
Senja baru saja selesai mandi, ia melihat Langit sedang sibuk dengan laptopnya di meja kerja. Langit sudah selesai mandi lebih dulu dan meminta ijin Senja untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Melihat Langit yang sedang fokus membuat Senja tak berani menggaggunya, Ia keluar kamar dan pergi ke kamar sebelah yang akan menjadi kamar Sky dan Sora.
Untuk pertama kalinya Senja masuk di kamar itu. Ia menyalakan lampu kamar dan melihat sekeliling. Tidak seluas kamar Langit, namun dua kali lipat lebih besar dari kamar Sky dan Sora di Malang.
Tidak ada ruang ganti disana, hanya langsung kamar mandi. Mungkin karena itu Langit membeli dua almari pakaian.
Tempat tidur, almari, meja belajar dan beberapa belanjaan kecil masih diletakkan asal di tengah ruangan.
Ponsel Senja tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk dari Ibunya. Sembari menunggu Langit di foodcourt tadi ia mencoba menlpon Ibunya namun tak terjawab.
"Assalamu'alaikum, Buk." Sapa Senja.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Maaf Ibu tadi gak lihat hape, gak tahu kamu telpon. Gimana kabarnya disana?"
"Baik, buk. Sehat semua. Ibu dan anak-anak gimana?"
"Baik, Nak."
"Sora baik juga, Ma."
"Sky juga."
Terdengar sahutan riuh dari Sky dan Sora, sepertinya Ibu me-loudspeaker panggilannya.
"Mama Kapan pulang?" Tanya Sky.
"Sora kangen Papa, Ma. Kemaren video call sama papa cuma bentar." Kata Sora.
"Kalo papa ijinin, mungkin sabtu besok mama pulang. Ini mama masih beresin kamar untuk kalian."
"Papa mana, Maa??" Tanya Sora setengah berteriak karena Senja belum menjawab pertanyaannya.
"Papa masih kerja sayang, besok aja ya ngobrol sama papa. Biar papa selesaiin kerjaannya dulu."
"Janji ya besok telpon lagi." tanya Sora.
"Iya sayang, nanti mama sampaikan kalau Sora kangen Papa." Jawab Senja.
"Sky juga, Ma." Ucap sky.
"Iya sayang. Nanti mama sampaikan. Anak-anak mama tidur ya, besok kan masih sekolah. Mama mau beres-beres kamar kalian dulu."
"Oke ma, dadah mamaa"
"Daaah sayang." Balas Senja.
"Kamu jangam capek-capek ya, Nak. Sudah malam ini." Ucap Ibuk sebelum menutup telponnya.
"Iya, buk. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Senja tersenyum mengakhiri panggilan telponnya.
Tiba-tiba ia merasakan tangan melingkar dipinggangnya. Dan hembusan nafas terasa dekat di pipinya. Langit sedang menyandarkan dagunya dibahu kanan Senja.
"Suaraku ganggu kamu ya, mas?" tanya Senja.
__ADS_1
"Enggak, kerjaanku udah selesai kok." Jawab Langit.
Senja memegang kedua tangan Langit yang melingkar diperutnya. "Boleh aku jemput anak-anak sabtu besok mas?" tanya Senja. "Aku akan menyelesaikan semua ini besok."
"Iya, Sayang. Aku juga sudah kangen dengan mereka. Apalagi seharian ini aku tidak mendengar suara mereka."
"Mas akan ikut?" Tanya Senja
"Ya iya donk, Aku sudah janji kan akan jemput mereka." Ujar Langit.
Senja membalikkan badannya, meletakkan kedua didada Langit. "Makasih ya, Mas." Ucap Senja.
"Sudah sepatutnya aku melakukannya kan? Jangan bersikap seperti itu, kamu membuatku seperti orang asing." Ucap Langit.
Senja menggeleng, "Aku ingin berterimakasih karena kamu sudah memeriku ruko sampai mengirimkan orang untuk merenovasinya."
Langit tertawa kecil, "Maaf kalau kamu mendengarnya dari orang lain, aku lupa memberitahumu."
"Orang lain akan mengira aku mata duitan mas, memanfaatkan kekayaan suamiku." kata Senja diiringi tawa kecil.
"Ya, aku lebih senang jika kamu memanfaatkanku. Jadi aku merasa lebih berarti untukmu." Langit mengecup kening Senja lalu mengedarkan pandangannya diseluruh ruangan.
"Kenapa, mas?" tanya Senja.
"Aku tidak sabar mendengar keramaian anak-anak dirumah ini." jawab Langit.
"Sabar mas, beberapa hari lagi rumah ini akan ramai."
Langit menatap Senja. "Tapi masih ada yang belum sempat ku dengar, sayang."
"Apa mas?"
Senja tersipu malu ketika Langit menatapnya. Dengan cepat Langit menggendong tubuh Senja.
"Mas, malu kalau dilihat orang lain." Ucap Senja.
"Siapa yang akan melihat?" Langit balik tanya menggoda Senja, Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
*********
Pagi ini Senja terbangun lebih awal dari Langit, walau sebenarnya ia masih terlalu lelah dan mengantuk.
