
Jam menunjukkan pukul 11 siang. 4 orang anak perempuan berseragam SMP berjalan beriringan.
"Kalian pulang aja deh, aku nggak papa kok," kata Senja pada ketiga kawannya.
"Enggak enggak, kita nggak setega itu biarin kamu pulang sendirian," kata Ifa.
"Aku sih fine-fine aja kalian mau nganterin aku, tapi rumah kalian beda arah lo sama aku," tutur Senja.
"Santuy," kata Ayu sambil merangkul bahu Senja.
Tin tiinnn
"Mau pulang?" tanya Arga yang tiba-tiba menghentikan motornya.
"Iya Kak," jawab Ayu dengan menghentikan langkahnya. Ketiga orang lainnya pun akhirnya ikut berhenti.
"Loh bukannya kalian bertiga beda arah ya sama Senja?" tanya Arga lagi.
"Iya sih, tapi kita nggak tega ngebiarin Senja pulang sendirian," terang Ifa.
"Sebenernya abis ini aku di suruh Ibu ke rumah kamu. Kalau kamu mau kamu bisa bareng aku," kata Arga sambil memandang ke arah Senja.
Senja melotot tak percaya mendengarnya, sedangkan ketiga temannya nampak saling memandang sambil mengulas senyum.
"Emm, anu, tapi...," Senja bingung harus berkata apa. Karena ini hari Sabtu, tak ada mobil khusus yg menjemput ke sekolah karena adanya kegiatan ekstra dan jam pulang masing-masing kegiatan tidak sama.
"Senja mau kok, ya kan Senja," ucap Ucik tiba-tiba.
"Nah iya, kalau Ucik berbicara dapat dijamin kebenarannya," timpal Ifa.
"Betul itu," lanjut Ayu.
Senja hanya merengut dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tapi ke rumah ku bentar nggak apa-apa kan, ngambil baju Ibu dulu buat di bawa ke Mbak Arti," terang Arga.
"Waaaahmb,,,," Ayu dan Ifa membekap mulutnya sendiri, berharap pekikan yang keluar dari mulutnya dapat tertahan.
Sedangkan Ucik?
Dia yang minim ekspresi pun tampak tak mampu menyembunyikan kedua sudut bibir yang terangkat membentuk sebuah lengkungan bernama senyum.
Ada yang tahu kabar Senja? Kira-kira apa yang terjadi padanya?
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
6 detik
"Senja gimana?" tanya Arga.
"Kita balik dulu kalau gitu ya, bye Senja," ucap Ifa tiba-tiba sambil menarik kedua temannya.
Sedangkan yang ditarik tampak beberapa kali menoleh kebelakang dan melambaikan tangan pada Senja yang baru saja ditinggalkannya.
Senja melongo, belum sempat dia berbicara, apa lagi menahan temannya, namun kini mereka malah sudah melesat pergi begitu saja.
"Senja," panggil Arga lagi.
__ADS_1
"Ya," jawab Senja sambil buru-buru mengalihkan pandangan dari teman-teman yang baru saja meninggalkannya, jadi menatap kearah Arga.
"Ayok naik," ajak Arga.
Awalnya Senja ragu, namun akhirnya ia pun naik di jok belakang motor Arga. Senja diam, namun pikirannya berkelana membayangkan apa yang akan dihadapi nanti setibanya di rumah. Saat tengah tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba Senja teringat sesuatu.
"Kak," panggilnya dengan suara yang sedikit keras.
"Apa?!" Arga pun melakukan hal yang sama.
"Kok Kakak bisa tahu rumah Senja?" heran Senja, karena dia dan Arga tidak begitu saling mengenal.
"Ibuku langganan Mbak Arti, jadi taunya dari Mbak Arti," jelas Arga.
"Oh....," jawab Senja.
Arga pun tersenyum mengingat kelakuan nya beberapa hari yang yang lalu.
Flasback On
Pulang sekolah Arga melajukan motornya dan berhenti di dekat gerbang sekolah. Kali ini dia tak langsung pulang melainkan hendak ke suatu tempat.
"Ga, nebeng ya," ucapan Bambang yang tiba-tiba nangkring di jok belakang motor Arga.
Arga melonjak kaget, karena sejujurnya dia tidak ingin ada yang tahu ke mana tujuannya. "Sorry Bam, aku lagi ada perlu, jadi nggak langsung pulang," tutur Arga.
"Tumben, mau ke mana, biasanya kalau udah baru pulang sekolah kamu langsung aja di barisan pertama," kata Bambang yang kembali melompat untuk turun dari jok motor Arga.
"Nggak apa-apa kan, sekali-kali doang."
"Ya udah deh, aku duluan kalau gitu. Atau mungkin kamu mau aku temenin."
"Nggak deh, makasih."
"Yo wes," ucap Bambang sambil melenggang pergi kemudian.
Arga POV
Resah dan gelisah
Menunggu di sini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru
Aku geli sendiri saat tanpa sadar bersenandung lirih sebait lagu yang isinya seperti menyindirku saat ini. Eh tidak juga, resah iya, gelisah iya, menunggu iya, tapi tanpa janji dan dusta.
