
^^^Jadi pelajar macam apakah kalian semasa sekolah?^^^
^^^Kegiatan ekstra apa yang pernah kalian cicipi.^^^
^^^-Happy reading-^^^
“Menurutmu ada apa dengan mereka?”
Ketiga orang itu hanya beradu pandang dengan melut terkatup diam. Kemudian ketiganya kompak mengangguk.
***
Bel istirahat berdering. Suka cita disambut semua yang mendengarnya.
“Senja mau ke kantin apa ke toilet?” tanya Ifa dengan nada menggoda.
“Mau…”
“Senja! Ada yang nyari nih…”
Belum juga Senja menjawab, sudah datang panggilan dari Ratna yang duduk dekat pintu.
“Cciiieeeeee………!!!”
Sorak-sorai terdengar riuh saat Senja berjalan menghampiri orang yang tadi memanggilnya. Pasalnya persis sebelum Arga datang, pak Umar yang sedang mengajar di kelas Senja baru keluar, jadi formasi kelas VII f masih lengkap, belum ada satu pun yang pergi meninggalkan kelas.
Senja mendorong tubuh Arga ke samping kelasnya.
“Kok malah didorong ke sini sih…” protes Arga.
“Malu Kak…” jawab Senja setelah berhasil mendorong Arga ke sana.
“Terus kalau kita ngumpet di sini kamu bukannya kamu malah makin malu?”
Senja yang mukanya masih merah perlahan mendongak menatap Arga. Tangan Arga terangkat begitu saja untuk mengelus pipi Senja dan menatap wajah itu lebih dekat. Hingga kini jarak keduanya kian terkikis.
^^^Saya pegang janji kamu…!^^^
Arga kembali menegakkan tubuhnya saat suara itu bagai rekaman yang diputar ulang di otaknya. Tangannya turun dan ditautkan dengan tangan Senja. “Ke sekretariat sekarang ya…”
Senja mengangguk. Dia belum sanggup bersuara karena jantungnya baru saja mendapat hantaman yang kuat, saat matanya dan mata Arga saling menatap dengan jarak yang cukup dekat.
Arga terus berjalan dengan menggenggam tangan Senja melewati toilet dan parkiran depan. Hingga tiba-tiba Arga berhenti, saat itu Senja baru sadar kalau Tito dan Indra sedang berjalan ke arah mereka.
“Kak…” lirih Senja yang masih dapat dengan jelas didengar oleh Arga.
Arga tak bersuara, dia hanya mengeratkan genggamannya.
“Gandengan terus, nggak boleh nih lepas bentar buat salaman? ” tanya Tito.
“Nggak, takut hilang…” jawab Arga santai.
Tito tertawa mendengarnya. Indra hanya tersenyum kecut menatap tangan Senja yang digenggam erat oleh Arga.
“Sekarang?” tanya Tito setelah berhasil meredam tawanya.
“Ayo…” Arga kemudian melemparkan sebuah kunci yang ditangkap dengan baik oleh Tito.
Tito dan Indra kemudian berjalan mendahului Arga.
“Kak…” Senja menahan tubuh Arga yang akan berjalan mengikuti dua orang di depannya.
__ADS_1
“Kenapa?” Arga menoleh dan menatap Senja yang berdiri di sampingnya.
“Mereka…”
Arga menarik tangan Senja yang masih di genggamnya. Dia membawa tangan itu ke depan wajahnya, dan perlahan mencium tangan itu begitu dalam seakan mengalirkan sesuatu telah cukup kuat ditahan olehnya. Senja terpaku menatap apa yang Arga lakukan padanya. Hingga ciuman itu lepas dan berganti dengan genggaman erat oleh kedua tanga Arga. “Kamu tenang ya…” ucap Arga sambil mengenggam erat tangan Senja.
Senja hanya mengangguk. Dia tak mampu melayangkan protes atau hanya sekedar bertanya bagaimana dua orang yang setahunya tak pernah akur dengan Arga itu kini tengah berjalan dengan tujuan yang sama dengan mereka. Senja hanya berjalan mengikuti Arga yang membawanya.
Di depan, pintu sekertariat sudah nampak terbuka dan masih dengan ritme yang sama Arga membawa Senja melangkah ke sana.
“Nama gue masih ada ternyata…” ujar Tito sambil menunjuk sebuah nama di papan struktur organisasi.
Anandito Sepdiawan adalah nama lengkap Tito. Dia merupakan generasi pertama anggota ekstra kurikuler ini yang seharusnya di sahkan tahun ini, tergantung Tito mampu lulus tes atau tidak mengingat beberapa bulan terakhir dia acap kali mangkir dari latihan.
“Yap, karena kamu tetep bagian dari kita.” Arga melepaskan tautannya pada Senja dan perlahan mendekati Indra. “Welcome back Indra, udah siap saingan sama Senja?” tanya Arga sambil mengulurkan tangannya pada Indra.
“Iya Mas, mohon bimbingannya.” Indra berusaha tersenyum saat tangannya menjabat tangan Arga.
“Lu barusan ngomong apa Ga?!” tanya Tito yang masih berusaha mencerna kata-kata yang Arga ucapkan sebelum Indra menjawabnya.
