, sini!"
Hani menyerobot kembali minyak putih yang semula diberikannya padaku. Dia membuka tutup flip top-nya, dan segera mengoleskannya di dekat hidung Senja.
"Dia siapa kamu Ga?" tanya Hani.
Aku diam tak bereaksi. Senja siapaku? Saudara bukan. Teman bukan. Pacar? Ah, sudahlah. Dia masih kecil.
"Ga, kok pucet banget sih," ucap Hani lagi.
Aku kembali memperhatikan wajah Senja.
"Senja hei," aku meraih tangan dingin itu dan menggenggamnya. Hani segera bangkit dan mempersilahkan ku duduk di sana.
"Nggak akan bahaya kalau dia cuma kecapekan."
Aku mendongak menatap Hani sebentar kemudian beralih menatap Senja kembali. "Dia baru kena tipes."
Hani nampak terkejut. "Kok dia nekat ikut persami sih?"
”Tck, kamu sama sekali nggak ngeh siapa anak ini?" tanyaku tanpa menatap Hani.
Dia tak menjawab.
"Dia yang kemarin mewakili anak kelas VII buat sambutan dan semalem yang jadi petugas api unggun," lanjutku kemudian.
Hani mulai mengamati Senja. "Masa iya, kayaknya aku nggak pernah lihat dia pas latihan petugas api unggun."
"Nggak lihat karena dia gantiin petugas yang kemarin tiba-tiba tak hadir karena kecelakaan."
Hani nampak mengernyitkan dahinya. "Dia anak yang kemarin nggak ikut jelajah?"
"Iya, dan kamu jadi yang paling depan menentang keputusan Rivan hingga akhirnya aku datang dan bilang kalau dia pingsan," ucapku dengan sedikit geram.
Hani terdiam kemudian. Aku tak bohong, meskipun nyatanya Senja pingsan bukan karena sakit tapi karena takut sama tikus.
"Kamu balik aja nggak apa kok Han, biar dia aku yang jagain."
Hani diam sejenak dan mengangguk kemudian.
__ADS_1
"Nitip ya Ga."
Aku hanya mengangguk menanggapinya.
Tak lama setelah Hani kembali ke sekolah, Angga datang dengan segelas teh hangat.
"Makasih ya," ucapku saat menerimanya.
"Iya Mas, semoga nggak kurang manis atau kemanisan. Ibu lagi ke pasar soalnya, makanya aku yang buat," ucapnya dengan tulus.
"Makasih banyak. Kalau kamu repot nggak apa-apa kamu lanjut," ucapku pada Angga.
"Iya deh Mas, aku mau jemur cucian dulu, daripada disambel sama Ibu kalau ketahuan belum aku jemur, hehehe."
Aku hanya melayangkan senyum sebelum dia pergi. Tak lama kemudian Senja akhirnya siuman. Saat itu pula aku baru sadar kalau ternyata sejak tadi aku masih menggenggam tangannya.
"Kak," lirihnya dengan menatapku.
Aku tersenyum dan mengeratkan genggamanku.
"Aku ngelamun lagi pasti ini," gumamnya lagi.
"Ngelamun? Ngomong apa sih kamu?"
Mata sipitnya membulat, kemudian mengerjap-ngerjap lucu sekali. Aku tak bisa menahan sudut bibirku untuk tak terangkat.
"Ini Kak Arga? Kakak beneran datang?" ucap Senja dengan mata yang sesekali mengerjap.
"Iya, ini aku. Aku nggak punya kembaran kok yang bisa bikin kamu bingung," ucapku yang entah mengapa begitu bahagia.
"Makasih ya Kak."
"Makasih buat?" tanyaku sambil membantunya bangkit.
"Buat di toilet kemaren, buat pas aku pingsan kemarin, buat bubur tadi malam, dan..."
Melihat dia menggantung ucapannya, aku segera menyodorkan teh hangat untuk diminumnya. Setelah meminum sedikit teh itu, Senja kembali memandangku.
"Buat jaket semalem. Aku ngerasa dari kemaren aku sama sekali belum mengucapkan terimakasih. Makasih banyak ya Kak," lanjutnya kemudian.