Aku kembali memfokuskan pandanganku ketika sosok yang kini kutunggu muncul di depan mataku. Dia kemudian naik angkot yang akan membawanya pulang. aku mengikutinya. Tidak ada maksud lain hanya ingin tahu di mana rumahnya.
Setelah angkot itu mulai berjalan, pelan-pelan aku mengikutinya dari belakang. Sudah hampir semua penumpang turun, sosok yang ku ikuti masih berada di dalam angkot. Hingga akhirnya di depan sebuah masjid turunlah dia. Aku nyaris ketahuan karena aku lupa menjaga jarak dengan angkot yang ia tumpangi.
Dia nampak berbelok ke sebuah gang, dan sesuai dugaanku, dia berjalan menyusuri gang yang kemarin aku lewati bersama ibuku. Sayang aku tak lagi bisa mengikutinya dengan motor, karena jika itu kulakukan pasti aku ketahuan.
Aku turun dari motor dan meninggalkan motorku aku aku di pinggir jalan untuk dapat mengikutinya dari jauh. Dan benar saja, dia masuk ke halaman rumah sederhana yang kemarin aku datangi. Terjawab sudah ternyata adik ipar Mbak Arti yang kemarin jatuh dan kakinya terkilir adalah Senja.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa, kenapa Mbak Arti memanggil Senja dengan sebutan Aya? Apakah Aya nama panggilan Senja di rumah, ataukah ia adalah orang yang berbeda dengan Senja.
Mendadak keyakinan yang baru saja muncul itu sirna. Ingin sekali aku mengetuk pintu dan memastikannya. Tapi kuurungkan.
__ADS_1
Apa yang harus kukatakan jika ditanya oleh orang di rumah Senja karena muncul tiba-tiba di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk segera kembali.
Aku pun pulang setelahnya. Di rumah ternyata ada Mbak Arti yang mengantarkan baju Ibu yang dipermak nya kemarin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak kusia-siakan kesempatan ini untuk bertanya pada Mbak Arti. Aku bertanya siapa nama lengkap adik iparnya. Ternyata namanya adalah Cahaya Senja, jika di rumah dipanggil Aya. Mission clear.
Arga POV End
Flashback Off
Sebuah motor nampak berbelok memasuki sebuah halaman. Tak seberapa luas namun penuh dengan tanaman hias.
"Mau masuk atau nunggu di sini, aku mau ngambil baju Ibu sebentar," ucap Arga pada Senja.
"Nunggu sini aja deh Kak," jawab Senja.
"Oke deh, bentar ya," pamit Arga pada Senja sebelum ia berlari memasuki rumahnya.
"Assalamualaikum," teriak Arga sambil menerobos masuk rumah begitu saja.
"Waalaikumsalam, kok lari-lari Nak," tanya ibu Rubiah pada anaknya.
"Baju Ibu mana yang mau di permak, biar aku antar ke Mbak Arti."
"Tapi Ibu belum siap-siap," kata ibu Rubiah sambil memperlihatkan penampilannya.
"Aku anterin sendiri aja Bu, sekalian nganterin adik iparnya Mbak Arti."
"Loh kok, memangnya kamu kenal?" tanya ibu Rubiah.
"Kenal Bu. Udah mana cepetan bajunya."
"Kok bisa?" tanya ibu penasaran.
"Bisalah. Ceritanya panjang, nanti ya Bu aku ceritanya. Sekarang mana bajunya, kasihan dia sudah nunggu di luar," terang Arga.
"Loh dia ke sini?"
"Iya, itu di luar. Mana Bu cepetan," ucap Arga tak sabar.
Bukannya segera mengambil baju, ibu Rubiah malah berjalan cepat menuju arah depan rumahnya.
"Nak, ayo masuk dulu sebentar."
"Eh, itu Bu. Saya nunggu sini aja."
"Ayo sini masuk dulu," ucap Ibu Rubiah sambil membimbing Senja untuk memasuki rumahnya.
"Kamu duduk dulu ya Ibu bikinin teh. Atau makan aja sekalian ya, belum pada makan kan pulang sekolah."
"Makasih Bu, emmm, itu...," Senja bingung harus berkata apa lagi.
"Bu, Senja lagi kurang enak badan, makanya kudu cepet pulang," ucap Arga tiba-tiba.
"Lo sakit ya, mending...."
"Buuuu, bajunya mana?" potong Arga cepat sebelum ibu melanjutkan ucapannya.
Ibu Rubiah pun akhirnya mengalah dan beranjak berjalan masuk ke bagian lebih dalam rumahnya. Senja menunggu di ruang tamu sedangkan Arga tampak berjalan menuju kamarnya. Tak berselang lama Arga pun keluar dari kamar dengan baju baju santai nya, dari sisi lain ibu juga muncul dengan tangan menenteng sebuah kantong kresek hitam.
Arga segera mengambil alih kantong itu dan berpamitan pada ibunya.
TBC.
Alhamdulillah, done.
Happy Reading Dear.
__ADS_1
jangan lupa like, comment, vote, rate, kalau nggak keberatan share juga boleh, heheheh.