SENJA

SENJA
Janji


__ADS_3

^^^Bener nggak sih orang yang punya basic beladiri itu jadi gampang berantem?^^^


^^^Yuk, kasih masukan biar author tulisannya makin menghibur.^^^


^^^Selamat membaca.^^^


"Ini Mas salepnya."


Arga menerima salep yang diberikan Angga itu. Sedangkan Senja masih menempelkan Es batu di pelipisnya. "Nanti kalau es batunya habis bilang ya."


"Iya," jawab Senja.


Arga bangkit dari tempat duduknya, "aku mau ke bengkel depan ngecek motor."


Kini Senja hanya mengangguk.


"Loh, kamu mau ke mana?" tanya Arga pada Angga yang berjalan mendahuluinya.


"Ke depan Mas, hampir jamnya Ibu pulang. Biasanya bawaan ibu kan banyak."


Arga mengangguk paham.


"Mas, itu kenapa?"


"Tadi Indra mau nonjok aku, eh malah kena Senja."


"Kok bisa sih Mas?"


Flashback On


Saat hendak mengantar Senja ke rumah orang tua Arti, ban motor Arga mendadak bocor. Arga menduga ada yang sengaja menancapkan paku, tapi ia tak tahu siapa. Saat mendorong motor menuju bengkel, Indra tiba-tiba muncul dan menyapa Senja.


"Senja, kamu kok belum pulang?" tanya Indra.


Senja hanya menggeleng dan melayangkan pandangannya pada Arga.


"Ada perlu apa kamu?" Arga sengaja tak menyebut nama orang yang diajaknya bicara ini. Dia memang tahu namanya namun Arga merasa keduanya tak saling mengenal.


"Aku nanyanya sama dia," ucap anak itu yang menunjuk Senja menggunakan dagunya, "tapi kenapa malah kamu yang jawab."


Senja terlihat takut melihat sisi bandel Indra. Indra segera turun dari motor dan berdiri menghalangi jalan Arga.


"Ada perlu apa? Buruan ngomong. Kalau udah enggak berkepentingan tolong minggir kita mau lewat." Arga berbicara santai dan turut menurunkan standar motornya.


"Bac*t lu ya. Lu pikir lu siapa bisa ngatur-ngatur gua!"

__ADS_1


Senja mundur dan memperhatikan Indra dari balik tubuh Arga.


"Kamu ada masalah apa sih? Dateng-dateng bikin ribut!"


Indra geram dengan tangan terkepal. Dia bersiap melayangkan pukulan dengan sasaran dagu Arga. Namun Senja yang melihat pergerakan tangan Indra tiba-tiba bergerak ke depan tubuh Arga, sehingga bogeman yang harusnya mengenai Arga itu justru mendarat di pelipisnya.


"Akh!!" Senja menjerit. Arga telat menahan tubuhnya sehingga Ia harus tersungkur.


Indra kaget dengan perbuatannya. Dia tak menyangka kalau Senja yang akan menerima pukulannya.


Arga segera turun dan melihat kondisi Senja. Dia geram mendapati luka robek kecil di sudut alisnya. Dia segera bangkit dan berjalan mendekati Indra. Wajah kalemnya pergi entah kemana, berganti dengan wajah penuh amarah. Melihat perubahan raut wajah Arga, Indra tanpa sadar mundur beberapa langkah.


Bugh bugh bugh!


Tanpa ba-bi-bu, Arga menghujani Indra dengan pukulan bertubi-tubi.


Flasback off


"Terus Mas?"


"Apanya yang terus?"


"Indra kondisinya gimana? Tadi kan nggak nyampe sana orangnya udah nggak ada."


Arga menghela nafas. "Tadi ada dua teman dia yang nolongin dia dan bawa dia pergi."


"Ya kalau Tito enggak mancing-mancing, aku juga nggak bakal mukulin dia tanpa alasan." Sebenarnya kalau bukan karena Senja yang tiba-tiba meluk aku dan nahan tubuhku untuk terus menyerang, mungkin nasib Indra nggak akan jauh beda sama Tito. Dulu aku selalu berhasil mengendalikan diri untuk tak berkelahi di luar gelanggang, namun sepertinya akhir-akhir ini aku sulit meredam emosi jika itu berkaitan dengan kamu, Senja.


