
Langit merebahkan dirinya di sofa panjang, dengan paha Senja dijadikan bantal untuk kepalanya. Tangannya sibuk menggenggam tangan kiri Senja, sedang kan dirinya menikmati usapan lembut jari jari Senja di rambutnya.
"Aku sudah mendengar tentang kamu dari Bu Ella, Mas." kata Senja.
"Tentang aku? kenapa dengan Aku?" tanya Langit.
"Karena aku, kamu jadi menyiksa diri kamu. Kamu jadi sering sakit karena terlalu sibuk bekerja."
"Mau gimana lagi. Kalau aku gak menyibukkan diri dengan pekerjaan, otakku akan selalu mikirin kamu. Dan itu membuat hatiku sakit. Bayangin coba, gimana sakitnya hatiku cuma bisa mikirin kamu tanpa bisa melihat bahkan menyentuhmu."
"Iya iya. Aku juga ngerasain itu, Mas. Walau mungkin gak sebesar kamu." ucap Senja.
Langit mengecup tangan Senja.
"Oya, aku mau ngucapin makasih ke kamu. Udah belikan aku Ruko disebelah. Aku udah ngincer lama Ruko itu."
"Iya, Mia sudah cerita."
"Aku akan ganti uang kamu mas, aku cicil dua kali ya." Senja menego.
Langit bangun dari tidurnya, ia duduk menghadap Senja. "Apa kamu gak mau terima pemberianku?"
"Mas, pemberian itu terlalu besar buatku. Mana bisa aku terima begitu saja." Tolak Senja.
"Aku tidak memberikannya, Aku hanya mengganti apa yang pernah ku ambil paksa darimu."
Senja kebingungan, "Apa yang pernah kamu ambil dariku mas?"
"Gaji kamu yang terpotong karena ganti rugi udah nabrak mobilku dulu."
Senja mencoba mengingat.
"Pak Bambang marahin kamu di lampu merah."
"Aaaah, iya. Aku inget! Jahat banget kamu mas waktu itu." Senja memukul pelan dada Langit. "Padahal aku sibuk cari uang buat biaya hidup dan sekolah Bimo, main kamu potong."
"Makanya, sekarang aku ganti."
"Ya gak gini juga kali, Mas. Ini terlalu mahal."
"Aku ini suami kamu lho, Apa salah kalau suami mau kasih sesuatu ke istrinya? Atau aku harus kasih sesuatu ke orang lain aja?" tanya Langit.
"Ih. Jahat banget pilihannya!!" Senja kembali memukul dada Langit.
"Aku tahu selama ini kamu terlalu banyak memberi, sampai-sampai kamu lupa bagaimana cara menerima. Bagaimanapun juga kamu seorang istri, sayang. Sesorang yang harus menerima apapun pemberian suaminya. Dan aku berani menjamin, apa yang kuberikan untukmu semua dari akar yang halal."
"Apa aku menyakitimu, Mas?" Tanya Senja.
"Ya, jika kamu terus menerus menolak ku."
"Aku gak akan ngelakuin itu lagi." Ucap Senja.
Langit mengusap kepala Senja, membuat rambutnya sedikit berantakan.
"Kamu sudah makan, mas?" Senja melihat coolerbag yang ia bawa tadi masih diatas meja.
Langit mengangguk, "berkat masakan kamu tanganku gak jadi dimasukin jarum."
Senja tertawa kecil, "Mulai besok, bekal makan siang kamu aku yang siapin, Mas."
Langit mencoba mencerna kalimat Senja, "Apa yang sedang ku pikirkan sama dengan yang kamu maksud?" tanya Langit.
__ADS_1
Senja mengangguk, "Aku sudah menyelesaikan urusanku di Malang, Mas. Kedatanganku kemari selain ingin bertemu denganmu juga ingin menyiapkan keperluan anak-anak disini. Jadi kalau mereka kemari, semuanya sudah siap."
Langit masih menatap Senja, Ia mendengarkan tiap kalimat yang keluar dari mulut Senja. "Jadi, kamu sudah memutuskan untuk tinggal di Jakarta?" Tanya Langit memastikan.
Senja menyentuh kedua pipi Langit dan menatap tepat dimatanya. "Iyaaaa, Mas. Kita akan tinggal bersama mulai sekarang." Senja memberikan kecupan singkat dibibir Langit.
Langit kontan menarik tubuh Senja jatuh ke pelukannya. "Makasih ya, Sayang. Makasiih."
Senja tersenyum dalam pelukan Langit, ia bisa merasakan bagaimana bahagianya Langit saat ini.
Senja melepaskan pelukan Langit, "Kamu lanjutin kerjaan kamu aja mas. Aku mau keliling sebentar cari sekolah untuk anak-anak."
"Gak perlu, sayang." Cegah, Langit. Tangannya menarik tuas telpon di meja kecil ujung sofa. "Ky, masuk sini Ky." ucapnya lalu meletakkan kembali tuas telponnya.
Tak lama dari Langit menutup telpon terdengar suara ketukan dari pintu lalu terlihat Hengky masuk ke dalam.
"Ya, Pak?" Tanya Hengky.
