SENJA

SENJA
123


__ADS_3

Pagi itu tak terlalu banyak orang yang lari pagi di sekitar komplek perumahan Marko karena memang hari aktif bekerja.


"Kak Marko!!!"


Teriak dua orang wanita muda berlari menghampiri Marko, dengan sigap Zia menghalangi kedua wanita itu.


"Ih, Siapa sih lo!"


"Pergi sana, jangan ganggu kita."


Marko tertawa, "Dia Zia, pengawal baru gue. Buat jagain gue dari tangan-tangan kalian." Ejek Marko, kemudian melanjutkan larinya. Zia lanjut mengikuti langkah Marko.


"Zi! Sini deh, lari disebelah gue."


Zia berlari lebih cepat dan menjajarkan diri di samping Marko.


"Gue suka sama gaya Lo ngehalangin mereka. Tetap sigap ya. Gue gak suka dipegang sembarang orang."


"Baik, Tuan."


Zia tak berani menoleh ke arah Marko, tapi tetap saja dia merasa sangat penasaran dengan perubahan drastis yang terjadi pada diri Marko.


Walau dulu Marko sempat menjadi pria bertulang lunak dengan tubuh yang gemulai, saat ini ia sama sekali tak melihat sedikitpun sisa-sisa style kemolekan.


Cahaya mentari sudah mulai muncu ke permukaan, membuah langit gelap menjadi biru keemasan. Marko dan Zia sudah berlari cukup lama mengelilingi komplek, Marko mengajaknya berhenti di taman komplek yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.


Beberapa lansia berkumpul di komplek bersiap untuk melakukan senam bersama. Ada juga yang hanya untuk berjalan-jalan tanpa alas kaki diatas batu alam yang sengaja disediakan memanjang di sekeliling taman.


Marko duduk dibangku taman dengan kaki yang diluruskan, sedangkan Zia tetap berdiri mengatur nafas.


"Nih." Marko menyodorkan botol air yang ia bawa.


"Terimakasih, Tuan. Tapi itu milik tuan, saya tidak bisa meminumnya." Tolak Zia.


"Lo pikir gue penyakitan, Zi?" Marko tersinggung dengan penolakan Zia.


"Tidak, Tuan. Mana berani saya berfikir seperti itu." Zia ketakutan.


"Apa lo takut kalo lo minum air dari botol ini berarti kita ciuman secara gak langsung?" Marko memandang iseng dab menggoda Zia.


Muka Zia bersemu merah, "Tidak tuan."


Marko memicingkan matanya dan masih menggoda Zia. Karen kesal akhirnya Zia mengambil botol dari tangan Marko dan meminumnya tanpa menempelkan bibirnya di bibir botol.


"Terimakasih, Tuan." Zia meletakkan botolnya di kursi taman.


Marko masih terkekeh melihat tingkah Zia.


"Sudah hampir jam enam pak, Apa tidak sebaiknya kita kembali?" Tanya Zia.


"Tunggu lah, capek nih." Protes Marko.


Zia diam melihat ke sekelilingnya, beberapa orang sedang menatap Marko dengan tatapan yang menyudutkan. Mungkim efek ditangkapnya Rianah dan Alea.


Zia merasa tak terima orang-orang itu menatap Marko seperti itu, Mereka tak tahu bahwa Marko tak sama seperti Rianah dan Alea. Ia menatap Marko yang bersikap biasa saja, mengabaikan mereka.


"Kenapa?" Tanya Marko.


Zia segera memalingkan wajahnya ketika Marko menyadari ia sedang menatapnya.

__ADS_1


"Lo naksir gue ya?" Goda Marko.


Zia menatap Marko heran, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu.


"Gue mau kok sama Elo, bilang aja kalau suka nanti kita pacaran ya." Goda Marko lagi.


Kini Zia baru sadar, ternyata pria didepannya itu sudah Gila. Zia hanya menatap datar ke Marko yang wajahnya Sengaja diimut-imutkan.


"Sebaiknya kita kembali saja, Pak. Mungkin udara dingin membuat sirkulasi darah di otak anda tidak berjalan baik." Kata Zia kesal.


"Lo ngehina gue?" Tanya Marko.


"Mana mungkin saya berani melakukan itu, Tuan." Zia mengelak.


Marko menatap Zia yang hanya menunduk menghindari tatapannya.


"Udah, ayo balik." Marko berdiri dan berjalan meninggalkan taman dan Zia mengikuti dibelakangnya.