Kembali sudut bibirku terangkat, kali ini tak hanya melengkung tapi terbuka lebar hingga menampakan deretan gigiku.
"I, iya makasih juga," ucapnya malu-malu.
"Kalau makasih ini dihabisin ya." Aku kembali menyodorkan teh manis itu padanya, namun Senja menahan tanganku. Dia menggeleng saat aku menatapnya.
"Kenapa?"
"Boleh nggak kalau nggak habis?" lirihnya.
"Memangnya kenapa?"
"Eemmm, manis banget," ucapnya ragu.
Aku terkikik geli, anak ini bisa juga ngerayu.
"Manis apaan, asem iya. Kan aku belum mandi," ucapku di sela tawa.
"Ha?!" Dia kembali membulatkan kan matanya.
"Kenapa lagi, terlalu manis?" tanyaku dengan mencoba menatapnya lebih intens.
"Iya Kak tehnya. Jadi kalau aku minum lebih banyak lagi bisa-bisa muntah."
Krak krak kratak!
Lancar sekali bocah ini bicaranya. Tahukah kalau di sini ada yang patah tapi bukan ranting?!
"Ehm, aku kebelakang dulu."
Aku segera bangkit tanpa menunggu Senja menjawab. Yang manis tapi ternyata bukan aku itu juga ku bawa serta.
"Kak!"
Aku berhenti kala Senja memanggilku dengan sedikit berteriak.
"Kakak wajahnya kenapa?"
Aku tak menjawab, bahkan kembali melangkah meninggalkan Senja tanpa jawaban.
__ADS_1
Mukaku kenapa? Dia khawatir dengan lebam inikah? Ah jangan ke-GR-an. Jangan-jangan maksudnya di muka aku ada belek atau ilernya.
Hingga tiba dimana aku menghampiri Angga.
"Kamu gimana sih bikin tehnya?!"
Angga terkejut hingga nyaris menjatuhkan jemuran yang dipegangnya. "Ya ampun Mas, bikin kaget aja."
"Ya habis, orang baru pingsan minum teh buatan kamu bukannya enakan tapi malah pengen muntah."
"Siapa Mas?" tanya Angga dengan wajah bloon nya.
"Itu Senja."
"Senja? Senja siapa Mas?"
"Adu jotos yuk!" ucapku sambil meraih krah bajunya.
"Ampun Mas, Angga nggak mau bonyok kaya Tito semalam," ucapnya sambil menangkup kedua tangan di depan dada.
Aku menghempaskannya kasar.
"Udah ah aku balik lagi!" ketusku.
"Ke mana Mas?"
"Iisshhhh, pengen ngerasain aku tonjok?"
Angga hanya menggeleng takut. Aku kemudian berlalu meninggalkan Angga yang masih bengong.
Ya ampun, tadi aku mikirnya gimana sih. Masa iya Senja muji aku manis. Kalaupun iya, dia kan juga pasti malu untuk langsung bilang terang-terangan kayak gitu. Jadi malu kan, udah ke GR-an ternyata yang maksudnya manis itu teh nya. Aku mendadak pengen berantem deh. Nggak ada apa yang bisa aku ajak berantem sekarang.
"Kak."
Aku melonjak kaget saat tiba-tiba Senja sudah berada ada di sebelahku.
"Kaget ya, hehehe."
Udah tahu nanya!
"Hehehe," aku menanggapinya dengan tawa yang sama.
"Bisa numpang ke kamar mandi nggak?" tanya Senja dengan memegangi perutnya.
"Kenapa kamu sakit perut?!" panikku dengan memegang kedua bahunya.
"Kebelet Kak."
"Oh." Aku segera mengantarkannya menuju kamar mandi di rumah Angga. Saat tiba di kamar mandi, aku segera membuka pintu dan masuk terlebih dahulu.
"Kakak ngapain?"
"Ya bantuin kamu."
"Tck, Kakak keluar cepet!"
Apa? Bocah kecil ini membentakku?
"Ceppeeeeettt!"
Dan apalagi ini, dia bahkan berani mendorong-dorong tubuhku.
Brak!
Aku berjingkat dengan mata terpejam saat Senja mendorong pintu kamar mandi dengan kuat dari dalam.
Dia kenapa sih?!
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.
__ADS_1