Senja POV


Pamit ke bengkel depan nggak tahunya mereka modal berhenti di teras rumah. Tak enak karena harus berdiam seorang diri di dalam rumah aku berniat menyusul mereka. Urungkan niat ku saat mendengar percakapan mereka. Jadi berkelahi udah biasa buat kak Arga ya? Wah jangan-jangan dia bukan anak baik lagi. Kok aku jadi takut deket sama dia.


"Senja? Kamu ngapain nyempil di pintu gini?"


Aku begitu terkejut karena Kak Angga tiba-tiba muncul di depanku. Dari tempat duduknya, Arga menengok untuk melihatku.


"Udah habis es batunya?" tanya Kak Arga.


Aku mengangguk. Kak Arga menginterupsi ku untuk mendekat, saat itu juga Kak Angga melanjutkan langkahnya untuk masuk rumah. aku segera mendaratkan tubuhku di kursi yang sama dengan Kak Arga


"Siniin yang sakit tadi."


Aku menurut saja. Dia menyibak anak rambutku yang berantakan di sekitar wajah. Mengambil seujung salep dan mengoleskan di sana. Aku meringis karena rasa sakit saat luka di disentuh. Ditiupnya lukaku. Aku tersenyum, karena aku juga biasa melakukan ini jika terluka. Tapi tempatnya mana bisa aku niup.


"Senja sakit banget ya?" tanya Kak Arga dengan menangkup wajahku.

__ADS_1


Aku menggeleng.


"tadi kamu kayak merintih gitu?" tanyanya dengan raut khawatir.


Aku lagi-lagi menggeleng, dan senyum si*lan ini malah nongol begitu saja. Melihat senyum di wajahku, raut hawatir itu perlahan pudar. Dia segera melepaskan tangannya dari wajahku dan terakhir dia mengacak rambutku sebelum benar-benar menjauhkan tangannya dariku.


"Kamu tadi nguping obrolan aku sama Angga ya?"


"Maaf ya Kak enggak sengaja."


"Nggak apa-apa kok. Kamu juga perlu tahu kayaknya." Dia menghela nafas, sementara aku diam menunggunya berbicara. "Tito sama Indra itu 1 geng." Arga menjeda ucapannya. "Dan keduanya sama-sama menargetkan kamu."


Aku belum mengerti sama sekali kemana arah pembicaraan kak Arga ini.


"Kalau Indra sepertinya suka sama kamu, tapi kalau Tito sejauh pengamatan ku dia sepertinya ingin ngerjain kamu."


"Senja."


"Hmm?" Kak Arga tiba-tiba meraih tangan kiriku dan membawa ke dalam genggamannya. Ya Tuhan. kok dadaku rasanya penuh sampai mau nafas aja susah sih? Terus kaya ada yang berontak mau keluar gitu. Ya ampun. Masa iya aku mau mati. Eh eh, kok Kak Arga wajahnya serius gitu sih.


"Bukannya aku mau ngatur-ngatur kamu, tapi mungkin sebaiknya kamu jangan banyak berurusan sama mereka, meskipun itu Indra yang sepertinya pengen deket sama kamu. Kalau Tito kamu paham kan alasannya?"


Aku mengangguk.


"Kalau Indra...., mungkin kamu bisa aman dari Tito tapi aku takut kamu kena pengaruh buruk kalau deket sama dia." Kak Arga kembali menghela nafas. "Bisa enggak kamu janji satu hal sama aku?"


Wajah yang sejak tadi kutatap itu, kini menatapku begitu dalam. "Janji apa Kak?"


"Jangan jadian sama Indra."


Tanpa perlu menunggu lama, aku segera mengangguk untuk menyanggupinya. Iya yang bener aja aku mau jadian sama cowok, tanpa diminta pun aku juga belum ada niatan untuk itu.


"Makasih ya." Kak Arga melonggarkan genggaman tangannya. Namun sejurus kemudian dipererat dan dirapatkan ke dadanya.


"Aku sekarang tinggal nyelidikin Tito." Kak Arga menggumam sendiri. Ingin sekali aku bertanya dan memperjelas apa baru saja diucapkannya, namun sayang aku tak bisa. Aku takut tak bisa berbicara lancar atau malah melakukan hal konyol. Akhir-akhir ini aku sering melakukan hal aneh saat berada di dekatnya.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.

__ADS_1


Happy reading, love you all.


__ADS_2