SENJA

SENJA
147


__ADS_3

"Lo ngusir gue dari rumah ini kak?"


Teriakan Clara menggema didalam kamarnya ketika Langit mengungkapkan keputusannya.


"Gue salah apa sih sama kak Senja sampai dia tega perlakuin gue kaya gini? Gue tadi bener-bener mau bantuin Sora biar gak jatuh, malah dia terpeleset dan jatuh. Kak Senja salah paham."


"Kakak minta maaf, Ra. Tapi kakak harap Lo bisa ngertiin posisi kakak. Senja sangat berharga untuk kakak."


"Jadi gue udah gak berharga buat hidup lo kak?" Sora menatap Langit dengan kesal.


Langit memegang kedua bahu Clara, "Kalian sama berharganya. Kakak gak bisa pilih diantara kalian, tolong jangan suruh kakak untuk memilih lagi. Pilihan ini sudah cukup berat buat kakak, kakak mohon lo nurut sama kakak."


"Lo jahat banget sama gue kak!"


"Siapkan bajumu, Hengky akan mengantarmu ke rumah Marko." Ucap Langit kemudian meninggalkan kamar Clara.


Tak jauh Langit melangkah, ia mendengar amukan dan pecahan dari dalam kamar Clara. Walau ia ingin menenangkan Clara namun kakinya tetap melangkah kembali ke kamarnya.


Langit melihat Senja sedang menunggunya di sofa kamarnya, Ia melangkah menghampiri istrinya dan duduk disampingnya.


"Apa kamu marah padaku, Mas?" tanya Senja.


"Entahlah."


"Aku tidak akan minta maaf padamu kali ini, karena aku yakin bahwa yang ku lakukan ini untuk mempertahankan keluarga kita."


Langit hanya menatap datar wajah Senja.


"Aku yakin cepat atau lambat kamu akan sadar bahwa ini adalah keputusan yang paling tepat." Senja berdiri meninggalkan Langit keluar kamarnya.


Langit hanya menghela nafas panjang melihat perilaku Senja.


Baru ia berdiri dari duduknya, Clara masuk ke dalam kamarnya.


"Aku ingin memastikan sesuatu, kak."


"Apa itu?" tanya Langit.


"Gue pergi dari rumah ini bukan berarti lo ngusir gue dari hidup lo kan?"


Langit mengangguk.


"Lo masih peduli ke gue kan, kak?"


"Iya, tentu. Bagaimanapun juga kamu adikku, mana bisa aku acuh padamu."


"Oke! Kalau gitu gue turuti mau lo." Clara pergi meninggalkan Langit.


Sekali lagi Langit menghembuskan nafas panjang meratapi nasibnya yang harus dihadapkan pada pilihan yang berat. Ia memilih untuk berendam menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


**********


Usai makan malam Clara diantar Hengky pergi meninggalkan rumah. Langit mengantar Clara sampai teras rumah, sedangkan Senja sama sekali tidak meninggalkan kamar anak-anaknya sejak pembicaraannya dengan Langit tadi sore.


Langit pergi menghampiri kamar anaknya. Ia menghampiri Sora yang sedang berasa dipelukan Senja.


"Sini sama papa, sayang."


Sora menggeleng cepat, ia lebih mempererat pelukannya pada mamanya.


Langit merasa hatinya sakit melihat Sora yang biasanya ceria dan paling senang berada dipelukannya kini terlihat ketakutan dan tak mau bersamanya.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu tidak mau papa peluk?" Tanya Langit.


"Tante Clara jahat." Teriak Sora.


Langit terkejut mendengar jawaban Sora, Ia menatap Senja namun Senja memalingkan wajahnya.


"Sayang, tante Clara tidak jahat. Tante Clara hanya ingin membantu Sora tadi, tapi Sora malah terpeleset dan jatuh."


"Huaaaaaaaaaa, Papa Jahat!" Teriak Sora dengan tangisannya, ia membenamkan wajahnya dipelukan mamanya.


"Tolong keluar dulu, mas. Biarkan Sora menenangkan dirinya." pinta Senja.

__ADS_1


Langit sama sekali tak ingin meninggalkan anaknya dalam keadaan seperti ini, namun ia juga tidak mau keadaan Sora semakin buruk. Akhirnya dengan berat hati ia memutuskan meninggalkan kamar anak-anaknya.


"Pa!"


Langkah Langit terhenti ketika ia akan membuka pintu kamarnya. Sky berlari kecil menghampiri Langit.


"Ya, sayang?" Ia berjongkok menjajarkan diri dengan Sky.


"Mama tidak pernah mengajari kami berbohong. Kami selalu berkata yang sebenarnya."


Langit tercengang mendengar pernyataan Sky, pikiran dan hatinya sedang berperang untuk mempercayai siapa.


"Kami sayang papa." Sky memeluk Langit.


Belum sempat Langit membalas pelukan itu, Sky sudah melepasnya dan berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.


Langit berdiri, ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar dan lebih memilih pergi ke kamar Clara.


Langit melihat kamar yang biasanya rapi itu berubah berantakan. Bingkai foto, Vas bunga dan apapun itu berserakan diatas lantai.


Pelan-pelan Langit memunguti beberapa foto-foto Clara. Langkah tangannya terhenti ketika ia menemukan sebuah obat yang tak asing baginya.


"Sejak kapan Clara minum obat tidur? Bukankah ini malah membuat kesehatannya semakin buruk?"


************


Semalam Senja tak tidur dikamarnya, ia menemani Sora yang masih ketakutan. Pagi-pagi sekali Senja kembali ke kamarnya, Ia melihat Langit sudah duduk di sofa.