Arga hanya tersenyum sambil menatap Senja. Indra dan Tito pun melakukan hal yang sama. Kali ini Indra juga baru menyadari apa yang baru saja Arga katakana padanya.
Senja melangkah mendekati Arga dan segera menyerahkan kertas yang sejak tadi ia bawa pada di tangan kirinya.
“Dia akan jadi bagian dari kita…” Arga mengangkat formulir yang baru diserahkan Senja pada dua orang lain yang ada di sana.
“Jadi…” Tito menunjuk Arga dan Senja secara bergantian.
“Jadi apa?”
“Kalian nggak pacaran?” tanya Tito lagi.
Tito menertawakan pikiran konyolnya. Dia kemudian merangkul Indra dan menepuk-nepuk bahunya. “Ternyata ketua kita ini masih konsisten dengan aturan yang dibuatnya.”
“Ini kesempatan kita, ayo kita persiapkan diri kita sebaik mungkin untuk menghadapi porkab. Buktikan kalau kita bisa dan mampu jadi juara.” Arga berkata dengan semangat membara, berharap citanya akan menjadi nyata.
Tito dan Indra mengangguk mantab, sedangkan Senja masih mengunci mulutnya dengan tatapan tak paham.
“Assalamu alaikum…”
“Wa’alaikum salam…” serempak 4 orang yang ada di sana yang menjawab salam Angga, Wahyu dan Rivan.
“Udah damai aja nih…” ujar Wahyu saat melihat keberadaan Tito dan Indra di sana.
“As you see," jawab Arga sambil menaikkan alisnya.
“Sombong amat!” Tanpa segan Wahyu menoyor kepala Arga.
“Sialan!” Umpat Arga sambil merapikan rambutnya.
“Cuma gini aja nih?”
“Apanya Van?” tanya Wahyu.
“Ya kalau udah damai nggak ada ceremonial atau apa gitu…”
“Lu kira kawinan…” Wahyu melempar spidol yang berada tak jauh darinya.
Rivan berhasil menangkap spidol itu dan berjalan cepat menghampiri Wahyu.
Pletak!
__ADS_1
“Aw!!!”
Wahyu meringis saat sebuah jitakan berhasil mendarat dengan cantik dikapalanya. “Lu jahat Pan sama gue, awas aja gue aduin sama emak…”
“Huekk, jijik Yu…”
Guyonan mereka berhasil menghangatkan suasana.
“Kayaknya kalau ke kantin masih sempet…” ucap Indra tiba-tiba.
“Mau nraktir kita?” todong Tito.
“Kalau pada nggak sibuk sih boleh…” jawab Indra lagi.
“Kita mah hayuk…” Rivan merangkul Wahyu dan Arga.
“Aku diajak juga kan Ndra?” tanya Angga.
“Gercep banget kalau ada traktiran,” cibir Tito.
“Ya kan mumpung gratis Mas, lumayan kan sangunya bisa ditabung…”
“Senja ikut ya…?” tanya Arga dengan suara rendahnya.
Senja menggeleng. “Nggak enak aku perempuan sendiri,” tolak Senja.
“Kamu harus biasa kayak gini, Senja,” kata Rivan.
“Dari 6 pendaftar perempuan, aku pun tak yakin kalau mereka bisa bertahan sampai akhir,” imbuh Arga.
“Dan satu lagi, kalau sudah masuk sini nggak ada lagi panggilan Kak, tapi Mas…”
Kata-kata Tito ini mendapat anggukan dari semua yang ada di sana.
“Mau berapa pun umur kamu, kamu kudu manggil Mas atau Mbak sama mereka yang udah disahkan, sedangkan yang sudah disahkan akan manggil yang masih latihan dengan panggilan Dik, jadi apa kamu siap Dik Senja?”
Arga merendahkan tubuhnya untuk dapat menatap wajah Senja, di saat yang sama Senja juga mendongak untuk menatap Arga. Pandangan keduanya saling mengunci dan waktu pun seakan berhenti.
Rivan perlahan melangkah ke luar ruangan diikuti dengan lainnya meninggalkan Arga dan Senja berdua.
"Yakin nih kita ninggalin Arga?" tanya Wahyu saat mereka sudah di luar ruangan.
"Emang Arga bakal ngapain kalau cuma berdua?" tanya Rivan pada semua yang ada di sana.
"Mas Arga nggak bakal deh kayaknya," jawab Angga.
Rivan menjentikkan jari sebagai tanda setuju.
“Sebenarnya kalaupun mereka pacaran nggak apa-apa sih menurutku, modelan Arga ketemu Senja kayaknya bakal jadi dobel kanebo kering,” ujar Tito.
“Ya kalau menurut elu, kalau menurut Indra gimana?” goda Rivan karena Melihat Indra yang lebih banyak diam.
Indra terkesiap saat mendengar namanya di sebut. Dia mengangguk cepat, namun segera menggeleng kemudian.
Semua tertawa melihat Indra yang salah tingkah.
“Perih Mas, perih….”
“Tapi nggak ada darah…” timpal Wahyu pada ucapan Tito yang mendapat sambutan tawa dari mereka. Dan tentunya kecuali Indra, karena ia masih merasa ada yang nyeri di dalam hati.
TBC
__ADS_1