
Bruk!!
Sangking terburu-burunya Marko dan Zia sama-sama bertabrakan, Zia yang kurang fokus hampir kehilangan keseimbangan dan akan Jatuh. Namun tangan Marko sigap menariknya dan menjatuhkan Zia ke pelukannya.
Menyadari hal itu Zia langsung mendorong tubuh Marko dengan sekuat tenaga hingga Marko jatuh tersungkur.
"Maafkan saya, Tuan!" Zia terkejut, karena terlalu reflek mendorong Marko sekuat tenaga.
Ia segera berjongkok mengambil Ipad Marko yang jatuh. "Syukurlah gak retak." Ucap Zia.
"Lo bukannya nolongin gue malah ngambil Ipad itu duluan?" Tanya Marko
"Maaf Tuan, Saya tahu harga Ipad ini mahal. Jadi saya khawatir jika Ipad ya kenapa-kenapa." Jawab Zia.
"Jadi Harga gue lebih murah dari Ipad itu maksud Lo?" Marko memperjelas.
Zia sadar dia sudah salah, "Bukan begitu pak." Ia menghampiri Marko untuk membantunya bangun.
"Gak usah, gue bisa sendiri." Marko berdiri sendiri tanpa bantuan Zia.
Zia ikut berdiri dan menundukkan Kepalanya
"Gue jadi tahu seberapa besar loyalitas lo ke gue!" Kata Marko.
"Maafkan saya, Tuan."
"Lo gak bisa bilang selain minta maaf?" Protes Marko.
Zia mendongakkan kepalanya menatap Marko. "Bisa, tuan. Boleh saya menjawabnya?"
"Iya suka-suka elo lah, mulut-mulut lo."
"Kalau memang anda meragukan loyalitas saya ke anda setelah kejadian ini, tolong tarik kambali ingatan anda ke beberapa waktu lalu. Anda menyuruh pengawal anda menunggu anda dengan duduk diam tak bersuara dan hanya bernafas dengan sangat hati-hati karena tidak ingin mengganggu kesibukan tuannya. Hampir tiga jam dia didepan anda dan anda tidak menyadarinya. Setelah ia bertanya untuk apa anda menyuruhnya menemui anda? dengan gampangnya anda menjawab lupa."
Zia meluapkan amarah yang ia pendam dan mengembalikan Ipad Marko kemudian pergi meninggalkan Marko dengan kesal.
"Lho, heh! disini kan gue yang marah duluan, kok dia yang pergi ninggalin gue? Harusnya kan gue yang ninggalin dia?" Marko heran
"Jadi tau gue arti dari wanita selalu benar." Gumam Marko, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
**********
Sudah hampir seminggu ini Marko dan Zia tak saling bertegur sapa. Zia tetap melakukan tugasnya dan mengawal kemanapun Marko pergi. Jika ada yang dibutuhkan dari Zia, Marko selalu menyuruh krang ketiga menyampaikannya pada Zia.
"Naluri kewanitaan lo sepertinya emang udah tertanam di diri lo deh." Kata Hengky.
Ketika malam minggu Marko dan Hengky selalu menghabiskan waktu menemani Langit yang sedang mengumpulkan kebali kepingan-kepingan hatinya yang sudah porak poranda.
"Gue gak percaya Zia bisa bentak elo, selama ini gak ada yang mengeluhkan tingkahnya." Kata Langit yang menatap Marko curiga.
"Kayanya emang masalahnya ini di elo deh." Tebak Hengky. "Cuma gara-gara dia lebih milih Ipad daripada nolongin lo, lo marah ke dia dan dia balik marah-marah ke elo? Emang lo ngomong apa?"
"Pasti ada alasan Zia sampe marah-marah. Atau lo ngelecehin dia ya?" Tebak Langit.
"Ih, Mulut lo! Lo kira gue laki-laki apaan?" Protes Hengky.
"Ah, Iya sih. Gue juga masih ragu dengan jati diri lo." balas Langit.
"Lo cerita mulai awal deh, gue pengen ngerti banget siap yang salah." Kata Hengky.
Terlihat keraguan di mata Marko.
__ADS_1
"Lo gak jujur, gue telpon Zia sekarang buat cari tahu kebenarannya." Kata Hengky.
Marko menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Gue nyuruh dia ke ruang kerja gue waktu gue lagi tanda tangan berkas-berkas gue. cuma gue suruh duduk aja, dan sampai kelar berkasnya baru sadar kalau ada dia. Dia tanya ngapain nyuruh dia kesana, guenya lupa ngapain nyuruh dia nemuin gue."
"Lama?"tanya Hengky.
"Hampir tiga jam sih katanya."
"Pantesan kalo dia marah-marah, Bambang!!" Langit dan Hengky bergantian melempar bantal Sofa ke Marko.
"Lho, gue kan bosnya! gak bisa donk dia seenak jidatnya marahin gue! gue yang gaji dia." Marko masih membela diri.
