SENJA

SENJA
Keripik Talas


__ADS_3

Duduk bersama di tempat yang sama. Bukan hanya berdua, tapi berempat sebenarnya. Namun hanya dua yang merasa berbeda. Untuk sekedar bersuara saja sulit rasanya.


"Ga, tumben-tumbenan kamu bisa kenalan sama Adik kelas," kata Ria tiba-tiba memecah heningnya suasananya.


"Enggak sengaja," jawab Arga singkat.


"Nggak sengaja? Emang ada ya alasan kayak gitu," seloroh Ria yang kemudian diikuti tawa mengejek dari Ula.


"Ada, buktinya ini kejadian," ucap Ula di sela tawa.


"Hahahaha.....!"


Pecah sudah tawa Ula dan Ria. Sedangkan Arga hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ay, kamu kok bisa kenal kakak kelas yang nggak populer kayak dia sih?" tanya Ria pada Senja.


"Eemmmmmm," Senja bingung memikirkan jawabannya. Kemudian dia hanya mendesah dan menelan ludahnya susah payah.


"Udah udah jangan digodain terus, kalau Arga mah nggak apa-apa. Kalau Senja, repot kalau dia sampai nangis," canda Ula.


"Ih Mbak Ula ih..., dipikir aku anak kecil apa," ucap Senja dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya udah gede. Gede pipinya. Ih gemes ih gemes gemes gemes gemes gemes...." kata Ria sambil mencubit dan menarik-narik pipi Senja.


"Iiiiiiiihhhhhhh......., ssaaaakkkkiiiiiiittttt," rintih Senja sambil berusaha menyelamatkan pipinya.


Tanpa disadari, senyum Arga mengembang saat mengamati polah tingkah Senja yang sedang digoda kakak-beradik Ula dan Ria. Hingga akhirnya merah lah kedua pipi Senja akibat ulah keduanya.


Ria tak sengaja menangkap basah Arga yang tersenyum sambil memandangi Senja. "Udah Ga, jangan dipandangi terus, memang manis sih, jadi stop mandangin nya daripada lu diabetes," ucap Ria kemudian sambil menyodorkan setoples keripik talas kepada Arga.


Tanpa ba-bi-bu Arga langsung mencomot keripik yang disodorkan padanya dan segera memakannya.


Ria dan Ula kembali sibuk dengan acara televisi yang dari tadi ditontonnya. Sedangkan Senja tanpa disadari mulai memperhatikan Arga yang asik memakan keripik di hadapannya. Arga yang merasa diperhatikan menghentikan sejenak aktivitas makannya.


"Kamu mau?" tawar Arga pada Senja sambil menyodorkan setoples keripik talas.


"Enggak kak, makasih," tolak Senja sopan.


"Tadi kamu ngelihatin mulu, aku pikir karena pengen keripik tapi malu," ucap Arga sambil terkekeh.


Senja menggeleng pelan.


"Aku cuma heran, bukannya kalau makan talas di lidah jadi gatel ya, kok Kak Arga kayak demen banget," tutur Senja.


"Enggak ini nggak gatal kok, coba aja," kata Arga sambil menyodorkan sebuah keripik di hadapan mulut Senja.


Senja menggeleng dan menutup mulutnya.


"Enggak ah Kak, takut gatel," kekeh Senja.


"Cobain dulu, nggak bakalan gatal kalau cuma satu," bujuk Arga.

__ADS_1


Senja masih menggeleng.


"Kamu belum pernah makan ginian?" tanya Arga.


"Udah, terus di lidah gatel makanya aku nggak mau makan lagi," terang Senja.


"Emang diapain kok bisa gatal?" tanya Arga lagi.


"Dimakan Kakak, bukan dipakai cuci tangan, makanya yang gatal lidah sama mulut bukannya tangan."


"Maksudnya dijadiin apa di keripik kek dikukus kek apa diapain?" ucap Arga tak mau kalah.


Tanpa mereka sadari Ula dan Ria tengah mengamati mereka berdua. Namun mereka masih diam tanpa reaksi karena ingin melihat apa yang selanjutnya terjadi pada Arga dan Senja.


"Emmm..., direbus mungkin apa dikukus gitu. Nggak paham aku. Pokoknya aku nyicipin dikit terus lidah mulut tenggorokan gatal semua," terang Senja.


"Kalau di keripik gini pernah coba nggak?" lanjut Arga sambil mengunyah.


Senja menggeleng. "Kalau dibikin keripik nggak gatel kok cobain deh," bujuk Arga lagi.


Senja masih menggeleng.


"Percaya sama aku coba dikit aja," ucap Arga sambil menyodorkan sebuah keripik talas di depan mulut Senja.


