SENJA

SENJA
Panggilan Baru


__ADS_3

Kantin mendadak sepi saat 7 orang datang dan berjalan munuju salah satu sudut kantin. Pemandangan tak biasa membuat semua yang ada di sana kehilangan kata. Setelah sekian lama Arga dan Tito tak pernah akur, mereka kini dengan santainya berjalan bersama. Di tambah keberadaan 2 most wanted yang satu diantaranya sudah sold out itu. Selain itu ada Indra juga yang bergabung di sana. Jangan salah, Indra juga banyak fansnya. Meskipun dia dikenal bandel, namun wajah tampan dan dikenal sebagai anak orang kaya membuat banyak siswi rela mengantri untuknya. Dan satu lagi, seorang siswi yang mereka yakini masih kelas VII juga nampak berjalan di sisi Arga.


Saat mereka mulai duduk kasak kusuk mulai terdengar, ada yang mangagumi 3 orang tampan di sana, ada yang mengomentari Arga dan Tito yang jalan bersama ada juga yang merasa iri pada Senja yang bisa bergabung dengan mereka.


“Sita ke mana Van, tumben nggak ngintilin…?” tanya Arga yang menyomot sabungkus keripik talas dan mulai memakannya.


“Lagi di UKS dia, nggak mau di ganggu, katanya urusan perempuan…”


Arga tersenyum dan mulai memakan keripik talasnya. “Mau?” tawar Arga pada Senja yang sejak tadi tak banyak bersuara.


Senja menggeleng.


“Satu aja…”


Entah ini menjadi momen keripik talas yang keberapa bagi Arga dan Senja. Meskipun Senja selalu menolak, Arga pun selalu memaksa Senja untuk mencobanya.


“Mau sampai kapan sih Kak maksa aku makan ginian…” kesal Senja karena Arga pasti tak akan berhenti memaksanya sebelum Senja membuka mulutnya untuk menerima suapan Arga.


“Sampai kamu mau.” Dan benar saja, Arga langsung menjejalkan sepotong keripik talas saat mulut Senja sedikit terbuka.


Senja mendengus sambil mengunyah benda renyah itu di dalam mulutnya.


“Dan lagi ya, mulai sekarang panggil aku, Rivan, dan Wahyu dengan sebutan Mas, bukan Kak lagi,” imbuh Arga sambil melihat Senja yang ogah-ogahan mengunyah keripik talas yang disuapkannya.


“Harus ya?” tanya Senja setelah menelan keripik itu dengan susah payah.


“Iya, aku aja yang umurnya sama juga kudu manggil mereka Mas,”kata Tito dengan tak bersemangat.


“Jadi keberatan?” tanya Rivan dengan melayangkan tatapan tajam.


“Nggak Mas.” Jawab Tito dengan tampang serius.


Senja segera menutup mulutnya saat tawa itu lolos begitu saja.


“Permisi, permisiii….”


Indra dan Angga datanya dengan 2 nampan berisi makanan pesanan mereka yang ada di sana.

__ADS_1


Mereka pun mulai mengobrol sambil menyantap makanan pesanan mereka. Hingga tak terasa bel berdering nyaring. Senja yang belum menyelesaikan makannya segera mempercepat tempo agar makanan di hadapannya cepat habis. Setelah itu ia segera berjalan menuju kasir untuk membayar.


“Senja…” sangat kaku ditelinga, tapi Indralah yang baru saja memanggil Senja.


Spontan Senja menoleh.


“Udah aku bayar,” kata Indra kemudian.


“Makasih,” jawab Senja dengan senyum di wajahnya.


Indra mengangguk dengan membalas senyum itu.


“Ehm,” Tito menepuk bahu Indra. “Punya kita juga dibayarin kan?” tanya Tito mengingatkan. Sebenarnya Tito sudah tahu, hanya saja ia ingin membantu Indra move on, setidaknya di mulai dengan tidak selalu terjebak dalam pesona wajah Senja.


“U, udah Bang…”


Rivan menyenggol bahu Arga saat melihat sahabatnya ini diam saja melepas kepergian Senja. Terpaksa Arga mengalihkan pandangannya dari Senja dan menatap Rivan.


Rivan memainkan matanya agar Arga mengejar Senja.


Tanpa babibu Arga segera bangkit dan menyusul Senja.


“Mereka sebenarnya gimana sih?” tanya Tito penasaran.