Setelah mandi dan berganti baju, Senja menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Langit. Sejak di Malang, Langit mulai terbiasa sarapan dengan nasi.
Hanya sebentar Senja didapur, karena bahan-bahan sudah disiapkan asisten dapur. Ia tinggal memasak dan memberi bumbu saja.
Ia kembali ke kamar, untuk menyiapkan keperluan Langit.
"Sudah bangun mas?" Senja melihat Langit baru keluar dari ruang ganti dengan rambut yang masih basah.
"Iya, sayang." jawab Langit
"Maaf ya, Mas. Aku belum siapin baju kamu." Senja masuk ke dalam ruang ganti dan menyiapkan setelan kemeja dan jas untuk Langit.
Langit mengikuti senja, "Kalau nanti kamu sibuk gak usah antar makanan ke kantor sayang, biar aku makan siang dari dapur kantor."
Senja menghentikan kegiatannya dan menatap Langit. "Beneran gak apa mas?" Tanya Senja.
Langit mengangguk, "Aku gak mau lihat kamu sampai kecapekan, sayang. Kamu fokus aja beresin kamar anak-anak."
__ADS_1
"Makasih ya mas, udah pengertian ke aku." ucap Senja. Ia memberikan kemeja ke Langit.
Langit segera memakai kemejanya, "Iya lah, kalau kamu sampai kecapekan aku yang susah nanti. Gak bisa ngapa-ngapain kamu." Bisik Langit di telinga Senja.
Senja mencubit perut Langit. "Mulai deh genitnya."
Langit tersenyum geli melihat istrinya yang salah tingkah.
Senja meninggalkan Langit diruang ganti, dan pergi menyiapkan sepatu dan tas di Sofa.
Setelah merasa semuanya sudah rapi, Langit memakai sepatunya dan beranjak turun untuk sarapan bersama Senja.
Sambil sarapan, Senja meminta untuk memesan tiket pesawat pagi saja. Karena Sore ia ingin ke kantornya dan melakukan serah terima jabatannya ke Mia.
Usai sarapan, Langit segera bergegas berangkat kerja. Senja mengantarnya hingga di teras rumah. Hengky sudah menyambutnya.
Tak lupa ia meminta Hengky memesankan tiket pesawat untuk besok pagi.
"Aku berangkat dulu ya, sayang." Langit memeluk Senja sebentar, mengecup keningnya lalu masuk ke dalam mobil.
Hengky menutup pintu mobil, "Kami berangkat dulu Nona." Ucap Hengky
"Iya, hati-hati." Ucap Senja.
Setelah Hengky masuk, Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Langit.
Senja segera masuk ke dalam, Ia meminta bantuan Ella dan beberapa asisten untuk membantunya membereskan kamar Sky dan Sora.
Senja juga meminta bantuan beberapa pria untuk memasang wallpaper di dinding kamar. Kebetulan ia mendapatkan wallpaper awan putih dengan background biru yang sama seperti kamar Sky dan sora di Malang.
Ia membagi ruangan menjadi dua bagian. Bagian kanan untuk Sky dan bagian kiri untuk Sora, hanya saja tempat tidur mereka yang diletakkan di tengah ruangan dan terpisahkan meja lampu tidur.
Senja sengaja meletakkan tempat tidur Sky dan Sora berdekatan. Walau Sky dan Sora selalu memberi batasan untuk kamar mereka, tapi jika tempat tidur mereka berjauhan akan membuat mereka sulit untuk tidur.
Jam makan siang sudah terlewatkan, Senja terlalu fokus menata ruangan. Ella sudah mengingatkannya berkali-kali, namun Senja tak mau meninggalkan pekerjaannya.
"Kalian bisa istirahat dulu, aku akan menyelesaikan sisanya." Ucap Senja.
Beberapa asisten yang membantu Senja menatap Ella meminta persetujuan.
"Ya, kalian bisa pergi." Ucap Ella.
"Bu Ella juga bisa istirahat, nanti akan ku panggil jika aku butuh bantuan." Senja mendorong pelan Ella agar keluar dari ruangan.
"Tolong segera panggil kami jika Nona butuh bantuan." pinta Ella.
Senja mengangguk, "Bu Ella dan teman-teman istirahat saja. Aku sudah menyusahkan kalian dari pagi."
"Sudah tugas kami, Nona. Saya ada di bawah jika Nona membutuhkan bantuan."
Ella meninggalkan Senja sendiri di kamar. Perabotan besar sudah terpasang ditempat yang Senja inginkan.
Senja membuka beberapa paperbag berisi baju-baju Sky dan Sora diatas tempat tidur, dengan bersandar di headboard tempat tidur. Namun niat Senja merapikan baju anak-anaknya tidak berjalan sesuai harapan karena ia terlalu nyaman bersandar hingga ketiduran.
-Bersambung-
******Terimakasih readers ku tersayang, sudah selalu dukung Author.
Maaf jika authornya bawel minta ini itu dan gak bisa balas satu persatu komentar kalian****.
__ADS_1