SENJA

SENJA
Perkelahian Kakak Senja


__ADS_3

Masih pagi buta, adzan subuh baru saja berkumandang. Biasanya Atma akan ke masjid sendiri, tapi kini dia tengah bersiap menuju masjid bersama kakaknya. Selepas melaksanakan salat subuh, Anton dan Atma tidak segera pulang.


"Mas ma'afkan Atma ya. Gara-gara Atma nikahnya ngeduluin Mas, semua jadi neken Mas untuk cepat menikah."


"Nggak apa-apa Dik. Emang jodoh kamu udah datang, nggak ada yang bisa melawan takdir Allah," ucap Anton sambil memandang lurus ke depan.


"Mas, Atma boleh tanya?"


Anton tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya mempersilahkan adiknya untuk bertanya.


"Mas sudah ada calon apa belum sebenarnya?" tanya Atma hati-hati.


"Mas nggak pernah menutup diri untuk sebuah hubungan dengan perempuan, tapi belum ada keyakinan yang bikin Mas berani melangkah ke jenjang yang lebih serius. Mas takut pernikahan itu tidak akan membahagiakan. Mengingat apa yang dialami Almarhumah Mbk Ina selalu bikin Mas sakit," ucap Anton dengan pandangan menerawang.


"Tapi nggak semua pernikahan kayak gitu Mas. Emang aku belum lama menikah, tapi aku yakin aku bisa bahagia dengan rumahtangga aku."


"Iya, menikah adalah penyempurna agama kita. Ada surga yang menanti, dan hal-hal yang semula haram jadi halal karena pernikahan."


"Tuh Mas tahu."


"Tapi Mas belum siap menghadapi berbagai kerumitan dalam rumah tangga," ucapnya sambil menunduk kemudian.


"Ya elah Mas, hadiahnya kan surga, pasti sulit lah dapetinnya, kalau gampang hadiahnya paling piring atau payung cantik," timpal Atma.


Mereka terkekeh bersama.


"Mas, setidaknya bilang sama Ayah Ibu kalau Mas sudah punya calon, jadi mereka bisa sedikit tenang."


Anton mengernyit seolah bertanya apa maksud ucapan adiknya ini.


"Ya kan harapan setiap orang tua kalau udah punya anak dewasa pasti pengen ngelihat anaknya membina rumah tangga", jelas Atma. "Eh Mas, Mas Anton dulu kenapa pakai acara kabur segala, nutup semua akses komunikasi, nggak ngabar, tahu nggak kalang kabutnya kita, Ibu sama Ayah nggak bersemangat ngapa-ngapain, bahkan Ibu sampek jarang masak, padahal Senja tahu sendiri kayak gimana manjanya. Aku kudu nge-handle semuanya, bahkan sampek nyuci dan masak aku yang ngelakuin," adu Atma pada kakaknya.


"Maafin Mas ya Dik," ucapan Anton sambil menepuk bahu adiknya.


"Kita kaget pas Mas Anton tiba-tiba kabur. Lha wong pas dikenalin diem-diem Bae, begitu menjelang hari h malah ngilang."


"Mas cuma takut ngecewain Ayah Ibu kalau sampai nolak."


"Aku juga pernah Mas dikenalin sama anak temen Ayah dan Ibu, beberapa kali malah. Tapi aku bilang kalau aku nggak mau dijodohin, mereka bisa ngerti kok."


"Kamu beda dari aku. Kamu udah biasa jadi anak penurut jadi Ibu sama Ayah bisa yakin dengan pilihan kamu. Kamu bisa ngomong halus meskipun itu ungkapan sebuah penolakan. Sedangkan aku, aku tak pernah bisa ngomong halus, meskipun maksud ku baik, aku tak bisa mengungkapkannya dengan bahasa yang halus. Mungkin itu alasan Ayah dan Ibu takut aku salah pilih."


"Iya, bocah bandel, susah diatur, suka bolos, sering pindah-pindah sekolah, anehnya kamu masih pintar dan selalu jadi juara umum."


"Dan banyak orang ngira aku dapat nilai itu dari hasil nyogok." Keduanya tertawa mengingat bagaimana nakalnya anak laki-laki tertua di keluarga Sam ini.


"Intinya Dik, aku belum mau bilang sama Ayah dan Ibu kalau aku sudah ada calon. Aku harap kamu juga mau merahasiakan ini dari mereka. Insya Allah kalau keyakinan itu sudah datang, aku akan segera bawa dia pulang."


"Orang jauh Mas?" tanya Atma.


"Nggak kok, masih sesama penghuni planet bumi," jawab Anton santai.


"Ya siapa tahu Mas Anton pengennya nikah sama alien gitu," timpal Atma.

__ADS_1


Bugh!


"Nyerang nggak bilang-bilang, curang itu namanya," kaget Atma.


"Impas itu namanya, hahaha!" teriak Anton yang berlari dan disusul Atma yang kemudian bangkit dan mengejar kakaknya.


Dan disinilah mereka berkelahi, di halaman samping rumah.


"Eh, ada apa Ini astaghfirullah hal adzim, Yah Ayah, Ayah tolongin Yah!" panik ibu yang melihat kedua anaknya sedang berkelahi.


