
Usai makan siang, Zia mengikuti Marko yang mendapatkan jadwal rapat di luar kantor bersama dengan Anita.
Sebuah Hotel mewah menjadi salah satu tujuan mereka.
"Lo tunggu diluar aja ya, Zi? Kali ini tamunya berbeda dari biasanya. Dia gak terlalu suka orang baru." Kata Marko.
"Baik, Tuan." Kata Zia setuju.
Zia menghentikan Langkahnya tak berlanjut mengikuti Marko dan Anita. Ia pergi keluar hotel menunggu Marko dan taman hotel bersama Johan, Sopir Marko yang masih seumuran dengan Zia.
Cukup lama Zia dan Johan mengobrol masih belum ada pesan masuk dari anita ke whatsapp Johan yang memintanya menyiapkan mobil.
"Emang lama banget ya kalau rapat?" Tanya Zia
"Iya, kadang bisa sampai empat jam, lima jam. Sampe aku ketiduran Zi." Jawab Johan.
"Bosen banget ya pasti kamu."
"Enggak, orang aku nunggunya sambil tidur. Hahahahaha." Johan tertawa terbahak-bahak, sedangkan Zia hanya tersenyum karena menurutnya itu lelucon yang biasa aja.
"Han, aku pergi ke toilet bentar ya." pamit Zia.
Ia berdiri meninggalkan taman dengan terburu-buru, di tengah langkahnya seseorang menarik tangannya dari belakang. Dengan sigap Zia memutar badannya dan mencoba mencekram orang yang berani menarik tangannya tanpa ijin.
Belum sempat tangan Zia sampai ke tubuh orang tersebut, tangannya sudah langsung dicengkram dan membuat tangan dan tubuhnya terkunci dipelukan orang tersebut hingga dia tak bisa menoleh ke belakang melihat orang tersebut.
"Gue bos lo, Zi!"
"Hah! Maaf Pak." Zia menarik tubuhnya menjauh dari Marko.
Ia melihat Marko dan Anita disana, "Maafkan saya, Tuan." Ucap Zia.
"Parah Lo! Bos sendiri mau lo hajar, masih untung gue gercep!" Protes Marko.
"Maaf pak, maafkan saya. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi saya ijin ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu jawaban Marko Zia berlari meninggalkan Marko dan Anita.
"Kamu denger aku ngimong iya apa enggak An?" Tanya Marko
"Tidak, Pak." Jawab Anita.
"Trus, kenapa dia bisa pergi tanpa persetujuanku?" Marko keheranan.
Anita diam tak menjawab.
Sedangkan Zia buru-buru pergi ke toilet terdekat. Sebenarnya ia malu sudah memperlakukan Marko seperti itu apalagi dia juga kalah cepat. Bagaimana bisa dia disebut pengawal.
Selesai buang air kecil, ia langsung menuju ke depan lobby Hotel. Anita sudah mengiriminya pesan untuk langsung menuju ke pintu lobby.
"Maaf membuat anda menunggu." Ucap Zia yang merasa tak enK harus ditunggu bos-nya.
"Kalo aja Johan datang duluan udah gue tinggal Lo." Kata Marko.
Zia tak memberi tanggapan.
Mobil yang dikendarai Johan sudah tiba, Marko dan Anita masuk dibangku belakang dan Zia duduk didepan bersama Johan. Segera Johan menekan pedal gas mobil membuat mobil mulai merambat meninggalkan halamanobby hotel.
"Udah kelar semua An?" Tanya Marko memastikan jadwalnya.
"Sebenarnya masih ada satu pertemuan lagi di kantor dengan perusahaan Kriston, pak. Karena terlalu lama menunggu, mereka sudah kembali karena kebetulan ada janji juga dengan pihak lain. Saya akan mengatur ulang jadwal pertemuan anda dengan mereka."
"Oke. Kalo gitu gue mau langsung pulang aja." kata Marko.
__ADS_1
"Tapi masih ada beberapa berkas yang harus anda selesaikan, pak." Anita mengingatkan.
"Zi, Lo ikut Anita balik ke kantor. Bawa berkas-berkas di ruangan gue pulang, gue kerjain dirumah aja." kata Marko.
"Baik, Tuan."
Johan mengantarkan Marko pulang terlebih dahulu kemudian mengantar Zia dan Anita ke kantor. Sampai di kantor mereka langsung ke ruangan Marko.
Anita membereskan beberapa berkas yang harus di tanda tangani Marko dan memberikannya pada Zia.
"Karena lo asisten pribadi pak Marko, lo harus pastikan dia menyelesaikan semua berkas ini. Karena besok ini harus gue kerjain." Ucap Anita
"Baik, Mbak."
