SENJA

SENJA
Absen


__ADS_3

Pagi hari di sekolah.


"Udah jam segini Senja kok belum nongol ya?" kata Ifa tiba-tiba.


"Iya ya, bentar lagi bel loh. Masa Senja kumat lagi telatan nya?" timpal Ayu.


Ifa, Ayu dan Ucik saling beradu pandang. Sejurus kemudian Ira muncul dari balik pintu.


"Ra!" panggil Ifa.


"Hmm," Ira hanya berdehem sambil menghampiri mereka.


"Hmm hmm, jawab kek," kata Ayu.


"Lagi sariawan ini males ngomong," jawab Ira.


"Oh maaf," kata ayu. "Eh, biasanya kamu seangkot kan sama Senja kalau sekolah?" lanjut Ayu.


Ira hanya mengangguk sambil menyodorkan sebuah amplop di hadapan mereka.


"Apa nih?" tanya Ifa sambil menerima amplop tersebut. "Surat izin? Sakit? Senja sakit?" lanjut Ifa kala membaca isi surat dari dalam amplop yang baru saja diserahkan oleh Ira.


Tuk!


"Aduh!" pekik Ifa kemudian saat sebuah pensil tiba-tiba mengetuk jidatnya.


"Lagian lu ya, udah jelas di situ keterangannya sakit, pakai nanya lagi?" omel Ayu.


"Ya kan saya kaget saudara, emang kalian nggak kaget apa Senja tiba-tiba sakit? Masa iya gara-gara penggaris nya patah dia langsung sakit?"


Pletak!


"Aawwhh!!!!"


Bukan lagi rintihan, ini adalah sebuah teriakan.


Seisi kelas menoleh padanya. Sedangkan saksi mata kejadian membulatkan matanya dengan mulut menganga.


"Kira-kira dong kalau mau mukul tuh! Ini aset ya Tuhan. Gimana masa depanku kalau ini sampai bermasalah!" gerutu Ifa sambil mengelus kepalanya yang baru saja ketiban sial karena sebuah jitakan mendarat tanpa permisi.


"Lagian kamu tuh nggak logis banget sih, bikin malu kita-kita para siswa kelas f yang notabene kelas unggulan di sekolah ini," kata Ucik sambil menatap tajam sahabatnya ini.


"Itu bukan pernyataan tapi pertanyaan dodol. Jangan-jangan kamu nggak bisa bedain ya mana yang pernyataan mana yang pertanyaan," ucap Ifa tak mau kalah.


"Udah udah udah, kalian apaan sih," lerai Ayu.


Sedangkan Ira, dia hanya menatap keduanya dengan tatapan malas. Sepertinya sariawan benar-benar membuatnya tak ingin berbicara.


"Udah udah, mending pada duduk manis, diam-diam, baik-baik, bentar lagi bel terus pelajaran mulai," kata Ayu pada ketiga rekannya.


Ira kemudian melenggang menuju tempat duduknya, sedangkan Ifa dan Ucik duduk di kursi masing-masing sambil menyiapkan buku pelajaran untuk menghadapi pelajaran di jam pertama.


"Yang belum ngumpulin tugas matematika siapa ya!" teriak Heri di depan kelas.


"Ya ampun sampai belum ngumpulin tugas," kata Ifa sambil menepuk jidatnya.


"Udah pamer otot pagi-pagi ya gitu tuh!" sindir Ucik dari meja belakang.


"Hello, bukannya situ ya yang yang barusan pamer otot," timpal Ifa tak mau kalah.


"Udah udah sini mana tugasnya," kata Ayu yang tiba-tiba menyerobot tugas yang dipegang oleh Ucik dan Ifa. Dia kemudian berjalan menuju depan kelas dan menyerahkan tugas ketiganya kepada Heri.


"Kok cuma 3?" tanya Heri pada Ayu.

__ADS_1


"Senja nggak masuk, jadi tugasnya minus dia," jawab Ayu.


"Oke."


Setelah selesai mengumpulkan tugas teman-temannya, Heri segera bergegas ke kantor untuk diserahkan kepada Pak Umar, guru matematika mereka.


Setelah itu bel masuk pun berdering. Seluruh siswa SMP masuk di kelasnya masing-masing. Tak ada satupun yang berkeliaran di luar kelas, kecuali mereka yang kini sedang jam olahraga.


Hingga bel istirahat berbunyi, barulah semua berhamburan keluar kelas.


Tak terkecuali Ayu, Ucik, dan Ifa. Mereka berjalan beriringan menuju kantin sekolah.


"Agak aneh ya, nggak ada Senja," kata Ifa tiba-tiba.


"Biasanya Senja ngacir ke toilet dulu ya baru ke kantin," sambung Ayu.


"Iya, sampai akhirnya kenal sama kakak kelas gara-gara pingsan di depan toilet," timpal Ifa sambil terkekeh.