"Udahlah, males ngomong sama lo. Gak manusiawi banget." Ucap Hengky.
Marko hanya bergumam sendiri.
Pulang dari rumah Langit Marko juga masih kepikiran kata-kata Langit dan Hengky. Memang dia yang salah di awal dan terlalu egois untuk minta maaf duluan.
**********
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamar Marko membuatnya terbangun dari tidurnya, padahal ia baru saja memejamkan matanya.
"Sudah jam lima pagi, tuan. Apa anda tidak peegi lari pagi hari ini?"
Suara Zia dari balik pintu membuat matanya terbuka.
"Tunggu gue di depan, Sepuluh menit lagi gue keluar." Teriak Marko.
Buru-buru ia bangun dari tidurnya, pergi kekamar ganti untuk sikat gigi dan cuci muka.
Tak sampai sepuluh menit Zia menunggu, Marko sudah keluar dengan Celana Joger selutut, jaket hodie dan sport shoes. Tangannya sudah menenteng botol air minum.
Reflek Zia menangkapnya dengan baik, ia menunggu Marko yang masih meregangkan otot-ototnya.
Tak sampai lima menit, Marko mulai berlari kecil keluar pagar. Zia mengikuti dibelakangnya.
Jalanan komplek perumahan Marko pagi ini lebih ramai, lebih banyak muda mudi yang lari pagi, jalan santai ataupun sekedar memadu kasih.
Marko berlari pelan, terkadang berlari cepat lalu pelan lagi. Zia yang mengikutinya sampai ngos-ngosan kehabisan nafas.
Bruk!
Karena lelah, konsentrasi Zia sedikit hilang. Ketika Marko berhenti mendadak, ia yang berlari dibelakang jadi menarbrak Marko.
"Minum gue." Marko menyodorkan tangannya.
Ia duduk berselonjor kaki di tepian paving jalan. Zia mengikutinya, duduk menjaga jarak dari Marko. Ia mulai mengatur nafasnya dan sesekali meneguk air yang ia bawa.
Marko memperhatikan Zia yang meneguk air, sinar mentari yang menyentuh tubuh Zia membuat bulir-bulir keringat di kening dan leher Zia berkilau. Merasa diperhatikan, Zia segera mengakhiri minumnya dan memalingkan wajah.
"Lo masih marah ke gue?" tanya Marko.
Zia menghadap Marko namun menunduk, "Tidak, Tuan. Bagaimana mungkin saya bertindak tidak sopan kepada anda."
"Kenapa Lo diemin gue?" Desak Marko
"Saya tidak pernah mendiamkan anda, Tuan. Setiap hari saya selalu bicara dengan anda, bukannya anda yang sedang mendiamkan saya?" Jawab Zia.
Marko diam berfikir, "Iya juga sih."
__ADS_1
"Mungkin anda sendiri yang sedang marah, tuan."
"Jelas itu! Dan elo gak minta maaf ke gue?"
Zia menatap Marko, "Maafkan saya jika saya melakukan kesalahan yang membuat anda marah."
"Ya, gue maafin kok." Marko tersenyum lebar menatap Zia. "Masih mau istirahat?" Tanya Marko.
Zia berdiri, "Saya sudah siap berlari lagi."
Marko menarik tangan Zia agar duduk kembali, "Santai dulu aja lah, gue masih capek." Kata Marko.
Zia mengangguk, Ia duduk kembali dan menjaga jarak dengan Marko.
"Lo gak bisa duduk deket gue sini Zi? Dikira orang lain kita ini lagi marahan lho."
Zia menggeleng, "Jarak idealnya memang seperti ini Tuan, saya tidak bisa terlalu dekat dengan anda." Jawab Zia
Karena Zia tak mau menuruti kata-katanya, Marko akhirnya memilih untuk menggeser duduknya mendekati Zia dan mengalungkan tangannya di bahu Zia.
"Maaf Tuan!"
Zia berusaha mengelak, namun tangan Marko lebih kuat dari dugaanya.
"Bentar, Zi! Lihat dua cewek itu udah mau kesini." Marko melirik dua wanita yang selalu menggodanya.
Zia melihat dua wanita itu berlari kearahnya.
"Ngapain kesini? Ganggu orang pacaran aja!"
Ucapan Marko bukan hanya mengejutkan dua wanita genit itu, namun Zia juga.
"Bukannya itu pengawal kak Marko?"
"Iya, jangan bohong deh kak."
"Terserah aja, tanya ke dia." Marko menatap Zia.
Du wanita itu juga menatap Zia. "Jangan Bohong kamu."
Zia menatap Marko lalu menunduk.
"Sayang, bilang donk sama mereka. Gak usah malu malu." Kata Marko.
Zia kemudian berdiri.
"Iya, Marko itu cowok aku! Udah ku diem-diemin selama ini kalian godain dia, tapi sekarang enggak lagi! Mau ku colok mata kalian biar gak kegenitan lagi ngelirik cowok orang?"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.