SENJA

SENJA
148


__ADS_3

Jam makan siang Langit dan Hengky terkejut dengan kehadiran Clara di ruangannya. Wajah cantiknya kini terlihat kusut, sudah bisa dipastikan jika ia tidak tidur semalaman.


"Apa lo bisa pergi, Kak?" Clara mengusir Hengky


Tanpa banyak bicara Hengky memilih untuk pergi meninggalkan ruangan Langit.


"Apa yang terjadi dengan muka Lo, Ra?" Tanya Langit.


"Gak usah pura-pura gak tahu deh!" Clara pergi duduk di Sofa. "Gue mau lo nanti malam temenin gue kak! Udah dua hari gue gak bisa tidur gara-gara elo."


"Gue akan coba bicara ke Senja nanti." Langit ikut pindah duduk di sofa.


"Segitunya banget Lo takut sama istri, kak?"


"Ini bukan masalah takut atau enggak, Ra. Aku hanya harus menjaga perasaannya, itu sangat penting. Lo akan ngerasainnya kalo udah nikah nanti."


"Dan Lo akan biarin gue gak tidur setiap hari?" tanya Clara.


"Lo pasti bisa ngatasin ini, Ra. Bukannya di Asrama lo juga bisa tidur sama temen-temen lo?"


"Beberapa Bulan ini kan lo yang selalu nemenin gue, Kak. Tidur di jagain orang lain gak ada efeknya." kilah Clara.


"Lihat nanti aja ya, Ra."


Clara berdiri menghentakkan satu kakinya melepaskan kemarahannya sebelum dia meninggalkan ruangan Langit.


Langit hanya menghela nafas panjang melihat tingkah Clara. Kali ini ia benar-benar tidak mau membuat siapapun terluka, jadi dia akan sangat berhati-hati untuk mengambil keputusan.


Dan benar saja dugaannya. Baru Langit ingin memejamkan mata hendak tidur, ponselnya sudah berdering dan nama Clara muncul disana. Ia menatap Senja sebelum menekan tombol terima.


"Angkat aja, tapi kalau dia minta kamu jagain dia aku gak akan ijinkan." kata Senja, ia menarik selimut dan mematikan lampu tidur yang ada di dekatnya.


"Kenapa, Ra?" Tanya Langit sesudah ia menekan tombol terima.


"Gue kan udah minta lo kesini. kak. Kenapa udah malem gini lo belom datang?" Teriak Clara kesal dari balik telpon.


"Gue gak bisa kesana, Ra. Gue kan udah kirim mbak-mbak buat jagain lo. Masih kurang?"


"Gue gak butuh mereka, gue butuhnya lo kak!"


"Maafin gue ya, Ra. Gue gak bisa kesana." kata Langit, lalu ia mengakhiri pembicaraannya.


Ia meletakkan ponselnya dan menghela nafas panjang. Senja yang mendengar itu lebih memilih diam dan tidur.


**********


Seperti halnya kemarin ketika Senja terbangun tengah malam dari tidurnya karena ingin buang air kecil, ia mendapati Langit sudah ada di meja kerjanya dan sibuk dengan berkas-berkas disana.


"Kamu gak bisa tidur lagi mas" Senja menghampiri suaminya.


Langit mengangguk, "Iya, sayang."


Senja mengambil pena dari tangan Langit dan menutup berkas-berkas yang diatas meja. "Aku tidak tahu sepenting apa pekerjaan ini, tapi kesehatan kamu lebih penting."


Senja menarik tubuh Langit dan mengajaknya ke tempat tidur. Sebelum ia ikut berbaring ia pergi ke kamar mandi dulu barulah ia tidur menemani Langit.


Namun rupanya kali ini Langit juga masih belum bisa terlelap. Rasa lelah sudah menyebar keseluruh tubuhnya, rasa kantuk sudah dirasakannya namun matanya tidak juga mau tertutup.


Langit melihat kesamping, Senja sudah terlelap dengan memeluknya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengerjakaan pekerjaannya.


Hingga suara adzan subuh berkumandang, Langit masih tetap di meja kerjanya.


"Mas, masih gak bisa tidur juga?" Tanya Senja yang baru terbangun. Ia meregangkan otot-ototnya lalu menghampiri Langit. "Apa mas perlu ke dokter untuk konsultasi?" tanya Senja.


"Enggak dulu deh sayang," Jawab Langit. "Aku mau lari pagi aja. Mungkin karena akhir-akhir ini aku kurang olahraga."

__ADS_1


Senja mengangguk, "aku siapin bajunya ya." kata Senja.


Setelah ganti baju, Langit segera pergi untuk lari pagi. Sedangkan Senja melakukan kegiatannya seperti biasa mempersiapkan keperluan Suami dan anak-anaknya.


**********


"Lang! Lo cepetan ke rumah, Clara pingsan!"


"Apa!? Clara pingsan, Ko?" Langit mengulang kalimat Marko yang sedang memberitahunya keadaan Clara.


Mendengar hal itu membuat Langit yang baru saja tiba dari kantor mengurungkan diri untuk masuk ke dalam rumah.


"Anter gue ke rumah Marko, Ky." Langit kembali masuk ke dalam mobil.


