SENJA

SENJA
128


__ADS_3

Zia mengurungkan niatnya dan memberanikan diri untuk tetap berada ditempat yang menurutnya sangat asing. Tangannya mencengkram lengan Marko kuat-kuat karena grogi.


"Zi, Lo mau matahin tangan gue?" Bisik Marko.


Zia merenggangkan pegangan tangannya. "Maaf, Tuan."


"Disini panggil gue Marko atau kak Marko aja. jangan Tuan. Oke?"


"Baik." Zia menurut tanpa banyak bertanya.


Beberapa pasangan menghampiri Marko untuk menyapa dan basa basi bertanya. Tentu saja kehadiran Zia disamping Marko membuat bertanya-tanya siapa saja yang melihatnya.


"Siapa ini pak Marko?" Tanya seorang pria yang jauh lebih tua dari Marko.


Marko menatap Zia, "Tunangan saya, Pak Hendrik."


Pernyataan barusan membuat Zia sangat terkejut. Jika ingin bersandiwara kenapa Marko tak meminta ijin padanya terlebih dahulu, apalagi diacara sebesar ini.


Dibantu seorang pelayan, Marko menuju ke meja makan yang sudah tertera namanya. Ia menjawab hal yang sama ketika beberapa orang menyapanya. Zia terpaksa harus menebarkan senyuman.


Marko menarik kursi dan mempersilahkan Zia duduk terlebih dahulu, barulah Ia duduk disamping kanan Zia. Dalam satu meja terdiri dari lima pasangan. Zia hanya diam saja membiarkan Marko berbicara dengan orang-orang disekitarnya.


Marko sesekali melirik Zia yang sangat terlihat tidak nyaman berada disana. Namun ia mencoba menahan diri untuk mengabaikan perasaan Zia.


Beberapa pasangan rekan kerja Marko mencoba mengobrol dengan Zia, namun Zia tidak bisa mengimbanginya. Dia hanya gadis desa lulusan SMA yang sangat menyukai bela diri sehingga tidak terlalu pandai bahasa inggris apalagi mempunyai pengetahuan bisnis yang sangat minim. Hal itu membuatnya sangat malu pada dirinya sendiri.


Zia barusaja menyelesaikan hidangan penutup, Ia sama sekali tak berselera makan.


Ia mendekatkan pundaknya pada Marko. Marko yang mengerti Zia akan mengatakan sesuatu jadi mendekatkan pundaknya juga.


Zia menutup mulutnya dan berbisik di telinga Marko. "Saya akan kembali ke kamar dulu, tuan."


Marko menatap Zia, Ia melihat mata Zia yang terlihat menahan amarah disana.


Tanpa menunggu jawaban Marko, dia berdiri dan pamit ke wanita disebelahnya.


"Ya, hati-hati." Wanita itu melambaikan tangan.


Zia beranjak pergi meninggalkan ruangan, langkahnya sangat hati-hati karena ia tidak ingin mempermalukan dirinya dengan jatuh diantara para konglomerat itu.


Keluar dari Ballroom ia menunggu didepan lift, namun ia sudah tidak tahan menahan air matanya yang akan tumpah. Ia melepas kedua high heelsnya dan berlari menuju pintu tangga darurat.


"Zi!"


Marko terlihat mengejar Zia yang lari masuk ke balik pintu.


"Zi, Zia!" Marko menarik tangan Zia.


Namun Zia menangkisnya. Marko tak menyerah ketika Zia menggunakan kemampuan bela dirinya untuk pergi dari Marko.


Marko yang mempunyai kemampuan bela diri cukup bagus pun meladeni Zia dan berusaha sebisa mungkin menghindari pukulan Zia.


Akhirnya Marko dapat mengunci kedua tangan Zia agar tak bergerak. Marko menatap Zia, mata Zia yang penuh kemarahan tadi sudah berubah penuh dengan air mata.


Marko melepaskan kedua tangan Zia dan Zia duduk berjongkok, membenamkam mukanya diantara lutut dan dadanya. Ia menangis mengeluarkan kekesalannya.


Melihat Zia menangis seperti itu membuatnya sangat merasa bersalah. Ia tak menyangka Zia akan seperti ini. Marko duduk di anak tangga tak jauh dari Zia, menunggu Zia tenang.


Hanya butuh beberapa menit Zia menangis, setelah itu ia mengangkat kepalanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya. Ia lakukan beberapa kali hingga merasa dirinya tenang.


Ia memandang Marko yang juga sedang memandangnya.

__ADS_1


"Gue gak tau ini akan menyakiti perasaan lo." Marko terlihat sangat menyesal, ia mengusap sisa air mata di pipi Zia, "Maafin gue ya, Zi."


Zia yang masih sesenggukan mengangguk.


"Lo boleh maki-maki gue. Gue janji gak akan potong gaji apalagi mecat lo." Lanjut Marko.


Zia menggeleng, "Saya marah pada diri saya sendiri. Seharusnya saya lebih pandai lagi dan tidak mempermalukan diri sendiri apalagi anda didepan orang-orang penting itu."


Marko diam berfikir sejenak.


"Iya juga sih, Zi. Mulai besok lo khursus bahasa inggris aja deh."