Zia keluar ruangan dengan membawa setumpukan berkas-berkas untuk Marko. Dia langsung menuju ke mobil Johan yang sudah menunggunya di Basement.
"Sudah?" Tanya Johan ketika Zia baru saja memakai seatbeltnya.
"Iya, Han. Sudah." Jawab Zia.
Johan langsung melajukan mobilnya.
**********
Zia baru saja selesai menyantap makan malamnya dan memeriksa keadaan tiga hewan berbulu yang tinggal disebuah kandang kaca. Makanan dan air minum sudah ia pastikan cukup hingga besok pagi. Dia beranjak ke kamarnya untuk merebahkan badannya.
"Mbak Zia."
Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamarnya. Baginya, ketika namanya di panggil sebuah pekerjaan sudah menunggunya.
"Ya?" Zia melihat Idah disana.
"Den Marko nunggu Mbak Zia di ruang kerjanya."
Tok tok tok
Zia mengetuk pintu ruang kerja Marko yang ada di lantai dua.
"Masuk, Zi."
Zia membuka pintu, ruanga tak terlalu besar. Hanya ada sebuah meja dan kursi dengan beberapa almari yang berisi banyak buku. Sebuah piagam penghargaan sebagai MUA juga tergantung rapi menghiasi dinding.
"Ambil kursi, Zi. Duduk sini." kata Marko
Zia celingukan disekitar ruangan, namun ia tak mendapatkan kursinya. Ia memutuskan untuk mengambil kursi di rumah belakang lalu kembali.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya Zia.
"Duduk aja." Jawab Marko, pandangan matanya tak pindah dari berkas-berkasnya.
Zia duduk, diam didepan Marko melihat Marko sibuk dengan kertas-kertas yang tidak ia pahami.
Sepuluh menit
Tiga puluh menit
Empat puluh lima menit
Satu jam
Satu setengah jam
Dua Jam
__ADS_1
Sampai hampir Dua setengah jam Zia duduk diam didepan Marko. Dia hanya bergerak ketika pantatnya merasa lelah. Selebihnya dia tak bergerak meninggalkan kursi. Dia menyibukkan diri dengan memikirkan banyak hal berharap Marko segera mengucapkan sebuah kalimat perintah baginya.
Zia melihat tinggal satu bendel berkas lagi di tangan Marko. Sebuah angin segar baginya.
Marko masih membacanya lembar demi lembar. Dan semakin Zia memperhatika lembaran demi lembaran itu entah kenapa semakin lama waktu yang ia rasakan.
"Hatchih!"
Zia bersin dan membuat Marko terkejut.
"Lo ngapain disini Zi?" Tanya Marko heran.
"Hah!!" Ingin sekali Zia mengumpat.
Marko mengambil remote AC dan mematikannya. "Sorry, Zi. Gue lupa kalo ada elo disini."
Zia terpaksa memberikan senyuman.
"Gue mau nyuruh lo apa ya?" Marko mencoba mengingat sesuatu.
Dan Zia masih menunggu.
"Gue lupa, Zi. Besok aja ya Zi, gue inget-inget dulu." Ucap Marko. "Lo balik ke kamar aja, istirahat. Jangan lupa tugas pagi Lo."
Zia berdiri dengan hati-hati karena kakinya sangat kaku terlalu lama tertekuk.
"Saya pamit kembali ke kamar, Pak." Ucap Zia berjalan pelan meninggalkan ruangan Marko.
Melihat Zia berjalan seperti itu membuat Marko merasa bersalah, Ia melihat jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya Zia duduk diam disitu dua jam lebih.
Marko segera menyelesaikan sisa berkasnya dan menumpuknya kembali. Ia berdiri dan merenggangkan otot-ototnya.
Ia teringat sesuatu ketika melihat Ipad yang ada di samping ponselnya.
"Baru inget gue! Kan gue manggil Zia mau ngasih Ipad ini buat dia."
Ia mengambil menekan sebuah tombol di telpon yang ada diatas meja kerjanya. "Bi, suruh Zia ke ruang kerja saya lagi."
"Baik Den."
Marko merapikan meja kerjanya sambil menunggu Zia datang. Namun bisikan dari malaikat baik hati dan tidak sombong berdengung di telinganya.
Kasihan kalau lihat Zia kesini lagi setelah dia duduk diam lebih dari dua jam. Akhirnya Marko memutuskan dia saja yang menghampiri Zia.
Marko keluar ruangan, lampu-lampu ruangan sudah mati dan diganti dengan lampu lampu kecil. Marko buru-buru menuruni anak tangga menuju ke rumah belakang.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1