Hengky juga kembali masuk ke dalam mobil dan Bambang segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Marko.


Sampai dirumah Marko ia melihat ada mobil Marsya disana, ia senang Marko sudah gerak cepat tanpa menunggu perintah darinya.


"Sya! Gimana kondisi adek gue?" tanya Langit ketika sampai dikamar Clara.


Marsya baru saja selesai memasang slang infus di tangan Clara.


"drop banget dia, kurang istirahat." Jawab Marsya.


Langit menghampiri Clara yang sedang terbaring diatas tempat tidur. "Maafin kakak ya, Ra." Ucapnya penuh penyesalan.


"Semoga kondisinya semakin membaik." kata Marsya. "Gue balik dulu ya. Kalian gak usah khawatir, Dia akan lebih baik kalau istirahat cukup."


"Thanks ya, Sya." kata Langit.


Marsya mengemasi peralatannya kemudian meninggalkan kamar dengan diantar Marko dan Zia.


"Saya akan kabari Nona Senja kalau anda akan menemani Nona Clara malam ini." Ucap Hengky juga meninggalkan kamar Clara.


"Kenapa sampai semalam ini papa belum pulang, Ma?" Tanya Sky yang sudah bersiap untuk tidur.


"Papa masih ada pekerjaan dikantor, sayang. Jadi kalian tidur dulu, ya." Senja terpaksa membohongi anak-anaknya.


Sky dan Sora mengangguk.


Setelah memberi kecupan dan ucapan selamat tidur pada anak-anaknya, Senja beranjak pergi kembali ke kamarnya.


Ia mencoba menghubungi Langit untuk menanyakan apakah dia akan pulang atau tidak, namun panggilan telponnya sama sekali tak menuai respon.


Senja mencoba menghubungi Zia untuk mencari tahu keadaan suaminya disana.


"Sudah saya ketuk kamarnya berapa kali tidak ada jawaban, mbak."


Jawaban dari Zia lagi lagi membuat Senja menghela nafas panjang.


"Makasih ya, Zi." Ucap Senja sebelum mengakhiri panggilannya.


Senja memilih pergi ke kamar ganti mengambil jaket nya dan keluar kamar.


"Nona mau pergi kemana?" tanya Ella yang kebetulan sedang memeriksa sekeliling rumah sebelum ia istirahat.


"Saya akan pergi kerumah mas Marko sebentar, Bu Ella." Jawab Senja.


Ella tak menanyakan apapun, "Saya akan panggilkan pak Agung untuk mengantar anda."


Senja mengangguk, ia pergi menunggu mobil di depan teras.


Setelah mobil datang, Senja langsung masuk. Dan Agung membawanya kerumah Marko yang tak terlLu jauh dari rumah Langit.


Marko yang kebetulan membukakan pintu terkejut melihat siapa tamu yang datang selarut ini.

__ADS_1


"Mas bisa antar aku ke kamar Clara?" pinta Senja.


Walau berat dan tak ingin Senja terluka, Marko pergi mengantar Senja ke kamar Clara.


Ia tak berfikir lama untuk membuka pintu kamar Clara. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi segala sesuatunya.


"Astaga, Langit!"


Kali ini Marko yang terkejut melihat Langit tertidur dengan memeluk Clara. Ia menatap Senja yang hanya diam tak bergeming, wajah Senja menatap datar pemandangan didepannya itu.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang mas? Sudah hampir seminggu ini dia susah untuk tidur malam walau aku sudah memeluknya. Dan sekarang aku melihatnya sedang tertidur pulas bersama wanita lain? Apa aku sudah tidak bisa memberi kenyamanan untuknya?"


Marko hanya diam mendengar pertanyaan Senja. Tidak, itu bukan pertanyaan. Ia hanya sedang mencoba mengeluarkan perih di hatinya.


Senja menatap Marko yang menatapnya dengan Iba.


"Apa aku semenyedihkan itu?" tanya Senja


"Nja..."


"Kalau dia terbangun besok, Tolong katakan padanya bahwa aku kemari melihatnya." Ucap Senja kemudian pergi meninggalkan Marko.


Perih, Sakit dan Marah berkecamuk di hatinya. Ia sedang terluka, amat sangat terluka. Bahkan air mata sudah tak bisa untuk mewakili hatinya yang sedang hancur.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**yeay yeay yeay!


Author Mau ngumpulin penghujat Langit nih!


Trus gaes, untuk update besok author mau minta syarat.


Kalau episode ini mencapai 100 komentar dan 200 like baru author kasih up. Gak mau tahu pokoknya kalian harus.


Plis donk jangan pelit-pelit ke authornya buat kasih like dan komentar kalean. Padahal yang ngikutin SENJA ini udah 700 lebih, tapi like dan komen author sepi-sepi amat.


Yang biasanya cuma baca baca doank sekarang wajib kasih komen dan like.


Komennya yang baek-baek ya, author nya anak baek gak bisa kalau di jahatin. wqwqwq


Ayoo donk kasih semangat buat author!


Udah hampir 150 episode nih, author kan gak pernah minta yang macem-macem.


Terus dukung aku ya**!

__ADS_1


__ADS_2