SENJA

SENJA
Pingsan


__ADS_3

^^^Jangan lupa jempolnya kawan.^^^


^^^Happy Reading.^^^


"Aku di sini."


Senja menoleh seketika, dengan kepala mendongak untuk dapat melihat siapa yang kini berbicara dari balik tubuhnya. Dan secepat itu pula, ia kembali menghadap ke depan dengan kepala tertunduk setelah tahu siapa dia. Senja hanya mampu menggerak-gerakkan unjung sepatu untuk meredakan kegugupannya.Meskipun gugup mendera, ia tetap begitu ingin menatapnya sekali lagi. Untungnya masih ada rasa malu berhasil mencegahnya untuk tak lupa diri. Akhirnya, ujung sepatu kembali menjadi objek pelariannya kini.


Apel pembukaan pun usai, dengan seluruh peserta dan panitia yang bertahan di ditempatnya.


"Eh." Senja terkejut karena ada yang bahunya dan menarik mundur untuk keluar dari barisan. "Kak." Senja menoleh dengan kepala mendongak untuk dapat melihat orang yang kini memapahnya.


"Udah ngikut aja."


Senja hanya pasrah mengikutinya. Kembali menunduk menjadi pilihannya untuk menetralkan degup jantung yang menggila serta rasa gugup yang menyerang tanpa ampun.


Cit cit


Senja segera berhenti kala merasa ada sesuatu yang terinjak oleh kaki kanannya.


Arga pun segera menengok Senja yang berada di sebelah kirinya. Baru saja Arga hendak membuka mulutnya, namun Senja berjingkat dan memeluk sebelah tangannya dengan erat. Mendadak Arga gugup, namun dia memberanikan diri untuk segera menatap Senja.


Saat itu juga, dilihatnya Senja menunjuk tikus yang baru saja terinjak olehnya berlari ke selokan.


"Udah, tikusnya udah pergi kok," ucap Arga dengan berusaha setenang mungkin. Dia kembali mengajak Senja untuk berjalan. Namun Senja malah diam ditempat. Hal ini membuat Arga harus menoleh lagi ke arahnya. "Pusing ya?" tanya Arga saat dilihatnya wajah Senja memucat. Tak sengaja Arga memegang tangan Senja yang masih bergelayut di lengannya.


"Tangan kamu kok basah? Kuat jalan nggak?"


"Aaaaaaaa!!! Tikus!"


Brugh!


"Senja!"


Seseorang berteriak kemudian berjalan mendekati Senja yang pingsan di samping Arga.


Arga sempat melihat siapa yang baru saja memanggil Senja, sebelum ia mengangkat tubuh Senja dan membawanya ke UKS.


Indra yang semula hendak mendekat akhirnya mengurungkan niatnya kala melihat Arga buru-buru pergi membawa Senja.


"Bos, kayaknya lu punya saingan deh," ucap Rayi sambil memegang bahu Indra.


Sementara itu gadis yang tadi berteriak masih heboh bersama kawan-kawannya yang takut melihat tikus yang tiba-tiba berlari di sekitar kaki mereka.


"Ma'af, ma'af. Bisa kosongin satu brangkar, ada yang pingsan," ucap Arga yang tengah membopong Senja di depan pintu UKS.


Setelah siap, Arga segera membaringkan tubuh Senja di sana.


"Kenapa dia Ga," tanya mbak Siti yang datang dengan kapas yang sudah terlebih dahulu ditetesi cairan alkohol.


"Pingsan Mbak," jawab Arga.

__ADS_1


"Semua yang lihat juga tahu kalau dia pingsan," jawab Mbak Siti dengan senyum geli melihat wajah panik Arga. "Dah balik lagi sana. Bukan cuma buat adik kecil ini kan kamu hari ini pakai Rompi PMR?" ucap Mbak Siti meledek.


"Belum sadar juga Mbak?" bukannya menjawab Arga malah balik bertanya.


Mbak Siti tak lagi menjawab. Dia hanya mengulum senyum dan pergi meninggalkan Senja bersama Arga di sampingnya.


"Mau ke mana Mbak?" tanya Arga melihat Mbak Siti yang beranjak meninggalkan Senja.


"Segitu lamanya ya kamu nggak gabung sama teman-teman PMR, sampai nanganin yang pingsan gini aja panik," ucap mbak Siti sambil terkekeh.


Arga hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dah ah, Mbak ke yang lain dulu," ucap Mbak Siti sambil berlalu.


Setelah kepergian Mbak Siti, Arga kembali menatap Senja yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Sementara itu, dibelakang gedung paling barat sekolah ini, yang menjadi tempat berkumpulnya anak band**, Indra nampak duduk di pojok seorang diri. Dia dalam kondisi mood yang kurang baik, sehingga tak sembarang orang berani mendekatinya.