Ayah yang sebelumnya tengah mengaji di ruang tengah, segera bangkit untuk menghampiri istrinya. Dia tersenyum kala melihat kelakuan dua putranya.


"Astaghfirullah hal adzim Ayah bantuin," histeris ibu.


Arti yang sebelumnya tengah memasak akhirnya berlari untuk menghampiri mertuanya. Melihat menantunya panik, ayah segera menepuk bahunya mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Arti yang masih bingung pun tak bereaksi.


"Mereka jago silat Nak, mereka sering sparing-partner kayak gini dari dulu," terang ayah.


"Sparing, ya sparing yah, tapi ya nggak kudu pakai sarung sama Koko juga. Nanti kalau sarungnya jatuh gimana?!" gerutu ibu.


Arti terkikik dalam hati, jadi begini cara suami dan kakaknya mengungkapkan rasa sayang satu sama lain. Aneh sih tapi beginilah adanya.


"Udah, hosh, hosh, udah," cicit Anton dengan nafas ngos-ngosan.


"Dasar Adik kurang ajar, nggak ada ngalah-ngalahnya sama yang tua. Nggak takut kualat apa."


"Kan yang bentar lagi jadi orang tua aku Mas," jawab Atma yang bangkit dibantu Anton.


"Awh! Ampun Bu ampun!" pekik Anton dan Atma bersamaan, karena ibu lagi-lagi menjewer telinga mereka berdua.


"Ya Bu, ampun Bu, ini kan dalam rangka kangen-kangenan sama saudara sekalian mau olahraga pagi, ya kan Dik," bela Anton.


"Udah sana bersih-bersih, bikin malu aja!"


Ibu menjewer telinga kedua anaknya dan menarik mereka ke dalam rumah.


Ada yang penasaran Senja di mana? Selepas subuh dia memutuskan untuk tidur lagi karena semalam dia begadang dengan kedua kakaknya menonton film horor hingga menjelang pagi.


...****************...


"Dik, belum bisa makan sendiri kamu," ejek Anton sambil mengacak-acak rambut adiknya.


"Adikmu kalau nggak disuapin ya pilih nggak sarapan Ton," omel ibu sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut anak bungsunya.


"Biarin aja Bu, biar kelaparan," ucap Anton sambil terkekeh.


Dan Senja yang dibicarakan hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengenakan kaos kakinya.


"Mas," panggil Senja.


"Hmm," jawab Anton singkat.


"Pengen tahu sekolah Aya nggak?"

__ADS_1


"Nggak."


"Yah Mas," gerutu Senja.


"Modus tuh Mas, minta dianterin dia," Atma tiba-tiba nimbrung sambil mengancingkan kemejanya.


"2 bulan lebih jadi anak SMP belum genap 5 kali lo dia berangkat sendiri," adu Atma pada kakaknya.


Senja merengut membayangkan hari ini dia harus naik angkot lagi.


"Yuk mas anterin," tawar Anton tiba-tiba.


Atma melotot tak percaya.


"Jangan dong Mas, kapan dia mandirinya!" protes Atma pada sang kakak.


"Wleee, Mas Anton baik deh, enggak kayak Mas Atma, jahat," ucap Senja dengan wajah berseri.


"Udah, yuk berangkat sama Mas Anton."


Atma masih melayangkan pandangan protes terhadap kakaknya, sedangkan ibu, ayah dan Arti masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Senja pun mencium tangan semuanya. Kemudian dia berjalan dengan riang mengikuti Anton. Mereka berjalan keluar dari halaman rumah.


"Loh Mas kok enggak ngambil motor, nganterinnya pakai apa?" heran Senja yang sadar bahwa dia dan kakaknya keluar dari area rumah tanpa membawa kendaraan.


"Nggak usah oske motor, cukup jalan kaki aja," jawab Anton santai.


"Yang bener aja Mas, sekolah Aya itu jauh loh," ucap Senja sambil menghentikan langkahnya.


"Kan cuma sampai jalan raya, ngapain pakai motor, nanti Mas temenin sampai kamu dapat angkot deh."


Senja masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Matanya membulat dengan mulut menganga.


"HBMMFFHWAHAHAHAHA!!!"


Tawa Atma pecah mendengar pembicaraan adik dan kakaknya. Sedangkan yang lain hanya terkikik geli.


"Iiihhhh, Mas Anton nyebelin!" gerutu Senja sambil menghentak-hentakkan kakinya berjalan cepat meninggalkan kakaknya.


"Loh Dik tungguin, katanya mau diantar."


"Nggak usah repot-repot. Ma ka sih," ucap Senja dengan penekanan pada kata terakhirnya.


"Ya Allah punya Mas kok gini banget sih. Semoga angkot yang kemarin berhenti otomatis tanpa kudu pakai adegan teriak dan melampaui lambai. Aamiin," gumam Senja seorang diri.


Dia pun berjalan dengan langkah penuh semangat untuk memulai harinya.


TBC.


Alhamdulillah, done.


Jangan lupa vote.

__ADS_1


Komen, like, share, rate, apalagi ya,


Happy Reading Dear.


__ADS_2