Zia menyesal sudah menyalahkan diri sendiri, ia menatap sinis Marko.


"Hahahaha, bercanda." Marko mencubit pipi Zia.


Marko berdiri, ia mengulurkan tangan untuk membantu Zia berdiri. Namun tangannya diabaikan Zia begitu saja, Zia memilih berdiri sendiri. Marko hanya mendengus kesal. Ia mengambil heels Zia yang sudah terpencar dan meletakkannya didepan kaki Zia.


"Terimakasih" Ucap Zia, ia segera memakainya.


"Lo mau lewat tangga apa lewat lift?" Marko memberi penawaran.


"Lift saja, tuan." Ucap Zia.


Marko diam menatap mata Zia, tangannya merapikan make up dimata Zia yang sedikit berantakan. Ia juga menarik ikatan rambut Zia yang sudah berantakan karena perkelahiannya tadi.


Zia diam menurut membiarkan Marko menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan Marko.


"Gini lebih cantik." Ujar Marko membuat Zia tersipu malu.


Marko melepaskan jasnya dan menggantungkannya di bahu Zia. "Ayo!" Ajak Marko.


Zia merasa tersentuh dengan perlakuan Marko. Walaupun dia pria mengesalkan namun tak dipungkiri jika Marko seoarang pria yang sangat lembut.


Ketika pintu lift terbuka, Zia dan Marko segera masuk. Otomatis pintu lift tertutup, Marko menekan tombol angka delapan dimana kamar tempatnya menginap berada.


"Apa anda tidak melanjutkan makan malam anda? Anda bisa kehilangan peluang bisnis anda. Bagaimana jika keberungan anda hilang malam ini, tuan? " Kata Zia.


"Keberuntungan itu akan mendatangi orang-orang yang selalu berusaha mencari peluang. Selama gue gak nyerah, gue gak bakal kehilangan keberuntungan itu." Kata Marko.


Zia hanya mengangguk saja.


Keluar dari lift Marko mengantar Zia pergi ke kamarnya terlebih dahulu.


"Sepertinya ini salah, tuan." Kata Zia ketika sampai didepan pintu kamarnya.


"Apa yang salah?" Tanya Marko


"Seharusnya saya lah yang mengantar anda ke kamar anda." Jawab Zia.


"Yaelah, Zi. Gini doang lo ribetin. Pintu kamar gue juga kelihatan dari sini. Siapa juga yang mau nyulik gue di tempat kaya gini." Ujar Marko, "Udah masuk sana."


"Baik, Pak. Selamat Malam." Zia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.


Marko masih berdiri didepan kamar Zia, "Udah dianterin gak di tawarin mampir." Keluhnya kemudian kembali ke kamarnya.


Sementara itu di dalam kamar, Zia langsung ke kamar mandi. Ia menatap bayangan dirinya di cermin dan baru teringat jas Marko masih menggantung di bahunya.


Ia segera membersihkan make up diwajahnya dan berganti pakaian. Tiba-tiba ia mendengar suara bel kamarnya.


Zia membuka pintu kamarnya, ada seorang pelayan hotel dengan membawa service stand yang berisi makanan.

__ADS_1


"Saya mengantarkan makan malam untuk anda." Kata Pelayan itu


"Tapi saya tidak memesannya, mbak." Zia menolak.


"Pemesannya atas nama tuan Marko, Kak."


Zia melihat ke pintu kamar Marko, Marko sedang melihat dari pintu kamarnya dengan senyum sangat lebar.


"Silahkan masuk, Mbak." Zia mempersilahkan pelayan masuk membawa service standnya.


Zia masih didepan pintu menunggu Marko yang menghampirinya.


"Kenapa anda memesankan saya makan malam?" Tanya Zia.


"Gue tau lo cuma makan beberapa gigit tadi. Makanya gue pesenin." Kata Jawab Marko


"Saya tidak tahu jika anda memperhatikannya, sepertinya ada sibuk dengan rekan bisnis anda."


"Waaaah, Lo gak tau mata gue ada di sekeliling kepala gue? Hahahaha."


Zia hanya diam saja mendengar Marko tertawa.


"Sudah saya letakkan diatas meja Kak. Selamat menikmati." Pelayan Hotel keluar kamar membawa service standnya.


"Terimakasih." Ucap Zia.


"Sama-sama, Kak." Pelayan hotel meninggalkan Marko dan Zia.


"Udah, Makan sana. Habisin." Kata Marko


"Terimakasih atas kebaikan anda tuan." Ucap Zia kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Gue gak diajakin masuk lagi?" Gumam Marko. Ia membalikkan badannya dan beranjak pergi.


"Tuan Marko!"


Marko tersenyum mendengar Zia memanggil namanya, ia membalikkan badannya dan melihat Zia berlari kecil kearahnya.


"Jas anda, saya lupa mengembalikan." Zia memberikan Jas milik Marko.


Marko menatap datar Zia, senyumnya menghilang seperti harapannya.


"Terimakasih, semoga anda tidur nyenyak malam ini." Zia meninggalkan Marko dan kembali lagi ke kamarnya.


"Sumpah nih anak bikin gemes gue!" Gumam Marko memperhatikan Zia yang berjalan masuk ke kamarnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2