SENJA

SENJA
Saudara?


__ADS_3


Arga cakep pake seragam model koko. Yang kalem gini pantes jadi kesayangan para guru.



Senja kok malah nyebik ya?


^^^Cerita hanya fiksi belaka.^^^


^^^Dan percayalah, author juga suka baper pas lagi ngebacanya.^^^


^^^-Happy reading-^^^


“Yang terakhir Cahaya Senja….”


Degh!


Tiba-tiba jantung Senja mempercepat ritme detakannya. Merasa namanya dipanggil, Senja perlahan mengangkat wajahnya. “Iya Mas…”


Tito yang juga di sana menyenggol bahu Indra yang kebetulan duduk di sampingnya. “Kalem banget mainnya Arga, sejauh ini aku salut sama dia,” lirih Tito di dekat telinga Indra.


Indra hanya mengangguk dan kembali memperhatikan Arga.


Arga mengembalikan kertas yang ia pegang kepada Angga. Ia tak perlu membaca detail alamat Senja, karena jumlah tikungan dari jalan raya hingga tiba ke depan rumahnya ia sudah hafal di luar kepala.


Mata keduanya kini beradu. Entah ada yang menyadari atau tidak jika kini di mata Senja hanya ada Arga dan di mata Arga hanya ada Senja.


“Dari keempat calon anggota baru putri, kamu yang rumahnya paling jauh, apa ada syarat khusus dari pak Sam atau Mas Atma yang harus kamu patuhi untuk mengikuti latihan ini?”


“Pak Sam? Mas Atma?” lirih beberapa orang yang ada di sana secara bersahutan dengan saling memandang.


Rivan yang baru tiba hanya mampu menepuk jidat. Dari semua orang di sana, memang hanya dia yang tahu nama ayah Senja. Beg*. Kok bisa keceplosan sih.


Tito dan Indra hanya saling memandang. Mereka tak tahu siapa yang Arga bicarakan namun merasa aneh dengan caranya mengatakan.


Arga belum menyadari akan kecerobohannya. Dia masih tenggelam dalam pandangan Senja.


Senja menghela nafas. Ia yang lebih dulu muncul ke permukaan saat Arga masih asyik menyelam dalam lamunan. “Syarat dari ayah, yang penting jam 3 saya harus sudah di rumah, karena ba’da asyar saya harus diniyah…”


Samar-samar sudut bibir Arga terangkat. “Untuk latihan malam hari?”


“Ayah dan Mas Atma tak masalah, karena dulu Mas Atma dan Mas Anton latihannya malam hari…”


“Kamu…”


“Ehm…” Rivan segera berdehem untuk mencegah Arga terus berbicara berdua dengan Senja, karena kini sudah banyak mata yang memandang aneh pada mereka. “Jadi enaknya gimana nih Mas-mas?” tanya Rivan kepada Arga dan Wahyu, karena dari sekian banyak anggota, hanya mereka yang sudah disahkan.


“Usul saya untuk latihan pertama kamis siang, tepat selepas dzuhur, setelah itu pertemuan kedua sabtu saat jam ekskul. Kebetulan ekskul pramuka kan jadwalnya baru minggu depan,” terang Wahyu. Di sekolah ini ada ekskul wajib yang harus diikuti oleh semua siswa kelas VII yaitu pramuka, tapi pelaksanaaannya hanya sebulan sekali setiap hari sabtu.


“Gimana Mas Arga?” tanya Rivan pada Arga.


Arga terkesiap. Dia masih kesulitan menghadapi dirinya sendiri, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan Senja membuatnya berubah menjadi sosok yang moody. Dia menjentikkan jarinya meminta Rivan dan Wahyu untuk mendekat. “Kalau pulang sekolah bisa nggak selesainya jam 2?”

__ADS_1


“Kesempatan buat elu nganterin Senja,” ucap Rivan dengan wajah serius dan nada tak terbantahkan.


“Oke, tadi Mas Arga udah oke. Kita mulai latihan selasa setelah sholat dzuhur. Yang udah punya seragam latihan yang hitam bisa dipakai, yang belum punya bisa pake training dan kaos lengan panjang. Gitu kan Mas?” tanya Rivan pada Arga.


Arga menarik nafas Arga ia dapat lebih tenang. “Iya. Dan lagi usahakan pakai yang warnanya hitam atau warna apapun asalkan gelap. Mengerti?!” nada datar khas Arga sudah kembali, meskipun kembalinya harus dipaksa terlebih dahulu.