Ifa dan Ayu kemudian saling memandang. Seakan punya pikiran yang sama mereka pun tertawa bersama kemudian. Tapi tidak dengan Ucik. Dia hanya diam dengan wajah datarnya.


"Cik!" Ifa tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Ucik dibelakangnya. "Ngomong kek, jangan diem aja. Berasa diikuti hantu kalau kamu mingkem terus," lanjut Ifa kemudian.


Ucik tak juga bersuara dan berjalan mendahului kedua temannya kemudian.


"Ih, tu bocah kenapa sih," sungut Ifa.


"Tau ah," jawab Ayu sambil berlari mengejar Ucik.


"Eh, eh, eh, bocah, tungguin!" teriak Ifa yang ditinggalkan begitu saja oleh dua orang temannya.


Di kantin, mereka segera mencari tempat duduk yang strategis. Di pojokan, itulah tempat favorit mereka.


"Hey kamu!"


Baru saja Ifa hendak menyusul dua sahabatnya, panggilan tanpa nama itu membuat Ifa berhenti. Entahlah, dirinya merasa terpanggil untuk mencari sumber suara. Dia sudah menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan memutar ke belakang, namun tak juga ditemui siapa dalang dari panggilan itu.


"Hey!"


Panggilan itu terdengar lagi di telinganya. Namun dia mengacuhkannya dan hendak menyusul kedua temannya dengan segera.


"Hey kamu, temennya Senja."


Akhirnya Ifa berhenti lagi.


"Ya ampun Kak, kalau manggil yang jelas napa," kata Ifa kala mendapati Arga tak jauh darinya.


"Aku kok nggak ngeliat Senja dari tadi," kata Arga.


"Senja sakit Kak, dia nggak masuk hari ini."


"Sakit? Kok bisa?!"


"Bisa lah Kak, namanya juga manusia," kata Ifa.


Seakan baru paham situasi, sebuah ide muncul begitu saja di benaknya. Ditatapnya wajah seseorang dengan raut cemas itu.


"Kak, khawatir ya?" tanya Ifa.


"Iya."


"Kangen ya?"


"Iya."

__ADS_1


Ifa tersenyum puas. Namun Arga sama sekali tak bereaksi.


"Pengen jenguk?" lanjut Ifa.


"Iya, tapi kayaknya susah deh," jawab Arga dengan nada pesimis.


"Wah, hahaha," Ifa segera membekap mulutnya sendiri untuk meredam tawanya.


"Ada yang lucu?" tanya Arga.


Ifa segera mengulum bibirnya untuk menyembunyikan senyumnya. Dia menggeleng kemudian.


"Ya udah deh, makasih," kata Arga sambil berbalik untuk pergi.


"Untuk apa Kak?" tanya Ifa.


"Untuk apa ya?" jawab Arga tanpa menoleh.


"Lhah?! Ya mana saya tahu," kata Ifa.


"Pokoknya makasih," jawabnya sambil menoleh menatap Ifa. Arga kemudian berbalik namun dia membeku. Sementara itu Ifa sudah pergi menyusul kedua sahabatnya.


"Ngobrol apa kamu sama Kak Arga?" tanya Ayu pada Ifa saat baru saja Ifa datang dengan satu mangkok bakso.


"Si Kakak nanyain Senja," kata Ifa sambil membuka sebotol air mineral dan menenggaknya kemudian.


"Roman-romannya Kak Arga naksir deh sama Senja. Wah, belum lama masuk SMP udah ada satu penggemar nih Senja," kata Ayu.


Ifa mengangguk sambil menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.


"Padahal Senja kan emm, gimana ya. Kurang eemmm, kurang wow deh, nggak kayak Dewi atau Yusi yang emang sejak daftar aja udah ada fans."


Ifa mengunyah bakso dalam mulutnya dengan cepat dan segera ditelan setelahnya.


"Maksud lo Senja nggak pantas gitu punya pengagum?" sarkas Ifa.


"Ya nggak gitu juga," sanggah Ayu.


"Udah ngomongin orangnya. Kasian Senja kalau diobrolin terus, nggak nyaman dia pasti," sambung Ucik.


Sejenak mereka diam. Sama-sama sibuk dengan makanannya.


"Eh beneran deh," kata Ifa tiba-tiba.


"Apanya yang beneran?" tanya Ayu.


"Pas kapan ya, minggu lalu pokoknya, eemmm, kapan ya?" kata Ifa sambil mengernyit berusaha mengingat sesuatu, namun ingatan itu tak muncul juga di otaknya.


"Terus intinya?" tanya Ayu tak sabar.


"Intinya..."


"Hanifa!"


Merasa namanya dipanggil, Ifa segera menoleh. Begitu pula dengan Ayu dan Ucik. Mereka kompak menatap objek yang sama, yaitu pemilik suara yang memanggil nama Ifa.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah support selama ini.


Yang udah mampir makasih bgt juga.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak pokoknya ya.


Happy reading.


__ADS_2