Senja nampak ragu memandang keripik yang disodorkan oleh Arga di hadapannya.


"Dikit aja, percaya sama aku," bujuk Arga lagi.


Perlahan akhirnya Senja membuka mulutnya. Dia hanya menggigitnya sedikit, menyisakan keripik di tangan Arga. Tanpa ragu Arga kemudian memasukkan keripik bekas gigitan Senja itu ke dalam mulutnya. Mata Senja membulat. Dia kaget dengan apa yang Arga lakukan, hingga ia segera menelan keripik talas yang semula ditolaknya. Itu doyan apa jorok sih. Masa bekas aku dimakan. Batin Senja.


"Enak kan? Nih ambil sendiri," lanjut Arga kemudian sambil menyodorkan setoples keripik talas.


"Cie...., yang enggak sengaja kenal barusan nggak sengaja suap-suapan," goda Ula tiba-tiba.


"Ekhm, ekh, ekh, ekh, eekkkhhheeemmmmm."


Ria pun turut menggoda dengan deheman yang dibuat-buat.


"Kenapa lu, keselek kodok," ucap Arga yang kini sukses tengah salah tingkah.


"Ho oh, kodoknya lagi jatuh cinta, hahahaha!"


"Hahaha, iya, kodok gede jatuh cinta sama kodok kecil, hahahaha!" tambah Ula.


Sudah biasa bagi Arga bercanda seperti ini dengan mereka terlebih Ria karena Arga sebelumnya selama enam tahun sekelas dengannya di SD dan sekarang pun kelas mereka bersebelahan. Sedangkan dengan Ula, mereka bertetangga, jadi mereka sudah akrab sejak lama.


"Wah wah rame banget ada apa ini?" tanya mbak Arti tiba-tiba saat datang bersama ibunya dan bu Rub.


Ria dan Ula masih sibuk dengan tawanya, sedangkan Arga hanya diam sambil sesekali menatap Senja yang mukanya merah padam.


"Itu Mbak, hahaha, anu, hahaha, Arga, hahaha!" tawa Ria makin kencang begitu pula dengan Ula.

__ADS_1


Namun tanpa sengaja Ula melihat sorot tajam dari mata kakak sulungnya. Dia kemudian menyenggol lengan adiknya agar segera berhenti tertawa.


"Anu Mbak, kita kaget ternyata Arga kenal sama Aya, makanya kita godain mereka," terang Ria saat sudah mampu mengontrol tawanya.


"Lain kali kalau bercanda temanya yang lain aja, kasihan Aya kalau sampai Masmu tahu, bisa salah paham dia, disangka ada apa-apa," terang Arti pada kedua adiknya.


Ria dan Ula mengangguk mesjid mereka tak tahu pasti apa maksudnya. Yang jelas mereka tahu adalah mereka tak boleh menggoda Senja berlebihan.


"Maafin deh Mbak, enggak lagi lain kali, ya kan Dik?" kata Ula sambil menyenggol lengan adiknya.


Ria pun menggangguk cepat.


Sedangkan Arga kembali memakan keripik talasnya.


"Eh, jangan dihabisin!" teriak Ria tiba-tiba sambil segera merebut toples keripik talas dari tangan Arga.


"Ria!" bentak ibu Ine. "Nggak sopan sama tamu!" lanjut ibu Ine.


Ria mendesah dengan wajah cemberut tiba-tiba. "Nih..." Ria pun meletakkan kembali keripik talas itu dengan lemas.


"Udah-udah, Arga juga sih, nggak kira-kira kalau makan," kata ibu Rub.


Arga hanya nyengir sambil kembali mengunyah keripik talasnya.


"Ya udah kita pamit dulu ya," pamit bu Rub.


"Kok buru-buru banget sih Bu mau ngapain, dzuhur juga masih lama."


"Kemarin ayahnya bawa tales dikasih temennya, nah Si Arga ini pengen dibikin keripik talas. Sudah selesai ngupasnya tinggal diiris aja," terang bu Rub.


"Demen banget ya kayaknya sama keripik talas," kata Arti.


"Iya Nak, kayak ayahnya," jelas bu Rub.


plak!


Bu Rub menggeplak tangan Arga yang hendak kembali mengambil keripik talas.


"Ayo pulang, jangan bikin malu," bisiknya pada sang putra.


"Nggak apa-apa Bu, udah biasa kan dari dulu," ucap Arti.


Semua terkikik melihat tingkah Arga, tak terkecuali Senja. Kemudian bu Rub benar-benar pamit bersama anaknya.


Senja kembali bercanda dan bersukacita bersama Ria dan Ula.


TBC


Alhamdulillah done.


Makasih ya yang udah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Love you.


__ADS_2