"Lo cariin kindergarten yang paling mahal, paling mewah, paling lengkap permainannya di sini." Langit memberi perintah.
"Baik, Pak."
"Lho, jangan jangan" Senja mencegah Hengky, "Jangan mas."
Hengky mengurungkan niatnya pergi dari ruangan Langit.
"Kenapa sayang?" Tanya Langit
"Biar aku cari sendiri saja mas, mahal belum tentu cocok buat anak-anak."
"Udah, Hengky tahu kok mana yang baik mana yang enggak. Tenang aja. Selama ini dia selalu tepat sasaran kok."
"Itu untuk hal bisnis, yang memang udah belasan tahun kalian geluti. Jangan samain anak-anak dengan bisnis donk." Protes Senja. "Lagian kamu ini Papa macam apa, bukannya antusias nyariin sekolah anaknya sendiri malah nyuruh orang lain. Sebenarnya papanya anak-anak itu kamu apa Mas Hengky?"
"Aduh, niat baik gue salah lagi." Keluh Langit
"Apa jangan-jangan memang mereka anak-anak saya, Pak?" Tanya Hengky.
"Anak kakikmu itu!!"
Hengky cekikikan. "Udah, kejar sana. Ajak cari sekolah bareng-bareng. Gak peka banget sih jadi orang."
"Oh, iya. Bener. Kasih tau pak Bambang siapin mobil depan Loby."
"Tuh kan, dia bersikap bodoh lagi kalau menyangkut hal-hal seperti ini." keluh Hengky
Langit langsung berlari keluar ruangannya dengan lengan kemeja yang masih digulung.
Terlihat Senja masih menunggu di depan pintu lift.
"Sayang!!" Langit memanggil sambil berlari ke arah Senja.
Senja mendengar Langit memanggilnya seperti itu didepan karyawannya membuat Senja malu dan salah tingkah. Beberapa karyawan menahan senyum.
"Mas, kok manggil aku kaya gitu sih didepan karyawan kamu." bisik Senja ketika Langit sudah berdiri didepannya.
"Lho, memangnya kenapa? kamu kan istriku." Tanya Langit.
Tring
Pintu lift terbuka, ada beberapa pegawai wanita disana menebar senyum ketika melihat Langit.
__ADS_1
"Silahkan, pak."
Ada sekitar empat wanita didalam lift, memberikan tempat untuk Langit. Senja merasa risih karena mereka terlihat sedang mencari perhatian ke suaminya. Bahkan kehadiran Senja tidak diindahkan.
Langit dan Senja masuk ke dalam Lift.
"Ke lantai berapa pak? Biar saya tekankan." Tanya salah satu dari mereka.
"Satu." Jawab Langit.
"Baik, Pak."
Baru wanita itu ingin menekan angka satu, sudah di dahului Senja. Senja tersenyum menang melihat pegawai itu terkejut dan bermuka masam.
"siapa sih itu?" terdengar bisikan dari belakang, namun Senja masih bisa mendengarnya.
Senja ingin sekali berteriak kalau dia ini istri dari bos mereka.
Dari pantulan pintu lift Senja bisa melihat para wanita dibelakangnya itu sedang mengagumi badan Langit yang hanya memakai kemeja putih.
"lihat deh otot lengannya." bisik mereka, membuat Senja geram.
"Jas kamu mana mas?" tanya Senja sinis.
"Ada, di ruanganku." jawab Langit.
Senja melihat lengan Langit yang terlihat kekar dengan sedikit otot yang timbul.
"Kenapa sih kok ngelihatin gitu?" Langit kebingungan.
Senja hanya menatap sinis, "Nih orang tahu gak sih kalau para wanita dibelakang ini sedang mengaguminya?" Batin Senja.
"Hei, kenapa lihatin kaya gitu?" Langit mencubit pelam pipi Senja. Sontak membuat pegawai dibelakang mereka menganga terkejut.
"Tring"
Pintu terbuka di lantai empat, Senja terkejut ada Monic dan dua pegawai pria berdiri disana.
"Bu Monic!!!" Senja menyapa histeris.
"Njaaaaaaa!!!" Monic berlari masuk ke dalam lift memeluk Senja.
Dua pegawai dibelakang Monic menyapa Langit lalu menyelip masuk dan berdiri di bagian belakang.
"Hwaaaaah. Kangen bangeeeet." Monic memeluk Senja dengan loncatan-loncatan kecil.
"Iyaaaa Buuuk. Kangen banget."
"Ehem!!" Langit berdehem risih melihat tingkah mereka. "Kalian mau membuat lift ini rusak?" Protes Langit disambut suara tawa dari belakang.
Monic terdiam, Ia lupa jika ada Langit disana.
"Jahat banget sih!! Orang lagi kangen-kangenan." Protes Senja.
Langit menekan tombol tutup di dinding lift.
"Lagian banyak tingkah sih ada bos besar." terdengar bisikan dari belakang.
Monic dan Senja yang mendengar langsung menoleh sinis ke belakang.
"Anak produksi kalian??" Tanya Monic, membuat mereka terdiam.
__ADS_1
"Berani-beraninya anak kemaren sore ngatain istri CEO? Mau pendek kontrak kalian disini?"
-Bersambung-