“Ya kayak yang lu lihat,” jawab Wahyu.


“Tahu sendiri kan, Arga itu cuma gesit kalau lagi TC atau di gelanggang, selebihnya lemotnya…” Rivan menyesap es teh yang tinggal sedikit itu. “Indra masih suka sama Senja?” lanjut Rivan.


Indra diam. Jika ingin menuntaskan latihan dan segera disahkan, dia harus menyingkirkan rasa cinta kepada lawan jenis segera.


“Seumur kita, tertarik sama lawan jenis itu wajar, tapi jangan sampai nimbulin ketidak wajaran.” Wahyu mengucapkan kalimat ini dengan nada serius. Ternyata saat serius, ia juga begitu berkharisma. Tak ayal ia berhasil menjadi ketua Dewan Galang dengan anggota puluhan. “Dan satu lagi, kamu harus bersabar sampai menyelesaikan latihan dan di sahkan. Kalau sudah di sahkan kamu akan paham kenapa ada aturan demikian dalam pencak silat yang kita tekuni ini.”


Tak hanya Indra, Tito dan Angga yang masih anggota latihan atau biasa disebut siswa memperhatikan dengan seksama apa yang baru saja Wahyu sampaikan.


“Ya udah, balik ke kelas yok…” Rivan berdiri diikuti empat orang yang ada di sana.


Sementara itu Senja dan Arga sedang berjalan bersama.

__ADS_1


“Itu ceritanya gimana Kak, eh Mas…” Senja masih belum terbiasa mengubah panggilannya pada Arga.


“Apa?” tanya Arga.


“Kak Tito dan Indra…”


Arga tersenyum. “Ceritanya mau sekarang?”


“Tapi udah bel masuk,” ucap Senja yang kecewa.


Arga menghentikan tubuh Senja di persimpangan gedung. “Sebelum sholat dzuhur berhenti di kelas, tunggu aku datang.” Arga memegang puncak kepala Senja sebelum berlari menuju kelasnya. Kali ini Arga tak mengantar Senja sampai di depan kelas, hanya sampai persimpangan jalan tempat yang sering mempertemukan mereka di awal perkenalan.


Senja menatap lamat punggung Arga yang bergerak menjauh hingga akhirnya menghilang setelah berbelok di jajaran kelas IX. Senja kemudian meneruskan langkah menuju kelas.


“Ciieeee, yang berdua terus sama Kak Arga….” Goda Ifa saat Senja duduk di bangkunya.


“Senja, Senja." Ira memanggil dengan tak sabar." "Kamu tadi kok bisa barengan sama Kak Rivan dan Kak Wahyu sih, ada Kak Tito sama Kak Arga juga, kapan mereka akur. Eh ada Indra juga. Kok bisa sih kamu ke kantin sama cowok-cowok keren….” Ira heboh sambil mengguncang-guncang tubuh Senja.


Ifa, Ayu dan Ucik yang merasa ketinggalan berita hanya saling mengadu pandangan dan kemudian berakhir dengan menatap Senja penuh selidik.


Senja menelan ludah. Terlalu panjang jika harus bercerita pada mereka sekarang, apa lagi dia juga belum tahu pasti bagaimana Arga bisa mengajak 2 pentolan geng di sekolahnya itu berdamai dengannya.


“Mau main rahasia-rahasiaan kamu?” tanya Ucik sambil menaikkan kacamatanya dan menatap Senja dengan tajam dan menghujam.


Ifa, Ayu dan Ira juga ikut-ikutan memicingkan mata dan menatap tajam Senja.


Senja menghela nafas. ”Aku dah bilang kan kalau aku join ekstra kurikuler silat?”


Mata keempat orang yang barusan memicing spontan membola. “Kamu nggak bercanda ya?” tanya Ifa yang masih terkejut dengan keputusan sahabatnya.


Senja menggeleng. “Aku serius dan udah didukung penuh sama ayah dan mas Atma.”


Keempat orang itu menantikan apa yang akan Senja katakan selanjutnya.


Tok tok tok


Namun sayang, sebuah ketukan pintu harus membuat bersabar setidaknya selama 2 jam pelajaran kedepan.

__ADS_1


Sebuah salam dan ucapan selamat siang menandai dimulainya pelajaran untuk kelas VII f siang ini.


TBC


__ADS_2