Namun hal ini tak berlaku untuk Tito. Dia yang baru datang segera menghampiri Indra di sana. Setelah Tito duduk di sana, Rayi segera datang dan bergabung bersama mereka.


"Ah, kalau ada Bang Tito, berani deh gua ikut nimbrung," kata Rayi sambil menyesap rokoknya.


"Lu kenapa Ndra?" tanya Tito.


"Enggak Bang," jawab Indra dingin.


"Panas Bang dia," ucap Rayi sambil meloloskan asap dari mulutnya.


"Yah, bukan panas itu Bang," jawab Rayi sambil memainkan asap di mulutnya.


Tito tak langsung menjawab, dia kemudian menatap junior yang digadang-gadang akan menggantikannya nanti.


"Perlu gua bantuin buat ngabisin?" ucap Tito dengan aura gelapnya.


"Uhuk, uhuk," Rayi yang sedang menenggak minuman pun langsung tersedak kala mendengar ucapan Tito.


"Elah Bang, bukan itu maksudnya," lanjut Rayi sambil mengurut dadanya.


"Terus?"


"Gebetannya tadi pingsan, terus yang nolongin cowok lain, jadi deh," ucap Rayi yang diakhiri dengan kekehan.


Indra kemudian menatap Rayi tajam. Spontan yang di tatap pun mendadak ciut. "Ellah Bos Kecil, Bos Besar kan nanya makanya aku jawab. Kan nggak sopan ya Bang kalau ditanya yang tua nggak jawab, itu kan nggak termasuk kategori ember," ucap Rayi dengan wajah memelas mengharap perlindungan dari Tito.


Pletak!


"Duh Bang, kok dijitak sih," ucap Rayi sambil mengelus kepalanya yang barusan dihadiahi jitakan oleh Tito.


"Lu ngatain gua tua!"


"Ampun Bang, maksudnya kita ngehormatin Abang gitu," ucap Rayi dengan tampang memelas.

__ADS_1


"Mending sekarang lu jauh-jauh deh," ucap Indra sambil kembali menyalakan rokoknya.


Rayi segera kabur sebelum dia kembali menjadi sasaran di sana.


"Siapa sih tu cewek sampai bikin lu kayak gini," kata Tito remeh.


"Jangan dengerin Si Ray deh Bang," ucap Indra tanpa menatap lawan bicaranya.


"Serius, lu naksir siapa?"


"Bukan masalah besar kok Bang, bisa aku handle sendiri."


"Ndra, Indra!" Anang datang sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri Indra. "Eh Bang Tito, maaf Bang tadi nggak ngelihat, hehehe," kata Anang sambil menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ada apa," tanya Indra dengan mendongak menatap Anang.


"Bocah kecil, eh maksudnya Senja, kok mepet terus sama..., sama siapa ya?" Anang mendadak lupa apa yang ingin ia sampaikan. "Yang itu loh pokoknya tinggi, anak kelas 3 c kalau nggak salah," ucap Anang akhirnya.


"Arga," ucap Indra tiba-tiba.


"Nah, iya," sambung Anang dengan senyum yang terbit tiba-tiba.


Indra segera menghisap rokok yang terapit di jarinya. Namun hawa panas begitu terasa di mulutnya, karena memang puntung rokok itu sudah tinggal sedikit. Dihempaskannya puntung rokok itu kasar dan diinjaknya kemudian.


"Senja, Arga," lirih Tito yang nyaris tak terdengar oleh orang lain yang selain dirinya. Tak lupa senyum miring yang menghiasi bibirnya.


"Duduk dulu deh, sepertinya ini menarik," ucap Tito santai sambil kembali memasukkan gorengan ke dalam mulutnya.


Indra masih mengunci mulutnya, dan menatap Tito dengan tatapan penuh tanya. Namun tak urung, iya tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Tito. Dia segera duduk dan kembali menyalakan sebatang rokok.


"Kamu naksir Senja?"


"Abang nggak perlu..."


"Udah jawab aja," potong Tito cepat sebelum Indra menyelesaikan ucapannya.


Indra hanya meresponnya dengan anggukan kecil. Tito cukup paham maksudnya, ia pun turut mengangguk menanggapinya.


Indra hanya memandangnya dengan tatapan heran. Dan tiba-tiba rasa cemas datang mengusiknya. Kenapa Bang Tito sepertinya mengenal Senja? Jangan-jangan Senja dalam bahaya. Indra.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.

__ADS_1


__ADS_2