“Oh iya, mungkin ada yang merasa aneh karena kami tiba-tiba nimbrung di sini. Perkenalkan, saya juga merupakan pengurus yang namanya tak tertulis dalam struktur organisasi. Saya rasa menyebutkan nama Rivan dan Wahyu sudah tak penting ya, mengingat betapa kami sudah sering wara-wiri di hadapan kalian. Jadi nanti kalian akan akrab dengan kami meskipun kalian bukan anggota OSIS ataupun DEGA.”


Semua hanya diam dan tak banyak bereaksi mendengar ucapan Rivan karena yang ada di sana dominan laki-laki. Beda ceritanya kalau para perempuan, dapat dipastikan mereka akan histeris kegirangan karena saat latihan akan ada 2 cowok keren yang menjadi most wanted boynya sekolah.


“Oke, sebelum dibubarkan barang kali ada yang ingin di tanyakan?” Arga yang kmtenang sudah kembali.


“Mas…” Dian mengangkat tangannya untuk bertanya.


“Iya…” jawab Arga.


“Yang belum punya seragam beli sendiri apa ke Mas-mas?” tanya Dian.


“Beli sendiri bisa, kalau mau nitip…” Arga melayangkan pandangan pada Wahyu dan Rivan.


“Maaf Mas…”


Arga langsung menoleh saat mendengar suara Senja.


“Mas saya punya kenalan, kebetulan beliau Warga Terate juga, dan beliau pesan kalau ada siswa yang beli seragam ke beliau akan di kasih harga grosir meskipun belinya cuma satu.”


Ucapan Senja disambut bahagia oleh para calon anggota yang belum memiliki seragam.


Senja sempat melirik Arga sebelum menjawab. Namun sayang Arga tak paham dengan maksud tatapan Senja. Dia justru bengong dan balik menatap lekat Senja.


“Ck,” Senja berdecak dan melayangkan tatapan bertanya pada Rivan dan Wahyu untuk meminta izin menjawab pertanyaan rekannya.


Senja mengangguk setelah Rivan mempersilahkannya tanpa kata.


“Sebelah timurnya Kodim, tinggal bilang aja kalau temen adiknya Atma gitu.”


Ucapan Senja itu mendapat anggukan dari beberapa orang di sana.


“Sudah nggak ada pertanyaan kan?” tanya Arga kemudian.


“Tidak Mas…” serempak semua yang ada di sana.


“Baiklah, pertemuan kita akhiri sampai disini. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Waalaikum salam, warahmatullahi wabarakatuh…” serempak semua yang ada di sana.


“Salam persaudaraan…”


“Salam persaudaraan…” setelah itu semua bangkit dan membubarkan diri.


“Senja tunggu bentar…” lirih Arga saat berjalan seolah melewati Senja.


Senja yang hendak berdiri kemudian segera duduk kembali.

__ADS_1


“Senja nggak balik?” tanya Dian yang tadi berjalan bersamanya.


“Bentar, masih kesemutan…”


“Perlu aku tungguin?”


“Enggak.” Tolak Senja cepat.


“Oke deh, aku duluan,” pamit Dian.


Senja hanya mengacungkan jempolnya.


Setelah semua pergi, Senja mulai celingak-celinguk untuk mencari keberadaan Arga.


“Senja…”


Tak keras memang tapi Senja cukup jelas mendengar jika namanya tengah di panggil. Dia bangkit dan berjalan menuju sekertariat. Di sana ada Arga lengkap dengan dua cup bubur kacang hijau di hadapannya.


“Buat Aya?”


“Iya. Ini tadi anget, tapi sekarang udah dingin,” cicit Arga sambil mengaduk bubur kacang hijau miliknya.


“Enakan dingin kali Mas, apa lagi pakai es…”


Arga tersenyum menatap Senja. “Kamu suka es?”


Senja mengangangguk sambil menyuapkan sesendok bubur kacang hijau.


“Mulai sekarang kurangin ya…” kata Arga sambil mengusap peluh di pelipis Senja.


“Kenapa emang?”


“Karena es nggak baik buat stamina kamu. Masih minat nyumbang piala buat sekolah kan?”


“Masa iya sih?”


“Coba tanya aja sama Mas Atma.”


“Fasih banget bilang Mas Atma?”


“Iya, kan Mas Atma sekarang juga saudara.”


Degh!


“Maksudnya?” tanya Senja yang tiba-tiba perasaannya tak enak.


“Ya kan Mas Atma dan aku sama-sama anggota organisasi dengan jargon persaudaraan dan simbol bunga teratai, jangan bilang kamu nggak tahu ya?” tanya Arga dengan menatap lekat Senja.


Senja tak dapat menyembunyika senyum di bibirnya. Mikirin apa sih aku tu, astaga.


Tanpa arga dan Senja tahu, seseorang dengan cemas berdiri di dekat pintu bagian luar. Mereka nggak boleh dibiarin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2