"Kamu sudah bangun, mas?" tanya Senja.


"Aku tidak bisa tidur."


Jawaban Langit menghentikan langkah Senja. Ia menghampiri suaminya.


"Aneh banget kamu gak bisa tidur? Aku tidak menyangka kepergian Clara bisa membuatmu seperti ini." Kata Senja.


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Lagian itu juga bukan alasanku tidak bisa tidur."


"Lalu?"


Senja diam menatap Langit, bisa ia lihat jika suaminya tak sedang mengarang alasan.


"Tidurlah sebentar, aku akan menemanimu mas."


Senja menarik tangan Langit, mengajaknya ke tempat tidur. Ia membiarkan Langit tidur dipelukannya.


Dalam hitungan menit, Senja sudah mendengar dengkuran pelan suaminya. Ia tersenyum melihat suaminya bisa tertidur dipelukannya.


Pelan-pelan ia beranjak meninggalkan Langit untuk mempersiapkan keperluan Langit dan anak-anaknya.


Hengky datang di jam yang sama seperti biasa, Senja memintanya untuk memundurkan jadwal Langit agar suaminya bisa istirahat lebih lama lagi.


"Tik, tolong jaga Sky baik-baik, ya." Pinta Senja sebelum Kartika masuk ke dalam mobil.


"Baik, Nona."


Kartika menutup pintu mobil dan mobil segera meninggalkan halaman rumah Langit.


"Mas, apa aku bisa minta bantuan kamu?" tanya Senja pada Hengky.


"Ya, Nona."


"Sora melihat Clara memasukkan sesuatu di air yang akan ku minum." kata Senja.


Hengky tak terkejut, "Saya sudah menduganya."


Giliran Senja kini yang terkejut. "Bagaimana mas Hengky bisa menduganya."


"Nona Clara adalah orang yang sangat keras kepala, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia inginkan. Dari kecil Nona Clara sangat terobsesi dengan pak Langit, sedangkan pak Langit selalu memanjakannya seperti saat ini. Oleh sebab itu almarhum tuan besar menngirimnya ke London untuk menjauhkan mereka."


Senja mengangguk, "Clara menyukai suamiku bukan sebagai kakak?" Senja ingin memperjelas pernyataan Hengky.


"Saya tidak tahu tentang itu, Nona. Yang saya tahu, ia tidak suka pak Langit memberi perhatian lebih pada orang lain. Alea pun pernah merasakan dampaknya."

__ADS_1


Senja bergidik ngeri.


"Saya akan mencarikan bukti untuk anda, Nona."


"Terimakasih ya, Mas." Ucap Senja. "Aku akan pergi ke kamar dulu."


"Baik Nona."


Senja beranjak kembali ke kamarnya, namun ia tak mendapati Langit disana. Di kamar mandi pun juga tidak ada.


Ia mencoba melihat di kamar anak-anaknya, ternyata Langit disana. Sedang membujuk Sora.


"Mama! Sora mau pulang ke rumah nenek." Sora berlari menghampiri Senja yang baru saja masuk.


Senja bisa melihat betapa sedihnya Langit saat ini. Ia mengajak Sora mendekati Langit.


"Mama sudah bilang kan sayang. Tante Clara memang jahat ke Sora, bukan berarti papa juga jahat. Papa sayang sama Sora, buktinya tante Clara sudah disuruh pergi sama papa. Tante Clara gak disini lagi."


Sora menatap Senja.


"Sora bisa lihat di kamar tante Clara, dia sudah tidak ada."


"Apa benar papa sudah suruh tante Clara pergi?" tanya Sora.


Langit mengangguk, "Iya sayang, Papa gak akan biarkan orang lain menyakiti anak-anak Papa."


"Papa tidak akan jahat ke Sora juga?"


"Itu tidak akan mungkin, Papa sayang sama Sora dan Sky. Bagaimana mungkin papa akan menyakiti kalian."


"Tapi papa sudah jahatin mama dan buat mama nangis, Sora takut papa akan jahatin Sora juga."


Seketika Senja dan Langit terkejut, bagaimana bisa Sora tahu. Padahal Senja tak pernah sekalipun menangis didepan anak-anaknya.


"Papa gak pernah jahatin mama, sayang." Kata Senja.


"Pagi itu Senja dengar papa teriak-teriak di kamar. Trus mama bobok disini sambil nangis."


Senja terdiam, ia sedang mencari alasan untuk menjelaskan keadaannya.


"Sayang, Mama minta maaf ya karena Sora mendengar ketika papa dan mama sedang bertengkar. Papa tidak pernah jahatin Mama. Itu hanya pertengkaran biasa. Sama seperti Sky dan Sora ketika bertengkar, hanya sebentar kan? dan bukan berarti Sky dan Sora saling menjahati." Jelas Senja.


Sora terdiam.


"Papa sayang sekali sama Sora, dengan sikap Sora seperti ini malah membuat Papa sedih." Senja masih berusaha membujuk Sora.


Sora menatap Langit yang sedang duduk dibawahnya lalu ia beranikan diri memeluk Langit.


"Maafin Sora ya, Pa" Ucap Sora.


Air mata sedih dan bahagia membasahi pipi Langit, Ia peluk tubuh gadis kecil itu erat-erat. "Maafin papa juga ya sayang, papa belum jadi papa yang baik untuk kalian."


Senja ikut terharu melihat Langit dan Sora. Ia usap air mata langit dengan lembut lalu menepuk lembut bahu Langit.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2