**********


Tepat pukul delapan pagi, Marko dan Zia sudah ada di Kantor. Beberapa karyawan heran melihat Zia yang datang bersama Marko dengan mengenakan setelan jas hitam seperti seorang pengawal.


Tiba di lantai dua belas, ada Kiki dan Anita yang sudah bersiap menyambut kedatangan Marko. Mereka juga terheran-heran melihat kehadiran Zia bersama Marko, sedangkan mereka tahu bahwa Zia adalah pengawal Senja.


"An, mulai sekarang lo kirim jadwal-jadwal gue ke Zia. Sekarang dia asisten dan pengawal gue." Kata Marko sambil berjalan ke dalam ruangannya.


"Baik, Pak." Jawab Anita walau dia kebingungan.


Begitupun juga Zia. Bukannya dia hanya menjadi pengawal dan pengurus kucing-kucingnya saja.


"Zi, Lo ikut masuk ke ruangan gue. Dengerin apa yang Anita sampaikan ke gue." Ucap Marko memasuki ruangannya di susul Anita dan Zia.


"Lo dah paham kan, Zi?" Tanya Marko.


"Sudah, Tuan." Jawab Zia.


"Oke, Lo bisa keluar." kata Marko


Zia pergi keluar ruangan Marko, meninggalkan Anita dan Marko di dalam ruangan. Namun masih beberapa langkah ia keluar, Ia kembali lagi ke dalam ruangan.


"Maaf, Tuan. Apa ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan sambil menunggu anda?" Tanya Zia.


Marko menatap Anita agar memberi Zia pekerjaan. Anita pergi keluar ruangan mengajak Zia ke meja kerjanya.


"Kamu kerjain ini aja, bisa kan?" Tanya Anita. "Kalau ada yg gak ngerti tanya ke Kiki aja.


Zia mengangguk, Ia pergi ke meja yang terpisah dari Meja kerja Kiki dan Anita.


Langit dan Hengky yang baru saja keluar Lift terheran melihat Zia yang sedang bekerja disana.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Zia.


"Kenapa kamu disini Zi?" Tanya Hengky.


"Saya sedang mecari kesibukan, pak." Jawab Zia. "Tidak enak jika saya hanya berdiam diri menunggu pak Marko."


"Marko udah di ruangannya?" Tanya Langit.


"Sudah, Pak." Jawab Zia.

__ADS_1


Langit mengajak Hengky untuk pergi ke ruangan Marko. Mengerti kedatangan Langit, Anita segera undur diri dan keluar dari ruangan.


"Lo kasih kerjaan tambahan ke Zia?" tanya Langit, ia duduk di Sofa.


"Dia yang minta kok." Jawab Marko, Ia berdiri dan ikut duduk di sofa. "Lang, Gue mau jadiin Zia pengawal dan asisten pribadi gue. Kaya Hengky gitu."


"Lo jangan aneh-aneh, deh." Tolak Langit. "Dia bagian dari pengawal terbaik yang gue punya. Katanya Lo cuma butuhin bentar, baru sehari kerja udah mau lo kasih tambahan kerjaan."


"Ayolah Lang, Lo gak kasihan gue kesepian." Marko mengiba.


"Menurut saya biarkan Zia menjadi asisten pak Marko saja pak, karena dia juga butuh orang yang mengatur hidupnya. Selama ini dia sudah hidup terlalu liar." Kata Hengky.


"Heh, Liar!? Apa maksud Lo?" Protes Marko


"Mau dibelain gak?" Bisik Hengky.


"Oh, iya. Mau mau." Marko terdiam.


Langit hanya memandang aneh dua pria didepannya itu. "Terserah lo lah." Ucap Langit.


"Yes! Thanks banget ya, Lang."


Marko berdiri dan memeluk Langit erat-erat, namun Langit segera mendorong tubuh Marko.


"Lo sentuh tubuh gue sekali lagi gue bunuh Lo!" Ancam Langit.


"Ya kali aja lo butuh pelukan?"


"Ya gak sama elo juga kali, Ko!" Langit berdiri meninggalkan ruangan Marko, Hengky mengikuti didebalakngnya.


Marko tersemyum riang permintaannya disetujui Langit.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Hai readersku,


Untuk beberapa Episode ke depan ini akan menceritakan kisah Marko dan Zia ya. Entah Ke apa Author gak mau membuat Novel ini tamat begitu aja. Jadi pengen masukin kisah cinta Marko dan Zia. Semoga kalian bisa menerima keputusan sepihak dari Author ini.


Jangan lupa like, komen dan vote Author ya.


Salam lup lup dari author*.

__ADS_1


__ADS_2